David&Laila

David&Laila
Part38



Di Rumah Sakit jam 12:00 malam.


Fuan Xuer menggendong Laila ke ruang IGD dan berteriak memanggil Dokter.


“ Dokter, cepat datang kemari! ada pasien yang harus segera di tangani sekarang juga.” berlari keluar mencari Dokter.


Beberapa Dokter dan Suster berlarian memasuki ruang IGD dengan panik setelah melihat wajah Fuan Xuer yang cemas.


“ Dimana pasiennya, apa ini korban tabrak lari? bagaimana dengan lukanya parah tidak?.” tanya Dokter terengah-engah.


Fuan Xuer menyalahpahami ucapan Dokter yang mengatakan kalau Laila terluka parah.


“ Jangan banyak omong! cepat lihat pasiennya, dia ada di depan kalian.” tidak sabaran.


Semua Dokter dan Suster menatap Laila yang tengah duduk di ranjang pasien, mereka saling memandang satu sama lain karena tidak percaya mereka di panggil hanya untuk mengobati pasien yang memiliki luka di kaki dan tangan, bahkan sebagian Dokter meninggalkan pasien yang di tanganinya dan mengira pasien yang di bawa oleh Fuan Xuer terluka parah.


“ Ini, apa ini orang yang di bawa tuan Fuan?.” kebingungan.


Laila memalingkan wajah karena malu.


“ Apa-apaan orang ini? Dokter sebanyak ini di suruh datang kemari untuk mengobati lukaku. Apa dia pikir aku sudah mau kehilangan nyawa, benar-benar membuatku malu.” batin Laila tidak berani melihat para Dokter.


“ Kenapa kalian diam saja? aku menyuruh kalian datang kemari untuk mengobati lukanya, cepat lakukan kalau tidak lukanya akan infeksi.” bentak Fuan Xuer.


“ Baik tuan, kami akan mengobati nona.” para Dokter segera membagi tugas seperti pelayan.


15 menit kemudian, luka selesai di obati dan di perban.


“ Tuan, kami sudah selesai mengobati pasien, kalau begitu kami akan undur diri.” membungkuk lantas pergi dari ruangan.


Laila beranjak dari ranjang tetapi, Fuan Xuer menghentikannya.


“ Mau kemana? kalau perlu sesuatu katakan saja padaku, aku akan membantumu nona.” memegang bahu Laila agar tidak turun dari ranjang.


“ Aku mau pulang, menyingkirlah.” mendorong.


“ Kau sedang terluka, istirahatlah di sini besok aku akan mengantarmu pulang. Kebetulan aku ada urusan mencari CEO Duke.” membujuk.


Fuan Xuer memaksa Laila berbaring lalu menyelimutinya.


“ Suamiku? kau ada apa mencari suamiku?.” khawatir.


“ Tentu saja membicarakan tentang bisnis. Omong-omong, aku tidak percaya dia benar-benar mencintaimu, yang kudengar dari rumor dia itu pria tidak normal.” merendahkan.


Dalam sekejap Laila berdiri di dekat Fuan Xuer dan menamparnya dengan keras, plak.


“ Aku tidak menyangka ternyata kau orang yang seperti itu.” marah sampai gemetar.


Laila bergegas pergi dari Rumah Sakit sampai menangis karena sakit hati.


“ Kenapa aku harus marah demi pria itu, dia bahkan tidak peduli dan mempercayaiku. Aku benar-benar bodoh! tapi bagaimanapun dia itu suamiku yang sah, siapapun tidak boleh merendahkan dia.” gumamnya, mengingat kejadian dimana David menampar wajahnya.


Di waktu bersamaan David tengah menunggu kepulangan Laila di dalam kamar, Asisten Li mengirimi pesan singkat yang memberitahukan bahwa Laila bersama Fuan Xuer.


Tanpa sadar David melemparkan ponselnya ke bawah dengan kesal.


“ Di tengah malam begini berani-beraninya dia pergi berkencan, bahkan melukai diri sendiri demi nyawa orang lain.” mencengkram gelas di tangannya sampai pecah dan melukai telapak tangan.


Satu jam berlalu, Laila kembali ke kamar dan melihat David tengah duduk di kursi dengan wajah suram. Pecahan gelas dan darah menetes dari tangan David membuat Laila syok berat.


“ Apa yang kau lakukan tuan? kenapa belum tidur?.” menyalakan lampu.


David berdiri dan menatap Laila dengan dingin.


“ Dari mana kau jam segini baru pulang? puas bersenang-senangnya di luar? masih ingat pulang?.” mengkritik.


Laila mundur perlahan karena ketakutan.


“ Heh, seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan seperti itu padamu.” tertawa mengejek.


David keluar dari kamar dengan tangan terluka. Asisten Li membuka pintu mobil dan mempersilahkan David masuk.


“ Jalankan mobilnya.” duduk di kursi mobil.


“ Baik tuan, kita mau kemana tuan? ke Villa atau?.” bertanya dengan sungkan.


“ Ke tempat biasa.” tempat yang sering di datangi David sejak kembali ke kota adalah Bar.


Asisten Li ragu-ragu saat mengemudi setelah melihat David terluka tapi ingin pergi ke Bar bukan ke Rumah Sakit.


Di sepanjang perjalanan Asisten Li terus membujuk David agar tidak pergi ke Bar.


“ Tuan, bagaimana kalau pergi ke tempat nyonya Riana? aku pikir tuan sudah lama tidak mengunjungi mereka.” memikirkan solusi yang tepat.


“ Tuan tidak pernah menolak saat membicarakan nyonya Riana dan tuan Gum, aku pikir ini yang terbaik dari pada pergi ke Bar dan minum Bir.” batin Asisten Li.


David mengabaikan Asisten Li dan hanya memejamkan mata sembari berpikir.


“ Kenapa aku harus peduli dengan siapa dia pergi, di antara aku dan dia tidak lebih dari pernikahan kontrak yang akan berakhir kapan saja saat aku tidak membutuhkan dia lagi.” batinnya, dengan perasaan gelisah.


Mobil berhenti tepat di depan kediaman Gum.


“ Kau benar-benar membawaku datang kemari? kau sangat berani Li Afra.” melirik Asisten Li dengan wajah suram.


Asisten Li segera keluar dari mobil dan menekan bell rumah tanpa izin dari David.


“ Nyonya, kumohon cepatlah keluar kalau tidak tuan muda akan memukulku.” berbicara pelan dengan panik.


Saat David keluar dari mobil secara kebetulan Riana membuka pintu gerbang dengan mata kantuk.


“ Siapa malam-malam begini bertamu ke sini?.” tanya Riana mengamati sekitarnya, saat tahu David berdiri di depannya Riana membuka mata lebar-lebar dengan senang.


“ David, dengan siapa kau datang ke sini? ayo cepat masuk kenapa berdiri di sana. Nenek dan kakek merindukanmu, kau pasti sibuk sampai baru bisa datang ke sini.” menarik David masuk ke dalam rumah.


Riana melepaskan tangan David dan menyadari tangannya yang basah akibat darah.


“ David, kau terluka? kenapa tidak di obati. Ayo cepat duduk nenek mau ambil kotak p3k dulu.” panik.


“ Aku tidak apa-apa nek, ini hanya luka kecil nenek duduk saja di sini temani aku.” meraih tangan Riana dengan wajah pucat.


Riana tertegun dan menuruti permintaan David untuk duduk di dekatnya.


David memeluk Riana dengan tangan gemetar, tanpa sadar David meneteskan air mata yang membuat Riana khawatir.


“ Ini pertama kalinya nenek melihatmu menangis, terakhir kau menangis saat Mama mu pergi untuk selamanya. Katakan pada nenek apa yang membuatmu sedih, David? apa kau merindukan Mama mu?.” mengusap air mata yang menetes di wajah David.


David tersadar lalu memalingkan wajahnya.


“ Nenek benar, mengapa aku menangis? padahal selama ini aku berusaha tenang agar tidak menangis selain menangisi Mama.” batin David.


David berdiri dan pergi ke toilet.


David membasuh muka berkali-kali dan mengingat alasannya menangis di pelukan Riana.


Setelah beberapa saat David keluar dari toilet dengan wajah lebih tenang.


“ Kakek? kenapa belum tidur?.” jalan mendekat.


“ Kakek sudah tidur tapi nenekmu bilang kau datang kemari, jadi kakek bangun untuk melihatmu sebelum kau pergi.” kata-kata Gum membuat David merasa bersalah karena mengabaikan kakek neneknya yang baik kepadanya.


“ Kakek, maafkan aku. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dan banyak masalah di Perusahaan, besok malam setelah aku selesai bekerja aku akan kembali dan menginap di sini beberapa hari.” membujuk.


Gum tertawa senang.


“ Baiklah, besok malam kakek dan nenek akan menyiapkan makan malam untuk kita.”


Mereka saling berbincang satu sama lain sampai lupa waktu sudah larut dan hampir pagi.


Pagi keesokan harinya.


David pergi ke Perusahaan tanpa istirahat semalaman, wajah pucat dan tangan di perban membuat karyawan di Perusahaan Duke khawatir akan kesehatan David.


“ Tangan CEO kenapa di perban? wajahnya juga terlihat kurang baik, mungkin dia sedang tidak sehat.” ucap beberapa karyawan.


Aldian berjalan sembari membawa beberapa kopi panas di tangannya dan tidak sengaja menabrak David sampai semua kopi tumpah di badannya.


“ Siapa yang mempekerjakan orang bodoh sepertinya bekerja di sini?.” bentak David dengan kesal.


Aldian mendorong David dengan marah.


“ Siapa yang kau maksud bodoh itu? sudah bagus aku mau membuat kopi untuk kalian, tapi kalian malah mempermainkan ketulusanku bahkan berani menginjak harga diriku.” berteriak.


David tertegun melihat Aldian jadi pengantar kopi di Perusahaannya.


“ Beberapa hari tidak melihatmu ternyata kau ada peningkatan, bagus! lanjutkan kerjamu aku percaya kau pasti bisa mendapatkan apa yang kau inginkan dengan kerja kerasmu.” menepuk bahu Aldian dengan wajah mengejek.


Beberapa orang bergosip.


“ Lihat, bukankah mereka kakak beradik, mengapa posisi mereka jauh berbeda? tuan muda tertua di pilih menjadi ahli waris dan meneruskan Perusahaan Duke, sedangkan tuan muda kedua malah menyedihkan seperti itu. Aku rasa tuan besar Duke terlalu pilih kasih.” bicara pelan.


“ Sial! lagi-lagi dia mempermalukanku di hadapan semua orang, tunggu saat aku merebut posisimu aku akan membuat perhitungan dengan kalian dan memecat kalian semua.” memukul cermin di toilet pria.


Laila berjalan cepat ke Perusahaan Duke dan tidak sengaja berpapasan dengan Fuan Xuer di Lift, mereka berdua berada di Lift yang sama dan membuat suasana menjadi canggung.


Lift terbuka, Laila keluar lebih dulu tapi Fuan Xuer meraih tangan Laila dan menariknya masuk kembali ke dalam Lift.


“ Tuan, ada masalah apa? aku sedang buru-buru harus pergi bekerja, tolong jangan menahanku di sini.” menarik tangannya dari genggaman Fuan Xuer.


“ Maaf, aku tidak sengaja.” mengangkat tangan dan merasa bersalah.


Laila memalingkan wajah dan berusaha bersikap tenang.


“ Tidak apa-apa, lain kali tolong jaga sikapmu padaku. Karena bagaimana pun kita tidak saling kenal satu sama lain.” mengindar.


“ Laila, apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan ini? jika kau keberatan aku bisa.” ragu-ragu.


“ Lagi pula kau sudah menyebutnya, aku bisa apa.” pasrah.


Fuan Xuer menggenggam tangan Laila pada saat Lift terbuka, semua orang salah paham akan hubungan keduanya dan menjadi gosip hangat di kantor.


“ Aku tidak menyangka hubungan mereka sedalam itu, pantas saja saat pertama kali tuan Fuan Xuer datang ke sini dia langsung terpesona oleh Laila bahkan mengajaknya makan bersama. Aku pikir mereka pasti memiliki hubungan antara pria dan wanita.” bergosip.


Laila mengabaikan setiap orang yang bergosip tentang hubungannya dengan Fuan Xuer.


“ Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya.” batinnya, berpikir.


Waktunya makan siang jam 12:00 siang.


Laila meregangkan tubuh tanpa henti dengan mata mengantuk.


“ Aku harus cuci muka untuk menyegarkan diri.” pergi ke toilet.


5 menit kemudian, Laila keluar dari toilet dengan tubuh lesu, tanpa di sengaja berpapasan dengan Aldian yang akan pergi ke kantin karyawan.


“ Adik ipar, kau? kenapa memakai baju seperti itu?.” terkejut melihat penampilan Aldian yang seperti pelayan.


Aldian menarik tangan Laila masuk ke ruang istirahat di mana para pelayan beristirahat.


“ Kakak ipar, aku butuh bantuanmu.” berbicara dengan terus terang.


Laila melepaskan tangannya.


“ Katakan, aku mau pergi ke kantin untuk makan siang.” acuh tak acuh.


Aldian memberikan sekotak bekal nasi yang telah di siapkan oleh Chamilla untuk David, namun Aldian tidak punya keberanian jika memberikannya secara langsung pada David.


“ Kakak ipar, tolong berikan makan siang ini pada kakak, aku khawatir kakak tidak makan dengan baik akhir-akhir ini.” menyodorkan.


“ Kenapa tidak kau saja yang memberikannya? lagi pula aku sibuk, tidak bisa membantumu kali ini.” berpaling.


Aldian tidak menyerah dan terus memohon agar Laila mau membantunya.


“ Aku pikir kakak tertua akan mendengarkanmu karena kau istrinya, lupakan, aku akan menyuruh Manajer untuk mengantarkannya.” memelas.


Laila tertegun sesaat dan menganggukkan kepala.


“ Baiklah, berikan makan siangnya padaku.” mengambil kotak makan siang di tangan Aldian.


“ Terima kasih kakak ipar, suatu saat aku akan membalas budimu ini.” tersenyum palsu.


Laila berjalan pergi ke ruangan CEO.


“ Semalam David terluka, tidak tahu apa dia sudah di obati atau belum.” berpikir dengan cemas.


Kedatangan Asisten Li yang tiba-tiba membuat Laila kaget.


“ Nyonya, kenapa tidak masuk? tuan dan CEO Xue sedang berbicara tentang bisnis di dalam. Anda membawa bekal untuk tuan? tuan pasti akan senang.” memuji.


Laila menyerahkan sekotak bekal pada Asisten Li.


“ Tolong berikan ini pada tuan, bilang padanya untuk segera makan.” berlari dengan cepat.


Asisten Li kebingungan melihat Laila pergi sebelum makan siang dengan David.


Tok tok, mengetuk pintu lalu masuk.


“ Tuan, nyonya memberikan ini untukmu.” menaruh kotak bekal di meja.


“ Di mana dia? kenapa tidak makan bersama denganku?.” melirik Fuan Xuer yang duduk di depannya.


“ Nyonya tiba-tiba pergi setelah memberikan ini padaku, dan nyonya berpesan agar tuan segera makan setelah menyelesaikan pekerjaannya.” menyampaikan dengan baik.


David tersenyum puas melihat wajah Fuan Xuer yang muram.


“ Kau boleh pergi, katakan padanya jangan terlalu merepotkan dengan membuat bekal khusus untukku.” melambai tangan.


David sengaja membuka kotak bekal dan membuat Fuan Xuer melihatnya makan sampai ngiler.


“ Karena tuan David sedang sibuk, mari akhiri pembicaraan ini.” tidak senang.


David terus mengunyah makanannya dengan lahap.


“ Kenapa tuan Xue terburu-buru sekali? bukankah kita sedang membahas tentang bisnis, sampai mana obrolan kita tadi?.” menutup kotak bekal dengan rapat.


Fuan Xuer melirik ke belakang dengan dingin.


“ Tiba-tiba aku ada urusan hari ini, harap tuan bisa memakluminya. Sampai jumpa di hari berikutnya, harap tuan tidak mengecewakanku yang datang jauh-jauh dari Negara Selatan.” mengejek dengan nada lembut.


Brak, David memukul meja karena marah.


“ Tidak mengecewakanmu?! maksudmu aku harus membiarkan istriku memiliki lebih banyak waktu dengan seorang pria saat aku tengah sibuk. Kau memikirkan rencana yang bagus, sial! mengapa aku tidak berdaya saat menghadapi tekanan darinya.” memikirkan tentang Laila yang pergi berkencan dengan Fuan Xuer semalam membuat David semakin kesal.


David menekan telepon kantor dan meminta Manajer memberitahukan semua karyawan di pulangkan lebih awal dari biasanya.


Manajer kebingungan namun tak bisa berkata-kata.


“ Cepat beritahu semua orang untuk segera pulang hari ini, jika tidak ada yang pulang kalian akan di pecat.” teriak Manajer.


Manajer mencari Laila di seluruh kantin karyawan atas perintah David.


“ Laila? tunggu sebentar.” teriak Manajer mengejar Laila yang baru selesai makan.


“ Manajer? ada apa, kenapa semua orang di pulangkan?.” bertanya dengan tangan memegang nampan makan.


Manajer mengambil nampan makan dari tangan Laila dengan terengah-engah.


“ Cepat pergi ke ruang CEO, sesuatu terjadi padanya.” mendorong.


“ Tunggu, CEO kenapa? apa dia sakit, kenapa tidak memanggil Dokter untuk memeriksanya?.” tidak mengerti.


“ Tidak sempat, Asisten Li menyuruhmu kesana dia bilang kau bisa menyelamatkannya.” mendorong Laila untuk pergi.


“ Baik, aku pergi.” terpaksa berjalan menuju ke ruang CEO.


Asisten Li menjemput Laila dengan wajah pucat.


“ Nyonya silahkan masuk, tuan menunggumu di dalam.” menunduk.


Laila tidak banyak tanya dan langsung membuka pintu.


“ Tuan, jika kau sakit mengapa tidak memanggil Dokter kemari? malah menyuruhku datang dan mengatakan omong kosong dengan aku bisa menyelamatkanmu.” berbicara tanpa mengamati situasinya.


Setelah melihat David berdiri menatap ke arahnya, Laila gemetar ketakutan.


“ Kau? tidak sakit? kalau kau tidak apa-apa aku akan pulang lebih dulu.” berpaling.


David menghadang dan menekan Laila ke dinding.


“ Kalau aku tidak pura-pura sakit apa kau akan peduli dan datang melihatku? melihatmu hidup dengan tenang sepertinya kau cukup menikmatinya.” menyindir.


“ Apa maksudmu?.” waspada.


“ Apa maksudku? tentu saja sudah saatnya kau kembali ke Villa bersamaku. Malam ini lakukan tugasmu sebagai istriku, aku akan pulang lebih awal jadi jangan mengecewakan aku.” berbisik dan meniup telinga Laila sampai memerah karena tersipu.


David pergi meninggalkan Laila yang belum sadar dari bayang-bayang perkataannya.


“ Sialan! sejak kapan aku harus memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri? apa kau melakukan tugasmu sebagai seorang suami selama menikah!.” berteriak dengan kesal karena merasa di permainkan.


David kembali membuka pintu dan bertanya.


“ Apa yang kau teriakan? seagresif itukah kau sampai tidak sabar memanggilku suami. Tenang, aku tidak akan mengecewakanmu malam ini.” mengedipkan mata dan sengaja menggoda Laila.


“ Tidak, bukan, aku tidak seperti itu. Kau pasti salah paham.” terbata-bata dengan panik.


Setelah David pergi Laila tidak tenang dan terus berpikir keras.


“ Aku tidak mungkin benar-benar harus melayaninya malam ini'kan? kalau itu sampai terjadi aku tidak akan punya masa depan lagi setelah bercerai dengannya, terlebih lagi aku tidak punya perasaan apapun padanya.” mondar-mandir dan memikirkan solusi.