David&Laila

David&Laila
Part13



Setibanya di rumah Laila terkejut melihat rumahnya berantakan dan beberapa barang rusak yang di sebabkan oleh penagih hutang. “ Ibu. Apa yang terjadi?.” seluruh tubuh Laila gemetar. Rosdiana yang tengah menangis di pelukan Juna segera memeluk Laila. “ Tidak apa-apa nak, ini hanya sedikit hancur saja. Nanti ibu bereskan semuanya.” Rosdiana menutupi kejadian yang sebenarnya tapi Laila curiga dan memungut surat yang ada di bawah, setelah membacanya Laila terduduk lemas. “ Ibu apa kita akan di usir dari rumah ini?.” Rosdiana segera menenangkan Laila lalu memeluknya. “ Kau harus tenang Laila, kita masih punya waktu 1 minggu lagi. Ibu yakin kita pasti bisa membayar tagihan itu.”


“ Tapi dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, sedangkan aku di pecat dari pekerjaan. Sekarang aku harus cari kerja ke mana untuk mendapatkan uang sebanyak itu.” batin Laila dengan putus asa.


Keesokan hari, Laila pergi di pagi buta untuk mencari pekerjaan, sebelum pergi Laila sempat menyimpan uang bonusnya di atas meja makan. “ Hari ini aku harus bisa mendapatkan pekerjaan, tidak pulang jika tidak berhasil.” penuh percaya diri.


Laila sudah mendatangi beberapa Perusahaan tapi semuanya menolaknya secara terus menerus, Laila tidak tahu dosa apa yang ia perbuat sampai Tuhan terus mengujinya dengan berat. Laila ingat jika ada satu Perusahaan yang belum ia datangi untuk melamar kerja, tapi Laila tidak percaya jika Perusahaan sebesar itu akan menerimanya hanya dengan kemampuan Laila yang tidak seberapa. “ Sebaiknya aku coba saja siapa tahu ada pekerjaan yang sedang mereka butuhkan.” berdiri tepat di depan Perusahaan Duke.


Security dan resepsionis menertawakan Laila yang berjalan memakai tongkat kruk tapi berani melamar kerja di Perusahaan Duke, Laila sempat di usir oleh Security tapi untungnya Asisten Li datang dan mengatakan jika semua orang yang datang melamar kerja harus di terima atas perintah CEO David. Resepsionis kaget dan segera memanggil semua orang yang melamar kerja hari ini termasuk Laila. “ Aku tidak tahu apa CEO akan menerimamu dengan keadaanmu seperti ini, semoga kamu beruntung nona.” ucap resepsionis dengan ketus.


Laila menunggu giliran Interview bersama beberapa orang yang melamar kerja, Laila tidak menyangka setelah Interview dia akan lolos dengan mudah dan bisa bekerja besok pagi. Beberapa orang berbicara jelek tentang Laila tapi Laila tidak peduli. “ Dia benar-benar beruntung, aku tidak percaya orang seperti dia yang bahkan berjalanpun menggunakan tongkat tapi bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Mungkin saja dia menggunakan trik murahan yang bisa membuat atasan kita tertarik mempekerjakannya.” ucap karyawan lainnya.


“ Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku, yang pasti aku sudah mendapatkan pekerjaan dengan upah yang cukup besar. Tapi benar juga apa yang mereka bilang, pengalamanku di dunia kerja tidak sebanding dengan mereka, tapi. Sudahlah, tidak perlu di pikirkan lagi mungkin sudah keberuntunganku hari ini.” batin Laila berjalan pergi.


David yang penasaran pada nenek nya karena memintanya untuk menerima setiap orang yang melamar kerja di Perusahaannya dan memberikan upah yang lumayan. “ Aku tidak mengerti mengapa nenek berbaik hati pada semua orang, bahkan Perusahaan sudah tidak membutuhkan karyawan lagi tapi aku harus menerimanya sesuai perintah nenek. Tidak tahu aku harus mempekerjakan mereka di bagian apa.” gumam David.


Laila masuk ke dalam rumah dan meninggalkan tongkat kruk di belakang pintu. “ Aku pulang!.” Laila tercengang melihat meja makan penuh dengan makanan, Rosdiana segera membantu Laila duduk untuk makan bersama. “ Laila kau sudah pulang nak, ayo kita makan bersama, kebetulan ibu baru selesai memasak.” Laila duduk perlahan dan mulai menikmati makanan masakan ibunya.


Oliver datang ke Perusahaan di sore hari setelah mendengar David melakukan sesuatu yang bodoh dan akan membuat Perusahaan rugi besar, semua karyawan berdiri menyambut kedatangan tuan besar ke Perusahaan. Asisten Li tidak berani menghalangi Oliver yang mau menerobos masuk ke ruang Meeting. Brak! pintu di buka dan semua Klien menatap Oliver dengan bingung, setelah melihat lebih lama semua Klien berdiri dan menginginkan berjabatan tangan dengan Oliver. “ Tuan, sungguh hari yang beruntung aku bisa bertemu denganmu.” ucap Klien dengan senang.


David hanya menatap Oliver dengan acuh tak acuh, David semakin marah setelah Chamilla dan Aldian datang ke ruang Meeting mengikuti Oliver. “ Sial! kenapa aku harus melihat mereka di sini.” batin David.


“ Baik semuanya, karena Meeting kita terganggu aku akan menutupnya dan besok akan kita lanjutkan. Silahkan kalian pergi.” ucap David terburu-buru.


Oliver tidak bisa berkata-kata dengan sikap David yang tidak pernah menghargainya. Ia hanya tersenyum tipis melihat Klien pergi dari hadapannya. Saat David akan pergi Oliver menahannya dan berkata. “ Ada yang ingin ayah katakan padamu.” lalu David menjawabnya dengan dingin. “ Aku sibuk, kau bisa datang lain waktu lagi.” Chamilla membalas perkataan David. “ Jaga sikapmu David, dia ayahmu bagaimana bisa kau berbicara seperti itu padanya.” David mengepalkan tangan dan wajahnya mulai suram menatap Chamilla, Oliver tahu kalau David tidak suka di atur sejak kepergian ibunya. “ Pergi!.” bentak Oliver. Chamilla menggertakkan gigi karena merasa di acuhkan oleh suaminya. “ Apa perkataanku salah suamiku?.” bertanya dengan lemah lembut. “ Sudah tahu salah tapi masih tidak pergi dari sini!.” menggertak. Chamilla tidak punya pilihan dan membawa Aldian keluar dari ruang Meeting, Chamilla sangat membenci sikap David yang angkuh dan tidak pernah menganggapnya ada.


Asisten Li menutup pintu dan membiarkan David berbicara 4mata dengan Oliver, tapi siapa sangka David malah duduk di posisinya yang sebelumnya di duduki Oliver saat menjabat jadi CEO, Oliver menggelengkan kepala dan duduk di samping David, tapi David berulah lagi dengan mengangkat kaki ke atas meja. Brak! Oliver sudah tidak tahan dengan sikap David terhadapnya, David melirik wajah Oliver yang kesal padanya. “ Jika tidak ada yang mau di bicarakan aku akan pergi sekarang, aku sibuk dan tidak punya waktu untuk bersantai seperti ini.” ucap David menurunkan kaki dan berdiri. “ Tunggu sebentar! aku ingin bertanya padamu satu hal. Apa kau hari ini menerima karyawan baru dan membuat kita mengeluarkan banyak uang untuk membayar mereka secara percuma-cuma.” berbicara dengan serius.


“ Ckck, aku pikir kau akan membicarakan suatu hal yang penting padaku, tidak di sangka tuan besar akan peduli dengan hal kecil seperti ini.” meremehkan. “ Aish, anak ini. Aku tidak bisa melawannya bukan karena tidak berani, tapi dia satu-satunya putraku dari Diana, dan ibu juga melarangku memarahinya apapun alasannya karena dia cucu kesayangannya. Lebih baik aku pergi saja dari sini sebelum aku kehilangan kendali, dan sepertinya tidak berguna bertanya hal itu padanya.” batin Oliver.


“ Kau benar, sebaiknya aku tidak peduli akan hal seperti ini ke depannya.” Oliver keluar meninggalkan David yang terus berdiri. “ Jika bukan karena kau ibuku sekarang pasti dia masih hidup dan menemaniku di saat aku membutuhkan kasih sayangnya, tapi kau telah menghancurkan semuanya, kau menghancurkan hidupku yang berharga ini.” David kehilangan kendali dan membanting semua barang yang ada di dekatnya, saat David keluar dengan pakaian berantakan Asisten Li segera memeriksa ruang Meeting dan terkejut melihatnya. “ Apa yang terjadi pada tuan sampai dia mengamuk seperti itu?.” batinnya.


“ Pelayan bersihkan ruangan ini dengan baik.” ucap Asisten Li. Pelayan segera melakukan pekerjaannya. “ Baik, Asisten Li.”