David&Laila

David&Laila
Part18



David membawa beberapa makanan dan air minum ke kamar Laila, melihat Laila yang tidak mungkin bisa makan sendiri David membantunya dengan tangan gemetar karena tidak terbiasa.


“ Bangun, aku bawa minum untukmu.” menyodorkan segelas air putih ke mulut Laila.


Laila minum dengan cepat dan langsung memakan makanan yang ada di dekatnya sampai habis, David sampai tidak bisa berkata-kata melihat nafsu makan Laila yang begitu menakjubkan. “ Hah, apa dia Monster? makan begitu cepat bahkan aku tidak bisa melihat dengan jelas kapan dia menghabiskannya.” batin David ternganga.


Bersendawa. “ Ahh, ehh, maaf. Aku tidak sengaja.” menutup mulutnya dengan malu.


Uhuk! David memalingkan wajahnya dan duduk di kursi yang sedikit jauh dari tempat tidur Laila, David tidak ingin membuang-buang waktu dan segera berbicara pada Laila.


“ Aku rasa kau sudah baikkan setelah makan, kalau gitu aku akan bicara hal yang ingin kukatakan padamu.” terburu-buru.


Berpikir. “ Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku? kenapa masih tidak mau melepaskanku dan memaksaku menanda tangani surat kontrak yang tidak jelas itu.” batin Laila tidak berani menatap David.


“ Lihat surat itu baik-baik dan tanda tangan sekarang juga, jika tidak aku tidak akan segan lagi.” berbicara dengan duduk tenang dan menunggu Laila tanda tangan.


“ Jika tidak mau, apa yang akan kau lakukan? membunuhku atau membiarkanku mati kelaparan lagi?.” sengaja memancing emosi David.


Tapi David tertawa tipis dan menyalakan tv yang ada di kamar tersebut, vidio yang sengaja di putar untuk di perlihatkan pada Laila di mana Rara yang merupakan sabahatnya tengah di ikat ke sebuah pohon besar dan ada juga beberapa pengawal yang bersiap melepaskan seekor Harimau yang kelaparan. Benar saja ekspresi Laila berubah ketakutan dengan tangan gemetar.


Mematikan tv. “ Aku akan memberikan temanmu untuk di jadikan santapan Harimau kesayanganku, sebenarnya Harimau itu sudah kenyang karena aku baru saja melemparkan beberapa pelayan jadi santapannya. Tapi tidak tahu apa Harimau itu akan membiarkan gadis itu begitu saja atau mencabik-cabiknya dan menganggapnya sebagai mainan.” perkataan David yang serius membuat Laila menundukan kepala dan menahan amarahnya.


Mengepalkan tangan. “ Ba*ingan! apa dia waras? kurasa tidak, dia telah gila sampai berani berbuat seperti itu pada temanku. Aku harus bagaimana sekarang, dia tidak sungguh-sungguh 'kan dengan ucapannya.” batin Laila mulai gelisah.


David menggertak Laila yang tidak berbicara. “ Apa keputusanmu? mau tanda tangan atau mau mengorbankan temanmu itu? tapi sebenarnya aku masih ada pilihan lain, mari kuperlihatkannya padamu.” David melemparkan ponselnya pada Laila.


Laila mengambil ponsel itu dan melihat dengan jelas saat kedua orang tuanya di usir dari rumah oleh penagih hutang, bahkan beredar di media tentang menghilangnya Laila yang secara tiba-tiba.


Laila tidak bisa tahan dan segera mengambil surat yang ada di meja. “ Aku akan tanda tangani surat ini, tapi apa aku boleh tahu kenapa kau memaksaku menikah denganmu? bukankah kau pria kaya yang tampan, banyak wanita di luaran sana menginginkan menikah denganmu, kenapa memilih aku?.”


David berjalan mendekat dan mengangkat dagu Laila. “ Kau sudah mengakui kalau aku itu pria kaya dan tampan, kenapa tidak kau saja yang menikah denganku? bukankah kau mendapatkan keuntungan besar dengan menikahiku. Ingat di luar sana banyak wanita cantik dan jauh lebih sempurna darimu, tapi aku tidak tahu hatiku hanya menginginkanmu menjadi wanitaku.” nafasnya membuat wajah Laila memerah.


“ Aku tidak tertarik jadi wanitamu, lebih baik kau cari gadis lain yang mau menikah denganmu.” memalingkan wajah.


“ Baiklah, jika itu pilihanmu. Mari lihat baik-baik di layar tv, kau akan menyaksikan temanmu mandi darah. Dan orang tuamu tidur di bawah jembatan lalu mati kelaparan.” David nekat melakukan sesuatu pada orang yang tidak bersalah.


Laila kaget mendengarnya. “ Apa? apa yang akan kau lakukan pada mereka? jangan bilang kau kehilangan akal sampai berbuat sekejam itu pada mereka.” Laila panik melihat David menghubungi seseorang dengan mencurigakan.


Dalam vidio tersebut terlihat seekor Harimau lepas dan mengelilingi Rara yang yang di ikat di pohon, Rara berteriak histeris melihat dirinya di ikat dan seekor Harimau menatapnya seakan ingin memakannya. “ Tidak! tolong, seseorang tolong aku!.” hiks hiks menangis putus asa.


Laila tidak berharap jika temannya itu mati karenanya. “ Berhenti! aku bilang berhenti, jangan biarkan temanku mati di gigit Harimau itu, aku, aku akan tanda tangan sekarang.” pada akhirnya Laila memutuskan mengorbankan masa depannya demi teman dan orang tuanya.


Laila bergegas membuka pintu untuk memastikan pintunya tidak di kunci, tapi Laila terduduk tak berdaya setelah tahu dirinya harus di kurung di dalam kamar lagi. Tak lama kemudian seorang pengawal membuka pintu dan memberikan tas milik Laila yang tertinggal di Barr, lengkap beserta kartu Identitas dan pakaian terakhir kali ia pakai sebelum bekerja di Barr.


Laila mengeluarkan seluruh isi tasnya. “ Di mana? di mana ponselku, ahh, ini dia. Aku harus menghubungi ayah kalau aku baik-baik saja di sini.” Laila terkejut melihat telepon tak terjawab dari Rara dan orang tuanya sampai ratusan kali. “ Ibu dan Ayah pasti cemas aku tidak pulang, aku harus bagaimana sekarang? aku tidak tahu Ibu akan pergi ke mana sama Ayah setelah di usir dari rumah.” Laila mengurungkan niatnya yang ingin menghubungi orang tuanya.


Keesokan harinya.


Laila tertidur di bawah sambil memeluk ponsel di tangannya, David membuka pintu dan ada sesuatu yang menghalanginya hingga pintu itu susah di buka. “ Ada apa ini? apa yang di lakukan gadis itu? apa dia sengaja menghalangi pintu menggunakan sesuatu.” mendorong pintu sekuat tenaga sampai pintu itu jatuh mengenai tubuh Laila.


Argh! Laila berteriak kesakitan. “ Ada gempa! tolong aku!.” berusaha menyingkirkan pintu.


David segera membantu Laila dan menariknya keluar dari reruntuhan pintu. “ Kau baik-baik saja?.” tanya David.


“ Hah, ada gempa tolong aku.” melihat sekeiling dengan panik.


David menggendong Laila pergi ke kamarnya. “ Seharusnya di sini sudah aman.” menurunkan Laila di ranjang.


Laila kembali tenang setelah melihat kamar yang tidak berantakan. David menaruh satu set dress di dekat Laila. “ Pakai ini, aku akan membawamu keluar bertemu Kakek.”


“ Kakek? siapa yang kau maksud? aku tidak akan pergi denganmu.” membuang muka.


“ Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu, sebaiknya kau cepat bersiap, dalam 10 menit aku akan datang ke sini. Aku harap kau tidak akan mengecewakanku.” memperingati.


Laila melihat sekilas dress itu dan terpaksa memakainya, Laila tertegun melihat peralatan MakeUp yang lengkap di atas meja rias. Laila tidak punya banyak waktu dan segera merias wajahnya dengan sempurna. 10 menit berlalu David datang mengetuk pintu. “ Hei gadis! sudah 10 menit cepat segera keluar, jika tidak aku akan terlambat.” teriak David dari luar.


Krek, pintu terbuka, David terpana melihat penampilan Laila yang tak kalah dari seorang Putri Bangsawan, wajah David memerah dan hampir mimisan karenanya. “ Dia.” bergumam.


Laila kebingungan melihat David yang terus menatapnya dengan wajah merona. “ Tuan, aku sudah siap. Bisakah kita pergi sekarang?.”


“ Ahh, iya.” memalingkan wajah karena malu.


David berjalan lebih dulu dan tidak menunggu Laila, saat di perjalanan David terus diam dan sengaja memejamkan matanya, membuat Laila merasa canggung.


Laila berniat ingin mencairkan suasana yang membuatnya tidak nyaman. “ Tuan, boleh aku bertanya?.” David langsung memotong ucapan Laila. “ Tidak.” membalasnya dengan dingin.


Laila menundukan kepala dan melihat ke arah kaca mobil, jalanan yang sepi membuatnya tidak bisa mengingat jalur mana yang ia lewati sebelum masuk ke Villa. “ Haih, aku tidak percaya akan terjadi hal seperti ini padaku, sekarang aku harus bagaimana agar bisa lepas dari pria ini, dia lebih menakutkan dari seorang penculik.” batinnya, Laila yang tak berdaya meneteskan air mata.


David membuka matanya dan melirik Laila yang menyeka air mata di wajahnya. “ Aku tidak akan memakanmu, tenang saja.” gumam David.


Sesampainya di Kediaman Duke Laila tercengang dan hampir pingsan melihat rumah yang luas seperti Istara kerajaan. “ Aku tidak sedang bermimpi 'kan? dalam hidupku baru kali ini melihat Kediaman Duke yang terkenal itu, bahkan Reporter saja tidak bisa mendapatkan poto dari luar. Jadi tidak ada yang tahu penampakan Kediaman Duke yang sebenarnya.” batinnya ternganga.