
Asisten Li berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal mewah di kota, Laila dan Rara saling memandang dengan bingung karena tidak tahu mau apa Asisten Li membawanya ke Mall.
“ Asisten Li, apa kau salah jalan? ini bukan arah ke rumahku?.” tanya Laila pada Asisten Li.
“ Tunggu sebentar! tuan mau membeli sesuatu di sini sebelum kita pulang.” Asisten Li melirik David dan membuka pintu mobilnya.
“ Ahh, baiklah.” Laila dan Rara diam di dalam mobil melihat David dan Asisten Li pergi, pada saat Asisten Li menengok ke belakang ia kaget dan berjalan ke mobil. “ Apa kalian akan tetap di sini?.” tanya Asisten Li mengetuk kaca mobil. Laila segera membuka pintu mobil dan berkata. “ Aku tidak bisa jalan bagaimana aku akan ikut dengan kalian. Lebih baik aku menunggu di sini saja.”
Tanpa berkata-kata Asisten Li membantu Laila duduk di kursi roda dan mendorongnya masuk ke dalam Mall. “ Biarkan aku yang membantu Laila.” ucap Rara, Asisten Li segera berjalan di belakang David untuk melindunginya.
David berhenti di toko pakaian wanita dan langsung duduk dengan santai, seorang pelayan datang menghampiri David dan bertanya. “ Tuan, ada yang bisa saya bantu?.” David melirik Laila yang tidak mau masuk ke toko pakaian mewah. “ Berikan dia beberapa pakaian, dan beberapa sepasang sepatu yang dia suka.” pelayan itu segera menghampiri Laila dengan hormat. “ Nona silahkan masuk ke dalam, aku akan perlihatkan pakaian edisi terbatas di sini, dan hanya ada 3 yang secara khusus di rancang oleh Desainer Lu Airan.” Laila terkejut mendengar nama Lu Airan karena merasa familiar. “ Lu Airan yang terkenal itu! apa kau sedang tidak bercanda, bagaimana mungkin aku bisa membayar pakaian yang ia rancang sendiri, itu pasti sangat mahal.” pelayan tertawa tipis melihat ekspresi Laila yang tidak bisa membelinya.
“ Kau ambilah apa yang kau suka, aku akan membayarnya.” ucap David. “ Tapi untuk apa? aku tidak memerlukan pakaian saat ini, di rumahku juga banyak.” menolak dengan ragu. Asisten Li segera membisikan sesuatu pada Laila setelah melihat wajah David yang suram. “ Nona sebaiknya kau menurut saja, tuan tidak suka di tolak secara terang-terangan.” lalu Laila menjawab. “ Tapi.” Laila tidak suka di paksa.
“ Baiklah kalau begitu aku tidak akan sungkan, hari ini aku akan memerasmu sampai kau mengerti seperti apa saat wanita belanja.” batin Laila tersenyum jahat. “ Kenapa? aku merasa seseorang sedang mengutukku?.” batin David merinding.
“ Itu, bisakah kau tunjukan pakaian yang paling bagus dan mahal di sini, aku ingin melihatnya.” bertanya dengan malu. “ Silahkan nona ikuti aku, aku akan tunjukannya padamu.” menunjukkan.
Awalnya ingin melihat wanita seperti apa Laila, tapi David tidak menyangka Laila akan bersikap seperti wanita pada umumnya yang hanya menginginkan uang saja. “ Ternyata semua wanita sama saja, aku pikir dia berbeda dari yang lain.” batin David meremehkan.
“ Aku tidak jadi semua pakaian ini, aku hanya mau ini saja.” Laila memberikan setumpuk baju yang ia pilih pada pelayan. Pelayan itu tidak mau menyerah agar Laila mau membeli banyak baju agar dia bisa mendapatkan bonus dari bosnya. “ Nona semua baju yang kau pilih tadi sangat terbatas, kau yang paling beruntung karena tuan itu menutup toko kami sehingga tidak ada pembeli yang memilih baju di sini.” Laila kaget setengah mati. “ Apa! dia? benar saja orang kaya bebas melakukan apa saja.” bergumam.
“ Jadi nona jangan sia-siakan kesempatan bagus ini, kau bisa miliki semua baju di sini asalkan memintanya pada tuan. Kalau itu aku pasti akan membawa semua baju lalu menjualnya di pasar malam.” dengan terang-terangan pelayan itu mengajari Laila jadi wanita matre.
David mendengar semua percakakapan antara Laila dan pelayan tapi ia tidak peduli jika Laila benar-benar menginginkan semua pakaian yang ada di toko, baginya uang adalah hal kecil. Laila menolak saran pelayan yang akan menyesatkannya. “ Tapi aku benar-benar tidak butuh pakaian bagus dan barang mahal, seperti ini juga baik.” melihat-lihat dirinya yang terduduk di kursi roda dengan kumuh. Laila mendekatkan kepala dan bertanya pada pelayan. “ Apa kau tahu kapan Lu Airan akan kembali dari luar negri? aku menyukainya dan ingin meminta tanda tangannya.” pelayan menggelengkan kepala. “ Aku tidak tahu, tapi aku dengar minggu depan tanggal 11 dia sudah sampai di Bandara.” Laila langsung bersemangat. “ Benarkah? kalau begitu bisakah aku meminta nomor ponselmu, dengan begitu aku akan mencari tahu kapan dia pulang.” pelayan itu membuang muka. “ Untuk apa aku memberikannya padamu, aku tidak mengenalmu dan kau.” Laila langsung meraih tangan pelayan dan menjanjikan sesuatu. “ Apa begini sudah saling mengenal? seharus sudah bukan. Di masa mendatang aku pasti akan membalas budi padamu.” menunjukkan wajah imut. Pelayan mana bisa tahan setelah melihat Laila bersikap seperti anak berumur 3 tahun. “ Baiklah.” akhirnya Laila berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Setelah berbelanja David terdiam karena Laila duduk di sampingnya dengan 1 baju di pangkuannya, Asisten Li akan mengantar Laila setelah mengantar Rara pulang dengan selamat. “ Nona sudah sampai.” Asisten Li berhenti tepat di depan rumah Laila. “ Terima kasih tuan sudah mengantarku pulang.” ucap Laila. Hmm, David tidak mau bicara dan terus memejamkan mata selama perjalanan, sampai membuat Laila canggung. “ Dia tertidur.” batin Laila, saat Laila kesusahan turun dari mobil David turun dan membantu Laila duduk di kursi roda. Setelah itu David seperti mengambil sesuatu dari bagasi mobil dan memberikannya pada Laila. “ Ini untukku? terima kasih.” Laila menerima tongkat kruk pemberian David. “ Apa aku pincang? haruskah memakai tongkat kruk seperti ini!.” bergumam. David melihat ekpresi Laila yang tidak biasa membuatnya tidak senang. “ Tidak suka? kalau begitu buang saja.” melirik tempat sampai di sebrang jalan. “ Mana boleh seperti itu, kau memberikannya untukku tentu saja aku suka. Terima kasih.” wajah David tiba-tiba memerah karena malu. Asisten Li menahan tawa di dalam mobil. “ Ternyata tuan bisa malu juga ya.” batinnya.
“ Li Afra kau sedang apa di sana? cepat bantu dia masuk ke dalam.” dengan kesal, Asisten Li lari terbirit-birit. “ Baik tuan.”
“ Sudah di sini saja, aku bisa sendiri, terima kasih.” menghentikan rodanya. “ Sama-sama nona, jaga dirimu baik-baik.” melihat Asisten Li terlalu bertele-tele membuat David marah. “ Dia benar-benar akan membuatku terlambat.” Asisten Li menyadari sesuatu dan segera pamitan pada Laila. “ Nona aku pamit pulang.” Laila menganggukan kepala dan tersenyum.
Rosdiana keluar rumah untuk melihat Laila yang baru pulang. “ Laila kau pergi ke mana jam segini baru pulang? ini hampir larut malam , ibu khawatir terjadi sesuatu padamu.” Laila tersenyum kaku. “ Tadi aku ada urusan sedikit bu, aku tidak apa-apa.” Rosdiana merasa lega. “ Itu, dari mana kau mendapatkannya?.” melihat tongkat kruk di tangan Laila, Laila buru-buru menjelaskan pada Rosdiana. “ Ini, tadi tuan David yang memberikannya padaku, dia juga mengajakku dan Rara pergi belanja.” Rosdiana terlihat tidak senang. “ Ibu Ada apa? kau baik-baik saja 'kan.”
“ Ya, sebenarnya ibu tidak suka kau terlalu sering bertemu dia, ibu khawatir akan terjadi sesuatu padamu jika kau terus dekat dengannya.” memalingkan wajah. “ Kenapa ibu bilang seperti itu? aku rasa dia bukan orang jahat, dia juga lumayan baik padaku tidak sama seperti yang aku dengar dari rumor.”
“ Kau membelanya?.” tidak senang. “ Tidak, tapi memang itu kenyataannya. Dia tidak sama.” Rosdiana membentak Laila karena Laila tidak mendengarkan nasihatnya. “ Diam! apa kau lupa siapa yang menyebabkanmu tidak bisa jalan? dan kau lupa kau hampir mati dan di rumorkan berkencan dengan dia oleh media, semua orang mengira kau simpanan pria itu. Kau tidak akan mengerti perasaan ibu, betapa hancurnya aku saat putriku satu-satunya menderita sampai seperti ini.” hiks hiks, menangis. “ Ibu hanya ingin putriku hidup dengan bahagia dan damai.” menyeka air mata. Laila merasa bersalah dan memeluk Rosdiana. “ Aku tahu ibu pasti belum bisa menerima kenyataan yang aku alami saat ini.” batin Laila.