David&Laila

David&Laila
Part28



Di Perusahaan Duke jam 10:00 malam.


Laila sudah membersihkan semua toiletnya sedangkan pekerjaannya masih menumpuk di atas meja, apa lagi besok siang semua berkas sudah harus selesai lebih cepat dari biasanya, dengan terpaksa Laila memutuskan untuk lembur dan tidak akan pulang.


Saat Laila tengah mengerjakan tugasnya tiba-tiba semua lampu mati dan membuat Laila ketakutan. “ Lampunya mati, apa seseorang yang mematikannya?.” menyalakan ponsel karena gelap.


Seorang Security datang memeriksa semua ruangangan dan tidak sengaja melihat ada cahaya di ruangan karyawan. “ Mengapa ada cahaya di sana? bukankah semua lampu sudah di matikan. Apa jangan-jangan ada pencuri yang masuk dan berencana mencuri sesuatu di ruangan itu? aku harus memeriksanya sekarang.” berjalan perlahan.


Security melihat seorang wanita tengah sibuk dengan laptopnya dan mengira itu benaran pencuri jadi memukulnya sampai Laila jatuh pingsan. “ Aku menangkapmu gadis pencuri! dasar berani-beraninya mencuri di kantor ini.” menyalakan lampu untuk melihat wajah Laila yang di duga pencuri.


“ Tolong! di sini ada seorang pencuri, kalian harus melapor Polisi.” teriak Security, ia bangga karena bisa menangkap pencuri dengan tangannya sendiri.


Beberapa Security berlari ke tempat kejadian sambil menghubungi Polisi. “ Di mana pencurinya? apa dia bawa senjata? aku akan memukulnya jika dia tidak membahayakan.” bertingkah seperti kesatria.


“ Dasar bodoh! kau mau apa? aku sudah menangkap pencuri itu, jadi tentu saja aku yang akan naik jabatan, misalnya, jadi Danru.” membayangkan.


Tetapi semua harapan itu hancur sudah dengan kedatangan David yang tiba-tiba muncul di belakang mereka dan mengagetkannya. “ Di mana pencuri yang kalian maksud?.” berjalan mendekat.


Menengok ke belakang karena familiar dengan suara itu. “ Hah, CEO Anda, belum pulang?.” membungkuk.


“ Katakan di mana pencuri itu?.” nada dingin.


Security segera menghindar agar David bisa melihat gadis pencuri itu, saat David melihatnya ia merasa gadis itu tidak asing baginya dan langsung berlari mengeceknya. Betapa terkejutnya David saat melihat Laila yang di duga pencuri, bahkan terdapat luka di kepala Laila.


David segera menggendong Laila dan membawanya ke ruangannya. “ Aku tidak izinkan sesuatu terjadi padamu gadis.” berjalan cepat.


Security tercengang melihat David menggendong Laila. “ Tuan, dia pencurinya.” bergumam.


Terdengar suara Sirine Polisi dari luar.


Beberapa Polisi berlari terengah-engah. “ Kami mendapatkan laporan di sini ada pencuri, di mana dia sekarang?.” melihat sekeliling.


Security tidak dapat bicara karena masih syok. “ Dia, pencuri itu, CEO membawa dia ke ruangannya. Mungkin CEO mengenal pencuri itu.” terjatuh tak berdaya.


Semua orang kaget mendengarnya. “ Jangan bicara sembarangan kau! bagaimana mungkin CEO mengenal seorang pencuri.” tidak percaya.


Tak tak. Suara langkah terdengar dari luar, dan itu adalah seorang Dokter terkenal di kota yang berlari menuju ruangan CEO.


Security mulai bergosip. “ Sudah kubilang, CEO bukan hanya mengenal pencuri itu, tetapi CEO juga memanggil Dokter terkenal untuk memeriksa pencuri itu. Itu artinya hubungan mereka tidak biasa.” curiga.


Di ruangan CEO.


Dokter segera memeriksa keadaan Laila lalu membalut luka di kepalanya. “ Selesai.” menyeka keringat.


Dokter itu berdiri dengan tenang. “ Tuan, saya sudah membalut lukanya, untuk sementara nona akan mengalami sering sakit kepala bahkan bisa sampai pingsan.” ucap Dokter.


David menatap kepala Laila yang di perban. “ Hmm, kapan dia sadar? haruskah aku melakukan sesuatu untuknya?.” cemas.


“ Iya, tuan bisa membantunya meminum obat dan mengganti perban sehari 2 kali, lalu bersihkan lukanya secara teratur agar luka tidak inspeksi.” menjelaskan cara merawat orang yang sedang terluka.


David terdiam beberapa saat. “ Aku mengerti, kau boleh pulang.” duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Laila.


“ Sudah malam begini, mengapa gadis ini belum pulang? apa yang dia lakukan di sini? seberapa banyak pekerjaannya sampai saat ini masih belum selesai.” batinnya, menatap Laila.


David menghubungi Asisten Li untuk membereskan masalah yang ada di kantor, dan membungkam setiap orang yang tahu akan hubungannya dengan Laila.


Esok harinya jam 5 pagi.


Laila terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di kamar yang asing, Laila berusaha bangun tapi luka di kepalanya membuatnya kesakitan. “ Ahh, sakit sekali. Kepalaku sakit, seperti mau pecah.” meringis.


Tangisan Laila membuat David terbangun dari tidurnya. “ Kau sudah bangun? tunggu sebentar aku akan memanggil Dokter.” berlari keluar.


Beberapa menit kemudian David kembali bersama Dokter.


Dokter itu segera memeriksa Laila dan memberikannya obat. “ Nona, kau harus minum obat ini, tapi sebelumnya kau harus sarapan terlebih dulu.” melirik David yang terus berdiri.


David mengerti maksud Dokter itu. “ Aku akan membeli makanan untuknya, kau jaga dia jangan sampai dia kesakitan lagi.” berjalan keluar.


Laila beranjak dari ranjang walau kepalanya masih sakit. “ Terima kasih tuan, maaf merepotkanmu.” duduk di kursi.


Laila tidak berani makan sendirian. “ Tuan, Anda tidak mau sarapan bersamaku?.” ragu-ragu.


“ Aku sudah makan.” menghisap rokok, sampai ruangan bau dengan asap rokok.


Laila segera memakan semua makanannya lalu minum obat, setelah itu berjalan keluar untuk mengerjakan semua pekerjaannya yang tertunda.


David menghentikan Laila. “ Tunggu! aku sudah menyiapkan pakaian untukmu, ganti sebelum keluar dari sini.”


Laila melihat bajunya yang penuh dengan bercak darah akibat luka di kepalanya. “ Baik, terima kasih tuan.” Laila enggan berganti pakaian dengan adanya David di ruangan yang sama dengannya.


David berdiri lalu pergi dari ruang istirahat. Sedangkan Laila mengunci pintu dan pergi mandi, setelah selesai berganti pakaian Laila membuka pintu dan mengintip David yang tengah sibuk dengan laptopnya.


David melirik Laila yang terus menatapnya. “ Sudah selesai? jika sudah cepat keluar dari ruanganku sebelum di lihat orang lain, kau tidak mau'kan orang lain mengetahui hubungan kita, jadi cepat pergi.” terus sibuk dengan pekerjaannya.


“ Baik, aku akan pergi sekarang.” berlari keluar.


Berdiri di depan pintu ruangan CEO. “ Hmm, dia yang seperti itu tampan juga. Jika saja kami menikah atas dasar cinta mungkin aku akan menjadi orang yang paling beruntung bisa jadi istrinya, tapi di antara kami hanya sebatas suami istri pura-pura, sangat di sayangkan.” batinnya, melamun sampai tidak sadar ada Cleaning service yang melihatnya.


“ Hei! apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi berdiri di sana? kau tidak tahu kalau CEO itu akan memecat siapapun yang berani mengganggunya.” Cleaning service itu mengagetkan Laila.


“ Aku tahu itu, dan aku tidak mengganggunya.” gugup.


Laila menghindari setiap orang yang berpapasan dengannya, sampailah di meja kerja Laila tertegun melihat semua pekerjaannya sudah selesai, tapi Laila tidak tahu siapa orang yang sudah membantunya.


“ Orang baik terima kasih kau sudah membantuku.” kembali tidur di meja kerja.


Semua orang sudah masuk kerja tetapi Laila masih tidur dan mendengkur yang menyita perhatian Presdir dari Grup Xue yang baru datang ke Negara Barat untuk bekerja sama dengan Perusahaan Duke.


Fuan Xuer sangat benci mendengar orang yang mendengkur. “ Siapa yang masih tidur di sini? berani sekali mendengkur saat aku datang.” marah.


Semua karyawan melirik ke arah Laila. “ Matilah kau Laila, baru bekerja beberapa bulan tapi kau berani tidur saat mengadakan penyambutan Presdir Xue.” tersenyum puas.


Fuan Xuer berjalan mendekat dan menyiramkan segelas air di kepala Laila tanpa memikirkan kepala Laila yang di perban. “ Bangun! apa ini Perusahaan milik keluargamu, berani-beraninya tidur saat semua orang menyambutku.” dengan kesal.


Laila bangun seketika. “ Ahh, hujan! mengapa bisa hujan di sini?.” berdiri dengan setengah sadar.


Fuan Xuer tertegun melihat wanita yang baru ia siram ternyata Laila yang sebelumnya ia temui di Negara Selatan. “ Kau?.” tercengang.


Laila mengucek mata dan mengamati sekeliling, betapa terkejutnya ia saat melihat pria yang berdiri di depannya itu Fuan Xuer, pria yang sudah ia tendang bagian bawahnya. “ Kau! kenapa bisa ada di sini? kau pasti mengikuti kami sampai ke sini, benarkan?.” menunjuk dengan panik.


Fuan Xuer tidak mampu marah setelah melihat orang yang mendengkur itu adalah Laila. “ Singkirkan tanganmu itu, kau sangat bau. Apa kau tidak mandi? aku akan membantumu.” mengusap air liur yang hampir menetes.


Tingkah Presdir Fuan membuat semua orang ternganga dan mengira mereka telah menyinggung orang yang salah jika Laila benaran mengenal Fuan Xuer.


Manajer semakin membenci Laila yang selalu beruntung. “ Bagaimana bisa gadis itu mengenal Presdir dari Negara Selatan? bukankah ini kali pertama Presdir Fuan datang ke sini? di mana mereka bertemu sebelumnya? dan sejak kapan mereka berhubungan begitu baik?.” batinnya, menggertakkan gigi.


Laila menghempaskan tangan Fuan Xuer. “ Hentikan, aku bisa melakukannya sendiri.” mengambil tisu dan membersihkan mulutnya.


Orang di sekitar semakin penasaran hubungan antara Laila dan Presdir Fuan. “ Berani sekali dia bersikap angkuh di depan Presdir Fuan, apa dia lupa siapa dia? mendapatkan perhatian Presdir Fuan saja seharusnya dia beruntung, tetapi dia malah mengabaikan niat baik Presdir Fuan.” bergosip.


Fuan Xuer tersenyum dan seperti mendapatkan sesuatu yang telah hilang dari hidupnya. “ Sudahlah, aku tidak ingin memperdulikan orang yang tidak tahu terima kasih sepertimu.” berjalan pergi.


Fuan Xuer mendekati seorang karyawan wanita yang terus memandang ketampanannya. “ Beritahu aku siapa gadis bodoh itu.” berbisik.


Wanita itu kaget sampai jantungnya berdebar kencang. “ Dia, dia Laila.” berbicara dengan gugup.


Fuan Xuer menengok ke belakang sambil tersenyum. “ Laila, aku mengundangmu makan malam di Resto Sizu, kuharap kau datang sebagai permintaan maafmu padaku.” berjalan pergi menuju ruang rapat.


Merasa kesal karena telah mengganggunya Laila mengutuk Fuan Xuer. “ Hah! dasar pria sialan! terus saja menggangguku. Ahh, sakit sekali, sepertinya lukanya kambuh lagi.” meringis kesakitan.


Manajer pergi ke ruangannya dengan kesal setelah melihat Laila yang terus mendapatkan keberuntungan. “ Gadis sial itu pasti menggunakan cara kotor untuk berkenalan dengan Presdir Fuan, bagaimana bisa dia bisa kenal lebih dulu dari pada aku.” batinnya, penuh iri.