
"Kau tak tahu bagaimana rasanya!"
Terpaksa kupulang lebih cepat dari rumah Hera, kakak sepupuku karena dia membentakku dengan kalimat itu. Tapi sudahlah, mungkin dia sedang kalut karena ulah suaminya.
Wanita manapun akan sakit hati melihat seorang pria yang dicintainya memiliki hubungan dengan wanita lain. Bukan tak pernah memahami itu, aku bahkan pernah berada dalam kondisi itu, lebih tepatnya melihat situasi ibuku sendiri.
Setelah dia mendengarkan berita bahwa ayah memiliki istri lebih muda, dia menjadi seperti mayat hidup. Berbagai dokter sudah kami datangi, tak ada yang mampu menyembuhkannya.
Semua dalam keadaan yang normal, dan dalam rekaman medis tak menemukan satupun kejanggalan. Saat ditanya bagian mana yang terasa sakit? Dia hanya mengatakan, "Entahlah, tapi aku merasa tak berada dalam tubuh ini."
Selanjutnya, hari-harinya hanya dihabiskan dengan duduk di teras rumah sambil memandang halaman dengan tatapan kosong, hingga dia benar-benar tak mampu untuk duduk lagi di sana, kemudian pergi untuk selama-lamanya. Ibuku pergi dengan tubuh sehat namun membawa hati yang sudah lama sekarat.
Kejadian itu membuatku trauma untuk melangkahkan kaki menuju jenjang pernikahan, dan memilih melajang hingga berusia 35 tahun. sampai akhirnya bertemu dengan suamiku Mas Awan.
Dia pria yang baik dan sangat mapan. Tak kusangka kalau direktur utama di tempatku bekerja, diam-diam menaruh hatinya padaku. Sebagai orang yang bekerja di sana, sangat bodoh jika tak mengetahui gerak-gerik para rekan lainnya untuk memenangkan hati Mas Awan yang tampan dan masih single.
Itu yang membuatnya terasa istimewa, karena dari sekian banyak wanita cantik yang mendekat, tak satupun yang direspon. Dia hanya membalas dengan sikap biasa dan wajar. Benar-benar makhluk langka yang susah untuk didapatkan di permukaan bumi.
Aku betul-betul terkejut ketika dia menyatakaan perasaannya, saat membawa berkas ke ruangannya untuk dicek, dan setelah itu aku keluar dari tempat bekerja karena Mas Awan menyuruhku untuk berhenti agar bisa fokus terhadap tawarannya.
Dia berjanji, jika selanjutnya aku tidak menemukan kecocokan, dia tetap akan menerimaku bekerja kembali di sana, namun jika bersedia maka tugas sebagai sekertaris memang sudah harus dilepaskan sejak awal, untuk menghindari gosip yang tidak sedap.
Tawarannya kuterima dengan terbuka dan membereskan meja kerjaku dengan membawa pulang pesangon 3 bulan gaji yang dijanjikan, setelah mengajarkan beberapa hal kepada Mbak Opi yang juga teman sekolah Mas Awan, sebagai penggantiku.
Selama tiga bulan, Mas Awan mampu membuatku merasa nyaman hingga bisa keluar dari trauma tentang kegagalan rumah tangga yang pernah dialami oleh ibuku. Aku benar-benar yakin, tak akan mati konyol seperti beliau karena kebejatan makhluk yang diciptakan Tuhan dengan sebutan 'pria'.
Semua terasa sangat bahagia hingga pernikahan kami menginjak usia lima tahun. Mas Awan betul-betul memanjakanku bak seorang putri, walau akhirnya aku sendiri yang meminta agar tidak dibantu oleh asisten rumah tangga karena tidak memiliki banyak kegiatan yang harus dilakukan. Tak banyak yang harus dibereskan dalam rumah, sebab kami belum diberkahi buah hati hingga saat ini, tapi itu bukan masalah bagi keluarga kami.
Seperti biasa semua sudah kusiapkan dengan rapi di atas tempat tidur, pakaian hasil laundry yang sudah kuambil siang tadi untuk dikenakan suamiku sehabis mandi sebelum dia siap untuk bersantap malam bersama.
TING
Gawainya berbunyi, tanda seseorang baru saja mengirimkan pesan. Sepintas kulihat wajah seorang wanita muda dengan rambut kecoklatan berombak mengirimkan pesan melalui whatsapp dengan nama kontak Irene.
[ Terima kasih banyak. Maaf hari ini tidak bisa lama ]
Tak ada rasa curiga di sana, tak juga ada rasa ingin mengecek isi pesan itu sebelumnya, walau kutahu bahwa gawai itu tak pernah sekalipun dikunci oleh Mas Awan. Aku beranjak ke dapur untuk menyiapkan meja untuk makan malam.
➖➖➖➖➖
"Besok bersiaplah. Kita akan pergi ke acara reuni sekolahku," ujar Mas Awan sambil menikmati kopinya sebelum berangkat kerja.
"Reuni?"
"Iya, reuni. Dandannya jangan cantik-cantik ya, nanti banyak temanku yang melirik," rayu Mas Awan sembari mengecup keningku lalu pergi berlalu.
Suasana begitu meriah dan ramai di acara itu. Tak ada satupun orang yang kukenali kecuali suamiku dan Mbak Opi yang juga ikut hadir bersama keluarga dan anak-anaknya. Aku sempat menggendong Tina, anak keduanya yang berusia lima tahun. Wajahnya begitu cantik dibalut gaun pink dengan ornamen manik-manik yang lucu, persis seperti peri.
Gaun biru tua yang terlihat kontras dengan kulit putihku mengundang berbagai decak kagum ketika Mas Awan mengenalkanku pada beberapa temannya.
Hanya saja perasaanku tiba-tiba terganggu saat salah seorang dari mereka berkata. "Lebih cantik dari Irene." Nama yang sama dengan wanita berambut coklat yang tak sengaja kulihat sedang mengirim pesan pada Mas Awan. Karena nama itu juga, orang mengucapkan kata itu harus menerima senggolan kuat dari sikut suamiku.
"Hmmm, bukan siapa-siapa," jawab Mas Awan agak tegang. Aku yakin ada yang tidak beres dengan nama itu.
"Jika bukan siapa-siapa, kenapa kau menyikut temanmu tadi, Mas?" Aku kembali melontarkan pertanyaan berusaha mencari tahu tentang seseorang yang bernama Irene.
"Dia ... "
"Dia siapa, Mas?"
"Dia mantanku saat sekolah dulu. Tak usah kau masukkan ke hati, itu hanya cinta-cinta monyet saja," jelas Mas Awan.
Aku berusaha untuk tak menangis, Kuarahkan pandanganku ke jendela melihat lampu-lampu jalan yang seakan berjalan meninggalkan kami dan berganti dengan lampu lainnya. Kucoba untuk berpikiran positif, hanya saja tak bisa kuabaikan bisikan-bisikan, bahwa suamiku mungkin sedang berselingkuh.
Malamnya aku tak bisa tidur. Sangat besar inginku mencoba mengecek gawai Mas Awan dan memastikan, apa yang sebenarnya terjadi antara wanita yang bernama Irene dengan dirinya.
Saat dia terlelap, kuberanikan diri untuk menyentuh gawainya dan mengecek isi pesan dari wanita itu.
[ Mana anakku? ]
[ Ini dia ]
Tanganku bergetar dan terasa nyaris pingsan saat itu juga melihat wanita itu mengirimkan fotonya dengan seorang lelaki kecil yang mungkin berusia satu tahun tersenyum menghadap kamera.
Bisa-bisanya dia menyembunyikan semua kebohongan dalam pernikahan kami, dan seakan tak pernah terjadi apa-apa. Jadi semua ucapan tentang buah hati yang tak kunjung diberikan bukan menjadi masalah, hanyalah omong kosong belaka. Buktinya dia memiliki anak bersama wanita lain. Duniaku runtuh malam itu juga.
Mas Awan bergerak, dia mengubah posisi tidurnya dan memeluk tubuhku dari belakang. Air mataku berlinang merasakan hangat tubuhnya yang menempel pada punggungku. Kau tega, Mas. Aku benar-benar keliru menilaimu.
➖➖➖➖➖
Aku mengambil gawaiku dan keluar dari kamar dengan terisak setelah suamiku keluar untuk berangkat kerja. Dadaku sesak, penuh rasa kecewa saat mencari nomor kontak sekertarisnya.
"Selamat pagi, Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbak Opi dari sana. Dia memang sungguh profesional.
"Bisa Mbak ceritakan tentang Irene?" tanyaku menahan tangis. Aku tak ingin Mbak Opi menganggap bahwa ada kecurigaan antara wanita terkutuk itu dengan suamiku.
"Irene yang mana ya, Bu?" Mbak Opi bingung.
"Mas Awan berniat untuk menambah karyawan. Saat reuni kemarin, tak sengaja kudengar namanya disebut sebagai salah satu referensi dari teman alumni. Mas Awan memintaku untuk mencari info tentang beliau. Mbak Opi tau di mana tempat tinggalnya?"
Aku terpaksa berbohong agar Mbak Opi tidak menaruh curiga. Walaupun sudah tidak bekerja di sana lagi, tapi setiap ada karyawan baru yang akan masuk, memang Mas Awan selalu menugaskanku untuk mewawancarai.
Tiba-tiba Mbak Opi terdiam, lalu menangis dan membuatku semakin bingung. Apakah betul ada sesuatu antara suamiku dengan wanita itu? Mungkinkah Mbak Opi menangisi diriku yang sudah dibohongi oleh bosnya sendiri? Dengan terbata-bata, dia membalas pertanyaanku.
"Sa-saat melahirkan putranya se-setahun yang lalu, Ire .... "
Deg ....
Belum sempat Mbak Opi menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memutuskan sambungan telepon dan meraung sekuat-kuatnya untuk menerima kenyataan bahwa suamiku betul-betul bejat. Semua pria sama saja, mereka memang makhluk terkutuk yang tak pernah bisa dipegang ucapannya.
*❤️ Bersambung* ❤️
➖ Sarah Eszed ➖**