
"Sudah lah, Ma. Kami saling cinta. Bagaimanapun aku takkan meninggalkannya. Sebentar lagi kami akan menikah," ujar Adam
"Aku tak mau ada dia di rumah ini."
"Tapi aku cinta, Ma. Tak ada yang bisa menghalangi kami saat ini."
"Cinta katamu? Menjijikkan!! Tak ingin Mama serumah dengan wanita busuk itu!"
"Tak perlu berlebihan, Ma. Mau terima atau tidak, kami akan bersatu secepatnya."
"Kalau begitu, jangan kalian tinggal di rumahku ini. Bawa calon istrimu keluar dari sini, atau aku laporkan kalian berdua," bentak Mamanya.
Braaaaaaaaakk...
Suara pintu yang dibanting Adam dari dalam kamar, tak mempedulikan ucapan yang baru didengarnya.
Di sana sudah menunggu seorang wanita muda berkulit putih, tubuh langsing terawat, dengan rambut ikal berwarna agak kecoklatan, yang tersenyum manis dibalik selimutnya di atas ranjang
"Maaf ya sayang. Jangan masukkan ke hati pembicaraan kami tadi," sambil mengelus lengan putih Raisa yang tersambung oleh selang infus.
"Sudahlah sayang, tidak apa-apa. Mungkin Mama sedang banyak masalah," membalas dengan senyum yang hangat
"Kamu harus menjaga kesehatan agar cepat membaik. Tunggu dua hari lagi, lalu kita pindah dari sini. Setelah acara pernikahan, kita akan pindah ke rumah yang ada di Bogor."
"Lalu pekerjaanmu bagaimana?"
"Tak perlu kau pikirkan itu. Aku sudah mengurus surat pindah. Kita akan tenang di sana. Sebaiknya kau perbanyak istirahat saja. Wajahmu juga terlihat pucat." jelas Adam.
"Oke. Kamu tidurlah, kita harus istirahat. Malam ini sudah sangat larut. Kau pun pasti lelah."
"Mau aku temenin?" rayu Adam
"Ihh, nakal. Jangan macem-macem ya!" balas Raisa sambil mencubit perut calon suaminya.
"Hahaha. Bercanda, sayang. Kau tak akan aku apa-apakan hingga kita menikah. Tapi kalau sudah jadi istriku. Awas ya ...." Dengan gemas mencubit hidung mungil Raisa.
"Oh tidak bisa. Aku yang jadi ratunya."
"Terus aku jadi apa? Pasti rajanya."
"Kata siapa? Kamu ya jadi tukang kebunnya, hahaha. Udah sana tidur. Cepat istirahat," ucap Raisa.
Setelah memberikan kecupan kecil pada kening Raisa, Adam keluar menuju kamar pribadinya yang berada di sebelah.
Sesampainya di kamar, dia membayangkan bagaimana bahagianya nanti kehidupan mereka, Memilikii buah hati yang dilahirkan oleh wanita yang sangat dia cintai dan membangun keluarga kecil bersama.
"Aaahh, lengkap sudah hidupku."
Lamunannya melayang tinggi hingga dia jatuh terlelap.
➖➖➖➖➖
Esok harinya
"Sayang. Maaf, aku ketiduran. Kau pasti sudah sangat lapar karena belum sara ...."
Belum sempat Adam menyelesaikan kalimatnya, seketika dia diam terpaku sejenak dan terkejut
"Raisa?! Sayaaaaaaang. Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Tolong, Maaa!!"
Mendengar suara Adam menjerit ketakutan, Mamanya segera datang.
"Mengapa kau berteriak seperti orang yang kesurupan?"
"Raisa, Ma. Dia gak ada di kamarnya. Hilang, Ma. Hilaaaaaaang!!"
Marah dan kebingungan membuat wajahnya memerah, keringatnya bercucuran, nafasnya berhembus sangat kencang. Terlihat jelas matanya dipenuhi dengan air mata.
"Dia jemput orang tuanya tadi subuh, Adam. Mama yang memberi tahu kalau Raisa di sini," ucap Mama.
"Kenapa, Ma? Bukan begini caranya!! Harusnya mama ngobrol sama aku dulu sebelum menghubungi mereka. Mereka tidak suka kami bersama, Ma."
"Mama sudah minta kamu menghubungi keluarganya minggu lalu setelah kejadian itu, tapi nyatanya hingga sekarang kamu tetap diam saja."
"Tidak, Ma. Mereka akan memisahkan kami. Aku pun heran dengan Mama. Awal kami berpacaran, mama menyetujui hubungan ini. Kenapa sekarang jadi berubah jadi ikut-ikutan ingin memisahkan kami?"
"Karena kenyataannya dia tidak cocok denganmu, Adam. Kalian berbeda, Nak."
"Aaaaaahh.... Berengsek. Kalian semua sama saja!"
"Jaga mulutmu, Adam!! Tak pantas kau berucap seperti itu," bentak Mamanya.
Adam menyambar gunting yang tergeletak di atas meja.
"Kalau aku tidak bisa bersama dia, aku akan bunuh diri" sambil mengarahkan gunting yang berkilat, tepat di lehernya.
"Lepakan benda itu, Adam!"
"Terserah apa katamu. Mari kita ke sana, tapi jauhkan benda itu dari hadapanku."
Tanpa membalas, Adam menyambar kunci mobilnya. Gunting yang tadinya dia gunakan untuk mengancam bunuh diri tetap digengamnya sekuat tenaga.
Ya itulah tameng Adam. Bukan sebagai senjata, namun tameng untuk mengancam. Tameng serupa juga yang dia gunakan minggu lalu saat membawa Raisa ke rumah. "Dia tinggal di sini atau aku bunuh diri" ancamnya kepada Mama sambil mememegang pisau dapur mengarah ke dadanya.
➖➖➖➖➖
"Sepertinya sedang ramai Adam, letakkan gunting itu lalu kita turun. Mama tidak mau kamu membuat malu di sini," ajak Mama setelah Adam menghentikan mobil di depan rumah Raisa.
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menjemput Raisa."
"Oke, tapi Mama mau dengan cara yang tenang. Tanpa keribu ...."
Sebelum wanita itu menyelesaikan kalimat, Adam sudah keluar dari mobil dan melewati beberapa tamu dan masuk ke dalam rumah.
"Raisaaaaaaaaaa!!"
"Ada apa, Adam?" sambut ayah Raisa.
"Mana Raisa, Om? Aku mau menjemputnya."
"Raisa sudah pergi, Adam. Dia tak ingin bersamamu. Jangan lagi kau bermimpi untuk bersatu dengannya," ucap ayah Raisa, sambil menepuk pundak Adam.
"Tidak mungkin!! Baru semalam kami membicarakan pernikahan kami. Dia tidak mungkin mengubah pikiran secepat itu?" tanya Adam dan menepis tangan yang berusaha menenangkannya.
"Karena dia tidak cocok denganmu, Adam. Terima saja itu."
"Cukup! Di mana kalian menyembunyikan Raisa?"
"Tidak ada yang kami sembunyikan. Kau bisa datang ketempatnya jika kau mau. Tapi kamu harus berjanji, jangan lakukan hal bodoh lagi"
"Hal bodoh macam apa? Hal bodoh apa yang Anda maksud? Saya hanya ingin menjemput calon istri saya. Itu tidak bodoh. Kalian saja yang tidak ingin jika kami bersama. Panggil dia atau aku periksa semua ruangan yang ada di rumah ini satu persatu."
"Tidak perlu repot, aku yang akan mengantarkanmu ke Raisa sekarang. Dan aku yakin dia tidak akan ingin ikut denganmu."
"Diam!! Aku mau dia sekarang."
"Baiklah. Silakan tunggu di luar. Saya mengambil kunci mobil dulu. Mobilmu biarkan saja di sini."
"Terserah!! Sebaiknya percepat dan tidak mengulur-ngulur waktu," jawab Adam yang tak ingin mendengar siapapun saat ini.
➖➖➖➖➖
Ditemani oleh Mama, Ayah dan kedua saudara Raisa, mereka berangkat menuju satu tempat, yang Adam sendiri tidak peduli ke mana arahnya, yang penting dia bisa bertemu lagi bersama Raisa.
Sambil melihat pepohonan yang berjalan mundur dari balik kaca mobil, Adam mengingat kembali wajah kekasihnya.
Masih teringat betul tawa manis Raisa di malam sebelum mereka berpisah. Yang menyedihkan, bahwa hari ini dia berniat memperlihatkan cincin yang sudah dijanjikan ke Raisa, namun apa yang dihadapi hari ini adalah hal-hal yang tidak masuk dalam rencana Adam.
'Entah apa yang diinginkan oleh orang-orang ini?' pikir Adam.
Tak terasa mobil yang mereka tumpanginya sudah sampai di satu tempat sepi yang berada di atas bukit, jauh dari perkotaan.
"Tempat apa macam apa ini? Sepi, suram tidak ada tanda-tanda kehidupan yang layak. Raisa bukan tipe wanita yang ingin tinggal di tempat seperti ini," hardik Adam.
"Tenang Adam, tidak jauh dari sini. Ikuti saya," ajak ayah Raisya
Adam pun mengikuti ayah Raisa dari belakang diikuti Mama, Raihan dan Randi. Setelah berapa jauh mereka berjalan, Ayah Raisa berhenti untuk menarik napas yang panjang, menenangkan dirinya.
Dan.... BRAAAAAAAAAAAKK
Suara papan patah yang tertimpa oleh tubuh Mama Adam yang pingsan, membuat Randi segera memapah dan membawanya kembali menuju ke mobil dan menyisakan keheningan.
"Sudah cukup dramanya. Sekarang di mana Raisa?" bentak Adam mulai kehabisan kesabaran.
"Dia ada di hadapanmu, Adam," jawab Ayah Raisa
"Jangan main-main. Di sini tidak ada apa-apa."
"Buka matamu lebar-lebar, dan baca papan nisan yang ada di hadapanmu."
Sepertinya Adam mulai tersadar di mana dia sedang berdiri saat ini, dan mencoba untuk memfokuskan tatapan terhadap gundukan tanah yang masih baru tertimbun.
Dengan samar, dia membaca nisan tersebut dengan nama orang yang seharusnya tertulis pada buku nikahnya. Pandangannya buram, air mata tak mampu lagi ditampungnya
"Apa yang kalian lakukan pada Raisa? Ini pasti kuburan kosong! Dia masih berbicara denganku semalam. Dia hanya kurang enak badan, bukan memiliki penyakit serius. Akal busuk apa lagi yang kalian rencankan?" teriak Adam.
Tak ada yang menjawab, semua hanya diam menatap Adam.
"Cepaaaaaaaat! Beritahu yang sejujurnya sekarang. Saya tidak terpengaruh dengan cerita bohong yang kalian buat, atau kubunuh kalian satu-satu," sambil menodongkan gunting yang tak pernah dilepasnya.
Namun tiba-tiba tubuh Adam jatuh terkapar tepat di atas nisan yang bertuliskan Raisa Diana Binti Firmansyah.
❤️ Bersambung ❤️
➖ Sarah Eszed ➖