
Kuangkat tinggi-tinggi pisau yang sudah diasah sedari tadi untuk memisahkan beberapa bagian dari makhluk tak bernyawa yang tergeletak pasrah di hadapanku.
Braaakk!
Kepala ayam itu berguling terpisah dari tubuh dan bergabung bersama tumpukan daging lainnya. Mungkin di sana ada saudara, om, tante, bahkan mungkin orang tuanya.
"Jangan galak-galak, Mbak Risa." Bu Apri berdiri di hadapanku sambil tertawa.
Dia memberikan amplop berisikan gaji bulan ini. Aku menyambut tangannya dengan suka cita dan mengucapkan terima kasih banyak, karena kebetulan stok obat untuk Mas Budi sudah habis, bahkan sudah seminggu belum juga kutebus.
Tiap langkahku dipenuhi rasa syukur ketika berjalan menuju rumah yang hanya berbeda berapa blok dari tempatku bekerja. Sempat kulempar senyum dan salam pada Gita dan Mama saat berjumpa mereka di teras rumah, tapi seperti biasanya tak ada balasan. Ya sudah, tak mengapa, aku sudah kebal.
Bergegas kumasuki kamar untuk menemui suamiku yang sudah dua tahun hanya mampu terbaring lemas di tempat tidur, dengan lonceng yang menggantung pada pergelangan tangannya. Sengaja kutaruh benda itu di sana, agar dia bisa bunyikan jika membutuhkan sesuatu.
"Mas, hari ini aku gajian." Kuciumi lembut punggung tangannya.
Mas Budi tersenyum hangat lalu membelai rambutku. Walaupun raganya sudah tak seperti dulu, tapi dia masih mampu memberikan kehangatan.
"Ini rejeki untuk kita, Mas," ujarku bahagia.
Tetesan air mata jatuh saat kami menghitung lembaran uang ratusan ribu yang berjumlah lima belas lembar. Akhirnya bisa kutebus obat yang seharusnya diminum Mas Budi minggu lalu, karena sudah tak punya simpanan sama sekali. Tak ada lagi yang bisa kujual saat itu, bahkan hasil gadai cincin pernikahan sudah habis beberapa minggu sebelumnya.
➖➖➖➖➖
"Apa ini?" Teriakan Gita mengagetkanku yang sedang menyuapi Mas Budi.
Isyarat lirikan mata Mas Budi memberi tanda bahwa aku harus segera keluar dan melihat apa yang sedang terjadi. Kuletakkan piring di samping ranjang dan keluar kamar.
"Ada apa?" tanyaku dan mendapatkan Gita berdiri di samping meja makan dengan tudung saji yang terbuka.
"Gila kau. Masa cuma beri kami lauk telur dan sayur hari ini? Bukannya kau harusnya sudah gajian?" bentaknya.
Telur dan sayur? Masih mending aku masih mengingat orang-orang yang berada di rumah ini. Jika tidak, hanya akan kusiapkan makanan untukku dan untuk Mas Budi semata. Mereka hanya tau menikmati fasilitas yang tersedia di rumah ini, tanpa pernah berpikir bagaimana kesulitanku membiayai semuanya.
Seharusnya mereka sadar, setelah Mas Budi mengalami kecelakaan, dia tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi. Sistem saraf yang berada di otaknya rusak parah dan hanya mengizinkan lengan dan jari-jari saja untuk tetap berfungsi, bahkan untuk berbicara tak mampu. Kondisi kami tak bisa seperti dulu lagi.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Mertuaku keluar dari kamarnya.
"Lihat dia, Ma, manusia pelit! Bisa kurang gizi aku lama-lama." bela Gita kemudian pergi membanting pintu kamarnya, sebelum sempat kujelaskan bahwa uang yang kuterima tidak hanya untuk keperluan rumah ini saja, tapi juga untuk kesehatan kakaknya.
Mertuaku hanya memandang penuh jijik dari atas kepala hingga ujung kaki, seakan membenarkan tuduhan Gita, membuat dadaku terasa sakit. Ingin rasanya menangis, tapi tak boleh. Aku tak boleh terlihat kalah di hadapan mereka. Jika saja bukan karena rasa cinta pada suamiku, mungkin sudah lama kutinggalkan mereka.
Triiiingg ....
Lonceng Mas Budi berbunyi, menyelamatkanku dari rasa hancur di hadapan mamanya. Bergegas aku masuk ke kamar untuk menjatuhkan butiran air mata yang tak mampu untuk dibendung lagi.
Sepertinya Mas Budi mendengarkan percakapan kami dari dalam. Dia menepuk bagian ranjang yang berada pada sisinya, tanda menyuruhku duduk di sana. Kutumpahkan tangis pada dada hangatnya yang tak seberisi dulu lagi. Dia membelai rambut dan menghapus air mataku seakan berkata, "Tidak apa-apa, yang penting aku tahu semuanya."
➖➖➖➖➖
Tit tit
Suara alarm tanda pulsa PLN akan segera habis berbunyi, saat pulang bekerja. Kubuka dompet agar bisa langsung mengisinya tanpa harus bolak balik, tapi sayang ternyata uang yang tersisa di sana hanya tinggal beberapa perak. Aku memang tak pernah membawa semuanya agar bisa lebih mengontrol belanjaan.
Terpaksa aku harus masuk ke dalam rumah untuk mengambil amplop berisi beberapa rupiah, sisa gaji yang selalu kutaruh di dalam laci kamar. Namun betapa terkejutnya diriku saat tak menemukan benda itu berada di tempatnya.
"Mas! Mana amplop yang kuletakkan di sini?" Suaraku menggema karena panik.
Tatapan yang kutemui berbeda, seperti ada kesedihan pada wajahnya. Dia mencoba mengangkat tangan dan menunjuk lemas ke arah kamar Gita yang tepat berada di samping kamar kami. Tak tahu apa yang ingin disampaikannya, tapi perasaanku tak enak.
Aku berlari keluar dari kamar dan memasuki kamar itu tanpa mengetuk. Untuk apa kuketuk? Mereka memang tak berada di rumah saat ini. Tadi kami berpapasan saat berjalan menuju ke rumah.
Kubongkar semua laci, tapi tak jua menemukan amplopku. Tak hanya laci, lemari, kotak make-up, bahkan album-album foto, tak luput dari incaranku. Tapi percuma, benda itu tak berada di sana.
Lelah akan pencarian, kuterduduk menangis pasrah di pinggiran ranjang Gita, berharap amplop itu bisa kembali ke tempat yang seharusnya.
Di sela-sela tangisku, tak sengaja kusenggol bantal dari ranjang itu hingga terjatuh. Rona kebahagiaan tiba-tiba muncul saat melihat amplop putih yang kukenal berada tepat di depan mata.
Segera kusambar dan membuka lembarannya, namun harus kembali kecewa karena tak ada selembar rupiah pun berada di sana. Kurang ajar! Gita mengambil semua isinya. Bagaimana lagi caraku menyambung hidup untuk beberapa minggu ke depan?
"Mas! Amplop ini kutemukan di kamar Gita. Dia mencuri, Mas!" Air mataku jatuh saat melaporkannya pada Mas Budi.
Mas Budi melambai-lambaikan resah tangannya, seakan menyuruhku agar lebih tenang. Mungkin dia tidak ingin ada pertengkaran sengit di antara kami, karena dia tahu jika itu terjadi pasti aku yang kalah dan dia takkan mampu hadir untuk membelaku.
➖➖➖➖➖
Klek.
Pintu depan terbuka. Kudengar suara mereka masuk dan tertawa dengan riang. Aku keluar dan mendapati Mama dan Gita yang membawa beberapa bungkusan plastik berisi buah-buahan, perlengkapan, dan beberapa makanan ringan.
Geram! Tak ada kata lain yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini selain murka dan sesak.
"Kau apakan isi amplop ini, Gita?" Kuperlihatkan amplop lusuh yang sudah tak ada lagi isinya.
Dengan santai, dia duduk di sofa tanpa merasa bersalah sedikitpun. Diletakkannya belanjaan yang kuyakini berasal dari gajiku di atas meja dengan hati-hati. Sialan! Jika dilihat, nyaris tak ada beban setelah dia membelanjakan uangku seenaknya.
"Hei! Kau dengar?!" bentakku.
Gita tak menjawab sepatah-katapun. Dia hanya melihatku sepintas, melengos dan menyenggolku lalu berjalan santai menuju dapur. Mama juga seperti tak terlalu peduli dengan ucapanku. Dasar keluarga bejat, benar-benar benalu dalam kehidupan nyata.
Sret!
"Kami pakai itu karena kau terlalu pelit! Toh uangmu, uang Mas Budi juga. Dia melihatku mengambilnya dan tidak berkata apa-apa!"
Cih! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu, memanfaatkan kondisi kakaknya yang cacat untuk mengambil uang dari kamarku. Masih sempat dia membela diri.
Masih sambil mencengkram rambutnya, kutarik tubuh wanita keparat itu mendekati laci dapur, tempatku menyimpan beberapa pisau dapur. Urusan potong-memotong bukanlah hal yang sulit bagiku. Saat ini, rasanya ingin kupisahkan leher dengan tubuhnya seperti yang sering kulakukan di toko.
"Kumohon, RIsa, hentikan. Mama takut!" mertuaku menjadi histeris.
Teriakan teriakan itu tak mampu menjadi penghalang bagiku. Benalu ini harus segera disingkirkan, karena jika tidak, dia akan terus mengisap darah dalam tubuhku. Tak boleh dibiarkan terlalu lama. Tiba-tiba ....
Triiiing.
Lonceng Mas Budi membuatku terdiam beberapa saat. Kucoba untuk menghiraukannya, tapi ....
Triiiing.
Triiiing.
Dia membunyikan lonceng itu terus-menerus. hingga membuatku nyaris gila. Suara itu seperti tertancap jauh, menusuk ruang-ruang yang berada dalam telingaku, hingga ....
Braaaaaaaaaaaak!
Suara benda terjatuh yang berasal dari kamar membuatku segera melepaskan Gita, hingga dia meringkuk ketakutan di lantai dapur yang dingin. Tak peduli bagaimana bentuknya saat ini, aku langsung berlari menuju kamar diikuti oleh Mama dari belakang.
Mas Budi tergeletak di lantai menahan rasa sakit. Sepertinya dia baru saja terjatuh karena memaksa turun dari ranjang, akibat mendengar pertengkaran hebat kami. Aku sujud bersimpuh dan berteriak meminta maaf pada suamiku.
Sungguh besar rasa bersalahku karena dia harus mendengarkan pertengkaran ini, tapi aku benar-benar sudah tidak tahan dengan perlakuan adiknya.
➖➖➖➖➖
Sesak di dadaku tak kunjung menghilang, bahkan saat melihat suamiku yang sudah melupakan kejadian tadi, hingga tertidur malam ini. Entah dari mana mereka mendapatkan uang untuk mengisi pulsa listrik hari ini, sungguh ku tak peduli. Yang kurasakan hanya rasa bersalah yang amat, saat menatap wajah Mas Budi. Kuyakin, kejadian tadi membuat dia merasa tidak berdaya menjadi kepala keluarga.
Pukul 02.00 malam belum bisa membawa mataku untuk tidur terlelap. Mungkin segelas air putih mampu menenangkan dan meredam emosi yang masih berkecamuk. Kulangkahkan kaki keluar menuju dapur untuk membasahi tenggorokan.
Saat berjalan kembali ke kamar, perasaanku kembali terganggu setelah melihat pintu kamar Gita. Seakan ada bisikan yang tiba-tiba datang masuk ke dalam otakku untuk melakukan sesuatu pada wanita keparat itu.
Kubuka perlahan pintu kamarnya dan menyaksikan dia tertidur pulas dalam balutan malam, begitu damai tak seperti diriku yang selalu dilanda rasa was-was dan khawatir, bagaimana agar semua keperluan rumah tangga bisa tercukupi. Sungguh tak adil rasanya.
Perlahan tapi pasti, kulangkahkan kaki untuk mendekatinya dalam cahaya remang lampu tidur yang redup. Kupandangi wajahnya yang seakan tak punya dosa, padahal membuatku selalu tersiksa.
Cukup lama aku terduduk, berpikir, dan memperhatikan tarikan napas halus yang bergerak naik turun dari rongga-rongga dadanya, hingga mantap untuk mengambil satu keputusan.
Segera aku berdiri dengan satu niat bulat dan teguh, setelah kebetulan melihat ada gunting yang sedang menganggur di atas meja riasnya.
➖➖➖➖➖
Buk-buk!
Gedoran keras dari pintu kamar, sontak membuatku terbangun. Ada apa lagi ini? Jangan bilang kalau mereka sudah minta sarapan jam segini. Sengaja tak kupasang alarm agar bisa tertidur pulas karena hari ini memang sedang libur.
"Cepat keluar, Risa!" teriakan mama begitu melengking dari luar sana, membuatku terpaksa memisahkan diri dengan bantal.
Segera kubuka pintu untuk berjalan keluar agar dia tidak membuat kegaduhan lagi.
"Ada apa, Ma?"
"Ada apa katamu? Apa yang kau lakukan di kamar Gita tadi malam?" Tubuh mertuaku bergetar saat mengucapkan kalimat ini.
Gita? Oh iya. Aku nyaris melupakan anak itu. Setelah bermain-main dengannya tadi malam, kantuk langsung mendatangiku dan membuatku tertidur sangat pulas.
Belum sempat kujawab pertanyaannya, tubuhku terjatuh karena dorongan keras dari belakang. Dengan sedikit rasa pusing, kulihat Gita berdiri di hadapanku dengan mata memerah dan berucuran air mata memegang kepalanya yang nyaris botak. Bahkan sebagian wilayah benar-benar membuat kulit kepalanya terlihat jelas.
"Berani-beraninya kau!" Gita menunjuk-nunjuk wajahku dari tempatnya berdiri saat ini.
Tak kugubris bentakan Gita dengan pembelaan, sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak seakan merayakan kemenangan. Mungkin karena itu juga, mama sontak berdiri melihatku dengan ekspresi sangat terkejut.
Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, dia hanya mematung dan menutup bibirnya menggunakan jari-jari tangannya. Mungkin baginya, aku sudah menjadi monster kejam tanpa rasa empati sama sekali.
Triiiing!
Triiiing!
Ah, lonceng lengan suamiku berbunyi. Sepertinya dia tersadar karena keributan baru di pagi ini.
Mataku membelalak lebar saat melihat sosok seorang pria melangkah keluar dari dalam kamar. Seketika, air mata tumpah melihat Mas Budi berdiri tegap melayangkan senyuman termanis yang dimilikinya. Mukjizat itu datang, dan dia sembuh. Benar-benar sudah sembuh.
Kehadirannya seakan mengobati segala perjuangan yang sudah kulakukan selama ini, agar bisa kembali seperti sedia kala. Semua yang kuyakini tak sia-sia, Mas Budi sehat bugar sekarang. Tuhan mungkin paham kesulitanku, hingga mengirimkan keajaibannya supaya Mas Budi bisa berada di sisiku saat ini.
Segera aku berdiri membenamkan wajahku pada tubuhnya yang sudah sekian lama kurindukan dan menangis sejadi-jadinya. Mas Budi menyambutku dengan belaian hangat dan kecupan lembut pada keningku.
"Sudahlah tak perlu bersedih lagi, mari kita pergi." Mas Budi menarik perlahan lenganku.
Aku mengangguk pelan dan melangkah keluar bersamanya penuh kebahagiaan, tak peduli dengan jasadku yang bersimbah darah dengan pisau yang masih menancap di sana.
Kulihat mertuaku masih mematung dan berusaha mengguncang-guncangkan tubuhku agar terbangun, tapi percuma. Sekarang aku hanya menonton makhluk-makhluk menyedihkan itu di dalam rangkulan hangat suamiku.
Ah ... untung saja bukan Gita yang kubunuh tadi malam.
*❤️ Tamat* ❤️
Sarah Eszed**