
Di suatu kamar.
David menidurkan Laila di ranjang yang telah ia siapkan, David tidak menyangka saat dirinya akan beranjak tiba-tiba Laila muntah di pangkuannya hingga membuatnya jijik. Wajahnya mulai suram tapi David tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengalah dengan orang yang mabuk, David pergi ke toilet untuk membersihkan diri, saat David keluar menggunakan handuk di pinggangnya ia melihat Laila yang terus bergumam saat mabuk.
“ Aku benci! aku benci padamu.” gumam Laila dengan memukul bantal yang ada di dekatnya.
David mendekati Laila dan mulai bertanya padanya. “ Siapa? siapa yang kau benci sampai terbawa mabuk gadis?.” bisik David mendekatkan kepalanya.
“ Dia, itu pasti dia.” Laila langsung kehilangan kesadarannya.
“ Hmph! pasti mantan pacarnya yang sudah menikah itu 'kan? dia masih memikirkan dia sedangkan dia telah menghamili wanita lain saat mereka masih berhubungan. Sungguh gadis yang menyedihkan.” batin David mencibir.
Keesokan harinya, Laila terbangun dari tidurnya karena terkena paparan sinar matahari ke wajahnya, saat Laila menatap ke atas ia kaget karena itu bukan kamarnya melainkan kamar orang lain, pada saat Laila panik ia melihat David yang tengah duduk di kursi sambil membaca koran.
“ Kau! siapa kau! kenapa bisa ada di sini?.” menunjuk ke arah David adalah suatu kesalahan besar bagi siapapun yang melakukannya, dan sekarang Laila telah menyinggung David yang tidak mudah di hadapi.
David melemparkan koran ke bawah dengan marah. “ Berani sekali menunjuk padaku? sepertinya selama ini aku terlalu baik padamu gadis.” berjalan mendekat.
Laila mundur ketakutan dan berniat bersembunyi di balik selimut, tapi David menarik selimutnya sampai Laila sadar kalau pakaiannya berbeda dengan yang ia pakai terakhir kali. “ Kau! kau apakan aku semalam? kenapa bajuku berbeda? kau pasti sudah berbuat sesuatu padaku 'kan!.” Laila belum mengetahui sisi David yang sebenarnya, ia mengira jika David telah menyentuhnya dan memanfaatkannya saat ia mabuk.
“ Kau begitu tidak sopan padaku gadis! apa kau tahu akibat dari menyinggungku?.” mencengkram tangan Laila yang menunjuk padanya.
“ Ahh, aku tidak. Sakit sekali, lepaskan! kau menyakiti tanganku.” meringiris kesakitan.
David segera menghempaskan tangan Laila. “ Heh, sebaiknya kau jangan bersikap seperti itu padaku, jika tidak aku akan mematahkan tanganmu. Mengerti!.” mengancam.
Laila menggenggam kedua tangan.“ Ada apa dengannya? dia seperti bukan pria yang pernah kutemui sebelumnya.” batinnya, Laila tidak percaya jika David akan berlaku kasar padanya.
Laila beranjak dari ranjang tapi David mendorongnya sampai Laila jatuh tertidur. “ Mau ke mana kau?.” teriak David.
Laila tertegun dan diam seribu bahasa. “ Ini tidak benar! pasti ada yang salah dengan otaknya. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum dia memakanku.” batin Laila duduk dengan sigap.
“ Aku tidak mengijinkanmu pergi dari sini.” berbicara dengan dingin, David berjalan keluar dan mengunci pintu agar Laila tidak bisa keluar.
“ Tidak, kenapa kau melarangku pergi dan mengurungku di sini! apa maksudmu?.” Laila berontak dan terus menggedor pintu.
“ Jangan biarkan dia kabur, sebelum hutangnya lunas padaku.” ucap David pada pengawalnya yang berdiri di depan pintu.
“ Baik tuan.” sahut pengawal.
David bergegas pergi bersama beberapa orang yang sedang menunggunya di luar, David berhasil keluar dari pintu belakang dengan memakai pakaian tertutup agar tidak di kenali oleh Reporter.
David melepaskan topi beserta kaca mata hitamnya. “ Sialan! ini semua karena gadis itu. Aku hampir kehilangan muka di hadapan semua orang.” David marah dan memukul di dalam mobil.
“ Tuan, tuan besar memintaku membawa tuan menghadapnya. Apa aku harus?.” ucap Asisten Li dengan ragu.
“ Hmm, bawa aku ke Kediaman Duke sekarang, aku ingin lihat apa yang bisa mereka lakukan padaku.” berbicara dengan dingin.
Tanpa basa-basi David duduk di kursi dan tidak memperdulikan orang di keluarga Duke yang menyambutnya. Oliver kesal karena David tidak bisa bersikap sopan padanya. “ Ini 'kah caramu kembali ke keluarga Duke! apa kau tahu kau hampir membuat Perusahaan rugi besar dengan ulahmu, masih tidak mau meminta maaf padaku? dasar anak kurang ajar! aku akan membereskanmu.” teriak Oliver.
Melihat Oliver marah besar pada David membuat Chamilla tersenyum senang. “ Akhirnya, aku melihat anak dari wanita tidak tahu diri itu di marahi oleh Papa nya sendiri. Dengan begini Aldian akan bisa menggantikan anak itu cepat atau lambat.” batinnya.
Henri Duke membentak Oliver yang berbicara kasar pada cucunya. “ Jaga ucapanmu Oliver! dia itu Putramu, dia satu-satunya pewaris sah keluarga Duke, apa kau akan membiarkan dia pergi seperti sebelumnya?.” Henri Duke yang terlalu tua tidak bisa menahan emosinya.
Chamilla berdiri dan membalas perkataan Henri Duke. “ Ayah mertua, kenapa bisa bilang seperti itu, bukankah Aldian juga anak kandung Oliver mengapa tidak bisa di akui Putra sah?.” berbicara dengan ramah.
“ Ckck! kau begitu tidak sabar ingin menjadikan anakmu sebagai Pimpinan keluarga Duke, apa kau tidak bisa lihat Kakek masih hidup kenapa kau terburu-buru sekali.” mencibir.
Henri Duke melihat Chamilla dengan marah. “ Apa kau sudah menginginkan aku mati? dasar menantu kurang ajar!.” berteriak membuat Henri Duke sesak nafas.
Oliver yang hendak membela istrinya malah melihat Henri Duke kesulitan bernafas. “ Ayah ada apa? apa kau baik-baik saja?.” khawatir.
Menepis. “ Diam! kau harus mengajari istrimu baik-baik Oliver, aku sungguh kecewa padanya.” di saat-saat kesulitan bernafas Henri Duke masih sempat memperingati Oliver dan Chamilla.
Oliver tidak mau kehilangan kepercayaan dari Henri Duke dan terus membujuk Henri Duke yang hampir mati kehabisan nafas agar tidak memasukan perkataan Chamilla ke dalam hatinya. “ Ayah, tadi Chamilla hanya sembarang bicara saja, tolong maafkan istriku ya.” memohon.
“ Aish, sudahlah, aku mau istirahat. David antar aku ke kamar.” tidak peduli.
David berdiri dan membantu Henri Duke pergi ke kamarnya seorang diri, Chamilla semakin marah melihat kedekatan David bersama Henri Duke. “ Ini tidak bisa di biarkan! jika terus seperti ini maka Aldian tidak akan mendapatkan apa yang aku inginkan dari kakek tua itu. Aku harus bergerak cepat sebelum kakek tua itu mati dan menyerahkan semua hartanya pada anak sialan itu.” batinnya, menggertakan gigi dengan kesal.
Oliver menarik Chamilla pergi ke kamarnya, sikap kasar Oliver terhadap Chamilla membuat Aldian khawatir akan ibunya. “ Papa, ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama. Bisakah kau membiarkan Mama tetap di sini.” memohon.
“ Jika kau ada urusan dengan Mama kamu aku akan biarkan kalian bicara nanti, sekarang ada hal yang mau aku katakan padanya.” melirik dengan dingin.
“ Ba baik, Papa.” menciut ketakutan.
“ Heh, anak ini. Benar-benar tidak berguna.” batin Chamilla tidak bisa berkata-kata.
David membantu Henri Duke duduk istirahat di ranjang, pada saat David akan memanggil Dokter Henri Duke melarangnya dan menyuruhnya mengatakan yang sebenarnya. “ David, aku ingin mendengar langsung dari mulutmu.” ucap Henri Duke.
David berbalik badan dan duduk di samping Henri Duke. “ Kakek, tidak peduli apa yang mereka katakan apa kau akan percaya pada rumor di bandingkan padaku?.” David berpikir sesaat sebelum ia berbicara kembali. “ Aku adalah pria sejati! yang orang lain katakan tentangku itu semua tidak benar.” berbicara dengan serius.
Henri Duke melihat kejujuran David membuatnya tidak bisa berkata-kata. “ Baiklah, jika itu benar bawa gadis itu bertemu dengan Kakek. Kakek ingin melihatnya secara langsung.”
David kehabisan kata dan hanya bisa menyetujui permintaan Kakek nya demi membuktikan bahwa dirinya pria sejati dan bukan Gay. “ Baik, kalau begitu aku pergi sekarang, Kakek istirahatlah dan jaga kesehatanmu.” lantas David keluar dari kamar, dan hampir menendang pelayan yang ada di dekatnya. “ Tidak, aku tidak bisa membawa dia bertemu dengan Kakek, jika Kakek menyuruhku untuk menikah bagaimana? karena sampai kapanpun aku tidak akan menikah.” batin David.
Yosa berniat naik ke atas dan berpapasan dengan David yang hendak turun dari tangga. “ David, bagaimana keadaan Kakek kamu? apa dia sudah di periksa oleh Dokter?.” tanya Yosa dengan cemas.
“ Kakek tidak apa-apa, dia hanya butuh istirahat saja. Aku akan pergi Nek, jaga dirimu baik-baik di sini.” David terburu-buru pergi dan tidak punya kesempatan untuk mengajak David makan bersama.
“ Sangat jarang dia bisa kembali ke Kediaman Duke, sekalinya datang langsung pergi begitu saja, bahkan aku belum pernah duduk di meja makan yang sama dengannya.” batin Yosa terlihat sedih.