David&Laila

David&Laila
Part24



Di dalam kamar.


David sudah menyelesaikan bisnisnya, sudah waktunya baginya pergi ke kamar untuk beristirahat. “ Besok pagi aku tidak perlu pergi ke Perusahaan lagi, biarkan Asisten Li yang menghandle pekerjaanku. Aku punya waktu cuti selama satu minggu, jadi aku akan bersenang-senang ke luar negri.” gumamnya masuk ke dalam kamar.


Kamar dalam keadaan gelap membuat David tidak sadar kalau Laila tidur di ranjangnya, dan segera pergi ke toilet untuk mandi. Setelah selesai mandi David pergi tidur di ranjang yang sama dengan Laila, dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. “ Tidak tahu apa Bibi Ann melayani gadis itu atau tidak, yang pasti aku tidak akan peduli padanya selain di luar rumah.” gumamnya, berbalik badan menghadap Laila yang tengah tidur nyenyak.


Agrh! David terkejut melihat Laila tidur di kamarnya. “ Hei! bangun. Siapa yang mengijinkanmu tidur di sini? cepat pergi ke kamarmu sekarang!.” bentakkan David tidak membuat Laila bangun dari tidurnya, Laila malah mendengkur keras dan membuat David kesal.


“ Gadis sialan! bisa-bisanya mendengkur saat tidur. Baiklah, aku memaafkanmu kali ini, tapi jika kau berani tidur di tempat yang sama denganku lagi, aku tidak akan sungkan padamu.” David merasa prustrasi dan hanya bisa mengalah karena tidak mau menggendong Laila pergi ke kamarnya.


David membuat penghalang di tengah-tengah agar Laila tidak berani macam-macam padanya. “ Jika kau melewati batasan ini maka aku akan mematahkan tanganmu.” ucap David, kembali tidur.


Keesokan harinya jam 11:00 siang.


Secara perlahan Laila membuka matanya dan merasa ada sesuatu yang menindih di tubuhnya, saat membuka mata lebar-lebar Laila kaget karena wajahnya menyentuh sesuatu yang lembut, ternyata itu adalah dada David yang berarti David memeluknya dengan erat. Laila tidak mampu bersuara karena tidak mau mengganggu tidur David, Laila hanya membiarkan David terus memeluknya dan menggesek-gesek kaki di tubuhnya.


“ Apa ini yang di maksud mereka dengan malam pernikahan? mengapa aku sangat menderita pagi ini, aku tidak bisa bernafas jika terus di peluk olehnya.” batinnya, tidak bisa bergerak.


Nafas Laila yang berat membuat David membuka matanya, saat melihat dirinya begitu dekat dengan Laila David langsung berteriak. “ Apa yang sudah kau lakukan? siapa yang mengijinkanmu menyentuhku? dan kau, kau melewati batas yang kubuat semalam!.” menunjuk dengan kasar.


“ Tuan, mungkin Anda mengigau. Lihatlah di belakangmu, bukankah kau sendiri yang melewati batas yang Anda buat?.” tidak mengerti apa-apa, karena tidur pulas.


David melihat ke belakang dan ternyata ranjang di belakangnya masih lebar cukup untuk dua orang lagi, sedangkan di depannya Laila hampir terjatuh karena terseret olehnya. David yang malu segera beranjak dari ranjang lalu pergi ke toilet.


Melihat David. “ Apa aku salah bicara? mengapa dia seperti sedang marah? diam dan pergi begitu saja.” Laila turun dari ranjang dan membuka gorden kamar. “ Kenapa aku merasa kalau ini sudah siang?.” Laila terkejut melihat di luar sudah terang dan segera melihat jam. “ Aku kesiangan? bagaimana ini? aku baru bekerja belum satu bulan tapi aku malah bolos kerja. Apa aku akan di pecat?.” terjatuh dan menangis tak berdaya.


David keluar dari toilet dengan rambut basah, melihat Laila yang masih berada di kamarnya membuatnya semakin marah. “ Kenapa kau masih di sini? cepat pergi ke kamarmu sekarang juga, kamarmu ada di samping kamarku. Cepat!.” teriak David.


“ Ba baik. Aku pergi, jangan berteriak seperti itu padaku.” berlari keluar tanpa memperhatikan dirinya yang masih memakai baju seksi.


Saat di luar Laila berteriak yang membuat David penasaran dan langsung mengeceknya. “ Ada apa kau berteriak? tidak bisakah kau diam dan patuh kembali ke kamarmu?.” David terdiam melihat Asisten Li yang terus menunduk karena malu telah melihat Laila memakai baju seksi.


Laila tidak bisa membuka pintu dan terus berusaha agar dapat di buka. “ Cepatlah! mengapa tidak bisa di buka?.” panik.


David mengerutkan dahi dan terpaksa membantu Laila membuka pintu. “ Cepat masuk dan ganti bajumu! aku tidak mau melihatmu memakai baju seperti itu lagi.” Laila berlari masuk lalu menutupnya. “ Sungguh memalukan! jika David tidak mengusirku dari kamarnya mungkin Asisten Li tidak akan melihatku seperti ini, ini semua salahnya.” bergumam di balik pintu.


Asisten Li tidak berani menatap David. “ Tuan Anda jangan salah paham! aku benar-benar tidak sengaja melihatnya, tapi bisa di pastikan aku hanya melihatnya sekilas, aku bukan orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.” terus menunduk.


David berjalan mendekat dan membuat Asisten Li bercucuran keringat dingin. “ Sudahlah, ada apa kau datang ke sini? bukankah aku menyuruhmu menghandle semua pekerjaanku, apa sudah selesai sampai membuatmu menganggur dan ada waktu untuk datang ke sini.” dengan dingin.


“ Tidak, tuan. Aku datang ke sini karena tuan besar memintaku memberikan ini pada Anda.” menyerahkan dua tiket bulan madu ke luar negri.


David mengambil tiket itu dan berkata. “ Bilang padanya aku akan pergi bulan madu hari ini, jadi tidak perlu mencemaskan pernikahanku. Tidak berguna!.” merobek tiket lalu melemparkannya ke bawah.


“ Baik, aku akan pergi sekarang.” membungkuk lalu pergi dengan cepat.


Media menanyangkan pernikahan David dan Laila tapi wajah Laila di sensor blur untuk kepentingan pribadi, jadi orang-orang yang tidak berkepentingan tidak mengetahui kalau Laila adalah istri David Duke.


Pekerjaan Laila menumpuk sampai membuat Manajer turun tangan menanganinya. “ Sialan! ke mana gadis itu perginya? bisa-bisanya pura-pura sakit di saat seperti ini, dia pasti sengaja untuk menghindari pekerjaan ini.” dengan kesal.


Asisten Li datang tepat waktu dan mendengar Manajer memarahi Laila di belakang. “ Manajer.” sapa Asisten Li. Manajer segera menengok dengan kaget. “ Asisten Li? kau di sini ya.” gugup.


“ Apa kau masih mau bekerja di sini? jika iya maka lakukan tugasmu dengan baik, Perusahaan Duke tidak kekurangan orang pintar sepertimu.” mengancam.


Haha, tertawa gugup. “ Tentu saja, aku akan bekerja dengan baik untuk Perusahaan Duke. Kau tenang saja.” ketakutan.


“ Aku harap kau tidak akan mengecewakan Perusahaan ini, jika tidak kau akan di pecat tanpa gaji satu tahun.” setelah mengatakan hal itu Asisten Li pergi ke ruangannya.


“ Iya baiklah.” tersenyum.


Asisten Li di percaya David untuk mengurus Perusahaan selama David pergi berlibur. Jadi semua karyawan harus mematuhinya dengan baik.


Di perjalanan menuju keluar negri.


Sejak keluar dari Villa Laila tidak di perbolehkan membuka topi hitam dan maskernya agar tidak di ketahui oleh Paparazi, Laila hanya bisa patuh dan tidak bisa membantah perintah David.


“ Sudah satu jam aku berada di pesawat, sebenarnya dia mau membawaku kemana? mengapa jauh sekali, aku tidak tahan lagi, aku mabuk udara, aku mau muntah.” gumamnya, Laila sudah tidak bisa menahannya dan berusaha berdiri untuk pergi ke toilet.


“ Kau mau kemana? diam dan kembali duduk!.” bentak David.


Laila kehilangan kesadarannya dan muntah saat masih memakai masker. David yang panik segera membuka pakaian yang menutupi Laila, lalu membawanya ke toilet. “ Hei! kau kenapa? cepat sadarlah, jangan mengacau di saat seperti ini.” menepuk pelan pipi Laila.


Karena tidak ada reaksi David membersihkan tubuh Laila yang terkena muntahan dan memakaikan jas miliknya pada Laila, walau David merasa jijik tapi ia tidak mungkin membiarkan orang lain menyentuh Laila.


“ Gadis bodoh! kau membuatku susah.” menggendong Laila kembali ke tempat duduk.


Pramugari di Pesawat ikut tegang melihat nyonya muda Duke pingsan. “ Tuan, mungkin nyonya muda mabuk udara, Anda bisa mengoleskan minyak angin ini dari pundak sampai pinggang. Ini akan membuat nyonya lebih baikkan.” menyodorkan minyak angin, tapi awalnya David enggan mengambilnya, karena khawatir Laila akan menyusahkannya mau tidak mau David mengikuti arahan Pramugari.


“ Kalian pergilah dari sini.” melirik orang yang berada di dekatnya.


Di ruangan Business class.


Hanya ada Laila dan David, tetapi David keras kepala dan tidak mau mengoleskan minyak angin pada Laila. Tubuh Laila semakin gemetar dan kaku akibat mabuk udara, melihat Laila seperti akan mati membuat David tidak tega.


David membuka jas yang menutupi tubuh Laila lalu mengulurkan tangannya. “ Maaf, aku terpaksa melakukan ini. Aku bukan pria mesum.” gumam David, akhirnya David menyentuh punggung Laila dan mengolesnya secara menyeluruh.


David memalingkan wajah karena malu. “ Mengapa tubuhnya sangat lembut?.” batinnya, tidak bisa tahan dengan tubuh Laila yang indah.


Eum, uh, ahh. Di saat seperti itu Laila malah mendesah yang membuat wajah David semakin panas tak tertahankan. “ Nyaman sekali, tolong lanjutkan.” setengah sadar, Laila hanya merasakan sentuhan yang David berikan padanya, tapi tidak bisa membuka matanya.


“ Jika sudah sadar cepat bangun, jangan berpura-pura lagi.” tidak sabaran.


“ Heh, tidak ada respon!.” tertawa, merasa di permainkan.