
Sore hari jam 04:00 di Perusahaan Duke.
Laila telah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari rekannya, semua karyawan merasa tidak percaya dengan kinerja Laila yang merupakan karyawan baru yang bisa mengalahkan senior.
Beberapa orang berbisik jelek tentang Laila. “ Aku tidak percaya dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan mudah, bahkan kita yang sudah bekerja di sini lebih dari 5 tahun harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan sebanyak itu, tetapi dia hanya memerlukan waktu sehari saja untuk menyelesaikannya. Sungguk tidak masuk akal.” perkataan mereka terdengar jelas oleh Laila dan membuatnya tertawa tipis.
Laila tidak peduli dengan perkataan mereka dan segera pergi ke pantai untuk bertemu temannya, sesampainya di pantai Laila menunggu di tempat biasa di mana mereka sering bermain di tempat itu, tak lama kemudian Fu Zhiazeng datang menggunakan pakaian tertutup agar tidak di kenali oleh fansnya.
Fu Zhiazeng membuka masker dan mendekatkan kepalanya yang hampir bersentuhan dengan hidung Laila. “ Maaf, membuatmu menunggu lama!.” bisik Fu Zhiazeng.
Laila menghindar dengan cepat karena kaget. “ Ahh, tidak! sudah datang ya?.”
Fu Zhiazeng duduk di samping Laila dan terus memandangnya, Laila yang gugup tidak sengaja menjatuhkan tasnya beserta isinya, Fu Zhiazeng tertawa karena Laila bersikap sembrono hanya karena di tatap olehnya.
Zhiazeng menunduk untuk mengambil barang milik Laila yang berserakan. “ Kau ceroboh sekali bocah tengil! biarkan aku membantumu.” Zhiazeng tertegun saat melihat buku nikah di bawah, saat dirinya hendak mengambil buku nikah itu tiba-tiba Laila mengambilnya dengan cepat dan segera menyembunyikannya.
Zhiazeng mendongak dengan wajah muram. “ Apa itu milikmu?.” menatap buku nikah yang di sembunyikan Laila.
Hahaha, tertawa. “ Bukan! tentu saja bukan. Ini tidak seperti yang kau pikirkan Zhiazeng, ini milik temanku, dia, dia memintaku menyimpannya dengan baik.” berbicara dengan terbata-bata.
Berubah ekspresi menjadi tenang. “ Benarkah? aku kaget jika itu benar milikmu, sejak kapan kau menikah? kau tidak akan menikah tanpa memberitahuku 'kan?.” tersenyum.
Mengangguk cepat. “ Iya kau benar, saat aku menikah aku akan memberitahumu, dan mengundangmu menjadi tamu di pernikahanku.” mengalihkan pandangannya.
Setelah berbincang begitu lama Laila memutuskan untuk pulang karena hari telah gelap, Zhiazeng yang khawatir sengaja mengantar Laila sampai di depan rumahnya. Fu Zhiazeng melihat ada beberapa mobil mewah terparkir di depan rumah Laila dan membuatnya penasaran.
“ Laila, mungkinkah seseorang sedang bertamu di rumahmu! lihat itu.” menunjuk.
Laila segera melihat dan terkejut karena Asisten Li berdiri di depan rumahnya, yang berarti David juga ada di sana. “ Apa yang dia lakukan di sini? mobil ini? mengapa ada 2 mobil di sini, siapa yang bertamu malam-malam seperti ini di rumahku?.” batinnya, berpikir.
Fu Zhiazeng turun dari mobil dan membantu Laila membuka pintu mobil. “ Cepat turun! apa kau tidak ingin tahu orang yang bertamu di rumahmu, aku rasa dia bukan orang biasa.” terus memperhatikan mobil di depannya.
Asisten Li segera menghampiri Laila setelah melihatnya. “ Nona, tuan menunggumu dari tadi. Cepat masuk jangan buat tuan marah karena terlalu lama menunggumu.” bisik Asisten Li dengan wajah pucat.
Laila mengangguk dan segera masuk di ikuti Zhiazeng dari belakang, Zhiazeng tidak bisa berkata-kata setelah melihat keluarga besar Duke berada di dalam rumah Laila.
Fu Zhiazeng menarik lengan baju Laila. “ Mengapa mereka bisa ada di sini? apa kau membuat masalah dengan keluarga Duke? ingat Laila aku tidak bisa membantumu jika harus berurusan dengan mereka.” bisik Fu Zhiazeng.
Laila kesal karena di saat situasi seperti itu Fu Zhiazeng tidak bisa di andalkan. “ Diam! kau membuatku takut jika berbicara seperti itu.” menginjak kaki Fu Zhiazeng dengan kuat.
Rosdiana panik melihat Laila pulang terlambat. “ Laila mengapa masih berdiri di sana? cepat kemari dan sapa tamunya.” ucap Rosdiana khawatir.
“ Baik bu.” Laila berjalan mendekat lalu duduk di samping Rosdiana.
Melihat keluarga Duke datang ke rumahnya Laila menunduk tak berdaya. “ Sepertinya ibu tahu sesuatu akan masalahku. Bagaimana jika ibu dan ayah benar-benar tahu kalau aku dan David sudah membuat kesepakatan menikah di atas kertas kontrak, akankah ibu kecewa karena aku berbuat sesuatu tanpa memberitahunya terlebih dahulu.” batinnya, tangannya mulai gemetar.
Rosdiana menggenggam tangan Laila dengan penuh keyakinan. “ Tuan, karena putriku sudah pulang aku akan bertanya tentang hal yang baru kalian bicarakan padaku.” menanti Henri Duke menyetujuinya.
“ Baiklah, kau tanya saja sekarang.” mengangguk.
Rosdiana mulai menjelaskan maksud kedatangan keluarga Duke ke rumahnya, yaitu melamar Laila menjadi menantu keluarga Duke. “ Bagaimana menurutmu putriku? apa kau menerima lamaran yang tuan Duke berikan kepada kita?.” menatap.
David melihat Laila terdiam dan tidak berkata sepatah katapun membuatnya gelisah, David tidak ingin rencananya gagal hanya karena kebodohan Laila.
Uhuk uhuk, berdehem. “ Sepertinya kau lupa akan hubungan kita Laila, apa aku harus memberitahu semuanya pada keluargamu kalau kita ini sudah.” mendengar ucapan David yang akan menjelaskan tentang kotrak pranikah membuat Laila panik. Hahaha, tertawa terpaksa. “ Mana mungkin aku lupa sayang! karena kau begitu terburu-buru dengan terpaksa aku akan memberitahu ayah dan ibuku.” David tertegun dan memalingkan wajah, setelah melihat pesona Laila yang membuatnya salah tingkah.
Rosdiana kaget mendengar Laila memanggil David dengan sebutan mesra. “ Laila, kau? jaga ucapanmu jangan bicara sembarangan.” menjentik kening Laila seperti anak kecil.
Menyentuh kening. “ Ahh, ibu kau selalu seperti itu kepadaku. Aku bukan anak kecil lagi, jangan membuatku malu di depan pacarku bu.” bersikap manja.
Rosdiana berhenti sesaat lalu menarik Laila pergi ke dapur. “ Katakan pada ibu apa kau benar-benar berpacaran dengan tuan muda tertua Duke? sejak kapan, mengapa ibu dan ayah tidak tahu kalau kau punya hubungan khusus dengannya.” berbicara pelan.
Laila mulai berakting. “ Aku juga tidak tahu sejak kapan, setelah dia muncul dalam hidupku aku merasa nyaman di dekatnya. Singkatnya aku menyukainya pada pandangan pertama, dan kami memutuskan untuk berpacaran, tapi tidak tahu kenapa hubunganku dan dia begitu dalam dan kami memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tetapi siapa yang tahu dia begitu tergesa-gesa ingin menikahiku, mau tidak mau aku menerima lamarannya waktu itu.” Laila bersusah payah mengarang cerita dan berharap Rosdiana mempercayainya.
Fuihh, menghela nafas dengan lega. “ Aku hanya berharap pada keberuntunganku, selanjutnya biarkan aku memikirkannya di lain waktu.” batinnya, mengelus dada.
Rosdiana mendekat dan memeluk Laila dengan erat. “ Jika seperti itu ibu dan ayah tidak bisa melarangmu nak, ibu hanya berharap kau bahagia selamanya.” percaya akan kebahagian putrinya.
David yang bersembunyi di balik dapur sengaja menguping pembicaraan Laila bersama Rosdiana, setelah itu segera kembali duduk bersama keluarganya. Rosdiana menggandeng tangan Laila membawanya duduk di kursi, dengan mata sembab membuat Juna cemas dengan pembicaraan istri dan anaknya. “ Istriku, kau baik-baik saja?.” tanya Juna.
Rosdiana mengangguk dan berusaha tegar saat putrinya harus menikah dengan pria pilihannya.
“ Bagaimana nyonya, apa kau sudah berbicara dengan putrimu? dia sejutu dengan lamaran dari keluargaku?.” tidak sabaran.
“ Benar tuan, putriku dan tuan muda tertua memiliki hubungan sejak lama. Maaf membuatmu menunggu lama, kami sekeluarga menerima dengan sepenuh hati lamaran ini.” membungkuk dengan sopan.
Hahaha, tertawa senang. “ Baiklah, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus seperti ini, ayo kita pergi ke Kediaman Duke bersama. Kita akan merayakan pernikahan ini sesuai dengan keinginan kedua belah pihak.” berdiri tegak.