
Hari ini hari pertama Laila bekerja di Perusahaan Duke, ia berjalan tanpa menggunakan tongkat dan memakai baju yang rapih dan modis. Salah satu wanita yang tidak menyukai kehadiran Laila berniat jahat dan sengaja menabraknya sampai Laila terjatuh. “ Arghh!! sakit sekali. Kakiku sakit.” Laila meringis kesakitan memegang kakinya.
David baru sampai di Perusahaan sangat penasaran pada seorang wanita yang terjatuh di bawah, ia segera memeriksanya dan betapa terkejutnya ia setelah melihat Laila di depannya yang tengah kesakitan, David semakin marah karena semua orang tidak ada yang peduli pada Laila, tanpa berkata-kata David langsung menggendong Laila dan membawanya ke ruangannya. “ Panggil Dokter sekarang juga! Kalian! di pecat.” melirik semua karyawan yang berdiri memandangnya. “ Baik tuan.” saut Asisten Li. “ Tidak dengar! tuan memecat kalian jadi kemasi barang kalian dan pergi dari sini. Cepat!.” bentak Asisten Li pada karyawan yang hanya melihat Laila tanpa membantunya.
“ Tapi apa salah kami sampai CEO memecat kami?.” tanya karyawan tidak berdaya. “ Itu karena kalian sudah menyinggung tuan, kalian pantas di pecat.” balas Asisten Li dengan tatapan mematikan.
Beberapa karyawan kebingungan karena David memecat mereka tanpa alasan yang jelas, tapi apa daya mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain harus pergi dari tempat kerja mereka masing-masing.
Di ruangan CEO.
David membawa Laila dan membiarkannya duduk di sofa sedangkan dirinya berjongkok mengecek kaki Laila dengan khawatir. “ Itu, kenapa kau bisa ada di sini? dan membawaku ke ruangan ini.” tanya Laila menatap David yang sedang menyentuh kakinya.
David mendongak dan berbicara dengan nada angkuh. “ Seharusnya aku yang bertanya padamu mengapa kau bisa ada di sini? dan kakimu belum pulih kenapa tetap memaksakan diri berjalan tanpa tongkat.” tidak senang. “ Aku, aku. Tentu saja datang untuk bekerja. Kau sendiri sedang apa di sini?.” berbicara dengan gugup.
David teridam setelah tahu Laila datang ke Perusahaannya untuk bekerja. “ Bekerja? kapan dia bekerja di sini mengapa aku tidak pernah tahu kalau Laila bekerja di sini.” batin David seperti sedang berpikir.
“ Sejak kapan kau bekerja di sini?.” tanya David karena ingin tahu. “ Aku, sebenarnya ini hari pertama aku bekerja di sini tidak menyangka aku membuat semuanya kacau.” balas Laila dengan sedih.
Tak tak, Asisten Li berlari terengah-engah bersama Dokter, David langsung berdiri dan membiarkan Dokter memeriksa luka di kaki Laila. “ Nona, kakimu baru sembuh jadi sebaiknya gunakan kursi roda atau tongkat setidaknya kakimu akan kuat menahan tubuhmu saat beraktivitas.” ucap Dokter mengusap keringat di dahinya karena lelah setelah berlari sejauh 1 km.
“ Aku berlari seperti di kejar kuda tadi, tapi tidak menyangka aku hanya memeriksa luka seperti ini saja.” batin Dokter tidak bisa berbuat apa-apa.
Laila mengerutkan dahi dan mencoba menggerakan kakinya untuk membuktikan bahwa dirinya sudah sembuh. “ Aku sudah sembuh jadi tidak perlu memakai tongkat lagi, ini hanya kesalahan kecil aku akan baik-baik saja.” penuh percaya diri. David tidak senang dan langsung menjentik jidat Laila. “ Patuhlah, maka kau akan baik-baik saja.” “ Sakit!” gumam Laila. “ Sudah tahu sakit tapi masih tetap tidak patuh.” memberinya pelajaran agar Laila bisa patuh.
Setelah Dokter pergi David menyuruh Asisten Li mengantar Laila pulang, tetapi Laila keras kepala dan ingin bekerja. “ Aku tidak mau pulang! sudah kukatakan padamu aku di sini untuk bekerja, untuk apa kau menyuruhku pulang.” kesal.
Asisten Li mengambil tongkat kruk baru dan memberikannya pada Laila. “ Nona pakailah, ini akan memudahkanmu untuk beraktivitas.” “ Terima kasih, kau baik sekali padaku.” Laila segera mengambilnya dan keluar dari ruangan David. Perasaan Asisten Li tidak karuan dan membuatnya malu di hadapan David. David hanya melirik Asisten Li yang tengah tersipu malu tapi tiba-tiba merasa kesal melihatnya. “ Enyahlah! lakukan pekerjaan yang menguntungkan bagiku.” bentakkan David membuat Asisten Li tersadar kalau ada orang yang cemburu padanya. “ Ba baik, tuan.” karena tidak mau di marahi Asisten Li berlari keluar.
Manajer datang memberikan setumpuk berkas dan melemparnya di atas meja dengan kasar. “ Kau, Laila 'kan? ini berkas yang harus kau selesaikan sekarang.” setelah itu Manajer pergi tanpa membiarkan Laila berbicara padanya. Laila kembali duduk dan mulai mengerjakan pekerjaannya dengan baik, pekerjaan yang mudah membuat Laila bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah hari. “ Akhirnya selesai juga.” meregangkan badan karena kelelahan. Laila tidak sadar semua orang di kantor pergi untuk makan siang di kantin. “ Astaga! ke mana perginya orang-orang?.” Laila kebingungan dan mengecek di sekitarnya, secara kebetulan Security lewat di depannya, Laila langsung bertanya. “ Permisi, apa Anda tahu ke mana perginya orang-orang di sini?.” melirik tempat kerja yang kosong.
Security itu mengira Laila adalah tamu dan mengantarnya ke resepsionis, Laila menghentikan langkahnya dan mengira Security itu bodoh karena tidak mengerti apa yang ia tanyakan. “ Nona kenapa berhenti? itu di depan resepsionis, sebelum datang ke Perusahaan ini sebaiknya bertanya dulu pada resepsionis nanti dia akan memberitahumu.” menunjuk ke arah di mana resepsionis berdiri melayani tamu.
“ Astaga, aku pikir dia akan mengantarku ke tempat di mana orang-orang berada. Tetapi malah membawaku ke sini, menyesal aku mengikutinya sampai sini.” batin Laila.
“ Nona, apa kau mendengarku?.” bertanya lagi karena melihat Laila seperti orang yang kebingungan.
“ Tidak, ahh maksudku. Ke mana orang-orang pergi di jam segini, dan kebetulan aku baru bekerja di sini jadi aku bukan tamu seperti apa yang kau maksud.” menjelaskan dan berharap Security itu mengerti maksudnya.
“ Ternyata seperti itu! kenapa tidak bilang dari tadi. Biasanya semua karyawan pergi ke kantin untuk makan siang, ini'kan waktunya makan siang. Nona sendiri kenapa masih di sini, tidak pergi makan?.” Security itu menunjukkan ruang kantin tempat yang biasa karyawan makan.
“ Aish! aku benar-benar lelah.” batin Laila pergi berjalan lambat. Laila pergi mengantri mengambil makan siangnya bersama karyawan lain, tak di sangka Laila mendapatkan perlakuan tidak baik dari seorang staf yang tidak memperbolehkan dirinya mengambil ikan dengan alasan stok ikan sedikit, dan karyawan lama masih mengantri di belakang, Laila hanya bisa pergi mengambil beberapa sayur dan sosis lalu duduk sendirian.
“ Aku tidak punga teman di sini, dan sepertinya mereka tidak menyukaiku bekerja di sini. Aku merindukanmu Rara, biasanya kita akan pergi makan siang bersama dan saling bercanda satu sama lain.” batin Laila dengan raut wajah menyedihkan.
Seorang pria datang menghampiri Laila. “ Aku tahu kau Laila 'kan, apa aku boleh duduk di sini?.” berdiri di hadapan Laila. “ Tentu saja.” mendadak menganggukan kepala dengan senang. Adrift sengaja memberikan ikan yang ada di tempat makannya pada Laila dengan alasan dia tidak begitu menyukainya. “ Ambillah, aku tidak terlalu suka ikan apa lagi ini banyak durinya.” tersenyum ramah.
“ Astaga, dia sangat tampan saat tersenyum.” batin Laila ternganga. Laila tersadar kembali dan menelan ludah sampai tidak bisa berkata-kata. “ Tidak ada yang tersenyum lebar seperti itu padaku selain Radi.” batin Laila dengan menyedihkan.
“ Apa kau baik-baik saja Laila?.” mengibaskan tangan dengan khawatir. “ Iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih, ikan ini.” Laila hanya bisa tersenyum tipis pada Adrift. “ Baiklah, makan makananmu kita harus pergi bekerja sekarang.” terburu-buru.