David&Laila

David&Laila
Part34



Perusahaan Duke.


David kembali ke ruangan CEO dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Aldian dan Oliver yang baru keluar dari ruangan Direktur. David menghentikan langkahnya dan langsung berhadapan dengan mereka berdua, sikap David terlihat dingin bahkan Oliver sebagai ayahnyapun tidak berani berbicara kepadanya.


Oliver sengaja menyapa David. “ David, Papa tahu mungkin ini terlalu buru-buru bagi kami yang ingin mempekerjakan adikmu di Perusahaan ini. Tapi kau tenang saja Aldian sudah cukup dewasa dan memenuhi syarat, Papa sudah menempatkan Aldian sebagai Wakil Direktur. Kedepannya dia akan bekerja untukmu di sini.” dengan percaya diri.


“ Tidak punya pengalaman apa-apa tapi kau sudah mempercayainya bekerja jadi Wakil Direktur, berdasarkan peraturan di sini jika dia ingin menjadi Wakil Direktur maka mulailah dari bawah, seperti, membersihkan toilet kemudian menjadi karyawan magang, setelah dia memiliki kemampuan kau harus meminta persetujuanku sebelum menjadikan dia jadi Wakil Direktur.” meremehkan.


David berjalan melewati kedua orang yang terlihat marah padanya.


“ Papa, apa yang harus aku lakukan? aku tidak benar-benar harus membersihkan toilet'kan? jika itu terjadi aku tidak akan pernah kembali ke Perusahaan ini lagi, lebih baik aku meminta kakek dari Mama untuk membantuku belajar bisnis.” menggertakkan gigi.


“ Aku akan bicara lagi pada kakakmu nanti, lebih baik kau pulang ke rumah sekarang, Papa ada urusan.” berjalan pergi meninggalkan.


Aldian semakin marah melihat Oliver yang tidak pernah bisa membelanya. “ Sial! kenapa aku harus mempunyai kakak sepertinya. Dia selalu menghalangi jalanku untuk bergabung di Perusahaan kakek Duke. Jika ini terus berlanjut rencanaku untuk mengambil alih Perusahaan akan tertunda lagi, aku harus merencanakan sesuatu untuk melenyapkan kakak tersayangku.” batinnya, kemarahan Aldian terlihat jelas oleh beberapa orang yang melewatinya.


Pintu lift terbuka, Laila melihat Aldian tengah berdiri di depannya.


“ Kakak ipar? kau datang kesini juga?.” menyapa.


Suara Aldian terlalu keras sampai membuat Laila menariknya ke tempat yang sepi. “ Sttt! pelankan suaramu.” melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar Aldian memanggilnya kakak ipar.


“ Apa yang kau lakukan? lepaskan aku! cepat lepaskan.” berusaha melepaskan tangan Laila yang menutup mulutnya dengan paksa.


“ Adik, kenapa kau bisa ada di sini?.” suara pelan.


“ Aku! tentu saja Papa membawaku kemari.” acuh tak acuh.


“ Baiklah, kau tahu bukan pernikahanku dan kakakmu tidak banyak di ketahui orang, apa lagi aku bekerja di Perusahaan ini sebagai karyawan biasa, jadi bisakah kau menyembunyikan statusku sebagai kakak iparmu dan istri David.” memohon.


Aldian menyeringai. “ Apa keuntunganku dari membantumu? aku baru akan bergabung di Perusahaan Duke, dan belum banyak pengetahuan tentang bisnis. Bagaimana kalau kau membantuku? dengan begitu aku akan membantumu menyembunyikan statusmu.” tanpa basa-basi keduanya sepakat satu sama lain.


Hari telah malam, Laila yang tengah menunggu Bus di Halte terlihat oleh Chamilla yang melewati jalan itu, Chamilla putar balik dan sengaja mengundang Laila untuk makan malam bersama.


Chamilla menurunkan kaca mobil. “ Ckck, aku tidak menyangka nasibmu seburuk ini. Sudah berhasil menikahi pria kaya tapi kehidupanmu tidak berubah, bahkan masih menggunakan Bus umum untuk pulang pergi kerja.” menyindir.


Laila berdiri dan mendongak. “ Itu dia? seorang ibu yang tega menjebak putranya sendiri hanya untuk memisahkan aku dari putranya, apa dia masih pantas menjadi seorang ibu.” batinnya, mengepalkan tangan.


Menyeringai. “ Cih! ada apa dengan tatapanmu itu? apa yang membuatmu begitu emosi saat melihatku?! sebaiknya kau cepat masuk ke mobil bersamaku, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” tidak sabaran.


Tersenyum. “ Kebetulan sekali, aku juga ada yang mau di bicarakan denganmu.” berjalan masuk.


Di Barr XXIII.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah barr terkenal di kota, Laila enggan turun dari mobil karena punya pirasat buruk.


“ Ayo! kita bicara di dalam saja, kau tidak perlu khawatir aku tidak akan berbuat apapun padamu. Barr ini milik keluargaku tidak akan ada orang yang akan membuatmu tidak senang.” berjalan masuk.


“ Siapa tahu apa yang akan kau perbuat di dalam. Tapi sudahlah, aku harus masuk karena ada yang mau kubicarakan kepadanya.” keluar dari mobil dan mengikuti Chamilla dari belakang.


Chamilla duduk di meja yang penuh dengan minuman, mau tidak mau Laila duduk dan saling berhadapan. Chamilla menuangkan Wine di gelas lalu memberikannya pada Laila yang duduk bersebrangan.


“ Ayo, minuman di tempat ini jauh lebih nikmat dari yang lain. Kau akan ketagihan setelah mencobanya.” menyodorkan segelas Wine.


Laila menggelengkan kepala. “ Tidak perlu, aku tidak suka minum minuman seperti itu. Lebih baik kita bicarakan maksud dari pertemuan ini lebih cepat lebih baik.” mengabaikan minuman di tangan Chamilla.


“ Haih, jika tidak ada niat berbicara untuk apa mengajakku kemari? buang-buang waktuku saja.” Laila pergi dari barr itu dengan kecewa.


Di Villa milik David.


Saat Laila memasuki Villa ia melihat David tengah duduk di ruang keluarga bersama Asisten Li yang terus berdiri di sampingnya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun David menjentikkan jari kemudian para pengawal mengelilingi Laila dan mengambil ponsel miliknya, Laila yang merasa tidak bersalah membiarkan David mengecek ponselnya dengan puas, beberapa menit kemudian David berdiri dan melemparkan ponsel itu ke dinding sampai rusak.


“ Dia, ternyata dia penyebab semua ini. Aku sungguh tertipu dengan wajah polosnya itu, bahkan dia berani menggunakanku untuk bekerja sama dengan wanita tua itu.” batinnya.


“ Ponselku, kenapa di lempar?.” berlari mengambil ponsel yang rusak di lantai.


“ Hukum dia sesuai dengan aturan kita.” ucap David.


“ Baik tuan.” Asisten Li menyuruh pengawal membawa Laila ke ruang bawah tanah untuk di interogasi.


“ Apa-apaan ini? Asisten Li kenapa kau menyuruh pengawal menangkapku? apa kau sudah gila!.” berontak.


“ Maaf nyonya, tapi kau telah merusak kepercayaan tuan kali ini, jangan salahkan aku jika aku tidak berperasaan padamu.” memukul punggung Laila sampai jatuh pingsan.


Laila di bawa ke ruang bawah tanah yang terletak di belakang Villa, dengan tangan di di ikat di kursi membuat Laila tidak bisa bergerak maupun melarikan diri.


Secara perlahan Laila membuka matanya. “ Di mana ini? kenapa gelap sekali?.” bergumam.


“ Aku ingat Asisten Li menyuruh pengawal menangkapku, setelah itu aku tidak sadarkan diri dan sekarang aku ada di mana? apa Asisten Li yang membawaku kemari, tapi kenapa? kenapa tuan membiarkan dia melakukan hal itu padaku? apa jangan-jangan.” berpikir sejenak.


Tak tak, suara langkah kaki dan cahaya mendekat secara perlahan. Laila melebarkan matanya seakan tidak percaya David berjalan ke arahnya dengan tongkat di tangannya.


“ Tu, tuan. Akhirnya kau datang untuk menyelamatkanku.” tersenyum senang.


Senyuman di wajah Laila menjadi pahit setelah melihat Asisten Li menampakkan diri di belakang David.


“ Tuan, kenapa dia ada di sini? kau tahu Asisten yang selalu kau percaya dia berani menyekapku di sini. Kau harus membantuku membalas perbuatannya, aku mau melaporkan dia ke Polisi, bantu aku lepaskan ikatan ini.” Laila berontak tanpa henti setelah melihat Asisten Li yang sudah menyekapnya di ruangan gelap.


David berjalan dan mendekatkan kepala. “ Apa yang kau bicarakan? apa kau pikir aku ini bodoh! kau sudah mengkhianatiku dan sekarang kau memintaku untuk membantumu membalaskan kekesalanmu padanya. Kau benar-benar naif.” mencengkram wajah Laila dengan keras.


“ Mengkhianati?.” bergumam, Laila tidak mengerti dengan maksud mengkhianati yang David maksud.


“ Jangan pura-pura polos, aku tahu kau sudah bekerja sama dengan orang tua itu untuk menjebakku lalu mengancam posisiku dengan foto yang tidak senonoh. Karena kau sangat berani maka jangan salahkan aku berbuat jahat padamu.” berbisik dengan nada dingin.


Tubuh Laila gemetar. “ Foto, mengkhianati. Apa mungkin yang tuan maksud itu foto tuan bersama dengan pria lain di Hotel?.” menebak.


Plak, David menampar Laila sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.


“ Jika kau sudah ingat mengapa tadi masih pura-pura tidak tahu, apa kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan dengannya? aku benar-benar tidak mengerti mengapa aku bisa menikahi wanita licik sepertimu.” dengan tatapan membunuh.


Amarah David membuat Asisten Li khawatir jika David akan membunuh Laila saat itu juga. Laila yang hendak membela diri di hentikan oleh Asisten Li yang menutup mulutnya secara paksa menggunakan lakban.


“ Nyonya, sebaiknya jangan bicara sepatah katapun di saat seperti ini, tuan akan benar-benar menghilangkan nyawamu karena kau hampir membuat hidup tuan hancur.” berbisik dengan cemas.


Laila menatap kepergian David yang meninggalkannya di ruangan yang gelap. “ Ada apa dengannya? apa dia pikir aku yang merencanakan untuk menjebak dia di Hotel waktu itu.” batinnya, Laila menangis sedih di fitnah oleh suaminya sendiri.


“ Maafkan aku nyonya, aku pasti akan membantumu mencari kebenarannya secepat mungkin. Karena aku yakin nyonya tidak mungkin menjebak tuan dengan cara kotor seperti itu.” batinnya, Asisten Li tidak tega melihat memar di wajah Laila yang membekas.