
Di Villa jam 10:00 malam.
Laila tidak bisa masuk karena pintu di kunci dari dalam. “ Apa orang rumah mengira aku tidak pulang malam ini? aku harus bagaimana sekarang?.” melihat ponsel dan mengirimi pesan singkat pada Rara.
Laila berjalan pergi sedangkan David berdiri melihat Laila sambil melihat ponsel di tangannya. “ Dia mau pergi lagi? kemana dia akan pergi malam-malam begini?.” tidak punya keberanian untuk bertanya.
Di Apartement milik Rara.
Ting tong, Rara segera membuka pintu setelah mendengar suara bell rumah. “ Laila kau sudah sampai?.” Rara terkejut melihat kepala Laila yang di perban.
Rara mengecek seluruh tubuh Laila dengan cemas. “ Laila apa yang terjadi denganmu? mengapa kepalamu di perban, apa kau terluka? kapan? kenapa tidak memberitahuku.” panik seketika.
Laila malas menjawab. “ Kau bertanya begitu banyak saat aku sampai, apa kau tidak akan membiarkanku masuk? aku kedinginan jika terus berdiri di luar.” marah
Menarik Laila masuk. “ Tentu saja, ini salahku karena tidak memperhatikanmu. Ayo masuk, aku sudah menyiapkan ramen pedas untukmu, kau pasti kedinginankan?.” Rara segera menghidangkan ramen pedas yang telah ia siapkan untuk Laila.
Tanpa banyak kata Laila memakan ramen itu. “ Cuaca dingin seperti ini memang pas sekali jika memakan makanan pedas dan hangat.” menghabiskan dalam sekejap.
“ Karena kau sudah masuk dan makan, sekarang katakan padaku apa yang terjadi denganmu belakangan ini? mengapa aku merasa hidupmu sangat menyedihkan Laila, sebelumnya kau tidak separah ini.” mencibir.
Laila mulai menceritakan segalanya dan berharap Rara bisa menjaga rahasianya dengan baik. “ Seperti itulah ceritanya.” membuka baju dan hanya menggunakan tangtop saja.
Rara tidak percaya dengan cerita Laila yang tidak masuk di akal. “ Tunggu! kau bilang kau sudah menikah? lalu siapa suamimu? apa dia lebih tampan dan kaya dari Radi?.” membandingkan.
“ Ya, kurang lebih seperti itu.” berbaring di ranjang.
“ Apa dia orang yang memberikan bunga waktu itu? dia benar-benar suamimu Laila?.” seakan tidak percaya.
“ Iya, sudahlah aku sudah mengantuk, aku mau tidur. Selamat malam.” memejamkan matanya dan tertidur dalam sekejap.
“ Haih, bahkan kau belum memperlihatkan wajah suamimu tapi kau sudah tidur duluan, dasar payah.” tidak bisa berbuat apa-apa.
Di Perusahaan Duke.
Hari berlalu begitu cepat, Laila mendapatkan undangan pesta kelahiran putra pertama Radi dan Bella yang akan di selenggarakan di Kediaman Shean. Laila hanya melihat sekilas undangan itu lalu menyimpannya acuh tak acuh, beberapa karyawan lainnya melihat ekspresi menyedihkan yang terlihat jelas di wajah Laila.
Adrift berjalan mendekati Laila yang tengah melamun. “ Apa kau tidak enak badan Laila? kau bisa pulang sekarang, aku akan meminta cuti untukmu.” khawatir.
Laila kembali sadar dan memikirkan sesuatu ketika melihat Adrift di depannya. “ Adrift? apa kau punya pacar? atau wanita yang di sukai?.” mendekatkan kepala.
Adrift segera menghindar karena wajahnya terlalu dekat dengan Laila. “ Tidak ada, mengapa bertanya seperti itu?.” wajah memerah.
“ Bagus sekali, aku mau meminta bantuanmu boleh tidak?.” menggosok kedua tangan.
Uhuk uhuk, berdehem. “ Bantuan apa? katakan saja mengapa harus bertanya punya pacar atau tidak, apa ada hubungannya?.” melihat ke arah lain.
Memohon. “ Tentu saja ada, aku mau kau menjadi pasanganku saat menghadiri pesta kelahiran temanku. Apa kau bersedia?.” menanti.
“ Baiklah, aku akan membantumu, tapi apa balasanmu padaku? kau tidak berencana hanya memanfaatkan aku saja'kan?.” menatap Laila.
“ Aku akan balas budi padamu setelah kau membantuku, tetapi kau jangan kurang ajar sampai meminta hal yang tidak akan bisa kulakukan?.” mengangguk dengan wajah masam.
Adrift menyentuh tangan Laila. “ Laila, apa kau sudah bertunangan? cincin ini kelihatan spesial dan mahal. Kalau boleh tahu pria mana yang sangat beruntung bisa memiliki hatimu?.” menatap cincin berlian di jari manis Laila.
Laila menarik tangannya dengan gugup. “ Hah, dia. Ini memang cincin pertama yang melingkar di jari manisku, tapi semua ini tidak ada artinya bagiku, karena yang spesial di hidupku adalah orang yang memasangkan cincin ini lalu menciumku.” berbicara penuh penghayatan.
David yang berjalan melewati ruangan karyawan mendengar semua ucapan Laila kepada rekan kerjanya, David tersenyum begitu saja dan membuat semua orang yang melihatnya terkejut seketika melihat CEO itu tersenyum tanpa sebab.
“ Bagaimana Aktingku? baguskan! tentu saja, aku layak dinobatkan menjadi ratu Drama di kota ini.” batinnya, memalingkan wajah sambil tersenyum bangga.
“ Apa aku tidak salah lihat? CEO, tadi dia tersenyum. Bagaimana bisa ini terjadi? ini pertama kalinya dia tersenyum setelah menjabat jadi CEO.” ucap beberapa orang yang melihat senyuman di wajah David.
Laila berdiri untuk melihat keributan di kantor. “ Apa yang para wanita itu bicarakan? kenapa aku tidak bisa mendengarnya?.” bergumam.
“ Jangan mengintip, kau akan di ganggu oleh mereka jika mengurusi orang lain.” menarik Laila agar kembali duduk.
“ Hmm, kau terlalu banyak ikut campur. Aku hanya penasaran dengan gosip, tidak lebih.” bibir mengerucut.
Laila mampir ke sebuah Mall untuk membeli hadiah dan beberapa set baju untuknya, Laila terus menatap dress berwarna abu muda yang terpajang di patung, tetapi enggan membelinya karena harganya cukup mahal.
“ Segini juga cukup, jika aku terus belanja uangku akan habis dan tidak akan cukup untuk naik Bus.” berjalan pergi.
Apartement milik Rara jam 07:00 malam.
Laila tengah bersiap dan merias wajahnya secantik mungkin, tiba-tiba terdengar suara bell dari luar.
Rara segera membuka pintunya. “ Siapa?.” tanya Rara.
Asisten Li memberikan sebuah kotak pada Rara dan berkata. “ Tolong berikan ini pada nona Laila, beritahu padanya ini hadiah dari seseorang yang spesial dan menyuruhnya untuk memakai saat pergi ke pesta malam ini.” setelah mengatakan itu Asisten Li langsung pergi.
Rara berlari ke kamar dengan gembira. “ Laila, coba tebak siapa yang datang?.”
“ Mana kutahu, kau sendiri yang membuka pintu, masih bertanya padaku.” tidak peduli.
“ Aduh sayang, kau ini kenapa tidak bisa di ajak bercanda, membuatku kesal saja. Ini hadiah dari pacarmu, cepat buka dan pakai ke pesta mantanmu itu.” menyodorkan kotak hadian di pangkuan Laila.
Enggan menerima. “ Tunggu dulu, kau bilang pacar? pacar yang mana?.”
“ Tentu saja pacarmu, memangnya kau punya pacar berapa sampai bertanya pacar yang mana?.” mencibir.
Laila membuka kotak hadiah itu dan melihat di dalamnya terdapat sebuah dress yang di inginkannya waktu di Mall, di lengkapi dengan sepasang sepatu dan tas. “ Apa mungkin David yang memberikan dress ini?.” batinnya, berpikir.
“ Sudah ingat pacar yang mana?.” menyindir.
“ Diam! aku tidak punya banyak pria seperti yang kau pikirkan.” Laila mengganti bajunya dengan dress pemberian David.
Adrift mengirimi pesan singkat pada Laila yang berisi. “ Aku sudah sampai, cepat turun kalau tidak kita akan terlambat.” emoji kesal karena menunggu terlalu lama.
Laila segera turun ke bawah dan melihat Adrift yang menunggunya di mobil sambil menyandar, Laila tertegun dengan penampilan Adrift yang memakai jas hitam dengan rambut rapih.
Tak tak. Berjalan cepat. “ Maaf, membuatmu menunggu lama.” mendekat.
Adrift mengulurkan dan menyentuh rambut Laila. “ Tunggu sebentar, ada sesuatu di rambutmu.” membuang.
“ Ahh, terima kasih.” tersipu malu.
David yang menunggu sejak jam 6 sore membuatnya merasa di khianati ketika Laila masuk ke mobil Adrift.
Adrift membuka pintu mobil. “ Silahkan, nona.” dengan penuh hormat.
“ Baiklah, aku akan masuk, tapi kau tidak perlu seperti itu aku sedikit malu.” memalingkan wajah.
“ Aku tidak berniat membuatmu malu, aku hanya melakukan tugasku sebagai pacarmu.” tersenyum.
“ Itu juga tidak boleh, bagaimana jika terdengar orang lain mereka akan salah paham pada hubungan kita.” menolak mentah-mentah.
Mengusap air mata pura-pura. “ Benarkah? hatiku hancur sekali mendengar perkataanmu yang menusuk ini.” tidak mampu berbuat apa-apa.
Suasana di dalam mobil sangat mencekam membuat Asisten Li ketakutan.
Mengepalkan tangan. “ Aku beri kamu waktu 10 menit berikan Informasi tentang pria yang tidak tahu malu itu. Berani sekali menggoda istriku di depanku? sepertinya dia sudah bosan hidup.” memukul penyangga tangan di mobil.
“ Ehh, tuan apa Anda tidak mengenal pria itu, dia Manajer keuangan di Perusahaanmu. Aku dengar dia hanya menemani nyonya muda menghadiri pesta saja, kenapa Anda bilang menggoda nyonya?.” tidak mengerti orang yang sedang cemburu.
“ Apa kau sudah bosan hidup? baik, aku akan mengabulkannya.” memukul belakang kursi yang di duduki Asisten Li.
“ Tidak, tidak, aku benar-benar salah, tolong tuan ampuni nyawaku, karena bagaimanapun aku sudah menemani tuan lebih dari 15 tahun.” menggunakan kebaikan untuk menyelamatkan nyawa sendiri.
“ Diam! untuk apa aku tahu orang tidak tahu malu sepertinya? pecat dia dan jangan biarkan Perusahaan manapun menerimanya bekerja.” tubuhnya mulai panas seperti terbakar.
Menyetir dan pergi. “ Baik tuan, aku tidak akan mengecewakanmu.” diam dan patuh.