
Apartement milik Rara.
Laila datang menemui Rara di sore hari untuk melihat kondisi Rara yang hampir mati di gigit Harimau. Rara segera membuka pintu dan melihat Laila yang datang ke Apartementnya, Rara menangis begitu saja sambil memeluk Laila dengan erat.
“ Laila kau ke mana saja kemarin? kau tahu aku mengkhawatirkanmu.” hiks hiks, menangis.
Laila merasa bersalah setelah melihat luka memar di tangan Rara. “ Aku tidak apa-apa, bagaimana denganmu?.” menatap tangan Rara.
Rara berjalan masuk dan duduk di kursi. “ Haih, aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi padaku, aku mendapati pesan singkat misterius saat aku akan pergi mencarimu, tapi aku di hadang oleh beberapa pria dan aku rasa mereka itu penculik, karena mereka membawaku ke dalam mobil dan saat aku sadar aku sudah di ikat di pohon. Apa kau tahu apa yang terjadi padaku selanjutnya? aku hampir mati jadi santapan Harimau sialan itu, tapi entah kenapa pria itu membiusku lagi dan saat aku sadar aku sudah berada di ranjangku.” berbicara dengan tidak percaya.
Laila yang mendengar temannya menderita dan hampir mati langsung memeluk Rara. “ Aku senang kau tidak apa-apa, maafkan aku Ra, aku sudah membuatmu menderita sampai seperti ini.” peluk erat.
Berusaha mendorong Laila. “ Hei! peluk ya peluk, tapi jangan seperti ini, kau akan membuatku mati sesak nafas.” memarahi.
Laila segera melepaskan pelukannya. “ Ahaha, aku terlalu senang, biarkan aku memelukmu sampai aku puas, aku merindukanmu Rara.” manja.
Rara menghadang Laila yang akan memeluknya. “ Tunggu sebentar! sebenarnya apa yang terjadi padamu? kenapa kau tidak pulang dan membirkan kami mengkhawatirkanmu.” menanti Laila berbicara.
Laila memalingkan wajah karena tidak ingin Rara tahu akan kebenarannya. “ Sudahlah, bukankah aku sudah ada di sini, ceritanya panjang, kau tidak akan sanggup mendengarkannya.” bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Mendekatkan kepala dan mencoba menggoda Laila. “ Benarkah? apa jangan-jangan kau pergi liburan bersama pacar barumu!.” menebak.
“ Jangan bicara sembarangan!.” menjentik kening Rara.
Saat Laila dan Rara sedang menikmati makan sore tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu, Rara mengurungkan niatnya yang ingin membuka pintu karena masih trauma, Laila terpaksa membuka pintu setelah melihat Rara yang ketakutan.
Laila membuka pintu dan melihat seorang kurir yang membawa sebuah buket bunga mawar merah di tangannya. “ Nona, ini ada kiriman bunga untukmu?.” menyodorkan.
Laila kebingungan dan menengok ke belakang. “ Rara, seseorang mengirimimu bunga, cepat lihat!.” Rara segera berlari keluar untuk melihatnya. “ Hei pak, apa kau tidak salah alamat? aku mana ada pacar sebaik itu.” kesal karena jomblo.
Kurir itu mencoba memastikan kartu nama di bunga. “ Tidak, aku tidak salah alamat. Apa kau nona Laila?.” menunjuk ke arah Laila. Laila mengangguk tanpa sadar. “ Benar.”
“ Ini untukmu.” kurir itu memberikan bunga kemudian mengambil poto tanpa izin dan mengirimkannya pada David.
Kurir itu pergi dengan gembira karena mendapatkan uang tip lebih besar dari gaji satu bulan, sedangkan Rara mendorong Laila masuk dan mulai mengolok-oloknya. “ Aku tidak menyangka pacarmu itu sangat Romantis, apa aku boleh bertemu dengannya? aku penasaran tampang pria yang berhasil meluluhkan hatimu itu.”
“ Diam! aku sudah bilang aku tidak ada pacar, mungkin saja bunga ini dari teman sma dulu waktu sekolah.” menaruh bunga di atas meja, tapi Laila penasaran sama orang yang sudah mengiriminya bunga di sore hari.
Kring, tiba-tiba Laila mendapati pesan singkat dari nomor tak di kenal yang berisi. “ Semoga kau menyukai bunga itu, aku sendiri yang memilihnya untukmu. Ingat! besok pagi aku jemput kamu di tempat biasa.” Rara yang penasaran sengaja mengintip pesan itu karena curiga. “ Ya ampun! ternyata benar, kau sudah ada pacar bahkan dia berjanji akan menjemputmu besok pagi. Apa kalian akan pergi liburan ke luar negri? katakan padaku jika itu benar Laila.” merasa senang.
Laila menaruh ponselnya dan mulai berpikir sejenak. “ Apa bunga itu dari pria sialan itu, mengapa dia terus menggangguku? aku benar-benar tidak bisa bertemu dia lagi jika tidak aku akan di paksa menikah dengannya.” mengerutkan dahi.
“ Ada apa? apa ada masalah Laila? tapi seharusnya tidak, kau baru saja mendapatkan bunga dari pacarmu, apa kau akan merasa sedih saat dia berusaha membuatmu bahagia?.” khawatir.
Tak terasa hari sudah gelap, Laila yang memutuskan untuk pulang di jam 09:00 malam membuat Rara cemas akan keselamatannya. “ Laila sebaiknya kau menginap saja di sini, besok pagi kita pergi bekerja bersama, bagaimana? aku takut sesuatu terjadi padamu.” enggan melepaskan genggamannya.
“ Tidak bisa Ra, besok pagi aku harus kerja, jika tidak aku akan di pecat dari pekerjaanku yang baru.” tidak tega meninggalkan Rara sendirian di Apartementnya.
“ Baiklah, kau harus hati-hati Laila.” mengantar Laila sampai masuk Lift.
Pria itu mendorong Laila karena membuatnya tidak nyaman. “ Hei! kau sudah selamat mengapa terus memelukku dengan erat?.” berusaha mendorong Laila.
Laila memeluk pria itu semakin erat. “ Tidak! kumohon jangan tabrak aku, aku takut.” hik hiks, Laila menangis tersedu-sedu.
Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Laila memeluknya sampai ia sesak nafas, secara bersamaan David baru sampai dan melihat Laila sedang berpelukan dengan seorang pria yang membuatnya marah.
Tanpa berkata-kata David langsung turun dari mobil dan menarik Laila bangun dari pelukan pria itu. “ Apa yang sedang kalian lakukan di tempat ramai seperti ini?.” menarik Laila ke pelukannya.
Laila mendongak melihat David dan tiba-tiba menangis. “ Aku takut! aku takut mati.” memeluk David.
Pria yang baru saja menolong Laila bernama Fu Zhiazeng dia adalah Aktris terkenal di kota sekaligus teman masa sekolah sma dulu. “ Aku rasa kau tidak apa-apa, sebaiknya aku pergi dulu.” tertawa canggung.
Laila menoleh cepat. “ Tunggu! terima kasih kau sudah menolongku, jika tidak mungkin aku akan masuk Rumah Sakit sekarang.” Fu Zhiazeng yang memakai masker dan topi hitam membuat Laila tak mengenalinya.
Akhirnya Fu Zhiazeng melepaskan masker dan topinya lalu tersenyum pada Laila. “ Ahem! apa kau tidak mengenaliku bocah tengil?.” tersenyum terpaksa.
Laila melebarkan matanya seakan tidak percaya teman lelakinya dulu kini berada tepat di hadapannya dan sudah menyelamatkan nyawanya. “ Apa itu kau Zhiazeng? ahh, aku merindukan sahabatku ini!.” memeluk Fu Zhiazeng tanpa memperdulikan keberadaan David di sampingnya.
Beberapa orang bersuara dan mulai memotret keberadaan Fu Zhiazeng yang tiba-tiba berada di tempat umum. “ Cepat lihat! bukankah itu Zhiazeng dari Grup Fu, dia benar-benar ada di sini, kita harus memintanya tanda tangan dan berpoto bareng. Sungguh tidak mudah bisa bertemu dengannya.” berusaha mendekat tapi pengawal menghadangnya dan tidak membiarkan siapapun memotret kebersamaan Fu Zhiazeng dengan temannya.
“ Cepat berikan aku tanda tangan, aku menyukaimu saat main Film di tv, kau sungguh tampan saat memerankan pria kaya berdarah dingin.” menggesek tangan dengan gembira.
“ Hahaha, baiklah. Aku akan menemuimu besok setelah selesai syuting, sekarang aku harus pergi jika tidak aku akan mati di keroyok oleh segerombolan wanita di sana, itu sangat menakutkan dari penjahat.” berbisik.
Tersenyum hangat. “ Baik, aku akan menunggumu di pantai.” melambaikan tangan dengan senang.
Wajah David mulai suram melihat Laila bermesraan dengan pria lain di depannya. “ Tampaknya kau sangat senang, apa tadi kau hanya berpura-pura nangis agar bisa memeluk Idolamu dengan puas?.” berbicara dengan dingin.
Laila tertegun sesaat. “ Hah, sepertinya aku mengenal suara ini.” batinnya, berbalik badan secara perlahan.
Laila mundur dengan cepat setelah melihat David ada di depannya. “ Kau! apa yang kau lakukan di sini? tadi, kau melihatnya?.” tanpa sadar merasa bersalah pada orang yang tidak ada hubungannya dengannya.
David bersikap acuh tak acuh. “ Masih diam di sana! tidak mau pulang?.” berjalan menuju mobil.
Laila terpaku dan berpikir keras harus pergi bersama David atau menunggu Bus. “ Jika aku pergi dengannya, dia akan berpikir kalau aku menyetujuinya menikahiku. Tapi jika aku tidak pergi dengannya bagaimana kalau Bus tidak datang dan malah membuatku jalan kaki pulang ke rumah.” batinnya, tidak bisa memilih.
Asisten Li menekan klakson beberapa kali dan membuat Laila kaget. “ Nona apa kau akan jalan kaki pulang ke rumah, kalau begitu aku akan pergi karena tuan masih ada urusan.” tersenyum sambil mengedipkan mata agar Laila mau masuk ke dalam mobil.
Laila berlari masuk dan duduk di kursi depan. “ Baiklah, aku merepotkanmu lagi Asisten Li. Terima kasih.” tersenyum.
Wajah David muram melihat Laila duduk di kursi depan tanpa memperdulikannya, Asisten Li yang takut tidak berani mengemudikan mobil karena suasana tiba-tiba jadi panas setelah melihat David yang duduk di belakang sendirian. “ Nona, apa sebaiknya Anda duduk di belakang saja. Aku takut aku tidak bisa pokus saat menyetir.” beralasan.
Tanpa bicara Laila pindah duduk di belakang dan mengabaikan David yang selalu memejamkan matanya saat di dalam mobil, Laila berpikir jika David enggan melihatnya karena suatu alasan.
David membuka matanya dan bertanya pada Laila dengan wajah datar. “ Apa kau membuang bunga pemberianku?.”
Laila Menundukkan kepala dan merasa bersalah. “ Tidak, aku menyimpannya di rumah temanku, besok akan aku ambil, tenang saja.” Laila tak pandai berbohong dan langsung diketahui oleh David kalau bunga itu benar-benar di buang.