
1 bulan kemudian Laila sudah terbiasa berjalan tapi belum bisa menyeimbangkan tubuh karena kakinya belum sepenuhnya pulih, tapi Laila tidak menyerah dan terus belajar agar bisa berjalan dengan normal, karena tujuannya untuk bisa sembuh karena harus kerja membantu ayahnya membayar hutang.
Laila pergi ke kantor untuk bekerja menggunakan tongkat kruk, pada saat Laila masuk ke dalam Bus ia tidak bisa duduk karena semua kursi sudah penuh, tanpa sengaja Riana yang tengah duduk melihat Laila berdiri di depannya dengan kaki menggunakan tongkat kruk. “ Ahh, apa itu kau Laila?.” sapa Riana kaget. Laila melihat ke depan langsung menyapa dengan ramah. “ Nyonya, kau di sini juga. Bagaimana kabarmu nyonya?.” Riana melihat kaki Laila dengan khawatir. “ Aku baik, bagaimana denganmu? apa kakimu terluka?.” Laila tersenyum dan menjawabnya. “ Iya, hanya luka kecil.”
Setelah di lihat beberapa kali Riana baru sadar kalau Laila adalah wanita yang di rumorkan berkencan dengan David cucunya, Riana tersenyum bahagia setelah mengetahui calon mantunya itu berada di depannya. “ Aku tidak tahu apa David dan gadis ini benar-benar berkencan atau hanya rekan kerja. Tapi aku berharap dia benar akan jadi menantuku, dia begitu cantik dan baik David pasti tidak akan menyesalinya.” batin Riana.
“ Laila apa nanti malam kau sibuk? aku mau mengajakmu makan malam di rumahku. Aku harap kau tidak akan menolaknya.” bertanya seperti memaksa. Laila tidak punya kesempatan menolak dan dengan terpaksa menyetujuinya. “ Baiklah, setelah aku pulang kerja aku akan pergi ke rumahmu nyonya.” senyum tipis.
“ Bukannya aku tidak mau tapi aku tidak tahu kapan aku bisa pulang setelah lama tidak bekerja, pekerjaanku pasti menumpuk di kantor.” batin Laila tidak bisa berkata-kata.
Sesampainya di tempat kerja Laila di sambut oleh beberapa rekan kerjanya dengan mengdekor ulang meja kerja dan beberapa pot bunga segar, Laila terpana melihat meja kerja miliknya yang berbeda dari biasanya. “ Selamat bekerja kembali Laila.” ucap beberapa pegawai lainnya. “ Ahh, terima kasih.” Laila terharu dan memeluk rekannya.
Saat Laila hendak duduk Manajer Lia datang menghampirinya. “ Laila pergi ke ruanganku.” ucap Manajer berbalik ke ruangannya. “ Semangat.” bisik Rara. Laila segera pergi dan tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan di pecat dari pekerjaannya. Tapi setelah Manajer Lia menyodorkan surat phk Laila tercengang dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. “ Manajer, mengapa perusahaan memecatku sepihak, bukankah kontrak kerjaku masih 1 tahun lagi.” bertanya dengan wajah menyedihkan.
“ Aku tidak tahu kenapa tapi ada beberapa karyawan yang di phk sebelum kamu. Dan ini bonus untukmu dari kantor. Silahkan bereskan semua barangmu dan pergi dari kantor.” Manajer Lia menyodorkan amplop berisi uang dengan jumlah 2x lipat dari gaji.
Laila tidak bisa berbuat apa-apa dan keluar dari ruangan Manajer dengan sedih, Rara melihat ekspresi Laila yang tidak biasa segera menghampirinya dengan cemas. “ Ada apa Laila? Manajer menindasmu lagi.” Laila hanya bisa menangis di pelukan Rara dan membuat beberapa karyawan melihat ke arahnya. Seorang karyawan wanita berkata. “ Mungkin saja dia di pecat karena itu dia menangis setelah keluar dari ruang Manajer, kemarin karyawan wanita juga menangis setelah keluar dari ruang Manajer dan ternyata dia di pecat, dan mungkin saja Laila di pecat sama seperti mereka.” berbicara tanpa perasaan. Rara melirik rekannya. “ Sebaiknya kau diam saja.”
Setelah membereskan semua barang miliknya Laila berjalan keluar dengan berat hati karena harus meninggalkan pekerjaan di saat keluarganya kesulitan keuangan, sekarang Laila tidak punya tujuan dan hanya bisa pergi ke pantai untuk menenangkan diri. Radi yang merindukan kenangan bersama Laila memutuskan pergi ke pantai dan berharap bisa bertemu Laila di sana, dan Tuhan berpihak padanya dan mempertemukan keduanya di pantai. “ Kenapa harus ada dia di sini.” batin Laila berbalik badan karena tidak bisa bertemu Radi, tapi Radi keras kepala dan memaksa Laila agar memberinya kesempatan untuk mengenang masa lalu. “ Laila tunggu sebentar! aku merindukanmu selama ini, jadi tolong biarkan aku duduk disampingmu.”
“ Aku tahu, tapi bagiku sangat sulit melupakanmu Laila. Kau wanita yang tidak akan pernah kutemui di wanita lain, jadi kumohon kau temani aku di sini, Ok.” dengan wajah menyedihkan membuat Laila tidak tega menolaknya. “ Sudahlah bukankah aku tidak punya tujuan sekarang, lagi pula aku datang ke sini karena aku sedang sedih.” batin Laila menganggukan kepala.
Tak terasa hari mulai gelap tapi Laila enggan untuk pulang, Radi terus menemaninya sepanjang hari sampai jam sudah menunjuk pukul 07:00 malam. “ Radi aku akan pulang sekarang, kau pulanglah istrimu pasti menunggumu di rumah.” Radi menganggukan kepala dan membantu Laila naik taxi. “ Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang.” karena ponsel Radi terus berdering membuatnya khawatir pada Bella. “ Tidak apa-apa.” balas Laila.
Taxi berhenti tepat di sebuah rumah mewah. “ Maaf, apa kau salah rumah?.” Laila memastikan nomor rumah sama dengan yang ada di kartu nama. “ Ini rumahnya nona, kau bisa mengeceknya kembali.” Laila tidak punya pilihan karena alamatnya sesuai dengan yang di berikan Riana padanya. “ Mungkin saja memang benar ini rumah nyonya itu, tapi bagaimana kalau aku salah rumah?.” kebingungan.
Karena rumahnya sangat besar Laila terus berteriak tanpa melihat tombol bell di depannya, salah seorang yang di duga tetangganya merasa terganggu karena Laila terus berteriak. “ Nona apa kau buta, orang yang ada di dalam rumah tidak akan bisa mendengarmu dengan hanya berteriak seperti itu.” Laila langsung mengerti maksud orang itu padanya dan berteriak lebih keras lagi dari sebelumnya. “ Permisi! nyonya aku datang!.” tetangga itu memukul bahu Laila karena kesal. “ Dasar bodoh! kapan aku menyuruhmu berteriak seperti itu! lihat di depanmu apa di sana ada bell?.” Laila menganggukan kepala. “ Ada.” karena terlalu kesal tetangga itu menekan bell lalu pergi dari hadapan Laila. “ Ternyata seperti itu, kenapa tidak kepikiran dari tadi ya.” tertawa dengan malu.
Pintu gerbang terbuka lebar dan terlihat Riana menyambut ke datangan Laila. “ Kau sudah sampai Laila? ayo masuk, aku sudah masak beberapa menu di dalam, tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak.” Laila berpelukan dengan Riana. “ Tidak masalah nyonya, Anda sudah mengundangku datang ke sini aku sudah senang.” Riana membantu Laila masuk ke dalam rumah.
Riana memperkenalkan Laila pada Gum yang tengah menunggu di meja makan. “ Sudah datang ya, ayo kita makan bersama.” ucap Gum dengan ramah. “ Terima kasih tuan.” balas Laila membungkuk. “ Tidak perlu sungkan. Ternyata yang di bilang istriku benar, kau gadis baik dan cantik.” Laila tersipu malu. “ Ahh, Anda terlalu menyanjung tuan.” Ahaha, Gum tertawa. “ Jika saja cucuku tidak sibuk aku akan perkenalkanmu padanya.” mereka bertiga menikmati makan malam dengan penuh gembira.
2 jam berlalu sudah waktunya Laila pamit pulang, Riana dan Gum senang dan merasa cocok jika Laila menjadi calon menantunya. Saat Laila melambaikan tangan dari dalam taxi David baru sampai dan hanya melihat tangan yang terus melambai pada kakek nenek nya. “ Nenek, kalian sedang apa malam-malam begini berada di luar, dan siapa orang yang baru mengunjungi kalian, apa dia teman nenek?.” tanya David waspada.
Riana dan Gum saling memandang untuk tidak memberitahu kebenarannya pada David. “ Benar, itu teman lama nenek.” jawab Riana. “ Baiklah, lebih baik nenek dan kakek cepat masuk ke dalam, aku khawatir kalian kenapa-napa.” David menggiring keduanya seperti anak kecil.