Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
MENGULANG KEMBALI #2



Sunyi ....


Tak ada yang bisa kujelaskan menggambarkan situasi saat ini selain dari kesunyian. Mataku masih saja terpejam, tak berani kubuka. Bagaimana jika ada hal-hal aneh yang mengangetkanku setelah membuka mata nanti? Sungguh aku tak berani melakukannya.


"Hei! Kenapa?"


Suara lantang Faizal membuatku tersentak dan segera membuka mata. Aku melihat dia sedang berjongkok di hadapan Lily yang duduk dengan mata melotot dan menunjuk ke arah jendela.


Mulutnya menganga lebar seperti berusaha berbicara, tapi tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari sana. Air matanya mengalir dengan deras, menceritakan tentang apa yang sedang dipandanginya. Dengan rasa terpaksa, kubalikkan pandanganku ke arah jendela, tapi tak ada sesuatu yang ganjil di sana. Tiba-tiba ....


Bruk


Tubuh Lily ambruk dan jatuh tak bergerak, hanya meninggalkan sisa-sisa butiran air mata dan keringat yang berjatuhan pada pipinya. Dia pingsan tanpa memberi tahu, apa yang sudah terjadi dengannya.


Faizal mencoba mengguncang tubuhnya, namun tak ada respon. Kali ini keadaan menjadi sangat keruh. Ingin rasanya cepat-cepat keluar dan berlari keluar dari tempat pengap ini. Aku tak bisa berpikir dengan jernih lagi sekarang.


"Ayo! Bantu aku untuk mengangkatnya keluar," perintah Faizal memegangi kepala Lily.


"Ayo, Ri, Gal. Gal? Gal?" Tubuhku terdiam kaku saat melihat Galih tak berada di tempatnya.


Kulayangkan pandang mengitari ruangan ini, tapi tak menemukan sosok pria tinggi itu. Tak mungkin Galih bisa bersembunyi dengan postur tubuh sebesar itu dalam ruangan sempit ini. 'Apa lagi ini, Tuhan?' batinku berkecamuk.


Eri sepertinya tak mampu lagi bertahan untuk berdiri pada kedua lututnya. Dia hanya menangis tersedu-sedu sambil menutup mata dengan telapak tangannya. Aku mengerti perasaannya saat ini. Jika saja tak ada Faizal di hadapanku, mungkin saja aku ikut menangis dan memeluknya saat ini.


Kondisi kami benar-benar berantakan. Penyesalan terdalam muncul di benakku saat melihat Eri. Karena rasa setia kawannya padaku, membuat dia harus ikut dalam situasi mengerikan ini.


"Tunggu sebentar. Kau di sini saja dulu menjaga Lily, akan kucari Galih," ucap Faizal sambil menyalakan senter pada handphonenya.


"Tidak bisakah kita mengeluarkan dia dulu, lalu mencari Galih bersama-sama?" jelasku.


Tak peduli lagi jika setelah ini Faizal akan marah atau mengataiku dengan sebutan banci. Ya, aku takut, benar-benar takut. Ku tak ingin kami berpisah-pisah dalam gedung ini pengap dan busuk ini.


Tanpa meminta persetujuanku, Faizal pergi berlalu begitu saja meninggalkan kami. Sial! Dia memang tidak pernah bisa diajak berkompromi.


Aku berdiri dan mendekati Eri. Kuelus lembut lengannya agar dia memperlihatkan wajahnya yang dibanjiri air mata. Akan kuhibur sahabatku ini.


"Jangan menangis. Aku tak suka melihatmu begini."


Dia hanya menunduk menahan pilu, lalu memelukku sungguh erat. Tak terasa tetesan air mataku terjatuh menangisinya. Bukan karena ketakutan, tapi rasa bersalah yang sangat besar. Eri adalah korban nyata dari semua ketololanku.


"Mengapa kau ingin berteman denganku?" tanyaku pada Eri yang sibuk mencoret-coret lembaran kertas di belakang bukuku.


"Entahlah. Kau baik, berhati lembut, bahkan terkesan cengeng. Tapi tak mengapa, itu cocok untukku." Dia menjulurkan lidah dan tertawa kecil.


Sreeeekkk.


Deg.


Suara seretan terdengar membuyarkan kenanganku bersama Eri. Kami saling bertatapan dan melihat ke seluruh ruangan mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Tiba-tiba sekelebat banyangan seperti orang yang sedang berlari mucul dari arah pintu, dari kiri ke kanan. Kutatap kembali wajah Eri untuk memastikan tentang apa yang kulihat, dan dia mengangguk pelan, seakan memberitahu bahwa dia juga melihatnya.


Aku kembali menjadi panik dan tak menentu. Kupaksa otak berpikir dengan keras, tapi tak menemukan jalan keluar. Mungkin ku akan mati bukan karena hantu, tapi karena terkena serangan jantung di sini.


Sreeekkk.


Suara itu terdengar kembali. Kucoba menarik napas dalam-dalam untuk mengatur tubuh dan pikiranku. Aku harus meyakinkan suara-suara aneh itu berasal dari mana.


Dengan susah payah kuberdiri pada kedua kakiku. Sengaja kupengang sesaat, lutut yang sedikit gemetaran agar kuat menahan beban tubuh ini. Perlahan, kulangkahkan kaki satu persatu menuju arah pintu yang terbuka dengan lebar.


"Aaaaaaaaaaahhh."


Lengkingan teriakan suara Eri mengagetkanku. Baru saja aku ingin berhenti dan melihat wajahnya, tapi kemudian ....


Wussssssssssssshh.


Sesuatu dari arah pintu menubruk tubuhku hingga terjatuh. Dalam kondisi gelap, aku tak tahu pasti apa yang sudah menghantam kemudian menindih tubuhku hingga tak bisa bergerak. Mataku terpejam sangat rapat tak berani untuk membukanya.


"Itu dia, Juna!" Suara Eri bergema seakan memberi perintah untuk melihat apa yang terjadi.


"Galih!?"


"Faizal. Mana Faizal?" Galih melepaskan tindihannya dari atas tubuhku.


"Ta-tadi di-dia keluar untuk mencarimu. Dari mana saja kau?" bentakku.


Wajah Galih pucat dan berusaha mengatur napasnya. Sesekali dia meneguk ludahnya sendiri untuk berusaha membasahi kerongkongannya yang mungkin terasa sangat kering.


"Entahlah. Tadi aku membuka mata dan sudah berada di ruangan lain. Apa yang terjadi?" Galih mengalihkan pandangannya ke arah Lily yang tergeletak tak berdaya di lantai.


Buuuk.


Penuh amarah, Galih meninju tembok dan berjongkok, kemudian memengangi kepala dengan kedua tangannya. Sepertinya dia dalam keadaan yang sangat depresi saat ini, karena tak tahu apa lagi yang akan dilakukan.


"Kita keluar dulu bawa Lily ke tempat yang aman, kemudian kembali untuk mencari Faizal," ujar Galih.


Aku segera mengangguk dan setuju. Kami mengambil posisi masing-masing untuk mengangkat tubuh Lily yang masih tidak sadarkan diri. Galih bagian tubuh atas, aku pada tubuh bagian bawah, dan Eri berada di tengah.


Kami mencoba membawa Lily dengan hati-hati dan menajamkan penglihatan dalam kegelapan. Rasanya, tiap langkah disertai dengan deru jantung yang berdetak sangat kencang.


Tak sengaja pandanganku teralihkan pada Eri. Penuh iba, kutatap wajah sahabatku yang mencoba untuk tegar menghadapi situasi yang begitu rumit ini. Air matanya berjatuhan membuatku tak tega berlama-lama melihat ke arah sana.


Bruk.


Tiba-tiba Galih terjatuh, membuat tumpuhan kekuatan saat mengangkat tubuh Lily berkurang. Untung saja dengan sigap dia memegang bahu Lily, tanpa harus menjatuhkannya ke permukaan lantai.


"Ada yang menarik kakiku," Galih angkat bicara.


"Apa? Jangan menakut-nakuti." Aku membentaknya.


"Untuk apa aku bohong? Ada yang menarik kakiku." Mimik wajah Galih sungguh serius. Aku tak pernah melihatnya seserius ini.


"Kita letakkan dulu Lily." Dengan hati-hati, aku menaruh kakinya ke lantai. Eri dan Galih mengikuti tindakanku.


Tanpa sadar, aku berlari ke dalam ruangan sebelumnya dan mengambil ransel yang tak sempat kupakai kembali saat mengangkat tubuh Lily. Kucoba mencari sesuatu dalam sana. Seluruh ruang yang berada di dalamnya kuraba dengan kasar.


Ketemu! Tak percuma Ibu selalu menyuruhku membawa minyak angin. Sebelumnya benda ini tak pernah kugunakan sama sekali, tapi kali ini mungkin ini bisa berguna.


Aku berlari mencoba mendekati ruangan di mana kutinggalkan Eri, Galih, dan Lily. Namun tiba-tiba tak sengaja mataku tertuju pada lembaran kain yang tertiup angin dari samping pintu yang berhadapan dengan jendela terbuka.


Deg


Rasanya waktu tiba-tiba berhenti. Aku berdiri dengan lutut bergetar, melihat sosok wanita yang tak bergerak sama sekali, duduk pada tepian jendela, tepat di hadapanku. Tiba-tiba wanita itu bergerak dan memiringkan sedikit kepalanya, sekitar 70 derajat dari posisi semula dengan sangat mengerikan. Bermacam-macam do'a kuucapkan dengan terbata-bata


Tidak! Aku tidak boleh berada di sini. Serta merta kuberlari menjauh mencari teman-teman yang sudah kutinggalkan sebelumnya. Rasa sesak di dadaku baru terasa ringan saat melihat Eri berdiri cemas di ujung lorong untuk menungguku.


"Dari mana saja kau?" bentak Galih panik.


"Kita tak bisa membawa Lily dalam keadaan seperti ini. Kita harus bangunkan dia," ujarku.


"Dengan apa?"


Aku mengambil minyak angin dari kantung celanaku. Sengaja kupisahkan dari dalam tas agar mudah ditemukan.


"Air. Lily selalu bawa air minum bukan?" tanyaku pada Galih.


"Iya, kenapa?" Galih semakin bingung.


Beruntung Lily pingsan dengan tas selempang yang masih menggantung di bahunya. Dengan cekatan kurogoh semua isi tas itu dan mendapatkan botol kecil air yang masih penuh isinya.


Dengan tangan yang masih bergetar, kubuka botol minyak angin dan menempelkan mulut botol itu sedekat mungkin pada hidung Lily, agar dia mampu menghirupnya. Lalu aku memencet keras bagian dalam ruas tulang antara jari telunjuk dan jempolnya.


Ah, ada sedikit gerakan di sana. Bisa kurasakan rona wajah Lily berubah, tanda akan segera sadar. Terakhir aku memercikan sedikit air yang sudah kuambil paksa dalam tas selempangnya. Perlahan Lily membuka mata.


"Apa yang kau lihat, Lily?" Eri bertanya, hanya saja tak langsung digubris.


Tiba-tiba dia duduk dan menangis histeris. Napasnya memacu tak beraturan hingga terbatuk-batuk. Lily sepertinya sedang mengumpulkan tenaga untuk bercerita.


"A-aku me-melihatnya." Lily mulai mengangkat suara.


"Lihat apa?" Galih membentak karena sudah tak sabar lagi.


"Wa-wanita i-itu." Tiba-tiba tangisnya pecah, sungguh terdengar pilu. Mungkin dia trauma sudah melihat hal-hal yang tidak wajar tadi. "Rambut panjang dan menutupi seluruh wajahnya, pakaiannya berwarna putih, dan ada ...."


"Ada bercak darah di sana." Aku melanjutkan kalimat yang belum sempat diucapkan Lily.


"Kau melihatnya juga?" Galih mengallihkan pandangannya padaku.


Aku hanya mengangguk perlahan. Suasana tiba-tiba menjadi sangat mencekam seakan dingin menusuk dan merasuki sum-sum tulang kami.


"Hah!" Tubuh Galih tersentak. Matanya membelalak melihat ke arahku. Bisa kubayangkan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Aku tahu itu pasti, hantu wanita berambut panjang itu sedang berada tepat di belakangku.


Lily meloncat menjauh dan bersembunyi di balik punggung Galih. Aku yang masih terduduk berusaha untuk mengatur napas dan berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Perlahan, kubalikkan tubuhku dan mendapatkan sosok wanita itu sedang berdiri tepat di hadapanku dengan leher yang sedikit miring.


Kugenggam tangan Eri yang tepat berada di sampingku untuk menariknya agar bisa mundur perlahan, tapi Eri seperti tidak bergeming sama sekali, tubuhnya seakan membatu.


Hantu wanita itu melangkah dan mengangkat lengannya mendekati wajah Eri. Bisa saja kulari saat ini, tapi tak mungkin kutinggalkan sahabatku itu begitu saja. Leherku terasa kering dan sesak. Berkali-kali kucoba untuk menelan ludah, tapi tetap saja tak berguna.


Tiba-tiba hantu itu mengarahkan lengannya tepat berada di atas kepalanya sendiri, dan ....


"Berani juga kau, banci?"


Mataku membelalak lebar. *******! Itu Faizal yang sedang memakai wig panjang dan menutupi wajahnya. Dia menggunakan baju putih panjang menyerupai kuntilanak. Bisa-bisanya dia merencanakan ini semua.


Aku berbalik ke arah Galih dan Lily, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Saat ini gemuruh di dadaku sudah bukan lagi karena takut, tapi karena murka.


"Berani-beraninya kalian?" Aku membentak semua orang yang berada di ruangan ini. Rasanya ingin kucekik satu persatu leher mereka dan meninggalkannya begitu saja.


"Tak kusangka kau berani berjalan sendiri ke ruangan itu dan mengambil tasmu, Juni. Kupikir kau akan kencing celana hari ini." Galih tertawa hingga terbatuk-batuk. Bahagia terpancar pada raut wajahnya.


"Gila! Aktingku hampir saja hancur karena minyak busuk yang didekatkan ke hidungku. Mana dia memencet tanganku dengan sangat keras. Terpaksa aku pura-pura siuman," sambung Lily yang memengang punggung tangannya.


"Oh, jadi dia mau ngambil tasnya tadi? Aku baru saja memanjat jendela setelah mengambil kostumku, dan tiba-tiba berhadapan dengan banci ini. Langsung saja aku duduk dan pura-pura bertengger di jendela," ujar Faizal.


Napasku tersengal menahan amarah. Sungguh malam ini aku diperlakukan tidak layak oleh Galih bersama gerombolan terkutuknya. Wajahku tertunduk agar mereka tak melihat air mata yang tak mampu lagi kubendung.


Eri mendekati dan memelukku. Tak mampu lagi kutahan sedihku di hadapannya. Kusambut pelukannya dengan air mata yang mengalir deras di pipiku dan pelukan erat pada punggungnya. Hari ini, aku benar-benar sudah tidak kuat lagi.


"Sepertinya harus kau sudahi saja hari ini, Juna. Biar aku yang mengurus sisanya," ujar Eri melepaskan pelukanya.


Aku hanya mengangguk perlahan, menyambar ranselku dan berjalan bersamanya ke depan pintu depan gedung untuk keluar, tak peduli dengan tawa Galih, Faiza dan Lily yang masih berkelanjutan di belakang. Aku pergi menjauh tanpa menoleh kembali.


➖➖➖➖➖


Prasaanku sudah sangat baik saat duduk di kursi meja belajar yang berada di kamar. Keramas memang obat paling mujarab untuk menghilangkan sisa-sisa penat setelah kepulanganku di rumah.


Masih ada dalam ingatanku suara bantingan pintu dan suara jeritan-jeritan pada setiap langkah saat berjalan menjauh dari gedung tua itu. Tapi jeritan-jeritan itu seakan membasuh tiap luka yang berada dalam hatiku.


Buk


Tak sengaja kusenggol buku tulis yang berada di meja belajar hingga terbuka pada lembaran belakangannya.


Ah, itu tulisan tangan Eri. Sudah lama berada di sana tapi baru kuperhatikan kali ini. Kupungut buku itu dan memperhatikan beberapa coretan yang dibuatnya. Anak ini benar-benar iseng. Bisa-bisanya dia menggambar wajahku dengan menambahkan kumis. Aku tertawa dalam hati karena kekonyolannya.


Tanganku membolak balikkan lembaran-lembaran terakhir, namun jariku berhenti saat mendapatkan tulisan tangan Eri yang menceritakan kisah hidupnya.


Mereka memanggilku China, padahal aku adalah keturunan Jepang. Mungkin karena mata sipitku. Salah satu temanku menawarkan minuman saat sepulang sekolah dan tiba-tiba kepalaku menjadi sangat pusing.


Dalam keadaan setengah sadar, dia membawaku ke gedung samping sekolah dan melakukan kelakuan bejatnya. Dia berpikir bahwa aku sudah benar-benar tidak sadarkan diri saat itu.


Saat setelah dia menaikkan resleting celananya, dengan sisa tenaga kusebut namanya dan mengucapkan beberapa kalimat, "Gi-Gilang a-akan ku-kulaporkan kau."


Dia menjadi panik karena aku melihat wajahnya. Setelah itu beberapa tusukan dari kaca pecah yang berada di ruangan itu, dihujamkan bertubi-tubi hingga berobek kulit perutku beserta isinya. Sakit, sakit rasanya. Aku ingin ibuku berada di sana saat itu.


Kemudian dia menjatuhkan tubuhku ke danau yang berada di pinggir kota setelah mengikatkan batu besar sebagai pemberatnya. Aku mengambang di air tapi tak muncul di permukaan, hingga orang-orang menemukanku setahun kemudian.


Aku terus menunggu kehadirannya di kelas, tapi pria itu tak pernah bersekolah lagi di sini. Yang tersisa hanya issu aneh tentang wanita keturunan China berambut panjang yang bunuh diri di gedung sebelah, padahal rambutku sebahu.


Tak hanya tubuhku yang dihilangkan, tapi cerita tentang kehadiranku pun dia palsukan.


ERIKA 12/01/1994 - 07/04/2010


Air mataku terjatuh saat membacanya, tapi aku tahu pasti bahwa Eri sedang bersenang-senang malam ini, mengulang masa lalunya. Paling tidak bersama adik pria yang ditunggunya selama ini.


Sudah kubilang sebelumnya. Aku tak takut hantu, hanya tak bisa saja dikagetkan.


*❤️ Tamat* ❤️


➖ Sarah Eszed ➖**