
Keesokan harinya.
Laila berjalan di pagi buta untuk menghindari David yang akan menjemputnya, saat Laila sedang menunggu Bus di Halte tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depannya. Laila segera berjalan dengan cepat setelah melihat plat mobil itu milik David.
David turun mengejar Laila dan menariknya ke dalam mobil. “ Kau benar-benar gadis nakal! aku sudah lama menunggumu tapi kau malah berniat pergi ke kantor tanpa aku. Kalau begitu biarkan aku datang ke rumahmu dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada kita.” tekad.
Laila panik melihat David yang berbicara serius. “ Tidak, kumohon jangan beritahu Ibu dan Ayahku. Bukankah hanya tanda tangan kontrak kenapa Ibu dan Ayahku harus tahu, aku setuju jadi pacar pura-pura di keluargamu tapi tidak di keluargaku. Karena kontrak itu bisa berakhir kapan saja, begitu pula dengan hubungan kita.” tidak mau salah melangkah.
David terdiam tanpa kata. “ Apa yang gadis ini pikirkan setiap harinya? berani bicara seperti itu padaku, dan kenapa aku tidak marah padanya, ada apa denganku sebenarnya? dia hanyalah gadis bodoh yang berpura-pura menjadi pacarku.” batinnya, merasa prustrasi.
Sesampainya di Perusahaan Duke Laila meminta Asisten Li menurunkannya di sebrang jalan agar tidak ada orang yang tahu dirinya berada di mobil yang sama dengan David, karena itu akan mempengaruhi reputasi David.
Laila turun dari mobil. “ Terima kasih tuan, aku akan pergi duluan ke kantor.” menundukkan kepala dengan ramah.
David turun dari mobil dengan wajah suram membuat semua karyawan ketakutan, sedangkan Laila sibuk mengerjakan pekerjaannya tanpa memperdulikan orang di sekitarnya. Manajer yang selalu memberikan pekerjaan orang lain pada Laila membuat Laila tidak bisa istirahat di waktu yang tepat.
“ Akhirnya selesai juga! aku mau makan tapi makan apa?.” meregangkan tubuh.
Adrift tiba-tiba datang membawa makanan dan memberikannya pada Laila. “ Sudah jangan kerja terus, mari makan siang, aku sudah bawa makanan untukmu.” duduk di samping Laila.
“ Hah, kau yang waktu itu 'kan?.” mengingat.
“ Iya benar, kenapa sudah lupa?.” mengejek. Laila mengibaskan tangan dengan gugup. “ Bukan, bukan seperti itu.” Adrift tersenyum melihat Laila, lalu mendekatkan kepala dan menggodanya lagi. “ Lalu apa? aku pikir kau benar-benar melupakan aku. Aku sangat sedih tahu tidak?.” berekspresi kecewa.
Laila tersenyum terpaksa karena Adrift berani menggodanya. “ Ada apa dengannya?.” batinnya, memalingkan wajah.
“ Sudah-sudah aku hanya bercanda, cepat makan sebelum makanannya dingin.” Adrift membantu Laila menyiapkan makanan dan memberikannya pada Laila. “ Ini.”
“ Baiklah, terima kasih.” Laila segera memakan makanannya.
Di Kediaman Duke.
Chamilla menyuruh orang untuk menyelidiki Identitas Laila dan tentang keluarganya, setelah memeriksa semuanya Chamilla tersenyum jahat karena David berani memperkenalkan seorang wanita miskin yang tidak berpendidikan pada keluarga Duke. Chamilla segera memberitahu Oliver dan memintanya agar David memutuskan hubungannya dengan Laila, karena akan mempermalukan keluarga Duke jika menikahi wanita miskin.
“ Suamiku, kau harus membujuk David untuk tidak berhubungan dengan gadis itu, jika media tahu maka Investor akan memutuskan kerja sama dan menganggap Perusahaan Duke bodoh karena mau berhubungan dengan keluarga yang latar belakangnya tidak jelas.” Chamilla sengaja mengolok-olok Oliver.
“ Kau benar istriku, nanti aku akan bicara pada David. Kau carikan seorang gadis yang cocok dengan David, aku aka mengatur pernikahannya secepat mungkin.” ucap Oliver, lantas Oliver pergi.
“ Baik suamiku, aku akan mencari gadis yang lebih baik dari gadis itu.” balas Chamilla menyeringai.
Asisten Li masuk ke ruangan David dan memberitahunya kalau Chamilla sudah menyelidiki Identitas Laila dan kemungkinan besar Oliver akan mengacau rencananya. David tak tinggal diam ia segera pergi menuju parkiran mobil dan menunggu Laila, saat Laila tiba David langsung menarik tangannya masuk ke dalam mobil.
Laila yang kebingungan bertanya pada David. “ Tuan, ada apa kau memanggilku kemari?.” duduk di samping David.
David tidak menjawab pertanyaan Laila membuat suasana hening seketika.
“ Apa dia marah lagi? tapi apa yang membuatnya marah sampai seperti itu?.” batin Laila mencuri pandang saat David memejamkan matanya.
“ Ada apa denganku? mengapa bisa peduli marah atau tidaknya dia! itu bukan urusanku, yang harus kutanyakan dia mau membawaku ke mana sekarang?.” batinnya, memaki dirinya sendiri.
Laila menempelkan wajahnya di kaca mobil dan terus melihat kantor Catatan Sipil. “ Aku tidak salah lihat'kan? mengapa pria ini membawaku ke sini?.” perasaan Laila bercampur aduk antara sedih dan marah.
“ Turunlah! kita harus menyelesaikannya sekarang juga.” David membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam.
Wajah Laila langsung pucat dan berkeringat dingin. “ Ini tidak benar, apa di dalam kontrak tertulis harus sampai tahap ini? dia pasti sedang mempermainkanku, aku harus bicara padanya.” Laila berlari masuk mengikuti David.
Laila melihat David sedang mengambil Foto untuk akta nikah tidak punya kesempatan bicara pada David, mau tidak mau Laila di Foto karena di paksa oleh beberapa pria yang bekerja di sana. “ Ayo nona, tuan tidak punya waktu banyak menunggu Anda tetap berdiri di sini.” mendorong Laila dan merapihkan pakaiannya.
5 menit berlalu, Surat Nikah keduanya selesai di cetak yang berarti David dan Laila sudah menjadi pasangan suami istri yang sah.
David memberikan buku nikah milik Laila. “ Ini untukmu, masalah mahar dan sebagainya nanti Asisten Li akan mengurusnya, jadi kau tenang saja.” berjalan masuk ke dalam mobil.
Laila yang kebingungan hanya berdiri melihat David meninggalkannya seorang diri di Lembaga Catatan Sipil. Saat Laila tersadar mobil sudah melaju jauh darinya. “ Dasar pria breng*ek! meninggalkanku begitu saja setelah memanfaatkanku.” memaki dan hampir melemparkan buku nikah, tapi untungnya Laila sadar dan segera memasukkan buku nikah ke tasnya.
Asisten Li khawatir jika Laila akan terlambat kembali ke kantor dan mencoba berbicara pada David. “ Tuan, apa sebaiknya kita kembali menjemput nona?.” dengan ragu.
“ Tidak perlu, biarkan dia kembali sendiri.” mematikan rokok.
“ Baik tuan.” Asisten Li tidak punya hak dan harus mematuhi perkataan David.
David pergi ke Kediaman Duke untuk memperlihatkan buku nikah miliknya, saat di perjalanan mobilnya berpapasan dengan mobil tak di kenal dan sepertinya mobil itu baru saja keluar dari Kediaman Duke.
“ Kau tahu siapa yang datang bertamu?.” tanya David.
“ Tidak tuan, tapi sepertinya tuan besar akan memberikanmu sebuah kejutan besar nanti.” balas Asisten Li.
Setelah mobil berhenti David segera turun dan berjalan cepat masuk ke dalam, pemandangan di dalam membuat David terdiam, tapi David berusaha tenang di hadapan semua orang.
Henri Duke berdiri menyapa David yang baru datang. “ David kau sudah datang? cepat duduk ada yang ingin aku bicarakan padamu.” kembali duduk.
David duduk dengan tenang. “ Apa yang ingin Kakek bicarakan padaku? haruskah kita bicara empat mata?.” melirik setiap orang di sekitar.
Hahaha, tertawa. “ Tidak perlu, aku hanya ingin kau memilih beberapa gadis yang sudah Mama kamu pilih, kau suka yang mana tinggal bilang pada Kakek, Kakek akan segera mempersiapkan lamaran untuk gadis yang kau sukai.” menyodorkan beberapa foto gadis cantik dan tentunya seorang putri Bangsawan.
David tersenyum tipis seakan-akan mengejek perlakuan keluarganya terhadapnya. “ Kau terlambat Kakek! aku sudah menikah.” mengeluarkan buku nikah dan memamerkannya pada semua anggota keluarga untuk di lihat. “ Lihat, aku kembali ke sini karena ingin memberitahu kalian tentang ini, tidak di sangka kalian malah memberiku kejutan yang membuatku sedih.” berpura-pura patah hati.
Henri Duke merasa bersalah dan langsung melirik Chamilla yang sudah membuat ide bodoh ke padanya. “ Menantu, kau bilang David tidak mencintai gadis itu, mengapa bisa jadi seperti ini? aku benar-benar kecewa denganmu.” membuang muka.
Chamilla mengepalkan tangan. “ Ayah mertua, tolong maafkan aku, aku tidak tahu kalau David akan menikahi gadis itu secepat ini. Lagi pula gadis itu tidak sebanding dengan David yang merupakan penerus Grup Duke. Jadi aku rasa aku.” perkataan Chamilla di hentikan oleh David. “ Tentu saja sebanding! bagianmana yang menurutmu tidak sebanding? nyonya.” Chamilla tidak bisa menjawab perkataan David yang menusuknya.
“ Katakan pada Kakek kau mau pesta pernikahan seperti apa dan kapan? Kakek akan mempersiapkannya untuk kalian.” Henri Duke mengalihkan pembicaraan.
“ Istriku tidak suka kekayaan, dia juga memintaku mengadakan pesta sederhana yang hanya di hadiri oleh kerabat saja. Tapi tentu saja aku tidak mau mengecewakan istriku, jadi aku memutuskan pesta akan diadakan malam ini.” ucapan David membuat semua orang terkejut, dengan pernikahan yang sangat penting tetapi David mengambil keputusan tidak tepat.
Henri Duke terpaksa menuruti perkataan David. “ Baiklah, sudah di putuskan nanti malam kita mengadakan pesta di sini. Dan 1 jam lagi kita harus pergi melamar gadis itu untuk datang ke pesta bersama keluarganya.” ucapan Henri Duke adalah perintah yang tidak boleh di tolak oleh siapapun.