David&Laila

David&Laila
Part27



Setelah selesai sarapan David membawa Laila pergi ke sebuah Villa yang baru ia beli yang terletak tidak jauh dari pantai, David tidak menyangka kalau Laila sangat menyukai pantai, dengan adanya Villa yang akan di tinggalinya membuat Laila senang.


Laila berlari bermain di pantai saat turun dari mobil. “ Apa kita akan tinggal di sini?.” menengok ke arah David yang berdiri.


“ Iya, kita masih punya waktu 5 hari lagi jadi aku memutuskan untuk tinggal di sini sementara.” balas David, lalu pergi masuk ke Villa.


Waktu berlalu begitu cepat, sampai tibalah di mana David dan Laila akan pulang ke kota setelah menghabiskan liburan selama satu minggu. Laila tidak menyangka David akan mengizinkannya tingal di rumah orangtuanya selama beberapa hari.


Laila baru saja sampai dan langsung istirahat di kamarnya. “ Akhirnya aku kembali ke kamar ini.” meregangkan tubuh.


Rosdiana dan Juna tengah berbahagia melihat ke datangan putrinya setelah pergi berbulan madu, tapi sebagai orang tua mereka tidak ingin Laila tetap tinggal bersamanya bahkan meninggalkan suami sendirian di rumahnya.


“ Istriku, bujuklah Laila agar cepat kembali ke rumah suaminya, aku takut hubungan mereka tidak baik-baik saja jika Laila meninggalkan suaminya sendirian.” ucap Juna.


“ Kau tenang saja suamiku, aku percaya Laila tidak akan melakukan kesalahan pada suaminya. Dia tahu apa yang terbaik untuknya.” meyakinkan.


Esok harinya jam 07:00 pagi.


Laila pergi bekerja dengan lingkaran hitam di matanya. “ Haih, semalam aku tidak bisa tidur nyenyak, entah apa yang salah denganku. Setelah menikah baru kali ini aku susah tidur, padahal biasanya aku paling suka tidur.” batinnya, duduk di Halte menunggu Bus.


Saat Laila lengah tiba-tiba ada seorang pria yang mencuri tasnya dari tangannya.


Laila berteriak dengan panik. “ Tolong! ada pencuri, seseorang tolong aku!.” berlari mengejar.


Laila terus mengejar pencuri itu dan tidak menyerah, saat pencuri memasuki gang sepi Laila menghentikan langkahnya. Laila berteriak dan berharap ada orang di sekitarnya. “ Tolong! bisakah kalian menolongku? di sini ada pencuri.” belum selesai berteriak pencuri itu menarik Laila masuk ke gang sepi lalu melemparnya ke bawah.


Laila mundur ketakutan. “ Apa yang kau inginkan? jika kau mau uang aku tidak punya, tapi di tas ada ponsel dan perhiasan milikku, kau boleh mengambilnya dan lepaskan aku.” ketakutan.


Pencuri itu membuka isi tas dan melihat buku nikah milik Laila, saat tahu Laila seorang istri pengusaha kaya pencuri itu tak mau melepaskannya dan malah membius Laila. Di saat pencuri itu akan membawa Laila pergi tiba-tiba Asisten Li datang dan menghajarnya lalu menyerahkan pencuri itu ke Polisi, Asisten Li segera membawa Laila ke Rumah Sakit.


David berlari masuk ke ruang pasien. “ Apa yang terjadi padanya? mengapa bisa jadi seperti ini?.” panik.


Asisten Li berdiri. “ Nyonya tidak apa-apa, hanya pengaruh bius saja sebentar lagi akan sadar. Dan, pencuri itu sudah di bawa ke kantor Polisi tadi, jadi tuan tidak perlu khawatir.”


Beberapa saat kemudian Laila membuka matanya dan merasakan pusing. “ Ini di mana?.” melihat sekeliling dan matanya tertuju pada David yang tengah duduk sambil bekerja.


Laila berusaha bangun. “ Tuan, apa Anda yang menyelamatkanku? kalau boleh tahu di mana tasku?.” kesakitan.


Menutup laptop. “ Sudah bangun ya? tasmu ada di meja. Asisten Li yang sudah menolongmu. Karena kau sudah sadar aku akan kembali ke Perusahaan, hari ini aku sudah memintamu cuti, jadi pulang dan beristirahatlah di rumah.” berdiri sambil merapihkan jas.


“ Pulang? ke mana? haruskah aku pulang ke rumahmu?.” dilema.


“ Terserah, aku tidak akan melarangmu untuk tinggal di manapun.” pergi keluar.


Setelah berpikir keras akhirnya Laila memutuskan untuk pulang ke Villa dan akan memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. “ Baiklah, sudah kuputuskan, aku akan tinggal di Villa apapun yang terjadi, aku tidak mau membuat ibu khawatir akan pernikahanku.” gumamnya beranjak dari ranjang.


Villa milik David jam 09:00 malam.


Laila sengaja menyiapkan makan malam romantis dan berharap hubungannya dengan David bisa seperti suami istri pada umumnya, hari telah malam tapi David tak kunjung pulang, Laila yang kelaparan tetap tidak berani makan dan terus menunggu kepulangan David sampai lelah dan tertidur.


David membuka pintu dan matanya langsung melihat Laila yang tidur di meja makan, melihat hidangan di atas meja David hanya meliriknya lalu pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Bibi Ann membangunkan Laila dengan cemas. “ Nyonya, ini sudah larut malam sebaiknya aku membawamu ke kamar ya.”


Laila membuka matanya dan melihat jam sudah pukul 01:00 malam. “ Bibi Ann, apa tuan sudah pulang?.” khawatir.


“ Iya, tuan sudah pulang 1 jam yang lalu. Ayo nyonya aku antar ke kamar.” memapah.


“ Baiklah, apa tuan mengatakan sesuatu?.” menunduk dengan sedih.


Laila berdiri dengan muram. “ Aku mengerti, kau boleh pergi.”


Dengan kecewa Laila membuang semua makanan yang ia masak ke tempat sampah. “ Aku naif sekali, dari awal sudah tahu di antara kita hanyalah sebuah kesepakatan. Tetapi aku masih mau melakukan yang tidak seharusnya di lakukan, aku benar-benar bodoh.” memaki diri sendiri.


Setelah membersihkan dapur beserta meja makan Laila pergi ke kamarnya untuk istirahat, dan tidak lupa mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggunya saat tidur. Akhirnya Laila tertidur nyenyak sampai tidak sadar ada seseorang yang berusaha masuk ke kamarnya.


Esok harinya jam 06:00 pagi.


Laila bangun lebih awal dan bersiap untuk pergi, saat menuruni tangga Laila melihat David sedang sarapan di meja makan sendirian, sedangkan bibi Ann sibuk memasak di dapur.


Bibi Ann membawa sup iga sapi untuk di hidangkan, melihat Laila sudah bangun bibi Ann memanggilnya. “ Nyonya, sudah bangun? ayo sarapan bibi sudah masak.” sangat antusias.


Laila berjalan menuju meja makan. “ Baik bibi Ann, terima kasih.” duduk berseberangan dengan David.


Laila baru duduk dan hendak mengambil makanan tapi David langsung berdiri. “ Aku sudah kenyang. Bibi Ann, malam ini aku tidak pulang, jadi tidak perlu masak.” lantas pergi tanpa memperdulikan Laila.


“ Baik tuan, hati-hati di jalan.” bibi Ann melirik Laila yang ada di dekatnya dan merasa aneh karena David berpamitan padanya bukan pada Laila.


Bibi Ann melayani Laila dengan sepenuh hati. “ Nyonya tidak perlu pikirkan tuan, tuan memang seperti itu dari dulu. Ayo sarapan, sebelum pergi bekerja.”


Laila terdiam tanpa kata.


Di Perusahaan Duke.


Sesampainya di tempat kerja semua orang berisik menjelekkan keburukkan Laila yang sudah lama tidak masuk kerja, bahkan akhir-akhir ini Manajer yang menghandle semua pekerjaan Laila atas perintah Asisten Li.


Seorang karyawan wanita pergi menemui Manajer di ruangannya. “ Manajer, coba tebak siapa yang datang? bukankah kau sedang menunggu Laila kembali ke kantor, dia sudah datang sekarang, beri dia pelajaran karena sudah membuatmu menderita kemarin.” wanita itu sengaja menghasut Manajer yang mulai terbiasa mengerjakan tugas Laila.


Berdiri tegak. “ Kau benar, gara-gara Laila setiap hari aku harus lembur dan tidak bisa istirahat. Di mana dia sekarang?.” marah.


“ Di meja kerjanya.” balas wanita itu.


Manajer segera menemui Laila yang baru duduk di tempat kerjanya, kedatangan Manajer membuat Laila gelisah. “ Manajer, dia? kelihatannya marah, aku harus bagaimana menghadapinya sekarang?.” batinnya, berdiri dari tempat duduk.


“ Sudah datang? aku ada urusan mencarimu, ikuti aku.” berjalan pergi, menyeringai.


Laila mengikuti Manajer sampai ke toilet, walau tidak tahu apa yang akan di lakukan Manajer kepadanya tetapi Laila tidak bisa mengelak.


Manajer sengaja mengosongkan toilet yang kotor dengan menyuruh Cleaning service pergi cuti. “ Kau lihat toilet ini sangat kotor bukan? selama kau tidak datang bekerja kami semua melakukan tugasmu dengan baik, jadi aku mau kau membalas budi pada kami.” tersenyum jahat.


Laila tertegun dan hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. “ Manajer kau ingin aku melakukan apa? aku akan melakukannya sesuai perintahmu.”


Memalingkan wajah dan menyembunyikan senyuman jahatnya. “ Benarkah? tetapi aku tidak memaksamu Laila, kau boleh menolaknya sekarang juga belum terlambat.” pura-pura baik.


“ Tidak Manajer, aku bersungguh-sungguh melakukan tugas yang akan kau berikan padaku.” penuh semangat.


“ Baiklah, karena kau sudah berkata demikian aku tidak akan sungkan. Aku mau kau membersihkan semua toilet di seluruh Gedung ini, karena Cleaning service sedang cuti hari ini.” menahan tawa.


“ Membersihkan semua toilet? bukankah Gedung ini setinggi 105 lantai, bagaimana aku bisa membersihkan semuanya dalam sehari?.” merasa di permainkan.


“ Itu, kau tidak harus membersihkan semuanya, cukup hanya beberapa lantai saja. Aku sudah menyuruh Cleaning service harian dan sudah membayar mereka semua.” pura-pura kasihan.


Mengangguk perlahan. “ Begitu ya, baik aku akan membersihkan semuanya. Terima kasih Manajer, selama aku tidak kerja aku banyak merepotkanmu.”


“ Jangan terlalu sungkan, kita ini sama-sama bekerja di Perusahaan ini, sudah seharusnya kita saling membantu. Kalau begitu aku pergi dulu, maaf merepotkanmu hari ini Laila.” berjalan pergi.


“ Heh, nikmatilah toilet kotor itu Laila, kau memang pantas mendapatkan penghinaan ini karena berani membuatku kesusahan selama beberapa hari.” batinnya, tersenyum puas.