David&Laila

David&Laila
Part39



Di Villa jam 08:00 malam bertepatan pada musim gugur.


David kembali tepat waktu dan memerintahkan setiap orang yang berada di Villa untuk keluar dengan maksud agar tidak mengganggu malam yang panjang.


“ Apa semuanya siap? kau sudah memastikan tidak ada siapa pun di Villa selain gadis itu?.” tanya David tidak sabaran.


“ Ya sudah tuan, aku sudah menyuruh para pelayan untuk pergi dan akan kembali besok pagi.” jawab Asisten Li cengengesan.


David keluar dari mobil dengan suasana hati yang baik.


Asisten Li memandang David dari dalam mobil dan hampir menangis karena terharu.


“ Akhirnya tuan akan jadi pria sejati malam ini. Semoga saja kali ini mereka benar-benar melakukan sesuatu, agar nyonya bisa secepatnya melahirkan seorang tuan muda kecil dan nona muda yang cantik.” berharap.


Sementara itu di satu sisi Laila tengah gelisah karena tidak bisa mendapatkan solusi untuk menghindar dari David.


Krek, pintu di buka.


“ Sudah pulang? tidak, aku tidak bisa bertemu dengannya.” Laila berlari ke dalam toilet secepatnya.


David tertegun melihat kamar di dekor seperti kamar pengantin dengan taburan bunga di ranjang.


Deg deg! jantung David berdetak lebih cepat dari biasanya.


“ Ada apa ini? mengapa aku merasa gugup saat menantikan pertunjukan dari gadis itu?.” batinnya, tidak sabaran.


Laila keluar dari dalam toilet dengan wajah pucat.


“ Tuan, kau sudah pulang?.” sapa Laila menundukkan kepalanya.


David melihat penampilan Laila yang mengenakan piyama tidur membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


“ Um, iya.” memalingkan wajah karena malu.


Laila berjalan mendekat dan semakin mendekat. David tidak tahan melihat kecantikan Laila dan mundur tanpa sadar.


“ Tuan, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Bisakah malam ini kita tunda dulu? aku benar-benar minta maaf tapi kebetulan malam ini waktunya datang bulan.” berbicara dengan terbata-bata karena takut.


David tertegun dan berusaha tenang.


“ Apa itu? apa hubungannya bulan datang dengan malam ini?.” tidak mengerti.


Laila terkejut dan mengira kalau David tidak akan melepaskannya walau ia sedang berhalangan. Laila dengan pasrah membuka pakaiannya satu demi satu sampai tersisa bra dan cd.


“ Baiklah, malam ini aku tidak akan berontak. Kau boleh melakukan apapun padaku, silahkan!.” memejamkan matanya seakan enggan melihat David berdiri di depannya yang akan menyentuhnya.


“ Pada akhirnya aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya pada pria semacam dia.” batinnya, tanpa sadar meneteskan air mata.


Hati David hancur seketika melihat Laila menangis dengan sebuah penyesalan karena harus menghabiskan malam bersamanya.


Wajah David berubah jadi muram dengan mengepalkan tangan yang siap memukul.


“ Sebegitu bencikah kau padaku? sampai tidak rela kusentuh.” batin David gemetar karena menahan emosi.


David berjalan keluar dari kamar Laila.


“ Istirahatlah, malam ini kita tidak akan melakukannya.” ucap David pergi meninggalkan.


“ Mengapa? mengapa, akhirnya dia tidak menyentuhku. Itu bagus, lebih baik dia tidak akan pernah menyentuhku selamanya.” bergumam dalam perasaan lega.


David duduk diam di ruang baca dan meminta Asisten Li untuk datang menemuinya.


“ Tuan, ada yang bisa aku bantu?.” berjalan masuk.


David terdiam dalam waktu yang cukup lama.


“ Li, apa hubungannya datang bulan dengan malam ini? apa malam ini ada larangan semacam tidak boleh bersentuhan antara suami dan istri?.” penasaran.


Asisten Li berpikir sesaat.


“ Datang bulan? siapa yang mengatakan hal konyol seperti itu pada tuan?.” tidak bisa menahan tawa.


David menceritakan semua yang dia lihat dalam diri Laila malam ini.


“ Ternyata seperti itu. Tidakkah tuan mengerti maksud nyonya? dia bukan tidak ingin tuan menyentuhnya, tetapi, nyonya sedang berhalangan. Jadi tuan harus bisa menahannya sampai nyonya selesai.” menjelaskan sedetail mungkin.


“ Ternyata seperti itu, baiklah kau boleh pergi.” melambaikan tangan.


David teringat akan masalah Laila yang bekerja sama dengan Chamilla untuk menjebaknya di Hotel.


“ Tunggu! bagaimana penyelidikan yang kusuruh kau selidiki, apa kau punya bukti kalau gadis itu telah bersekongkol melawanku?.” bertanya.


“ Aku sudah menyelidikinya tuan, mata-mata yang kita kirim tidak melihat pertemuan antara nyonya dan nyonya besar. Dan satu hal lagi, orang yang menyuruh membuat masalah di Restoran Fyne adalah orang suruhan nyonya besar. Jadi aku rasa ini tidak ada hubungannya dengan nyonya muda.” menjelaskan penuh dengan keraguan.


“ Um, aku tahu, kau boleh pergi.” tenggelam dalam lamunan.


David memutuskan untuk tidur di ruang baca tanpa kembali ke kamar.


Pagi, keesokan harinya.


Tok tok! bibi Ann mengetuk pintu kamar Laila.


“ Nyonya, tuan menyuruhku membangunkan Anda. Bolehkah aku masuk?.” teriak bibi Ann dari luar kamar.


Laila bangun seketika.


“ Masuklah, aku sudah bangun.” berjalan ke toilet.


Bibi Ann membuka pintu dengan perlahan dan mengamati sekitar, saat bibi Ann akan merapihkan ranjang ia melihat bercak darah di seprai dan membuatnya salah paham.


“ Apa aku tidak salah lihat? akhirnya tuan dan nyonya tidur bersama. Aku turut senang dan berharap nyonya secepatnya melahirkan putra putri kecil di rumah ini.” membayangkan betapa ramainya Villa itu.


Setelah beberapa saat Laila keluar dari toilet dengan hanya menggunakan handuk dan rambut basah.


“ Bibi Ann, kenapa seprainya di ganti, bukankah kemarin baru saja di ganti?.” tanya Laila tidak sadar kalau darah pms membuat bibi Ann mengira kalau Laila dan David sudah menghabiskan malam bersama.


Bibi Ann tersenyum bahagia.


“ Tidak apa-apa, bibi rasa seprainya sudah kotor, kalau nyonya sudah selesai bersiap silahkan turun untuk makan bersama tuan.” berjalan keluar.


“ Apa yang salah dengan bibi Ann? tidak seperti biasanya, mungkin bibi Ann baru mendapatkan kabar bahagia dari kampung halamannya.” bergumam.


Setelah beberapa menit kemudian Laila turun dengan menggunakan pakaian yang biasa ia gunakan saat kerja.


“ Nyonya, ayo kemari, bibi sudah memasak banyak makanan untuk sarapan.” bibi Ann sangat antusias melayani Laila.


“ Terima kasih, tapi aku tidak lapar, aku berangkat kerja dulu.” melewati tanpa menyapa David yang telah menunggunya untuk makan bersama.


David mengambil sumpit dan mulai makan.


“ Setidaknya kau harus mengisi perut sebelum kerja. Bibi Ann berikan susu hangat padanya, dan buatkan bekal untuk di makan di kantor.” ucap David.


“ Ya tuan. Nyonya tolong duduk sebentar, bibi akan menyiapkan bekal untuk nyonya.” mengambil segelas susu hangat dan menyimpannya di meja.


Laila duduk di kursi dan meminum susu hangat yang di persiapkan oleh bibi Ann untuknya, rasa sakit di perut Laila perlahan menghilang setelah meminumnya.


Uhuk uhuk, berdehem.


“ Besok aku akan membawamu pergi ke perjalanan bisnis, kau siapkan yang perlu kau bawa, karena kita akan tinggal selama beberapa hari di sana.” ucap David.


“ Um, tidak bisakah aku menolak? pekerjaanku di kantor sangat banyak, kalau aku pergi Manajer akan memarahiku lagi.” memohon.


“ Tidak bisa! kau itu nyonyaku siapa yang berani menindasmu di Perusahaanku sendiri?.” berdiri lalu pergi meninggalkan.


Laila menghela nafas dengan pasrah.


“ Haih, siapa yang tahu aku nyonyamu, hanya kau dan Asisten Li yang tahu.” bergumam.


Bibi Ann membawa sekotak bekal nasi dan memberikannya pada Laila.


Laila bersiap untuk pergi dan melihat mobil David terparkir di depannya. Laila melewati mobil itu dan memilih jalan kaki menuju Halte Bus.


“ Tuan, apa kita harus mengejar nyonya untuk masuk ke mobil?.” tanya Asisten Li khawatir.


Di Perusahaan Duke.


Laila mengerjakan semua pekerjaannya dan meminta izin pada Manajer untuk cuti beberapa hari.


Brak! Manajer memukul meja dengan emosi.


“ Apa kau pikir ini Perusahaan milik keluargamu?! bisa-bisanya meminta cuti sesukamu. Tidak bisa! kalau kau cuti siapa yang akan mengerjakan tugasmu di sini?.” bentak Manajer terus berkomat-kamit.


“ Ini semua gara-gara David, kalau dia tidak mengajakku serta mana mungkin aku sampai di marahi oleh wanita menyebalkan sepertinya.” batin Laila dengan ekspresi kesal.


“ Hei! ada apa dengan ekspresimu itu? kau pasti mengutukku dan berharap aku cepat mati bukan?!.” berteriak.


“ Hah! Manajer kau salah paham, aku mana berani mengutukmu.” menyangkal secepat mungkin.


“ Lalu apa yang kau pikirkan tadi? aku tahu kau kesal karena aku sering menindasmu'kan. Cepat, selesaikan pekerjaanmu sekarang, tidak boleh istirahat sebelum semua pekerjaan selesai.” ingin mengusir secepatnya.


“ Maksudnya apa? Manajer kau tidak memberikanku cuti'kah?.” Laila memberanikan diri melawan Manajer demi bisa pergi dengan David.


“ Diam! cepat pergi kerja, kalau tidak besok kau tidak boleh cuti.” tidak sabaran.


Laila tersenyum senang.


“ Baik, terima kasih, Manajer.” berlari keluar.


Manajer duduk di kursi dan menelepon Asisten Li.


“ Asisten Li, aku sudah melakukan sesuai perintahmu, apa ada lagi yang harus aku lakukan?.” ucap Manajer Lia di telepon.


“ Bagus. Kau hanya perlu untuk tidak menyusahkan karyawan magang itu, kalau tidak aku tidak akan sungkan padamu.” mematikan telepon tanpa membiarkan Manajer Lia berbicara.


Manajer Lia kesal sampai melemparkan ponselnya ke lantai.


“ Sialan! aku benar-benar di kalahkan oleh gadis miskin itu. Sebenarnya apa hubungannya dengan Asisten Li sampai dia di lindungi seperti itu? aku harus cari tahu kebenarannya.” menggertakkan gigi.


Seorang wanita bernama Mollie masuk ke ruang Manajer dengan maksud tidak baik.


“ Manajer, kau baik-baik saja'kan? aku lihat gadis miskin itu keluar dari sini dengan senang, aku pikir dia baru mendapatkan kabar baik, tidak di sangka ternyata kau kalah darinya sampai menggila di sini.” memprovokasi.


“ Kalah?! tidak, aku masih belum kalah Mollie. Aku punya rencanaku sendiri agar gadis itu di keluarkan dari sini.” memikirkan rencana jahat.


Rara mengirimi pesan singkat di saat Laila tengah sibuk bekerja. “ Laila, bisakah nanti malam kau datang ke acara reunian? Senior Yolandra juga datang, kau yakin tidak ingin bertemu dengannya?.” isi pesan tersebut.


“ Senior Yolandra ya? aku ingat saat itu dia mengatakan cintanya padaku di saat aku sudah berpacaran dengan Radi. Sejak saat itu Yolandra pergi ke luar negri dan tidak pernah kembali.” bergumam.


Hari telah malam, tepat di Restoran mewah yang terletak di pinggir pantai. Semua orang mulai berdatangan ke tempat yang sudah di siapkan untuk acara reunian.


“ Rara, kau di mana? aku sudah sampai di depan Restorannya.” tanya Laila di telepon.


“ Sudah sampai ya, tunggu sebentar aku datang menjemputmu sayang.” berdiri tegak sampai membuat teman-temannya menatapnya.


“ Kalian pesan makanannya lebih dulu, aku akan keluar memanggil Laila.” berlari keluar.


Detak jantung Yolandra berdetak kencang seketika.


“ Laila, dia sudah datang ya?.” batin Yolandra, menutup mulut karena malu.


Tak tak, suara langkah kaki terdengar dari luar, beberapa orang berdiri dan menatap Laila yang semakin lama semakin cantik.


“ Hai! bagaimana kabar kalian?.” sapa Laila dengan ramah seperti biasa.


Beberapa temannya mencurigai Laila sebagai wanita simpanan pria tua kaya.


“ Cih! tidak bertemu beberapa tahun kau sudah banyak berubah Laila. Apa pekerjaanmu sekarang? aku dengar kau bahkan masih magang di tempat kerjamu yang baru, walau gajinya lumayan tapi tidak mungkin bagimu menghamburkan gaji selama satu tahun hanya untuk sebuah tas saja'kan? kulihat baju yang kau pakai juga di buat dengan perancang busana terkenal di negara tetangga. Apa kau yakin kau semampu itu?.” mengejek


Laila duduk dengan tenang dan menghadapi para temannya yang suka merundungnya di sekolah.


“ Kalian juga tahu kalau aku tidak semampu itu, apa mata kalian rusak sampai tidak bisa membedakan barang asli dan palsu. Di dunia ini banyak tiruan, mungkin kau tidak pernah memakai barang palsu seperti yang kupakai ini.” merendahkan diri sendiri.


Semua orang terdiam seketika.


“ Sialan! bodoh sekali aku sampai mau memakai barang pemberian darinya. Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku memakai baju rusak agar mereka enggan menatapku lagi.” batin Laila, menyesal.


Rara berusaha mencairkan suasana.


“ Haha, sudah-sudah, tidak mudah bagi kita bertemu kembali di sini. Bagaimana kalau kita mulai makan sekarang, jika di biarkan terlalu lama makanannya akan dingin.” canggung.


“ Yang di katakan Rara benar, kita sudah lama tidak bertemu, sebaiknya jangan mengacau acara ini dan mari kita makan.” balas Yolandra.


Saat Yolandra berbicara semua temannya terdiam dengan patuh.


Radi menghentikan mobilnya tepat di depan Restoran.


“ Aku dapat kabar kalau Laila dan teman-temannya mengadakan reuinian di Restoran ini. Lebih baik aku masuk dan berbaur dengan mereka.” keluar dari mobil.


David melihat Radi yang masuk ke Restoran di mana Laila berada.


“ Inikah yang di namakan reunian? seorang mantan yang sudah tidak memiliki hubungan apapun di undang datang, sedangkan aku, dia malah mengabaikanku.” batin David, mengepalkan tangan.


Asisten Li melirik ke belakang karena merasakan suasana yang mencekam .


“ Tu, tuan, apa perlu aku memanggil nyonya untuk pulang?.” tergagap-gagap.


“ Tidak perlu, biarkan dia bermain sesuka hatinya. Bahkan jika dia tidak pulang juga tidak masalah.” bentak David.


“ Ah, baiklah.” menundukkan kepala.


Asisten Li menyeka keringat di dahi dengan gemetar dan menangis dalam hati.


“ Nyonya, tolong cepat pulang, jika tidak tuan akan memukulku.” hiks hiks, batinnya.


Hachh! tiba-tiba Laila bersin dan merasa ada seseorang yang mengutuknya.


“ Angin di sini benar-benar kencang.” bergumam.


Dengan sigap Yolandra memberikan segelas teh hangat pada Laila.


“ Ini, minumlah selagi hangat.” menyodorkan.


“ Terima kasih.” Laila segera meminum teh hangat yang di berikan Yolandra.


Yolandra membuka jaketnya dan memakaikannya di badan Laila.


“ Angin di sini terlalu kencang, pakailah pakaian yang lebih tebal jika keluar malam.” mengingatkan.


Laila menghadang jaket itu dengan cepat.


“ Tidak perlu, aku baik-baik saja.” bersikap dingin.


Rara menghentikan Laila dan memaksa Laila untuk menerima sikap baik Yolandra terhadapnya.


“ Terima kasih Senior, kau jangan pedulikan perkataan Laila yang menusuk.” Rara memakaikan jaket di badan Laila.


“ Rara kau? kupikir kau paling mengerti aku di antara yang lain.” bicara pelan dengan kecewa.


“ Tolong hargai niat baik Senior, Laila. Jika kau menolaknya begitu saja mereka semua akan mengolok-olok Senior karena di tolak dua kali olehmu.” berbisik.


Laila terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak di sangka Laila melihat Radi berdiri menatap ke arahnya.


“ Kebetulan sekali kalian di sini, apa kalian masih ingat padaku?.” berjalan mendekat


Para teman wanita berbisik.


“ Hei, lihat! bukankah itu pria yang selalu bersama Laila, tidak di sangka dia juga datang ke sini. Apa Laila yang mengundangnya datang kemari?.” ucap beberapa wanita.


“ Diam! dia itu sudah menikah sekarang, bahkan sudah punya anak dari wanita lain, apa kau pikir Laila akan mengundang pria beristri.” balas temannya.


“ Mungkin saja.” menyindir.


“ Huh! apa aku mengganggu kalian? kalau begitu lebih baik aku pergi sekarang.” canggung.


“ Jika sudah datang duduk dan bergabunglah bersama kami.” ucap Laila mengalihkan pandangan.