
Masih di Restoran Fyne.
Dimana Laila sudah melayani pelanggan dengan baik bahkan membantu memotong Steak untuk ketiga pria di sana, tapi ke 3 pria itu masih tidak ingin melepaskan Laila.
“ Tuan, biarkan aku pergi melayani pelanggan lainnya ya. Aku sudah melakukan apa yang kalian suruh.” Laila sudah tidak tahan terus berada di antara ke 3 pria itu.
“ Nona kau ini begitu tidak ingin melayani kami, apa kami bukan pelangganmu?.” tidak senang.
“ Bukan seperti itu tuan, tapi kalian sudah menahanku selama 20 menit di sini, ada banyak pekerjaan di belakang yang harus kuselesaikan.” Laila sudah berusaha sabar tapi ke 3 pria itu semakin keterlaluan bahkan berani merangkul pinggang Laila dan hampir menciumnya.
Laila marah di sentuh oleh pria sembarangan seperti mereka dan segera mendorong pria itu sejauh mungkin.
Plak! Laila menampar pria itu dengan penuh kebencian. “ Di mana kau letakkan tanganmu itu? dasar kau pria mesum! beraninya menyentuhku dan bahkan ingin menciumku, apa kau pikir aku tidak berani marah pada kalian? Security! tangkap mereka bertiga dan keluarkan dari sini.” teriakkan Laila mengundang semua orang melihat ke arahnya.
Juna dengan panik menghampiri Laila.
“ Laila, apa yang terjadi nak? apa mereka bersikap kurang ajar padamu?.” khawatir.
“ Aku tidak apa-apa ayah, hanya pelanggan yang tidak tahu malu yang berani sembarang menyentuhku.” mencibir.
“ Siapa yang kau bilang tidak tahu malu? dasar kau seorang pelayan rendahan beraninya menghinaku di depan banyak orang!.” pria itu berontak di tangan Security dan berhasil memukul Security sampai melayang menabrak meja sampai hancur.
Saat pria itu akan memukul Laila Juna menghadang pukulan itu dan jatuh tersungkur.
“ Ayah! ayah, apa kau baik-baik saja?.” dengan panik Laila memapah Juna berdiri.
Rosdiana berlari sambil membawa vas bunga di tangannya, tanpa basa-basi Rosdiana melemparkan vas itu dan berhasil mengenai kepala salah seorang pria yang sudah memukul Juna.
“ Beraninya kau mengacau di Restoran kami, dan bahkan berani memukul suamiku. Apa kalian tidak takut kalau aku akan melaporkan tindakanmu itu pada Polisi. Cepat pergi dari sini sebelum aku memanggil Polisi datang menangkap kalian.” berteriak sekeras mungkin.
Amarah Rosdiana membuat ke 3 pria itu terkejut.
“ Sialan! dasar wanita tua yang suka ikut campur. Lihat bagaimana aku akan membereskanmu kali ini.” bersiap memukul Rosdiana, namun seketika pria itu berhenti mematung setelah mendengar Sirine Polisi
“ Sial! ternyata kau benar-benar memanggil Polisi datang kemari. Teman ayo kita pergi dari sini, tapi sebelum itu kalian tahu apa yang harus kalian lakukan'kan?.” ke 3 pria itu menghancurkan beberapa barang dan meja yang ada di Restoran.
Kerugian di Restoran Fyne hampir mencapai 200 juta.
Rosdiana menghampiri Juna dengan cemas.
“ Suamiku, apa kau baik-baik saja? ayo kita duduk dulu, perlihatkan padaku lukanya.” memapah Juna duduk di kursi.
Hiks hiks, Laila menangis tanpa henti melihat ayahnya di pukul oleh pria itu.
“ Ayah, kenapa kau menghadang pukulan itu? kenapa, kenapa?!.” merasa patah hati.
“ Dasar gadis bodoh! kalau ayah tidak menghadang pukulan mereka apa ayah akan biarkan mereka memukul putriku begitu saja, aku saja sebagai ayahmu belum pernah memukulmu, mana mungkin ayah biarkan orang asing memukulmu di depan mata ayah.” mengulurkan tangan dan mengusap air mata Laila.
Laila merasa terlindungi dengan adanya Juna, tapi Laila tidak terima jika Juna di pukul orang begitu saja.
“ Maafkan aku ayah, ini semua salahku. Seharusnya aku tidak membuat masalah dengan mereka. Kalau tidak ayah tidak akan terluka seperti ini.” menyesal.
“ Sudahlah, kenapa harus menyalahkan dirimu sendiri, ayah dukung kau memperlakukan pelanggan seperti mereka, mereka pantas mendapatkannya karena berani bersikap tak sopan pada putriku.” mengelus kepala Laila dengan lembut.
Seorang Polisi datang menghampiri Juna.
“ Tuan, kami sudah menangkap pembuat onar itu dan sekarang kami akan membawanya ke kantor Polisi untuk di selidiki. Tapi satu orang berhasil melarikan diri dengan cepat, kalian tenang saja kami akan segera menangkap pria itu.” ucap Polisi.
“ Terima kasih Pak, kalian sangat membantu kami.” balas Juna dengan ramah.
Laila membawa Juna ke Rumah Sakit sedangkan Rosdiana dan pegawai lainnya tetap berada di Restoran untuk membereskan kekacauan yang ada.
Di Rumah Sakit.
Setelah selesai di perban Juna duduk di kursi.
“ Dokter bagaimana keadaan ayahku? apa lukanya parah?.” khawatir.
“ Lukanya tidak parah, hanya saja pukulan di wajah ayahmu menyebabkan beberapa gigi copot.” menyodorkan 2 gigi yang terbungkus plastik putih.
Hati Laila merasa tercabik-cabik melihat gigi sang ayah ada di depannya.
Hihihi, Juna tersenyum melihat tingkah Laila yang seperti anak kecil.
“ Putriku, untuk apa gigi itu? ayah masih hidup tidak perlu menyimpan gigi ayah yang sudah copot.” Juna tidak tahan melihat Laila yang menganggap giginya seperti barang berharga.
“ Ayah, biarkan aku membawanya pulang ya. Ini bisa menjadi bukti di kantor Polisi kalau pria itu benar-benar melukaimu.” berbicara tanpa ekspresi membuat Juna merasa aneh.
Laila membawa Juna keluar dari UGD dengan hati-hati.
“ Ayo ayah, kita pulang ke rumah.” gumam Laila.
Tap tap, David berlari menuju ruangan di mana Juna di periksa.
“ Ayah mertua, kau tidak apa-apa 'kan? maaf aku datang terlambat.” ucap David dengan terengah-engah.
Juna menatap David lalu tersenyum.
“ Haih, menantu kau datang pasti karena Laila memberitahumu kalau aku terluka'kan? sebenarnya aku tidak apa-apa, hanya luka kecil saja.” Juna tidak berharap David datang menemuinya dengan khawatir.
Laila memalingkan wajah dan enggan melihat David.
“ Ayah jangan banyak bicara lagi, ayo aku antar pulang.” memapah.
“ Baiklah, kau memang anak baik nak. Tidak menyesal aku menikahkanmu dengan putriku.” Juna merasa tenang punya menantu yang menyayangi keluarga.
“ Kau terlalu memujiku ayah mertua. Kau tenang saja, aku sudah berhasil menangkap pria yang melarikan diri, dia sekarang berada di kantor Polisi dan menjalani penyelidikan.” ucap David.
David membawa Juna pergi sedangkan Laila tertinggal karena terus berdiri menatap kedua orang itu yang semakin akrab.
“ Di kantor Polisi?.” Laila bergegas pergi meninggalkan Rumah Sakit tanpa mengantar Juna dan David pulang.
Saat David menengok ke belakang Laila sudah tidak ada.
“ Kemana perginya gadis itu? apa dia pulang lebih dulu karena tidak mau bertemu denganku.” batinnya.
“ Ada apa David? dimana Laila? mengapa tidak pulang bersama kita?.” mencari sekeliling dengan cemas.
“ Mungkin Laila pergi ke Apotek untuk membeli obat, biarkan aku membawamu pulang lebih dulu. Nanti aku akan menyuruh orang menjemput Laila.” menenangkan.
Juna mengangguk dan ikut pulang bersama David.
Di kantor Polisi.
Laila meminta izin pada Polisi yang bertugas untuk menemui ke 3 pria secara pribadi dan di ruangan tertutup, awalnya Polisi itu tidak mengizinkannya karena khawatir terjadi sesuatu pada Laila. Setelah Laila meyakinkan Polisi bahwa dirinya akan baik-baik saja, Polisi baru membiarkan Laila masuk ke salah satu ruangan yang terdapat CCTV di dalamnya.
Laila berjalan masuk ke ruangan tersebut.
“ Apa kabar kawan? bagaimana seharian berada di penjara yang dingin? apa kalian sangat menikmati makanan di penjara ini?.” menyeringai.
Ke 3 pria itu tertawa senang melihat Laila datang seorang diri seperti sedang mengantar nyawanya.
“ Apa urusannya denganmu nona? kami di penjara juga tidak sia-sia karena sudah memukul pria tua itu, sekarang katakan padaku bagaimana keadaan paman tua itu, apa dia geger otak dan mati.” berbicara dengan lantang.
Laila mengepalkan tangan dan ingin memukul pria itu, tapi CCTV di sekitar membuatnya mengurungkan niatnya.
Pertama-tama, Laila mengunci pintu dari dalam, kemudian menghancurkan CCTV bahkan yang tersembunyi sekalipun.
Polisi yang sedang mengawasi ruangan itu tiba-tiba terkejut dan menjadi tegang karena Laila menghancurkan semua CCTV yang membuatnya tidak bisa melihat kejadian yang terjadi di ruangan itu.
“ Apa-apaan gadis itu? menghancurkan CCTV dan mengunci pintu dari dalam. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya, aku harus segera mengeluarkan gadis itu sebelum dia mati di tangan pria penjahat.” bergegas pergi menuju ruangan dimana Laila dan ke 3 pria itu berada.
Laila melemparkan kunci borgol pada ke 3 pria itu.
“ Ambil kunci itu dan ayo kita bertarung di sini. Bertarung sampai mati.” dengan tatapan membunuh.
Hahaha, ke 3 pria itu ketakutan kemudian tertawa keras.
“ Lihat teman! dia bersikap seolah-olah akan membunuh kita. Apa dia pikir kita anak kecil dan bisa di habisi oleh seorang wanita muda dan lemah seperti dia. Karena dia yang suka rela mengantarkan nyawanya pada kita maka kita jangan buat dia kecewa, mari kita bermain dengannya sampai titik penghabisan.” segera membuka borgol secara bergantian.