Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
FANTASI #1




Segera setelah terbangun pagi ini, aku meloncat untuk menggapai laptop pada meja kerja yang kutinggalkan semalam.


Dengan gelisah aku membaca beberapa paragraph yang terlewat sebelumnya dan setelah membaca itu, senyum tiba-tiba muncul di sudut bibirku.


Ya ... ini terjadi lagi.


Entah akan ada yang percaya atau tidak, tapi aku yakin bahwa seseorang sudah merubah naskah yang bertengger dalam laptopku menjadi lebih dramatis dan lebih menarik.


Mungkin saja saat ini aku menertawakan ketika mengingat-ingat kejadian beberapa bulan lalu, ketika rumah tangga yang kubangun bersama Risa nyaris hancur, hanya karena perkelahian yang tak ada hentinya.


Bukan. Bukan Risa yang salah, melainkan aku.


Di saat itu, aku merasa terpuruk dan tak ingin melakukan apa-apa, akibat kecewa atas karya yang sedang kubuat. Rasanya sangat tawar, membosankan dan cukup memuakkan. Entah apa yang terjadi, tapi tak seperti biasanya. Jemari ini tak mampu mengetik dengan liar dan menggambarkan kengerian dengan baik.


Terbukti, tak banyak lagi orang yang merespon teks yang sering kukirimkan. Mungkin mereka merasa tawar dan hambar saat membaca setiap kata yang meluncur dari jemari ini. Entahlah.


Bagi beberapa orang, kehilangan bahan untuk menulis adalah hal yang cukup biasa, tapi itu tak boleh terjadi padaku. Bukan karena ingin dikatakan hebat atau mampu, tapi dengan membuat cerita-cerita itu, aku merasa kehadiranku di dunia ini benar-benar ada.


Hingga suatu saat, di tengah-tengah keterpurukan itu, dia datang bak malaikat penolong. Tak hanya keluarga kami yang nyaris retak akibat perkelahian yang dipicu oleh tingkat stress yang tinggi, tapi juga sebagai penolong atas cerita-ceritaku yang terkesan tidak bernyawa.


Awalnya aku mencurigai Risa, tapi tidak mungkin. Dia tak mempunyai imajinasi seliar itu. Risa bahkan tidak memiliki bakat untuk membuat satu karangan, apalagi untuk membuat cerita tentang pembunuhan yang cukup sadis. Lagipula, keahlian Risa hanya berkutat pada dapur, membersihkan rumah, atau kesibukan untuk mengolah toko online yang sudah lama dijalankannya.


Satu-satunya orang yang perlu dicurigai di rumah ini adalah orang lain yang memiliki kemampuan menulis sepertiku. Ah ... aku yakin seratus persen, bahwa dia adalah seseorang yang benar-benar seperti diriku, dengan versi yang lebih kelam dan memiliki imajinasi yang luar biasa.


Hantu? Bukan!


Aku tipe orang yang tidak percaya dengan hal-hal tak masuk akal seperti itu. Takkan mungkin ada makhluk halus yang mampu menyalakan laptopku dan memperbaiki beberapa adegan pembunuhan, atau bagaimana sensasi saat menguliti tubuh manusia secara langsung.


Walaupun memang bisa dikatakan bahwa mereka termasuk makhluk menyeramkan yang sudah melewati proses kematian, hantu adalah pilihan terakhir jika tak ada hal logis lain yang memiliki penjelasan yang lebih masuk akal.


Satu-satunya hal yang bisa kupercayai, adalah pernyataan Risa, bahwa dia melihatku terbangun dari tidur di malam hari dan fokus menatap layar laptop, dengan jemari yang menari tanpa henti-hentinya.


Dan lucunya, aku tak pernah menyadari kejadian itu, bahkan selalu terbangun dengan keadaan yang segar seperti orang yang tak pernah memiliki masalah kurang tidur akibat terjaga semalaman.


Dari sana, aku mengetahui bahwa ada sosok manusia luar biasa seperti iblis yang meraung-raung terlepas saat diriku sedang tertidur pulas. Dia adalah kepribadianku yang lain. Ganas, liar, dan luar biasa. Dan aku menamakannya Fantasi.


➖➖➖➖➖


Fantasi mengantarkanku pada masa-masa kejayaan. Berkat gabungan ceritaku dan imajinasi tingginya, akhirnya kami bisa menerbitkan satu buku yang fenomenal dan membuat semua orang berdecak kagum.


Salah satunya adalah, Jane. Dia lebih muda dan cantik dari Risa. Awal pertemuan kami dipicu oleh kata-kata indah tentang kekagumannya yang dikirimkan ke emailku.


Jujur, awalnya hanya penasaran ingin mengetahui seperti apa bentuk dan rupa dari penggemarku itu. Dan ternyata Jane seperti bonus yang diberikan Tuhan.


Dia begitu manja dan menggemaskan. Sungguh berbeda jauh dengan Risa yang tegar dan sangat mandiri. Tapi itu yang disukai oleh kebanyakan pria. Kami suka dengan wanita yang terlihat membutuhkan kami, bahkan terkesan lemah, agar kami terlihat seperti pahlawan sesungguhnya.


Bunga-bunga mulai bermekaran. Aku benar-benar jatuh cinta pada wanita itu, walaupun hubungan kami hanya berlangsung beberapa minggu saja.


Kami begitu mesra dan intim. Dan hebatnya, aku bisa dengan mudah menyembunyikan hubungan terlarang ini di hadapan Risa.


Ya ... dia tipe istri yang sangat menghargai privasiku untuk tidak mengecek isi gawai, atau bertanya macam-macam tentang, dengan siapa aku keluar.


➖➖➖➖➖


[ Mas Angga. Aku kangen ]


[ Loh. Ini udah malam loh, sayang ]


[ Gimana dong. Kangen kan gak bisa diatur-atur, Mas 😭 ]


[ Jadi maunya gimana? ]


[ Ya terserah Mas lah ]


Aku segera bersiap-siap untuk mengambil kunci mobil dan berpamitan pada Risa.


"Sayang. Ada pertemuan malam ini, dan mungkin akan pulang cukup larut, bahkan menginap. Kamu kunci pintunya, ya," ucapku pada Risa.


"Apa gak bisa besok saja, Mas? Ini udah malem loh." Risa sepertinya kurang setuju.


"Gak tau nih. Ada bisnis sama temen yang mau bahas tentang penerbitan buku. Sayang dong, kalo dilepasin." Aku mulai mencari alasan.


"Hmm ... aneh," gerutu Risa.


"Iya sih, aneh. Tapi apa boleh buat, sayang. Kan kalo deal, bisa jadi rejeki buat kita juga," rayuku.


Risa hanya mengangguk perlahan dan tersenyum kecut, lalu menciumi punggung tanganku, Aku tersenyum, mengecup keningnya lalu berangkat untuk menemui boneka manis yang sudah tak sabar menunggu.


Debar-debar cinta memenuhi udara saat kupacu mobil menuju rumah Jane. Sesampainya di sana, kami menghabiskan waktu hingga terlelap.


➖➖➖➖➖


Cahaya mentari yang menyelinap dari sela-sela gorden kamar Jane menyilaukan mataku. Dengan perlahan kubuka mata dan menyesuaikan pandangan dengan nuansa pink yang berada di tembok.


Kupalingkan pandangan ke arah kasur yang berada di sebelah, berharap bisa melihat boneka cantikku di sana, sayangnya dia sudah tidak ada.


"Ah, mana dia?" batinku bertanya.


Mungkin Jane sudah bangun, untuk membersihkan tubuh, atau sekedar menyiapkan sesuatu di dapur, seperti yang biasa dilakukan saat memintaku menemaninya. Hanya saja bedanya, baru kali ini aku menginap.


"Sayang! Kamu di mana?" teriakku.


Tak ada jawaban darinya. Aku tersenyum dan berpikir bahwa, dia sengaja tak menjawab panggilanku agar bisa keluar dari kamar dan mencarinya ke seluruh rumah.


Dengan kondisi masih malas untuk bergerak, kucoba untuk berdiri dari kasur.


Deg ...


Seketika aku terkejut melihat karpet bulu berwarna putih yang ternodai bercak-bercak merah tua kehitaman yang tersebar di sebagian permukaannya.


Sarah Eszed


➖ Bersambung ➖