
Di Restoran pinggir pantai.
Radi tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Laila.
“ Terima kasih karena kalian memperbolehkanku duduk di sini. Bagaimana kalau aku yang mentraktir kalian? semua yang kalian pesan aku yang bayar.” Radi begitu cepat beradaptasi.
Semua orang mengangguk dan tidak sungkan jika Radi yang berbicara.
Yolandra terdiam dan tidak berani berbicara.
“ Oh! bukankah dia pria yang mengatakan cintanya pada Laila, tidak di sangka dia juga datang kemari.” melirik Yolandra yang duduk di samping Laila.
Uhuk uhuk! Radi sengaja berdehem.
“ Bagaimana kabarmu kawan? aku ingat kau teman SMA Laila.” menyapa.
Yolandra menengadah.
“ Aku baik, bagaimana denganmu? aku dengar kau sudah punya seorang putra, mengapa kau tidak mengundang kita semua saat menikah? bukankah kita sudah lama kenal?.” memprovokasi.
“ Kau bukan temanku untuk apa mengundangmu datang.” kesal sampai ingin memukul meja.
Yolandra tersenyum pahit mendengar pernyataan Radi.
“ Kakak cantik! aku sangat merindukanmu.” Ling Xuer berlari memeluk Laila di hadapan semua temannya.
Laila melihat sekeliling dan melihat Fuan Xuer berdiri menatap ke arahnya.
“ Ling, ini sudah malam, kenapa kau ada di sini?.” khawatir.
“ Aku tidak bisa tidur dan meminta ayahku mencarimu di sini. Apa kakak cantik marah aku datang ke sini dan mengganggu kalian?.” ekspresi menyedihkan.
Semua teman Laila terkejut melihat seorang anak kecil tiba-tiba memeluk Laila dan bersikap manja padanya.
Radi berdiri dan menarik Ling menjauh dari Laila.
“ Hei! aku tidak pernah dengar kalau Laila punya keponakan kecil sepertimu. Katakan siapa dan dari mana kau berasal? jangan-jangan kau penipu ya.” waspada.
“ Hah! kakak cantik lihat paman itu! dia memarahiku penipu.” hiks hiks, menangis memeluk Laila.
“ Paman?? apa aku setua itu?.” bergumam.
“ Radi apa yang kau lakukan? dia itu anak kecil bukan penipu.” marah sampai tidak bisa berekspresi.
“ Aku, aku tidak bermaksud seperti itu.” mengelak.
“ Ahh! kau cantik sekali. Katakan pada kakak siapa namamu dan kenapa bisa lengket seperti itu dengan Laila?.” tanya Rara mencubit pipi Ling Xuer.
Dalam sekejap Ling jadi populer di antara semua orang.
“ Tidak sia-sia aku punya anak pintar seperti Ling. Dia tahu apa yang aku pikirkan, sekarang giliranku.” batin Fuan Xuer.
Fuan Xuer berjalan mendekati Laila namun Asisten Li berlari dan menghadang Fuan yang akan mendekati Laila.
“ Nyonya, tuan sedang menunggu di luar.” berbisik.
Laila melihat ke arah luar dan mendapati mobil David yang terparkir di luar.
“ Katakan padanya aku akan pulang setelah acara selesai.” tidak peduli.
Asisten Li terdiam.
“ Laila, siapa pria ini? apa hubungannya denganmu?.” tanya Radi tidak senang.
“ Lebih baik kau jangan tahu banyak tentangku, karena kau tidak pantas mengetahui siapa aku.” balas Asisten Li.
Fuan Xuer tersenyum melihat Asisten Li.
“ Ya, kebetulan sekali kita bertemu di sini Asisten Li, apa yang kau lakukan di sini? apa tuanmu juga datang ke sini?.” tanya Fuan Xuer menyeringai.
“ Sangat kebetulan ya??.” balas David berjalan masuk.
Semua orang terkejut melihat kedatangan David secara tiba-tiba.
“ Itu dia orangnya.” batin Radi tertegun.
“ Tampan sekali, siapa pria ini? kelihatannya bukan orang biasa.” ucap beberapa wanita dengan kagum.
Laila mengabaikan kedatangan David dan berpura-pura tidak saling mengenal.
“ Aku bertanya-tanya mengapa seorang Asisten Li bisa datang ke tempat ini, ternyata tuannya juga datang, tidak tahu apa yang membuat CEO David tertarik makan di Restoran ini.” menyeringai.
“ Li, beritahu dia mengapa kita bisa ada di sini.” duduk di kursi dengan bangga.
“ Baik tuan.” mengangguk.
Asisten Li memperlihatkan surat keterangan kepemilikan usaha pada Fuan Xuer yang berarti Restoran tersebut telah di beli oleh David dengan harga yang mahal.
“ Tuan, Anda pasti mengerti maksud surat ini'kan? kalau begitu aku tidak perlu repot-repot menjelaskan lagi padamu.” menutup kembali berkas itu.
Fuan Xuer terdiam.
Setelah beberapa saat, semua pria yang berhubungan dengan Laila duduk satu meja dan saling memandang satu sama lain.
Radi mengambil salah satu makanan dan menaruhnya di piring milik Laila.
“ Aku ingat kau paling suka hati angsa. Makanlah.” tersenyum.
“ Hati angsa. Aku tidak semampu itu bisa memakan makanan mahal, tapi karena aku menyukai rasanya setiap pergi ke Restoran kau selalu memesan hidangan itu untukku.” batin Laila sambil menatap makanan.
“ Selera orang bisa berubah! sekarang aku sudah tidak menyukainya.” menggeser piring menjauh dari hadapannya.
Yolandra melihat sikap dingin Laila pada Radi membuatnya berpikir kalau dirinya mempunyai peluang bisa mendekati Laila.
“ Makan ini aja.” menaruh sepotong daging di piring Laila.
“ Um, terima kasih.” mengangguk.
Radi menatap Yolandra dengan kesal.
Tak terasa waktu begitu cepat dan sudah larut malam, Ling Xuer yang tidak mau jauh dari Laila tertidur di pangkuan Laila.
Fuan Xuer berdiri dan mendekati Laila.
“ Berikan Ling padaku. Kau pasti lelah.” menjulurkan tangan.
David bergegas menarik Fuan Xuer menjauh dari Laila.
“ Berikan saja padaku.” menjulurkan tangan dan mengangguk.
Laila menyerahkan Ling pada David.
David memberikan Ling pada Fuan.
“ Sudah selarut ini seharusnya kau cepat bawa putrimu pulang. Kalau tidak dia akan sakit masuk angin.” menyerahkan.
“ Terima kasih atas perhatiannya.” tersenyum pahit.
Fuan Xuer pergi dari Restoran sambil menggendong Ling di pelukannya.
“ Kalau begitu aku juga pulang ya, besok aku masih ada pekerjaan.” mengambil tas di meja.
“ Tunggu! bolehkah aku mengantarmu pulang, Laila?.” Yolandra tiba-tiba bangkit dari kursi.
“ Aku yang akan mengantarnya.” Radi meraih tangan Laila di depan semua temannya.
Wajah David jadi suram melihat Radi menyentuh tangan Laila.
“ Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” menarik tangannya dari genggaman Radi.
Seorang wanita bernama Anna berjalan ke depan, yang selalu bersikap tidak baik dan membenci Laila sejak Yolandra menyatakan cintanya.
“ Kenapa buru-buru sekali? kita baru bertemu beberapa jam yang lalu, apa kau begitu tidak senang bersama kami? ayo biarkan aku bersulang untukmu.” menyodorkan segelas Wine.
Laila ragu-ragu saat hendak menerima Wine pemberian Anna.
“ Aku, aku tidak bisa minum.” gagap.
David mengambil Wine di tangan Anna dan meminumnya sekali teguk.
Anna terkejut melihat David mau minum Wine yang ada di tangannya.
“ Tu, tuan, Anda??.” wajah kebingungan.
“ Dia tidak bisa minum Wine karena malam ini kami harus pergi ke Perusahaan, nona kau tidak keberatankan aku menggantikannya meminum Wine ini?.” bertanya.
“ Ti, tidak. Tentu saja tidak.” menggelengkan kepala dengan cepat.
“ Bagus. Kalau begitu apa boleh aku membawa dia pergi sekarang?.” menatap semua orang.
Semua orang terdiam dan suasana jadi hening seketika.
“ Kalian diam saja, aku anggap kalian setuju jika tidak bicara.” menaruh gelas di meja dan hendak meraih tangan Laila.
Haha, Rara tertawa canggung.
“ Benar, kami tidak akan menahan Laila berlama-lama di sini. Tuan silahkan bawa Laila jika kalian punya pekerjaan.” ucap Rara menepuk bahu Laila.
Rara berjalan mendekati Yolandra dengan maksud ingin menenangkannya.
“ Sudah-sudah, kau jangan sedih Senior. Mungkin kau tidak tahu pria itu CEO muda yang terkenal di kota ini, Laila bekerja untuknya, jadi sudah seharusnya mereka pergi bersama karena urusan pekerjaan bukan.” berbisik.
David meraih tangan Laila dan membawanya pergi.
“ Baiklah, malam ini semua pengunjung tidak perlu bayar. Semua yang kalian pesan di sini Gratis.” berjalan pergi.
“ Terima kasih tuan, kau sangat murah hati.” ucap beberapa orang dengan gembira.
“ Anna, sadar! mau sampai kapan kau terus menatap tuan itu? kau tidak lihat dia begitu akrab dengan Laila hanya karena mereka atasan dan bawahan. Sudah jelas tuan itu sengaja datang ke sini menjemput Laila.” ucap teman Anna.
“ Tidak mungkin, gadis itu miskin dan penampilan yang kuno siapa yang akan tertarik dengan badan ramping seperti itu.” meremehkan.
Radi mengepalkan tangan dan murung melihat David membawa Laila pergi namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
“ Sial! sebenarnya apa hubungan antara Laila dan pria itu? dia begitu terkenal penyuka sesama jenis mana mungkin bisa sedekat itu dengan Laila.” batin Radi, ekspresi penuh tanda tanya.
Yolandra kembali duduk dan meminum segelas Wine, bahkan sampai menghabiskan beberapa botol untuk menghilangkan kesedihan di hatinya.
Rara berusaha meyakinkan Yolandra bahwa di antara Laila dan David tidak lebih dari atasan dan bawahan.
“ Senior, apa yang kau lakukan? kau akan mabuk dan tidak bisa pulang jika minum terlalu banyak.” khawatir.
“ Aku tidak mabuk Ra, aku masih kuat minum. Berikan aku sebotol lagi, aku mau minum sampai mabuk.” Yolandra mulai kehilangan kesadaran.
“ Anna, cepat lihat gadis miskin yang selalu dekat dengan Laila! dia mencoba cari kesempatan mendekati Yolandra saat mabuk. Jika di biarkan cepat atau lambat Senior Yolandra akan tergoda.” salah seorang teman Anna berbisik.
Anna seketika tersadar dan menarik Rara menjauh dari samping Yolandra.
“ Senior, kau sudah mabuk. Ayo jangan minum lagi, biar aku antar kau pulang ya.” memapah.
Seorang supir berjalan masuk dengan cemas.
“ Nona, berikan saja tuan muda padaku. Aku supir pribadinya yang akan mengantar tuan pulang ke rumah.” menjulurkan tangan.
“ Baik, tolong pastikan Senior sampai dengan selamat sampai rumah.” dengan enggan menyerahkan Yolandra kepada supirnya.
“ Tentu saja, terima kasih atas perhatian nona.” mengangguk dengan ramah.
Beberapa saat kemudian satu persatu orang pada pergi dari tempat reuinian.
David menghentikan mobil di sebuah jalan di mana terdapat jurang di depannya.
Laila kebingungan karena David membawanya ke tempat yang indah dengan langit cerah penuh dengan bintang.
“ Turun.” ucap David membuka pintu mobil.
“ Apa yang ingin dia lakukan membawaku ke tempat ini? apa jangan-jangan dia mau melemparku ke bawah jurang dan membiarkanku mati sendirian di sini.” batin Laila mulai cemas.
David duduk di depan mobil sambil menatap bintang di langit.
“ Kenapa tidak turun? tidakkah kau merasa langit malam ini terlalu cerah dan berwarna.” bergumam.
“ Namun berbeda dengan hatiku, perasaanku kacau dan marah saat melihat pria lain tersenyum bersamamu.” batinnya dengan ragu.
Laila keluar dari dalam mobil dan duduk di dekat David sambil menatap ke arah langit.
“ Ada apa? apa sesuatu terjadi hingga membuatmu tidak senang?.” tanya Laila dengan peduli.
David berbalik menatap wajah Laila dengan penuh keraguan.
“ Kau begitu suka memakai pakaian milik pria lain??.” memalingkan wajah.
“ Tidak, bukan seperti itu. Tadi aku benar-benar masuk angin.” membantah dengan cepat.
David mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Laila lalu menciumnya dalam waktu yang lama. Laila sempat meronta namun tangan David tiba-tiba turun dan meraba dadanya, kemudian memberi tanda di leher Laila.
“ Ah! kenapa kau menggigitku? itu sakit.” tidak sengaja mendesah.
“ Ah! aku, aku tidak sengaja.” buru-buru menjelaskan dengan panik.
“ Kau kelihatan sangat menikmatinya gadis. Biarkan aku mencicipimu malam ini.” mencium kembali dan tidak membiarkan Laila berbicara.
“ Tidak, kenapa tubuhku sangat panas.” batin Laila memejamkan mata dan berusaha menolak ciuman David namun tidak bisa.
Dengan cepat Laila mendorong David.
“ Tidak, kau tidak boleh melakukan ini. Saat ini aku tidak bisa, mohon kau lepaskan aku malam ini.” memalingkan wajah.
David melepaskan jaket pemberian Yolandra dan memakaikan jaket miliknya di badan Laila.
“ Kau tenang saja, aku tidak semesum itu yang mau melakukan sesuatu pada wanita yang sedang berhalangan. Pakailah jaket punyaku, kedepannya kau hanya boleh memakai jaket milikku.” merapihkan rambut Laila dengan lembut.
Deg deg deg! jantung Laila berdetak lebih kencang sampai membuat wajahnya memerah.
David berjalan dengan tangan membawa jaket milik Yolandra dan berniat membuangnya ke jurang.
“ Jangan! tuan, boleh tidak jangan buang jaket itu? karena bagaimana pun juga itu milik temanku, aku harus mengembalikannya setelah mencucinya.” memohon.
David ragu-ragu saat akan melempar jaket itu, pada akhirnya David melemparkan jaket itu pada Asisten Li.
“ Kau yang mencucinya, jangan lupa kembalikan pada pemiliknya besok.” tidak puas.
“ Baik tuan.” mengangguk.
David dan Laila menghabiskan malam berdua di mobil dengan indahnya cahaya bintang di langit.
Pagi keesokan harinya, jam 06:00.
Laila membuka mata dan langsung di kejutkan dengan sinar Matahari terbit di sebelah timur.
“ Indah sekali. Ini benar-benar menakjubkan.” berjalan dan menikmati Matahari dengan kagum.
Srek srek! David berjalan mendekat dengan kopi hangat di tangannya.
“ Sudah bangun? minumlah, supaya badanmu jadi hangat.” menyodorkan segelas kopi.
“ Terima kasih.” menerima dan meminumnya.
“ Tidurmu sangat nyenyak, bahkan sampai mendengkur.” mengejek.
“ Apa?! apa aku mengganggu tidurmu tadi malam.” bertanya dengan malu.
“ Tidak, sebaliknya aku tidur sangat nyenyak mendengarmu mendengkur bagaikan nyanyian di telingaku.” tersenyum tipis.
Laila semakin malu dan meminum kopi dengan cepat untuk menghilangkan ketegangan.
Uhuk uhuk! Laila batuk karena terlalu banyak minum kopi.
“ Apa kau baik-baik saja?.” refleks menyentuh wajah Laila.
Laila hanya mengangguk dan terus menghindari tatapan mata David.
“ Biar aku bantu.” David mencium bibir Laila bahkan memainkan lidahnya.
David tertegun saat Laila merespon ciumannya dengan agresif.
“ Kau anak nakal. Beraninya menggodaku, apa aku harus memakanmu saat ini juga?.” menjentik dahi Laila.
“ Ah, aku tidak sengaja.” mundur dengan cepat tanpa sadar akan jatuh ke bawah.
David menarik tangan Laila dan menekannya di atas mobil paling depan.
“ Kau sangat ahli saat berciuman. Katakan, apa kau dan mantanmu pernah melakukannya?.” menyentuh bibir Laila dengan lembut.
“ Aku, itu hal yang wajah bagi sepasang kekasih berciuman saat pacaran bukan? apa kau belum pernah melakukannya sebelumnya?.” bicara pelan.
“ Sungguh?? apa dia juga pernah seperti ini? atau memasukan sesuatu ke sini?.” David meraba dada Laila dan menyentuh bagian sensitif wanita bagian bawah untuk mengetesnya.
Laila mulai panik dan buru-buru menjelaskan.
“ Tidak! semua itu tidak benar. Dia, dia hanya menciumku beberapa kali dan tidak pernah menyentuh tubuhku yang lain.” mengibas dan merasa bersalah.
“ Hm, berapa kali dia mencium bibir ini?.” David mengusap lipstik di bibir Laila.
“ Itu, itu. Tiga kali.” menjawab dengan memejamkan mata.
“ Bagus. Aku akan membersihkan air liur pria lain yang pernah tertelan olehmu sebanyak tiga kali.” bergumam.
David mencium Laila sebanyak tiga kali dengan masing-masing 30 detik lamanya. David sengaja menggigit bibir Laila untuk meninggalkan jejak.
“ Kau!! kau Shio an*ing ya? suka sekali menggigit orang.” Laila mendorong David dengan marah.
Laila hendak mengusap darah di bibirnya namun David menjilatnya dengan cepat.
“ Jangan membersihkannya, biarkan luka itu jadi bukti bahwa kau adalah milikku.” menyandar di atas mobil dengan puas.