Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
MAMA #EXTRA



"Ayo kita pergi, sayang. Ibu sudah menunggumu di mobil," ucapku pada Panji yang sedang duduk memegang mainannya di ruang tamu.


Dia terseyum dan berlari bahagia memegang tanganku. "Ayo kita jalan-jalan, Ayah!" sorakannya mengisi ruang dan membuat hatiku terasa hangat.


Tiba-tiba langkahku terhenti dengan tarikan tangannya. Aku berbalik ke belakang menatap Panji yang saat ini sedang tertunduk.


"Kenapa berhenti?" tanyaku heran.


"Panji tidak bisa ikut, Ayah." Kemudian berjongkok lalu duduk tepat di depan pintu ruang tamu.


"Kenapa, Nak? Ibu dan adikmu sudah menunggu kita di mobil." Aku berlutut dan mengangkat dagunya agar bisa melihat wajahnya. Sempat diriku terkejut melihat sedihnya dengan tatapan kosong dan kantung mata yang gelap. Tak pernah kulihat Panji seperti ini. 


Kuraih tangan dan mencoba menggendongnya, tapi tidak bisa. Rasanya seakan tubuh Panji tersangkut oleh sesuatu. Aku menurunkannya untuk mengecek, apa yang sebenarnya terjadi?


Ah ...


Betapa kagetnya diriku saat melihat kaki Panji terikat rantai hitam berkarat. Dari luka-luka lecet yang berada pada pergelangan kakinya. Bisa dipastikan bahwa Panji melakukan perlawanan untuk berusaha terbebas dari sana, tapi tidak bisa.


"Sejak kapan benda ini ada di kakimu, Nak?" tanyaku memegang betisnya. Panji hanya tertunduk, kemudian menangis pilu. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir kecil putraku itu. "Apa Ibu yang melakukan ini padamu, Panji?" sambungku.


"Bukan Ayah, bukan Ibu." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


"Lalu siapa?" Aku sedikit membentaknya.


Panji menangis lalu menoleh kebelakang. Saat kuikuti arah pandangannya, tak ada siapapun di sana. Kemudian dia kembali berjongkok dan menutup telinganya.


"Dia datang, Ayah. Dia tidak suka padaku." Panji semakin histeris.


"Siapa, Nak? Siapa?" Aku sudah tak sabar dan mengguncang-guncangkan bahu mungilnya. Tak terasa air mataku ikut menetes milihat keadaan putraku yang tak berdaya.


Tiba-tiba ....


Sreeeekk


Sreeeekk


Suara seperti kuku yang dicakarkan pada permukaan kayu terdengar dari dalam rumah. Tubuh Panji seakan tersentak dan kaku saking ketakutan mendengar suara itu. Aku mengintip di balik pundaknya, tak ada siapapun di sana, hingga akhirnya ada sedikit gerakan yang bisa kutangkap pada langit-langit rumah.


Jari-jari kecil yang tiba-tiba muncul dari balik tembok, lalu tangan, lalu lengan dan kemudian menempel di plafon. Tubuhku bergetar hebat saat melihat tangan-tangan itu. Itu baru lengannya, aku belum melihat seperti apa rupanya.


Perlahan, tangan-tangan itu merangkak dan mencakar permukaan plafon, memperlihatkan tubuhnya, pahanya, lalu kakinya. Dia terlihat seumuran dengan anakku, bahkan menggunakan pakaian yang dikenakan oleh anakku. Sekali lagi, aku belum melihat seperti apa wajahnya.


Jantungku berdetak sangat kencang. Tak mampu rasanya beranjak dari tempatku berdiri saat ini, tapi sebagai seorang ayah, dengan spontan kuangkat dan kugendong Panji dengan erat.


Kembali kutatap makhluk yang sedang bergerak perlahan merangkak di permukaan plafon. Ya Allah, dia tiba-tiba terdiam dan sepertinya membuat gerakan seperti akan mengangkat kepalanya. Pelukanku pada Panji semakin erat. Aku memejamkan mata.


Cukup lama aku mematung menahan napas sambil memejamkan mata. Tubuhku lemas dengan perasaan yang tidak karuan. Hanya saja kupikir tak bisa lebih lama lagi berdiam seperti ini tanpa melakukan apa-apa. Aku mencoba membuka mata.


Tak ada siapapun di sini selain diriku dan Panji yang masih berada dalam pelukanku. Saat kutatap pergelangan kakinya, tak ada rantai yang mengikat di sana, bahkan bekas lecet yang tadinya kulihat, tak berada pada tempatnya. 


Apakah makhluk tadi hanya khayalanku saja? Entahlah ... sepertinya aku benar-benar butuh istirahat hingga berhalusinasi di siang bolong. Kuturunkan dan melepaskan Panji dari dekapanku.


"Mari kita pergi," ucapku pada Panji. 


Dia menarik tanganku dan mengangkat wajahnya. Betapa kagetnya diriku saat mendapati seorang anak kecil berdiri di hadapanku, yang tadinya aku yakin bahwa dia adalah anakku, ternyata orang lain. Dia tersenyum menyeringai, dengan gigi-gigi yang bergerigi. 


Aku berusaha melawan dan melepaskan cengkraman tangannya, tapi tak bisa. Itu terlalu kuat. Tiba-tiba napasku terasa terhenti di tenggorokan saat melihatnya membuka mulut perlahan, lalu menjulurkan lidah sangat panjang, hingga menyentuh permukaan kulitku wajahku dan mengitari leherku, seraya berkata, "Ayo kita pergi, Ayah. Mama sudah menunggu."


"Aaaaaaaaaaaaah." 


"Ada apa, Mas?" Tita menampar lembut pipiku. "Kamu manggil-manggil nama Panji dari tadi. Kamu kenapa, Mas?" Tita terlihat khawatir karena aku menyebut nama putra kami di dalam tidur.


"Tidak apa-apa. Mari kita tidur kembali," ucapku.


➖➖➖➖➖


Tak bisa menunggu lebih lama lagi. Malam ini akan kubawa Pak Ikhsan, seorang yang dikenalkan teman kantorku. Aku bahkan izin untuk pulang dari kantor lebih awal, demi menjemput Pak Ikhsan karena jarak yang akan kami tempuh, cukup jauh.


Syukurlah, sesampainya di sana, Pak Ikhsan bersedia membantu setelah menceritakan apa yang sedang keluargaku alami saat ini. Dengan penuh harap, kami bertolak menuju ke rumah.


Sebelumnya sudah kukabari Tita kalau akan lembur malam ini. Hanya saja dalam perjalanan, kekhawatiran itu mulai muncul karena harus meninggalkan istri dan anakku di rumah malam hari, bersama Panji yang notabene bukanlah Panji yang kukenal.


[ Malam ini kamu tidurkan Panji di kamarnya, lalu segera kunci kamarmu setelah itu. Jangan keluar sebelum aku pulang ]


Itu adalah teks yang kukirimkan padanya. Tapi ternyata kalimat singkat yang itu, justru membuat Tita seakan mengabaikan pesan-pesan yang kukirimkan melalui whatsapp, bahkan terkesan enggan mengangkat sambunganku.


Ketakutanku semakin menjadi, saat Tita tiba-tiba menelepon setelah kukirimkan pesan yang mengabari bahwa aku akan ke sana sekarang juga. Dia sepertinya menyembunyikan atau merencanakan sesuatu.


"Iya, Mas. Maaf, tadi sedang di kamar mandi. Ada apa, Mas?" Tita memulai pembicaraan.  


TIdak. Dia pasti sedang berbohong. Aku tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Segera kualihkan panggilan telepon menjadi panggilan video untuk mengecek situasinya saat itu juga.


"I-iya, Mas."


"Jauhkan kameramu."


"Apa maksudmu, Mas?"


"Jauhkan kameramu sekarang, Tita!" Aku membentaknya. 


Tita terdiam seakan terkejut mendengar suaraku yang begitu tinggi. Aku tahu dia sedang shock karena tak pernah berbuat kasar sedikitpun, bahkan membentaknya.


"U-untuk apa, Mas?" Suaranya bergetar.


"Kau bohong, Tita! Kau berada di kamar Panji saat ini. Mana dia?"


"Pa-Panji?"


"Iya! Mana Panji?!" 


"Apa maumu, Mas?!" Air matanya mulai tak terbendung.


"Ah, Tita! Kenapa kau lakukan ini?"


Tiba-tiba ....


"Mama di mana?" 


Ah! Itu suara Panji. Dia memanggil Tita, sedangkan aku masih berada setengah jalan menuju rumah. 'Ya Allah, tolong lah kami, batinku.' Yang kuinginkan saat ini hanya bisa segera berdiri di depan pintu rumahku dan bertemu dengan mereka. 


"Mama!" Panji kembali memanggil.


"Jangan dijawab!" Setengah berbisik aku mencoba mengalihkan perhatian Tita. "Tita, tatap mataku. Aku melihatnya di beberapa film yang kutonton dan beberapa buku yang kubaca beberapa hari ini.  Sekarang aku bersama seseorang yang akan datang ke sana. Kau seorang ibu, kau kenal semua anggo .... Tita? TIta? Halo?" Aku mulai membentak-bentak gawaiku sendiri, karena dia memutuskan sambungan, sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


Pak Ikhsan yang melihat kegelisahan, menyuruhku untuk berhenti sebentar dan menawarkan air minum. Dia menepuk pundakku dengan lembut dan berkata, "Bagaimana caranya kau akan menjaga keluargamu, jika kau sendiri tidak tenang, Hari?"


Ucapannya seakan obat untukku. Kutatap wajahnya yang teduh, lalu memandang kembali gawaiku. Dengan kasar, aku mencari nomor kontak yang kukenal, kontak orang yang dapat kupercayai dan kuandalkan seumur hidupku. 


Dengan tubuh bergetar, aku memencet tombol panggil pada kontak itu.


"Assalamualaikum, Ibu. Aku butuh bantuan Ibu."


➖➖➖➖➖


Padam.


Dari kejauhan, tak ada satupun lampu rumah yang menyala. Melihat itu, aku menjadi panik hingga tak mampu lagi memarkirkan mobil. Segera kuhentikan mobil, lalu membuka pintu, dan berlari sekuat tenaga menuju rumah, tanpa mempedulikan Pak Ikhsan yang tadinya duduk di sampingku.


Semua terasa begitu gelap dan dingin saat berada di dalam. Tak ada tanda-tanda kehadiran seorangpun di sana, seakan rumah ini kosong tanpa para penghuninya. Namun tubuhku tersentak setelah samar-samar mendengar tangisan lemah Keysha yang berasal dari kamar kami.


Di kamar, aku mendapatkan Keysha yang sepertinya sudah cukup lama menangis hingga suaranya menjadi serak. Ada sedikit rasa lega di dadaku saat menggendong tubuh mungil, kemudian diriku menyadari sesuatu.


Belum. Ini belum selesai sepenuhnya. Kualihkan pandangan ke seluruh ruangan, tapi tak ada siapapun selain Keysha dan aku. Di mana istriku, Tita? Mengapa tak ada sama sekali tanda-tanda kehadirannya?


Kembali kurasakan aura yang tidak menyenangkan memenuhi rumah ini. Saat tubuhku mencoba untuk berbalik, tiba-tiba ....


BUK!


"Aaaaaaaaaaaahhh."


Aku terjatuh saat benda keras itu menghantam kepala dan nyaris membuatku pingsan. Dia menendang punggungku dan berkali-kali memukul tubuhku dengan membabi buta. Untuk berdiri rasanya tidak bisa, karena Keysha kujaga dalam dekapan tubuhku agar tidak terluka sedikitpun.


"Ini aku, Tita. Ini aku!" Kucoba memanggil namanya.


Teriakanku menggema memenuhi seluruh ruangan dan menyadarkannya untuk menghentikan pukulannya.


"Ma-Mas Hari?" Suara Tita bergetar.


"Maafkan aku, Mas. Aku minta maaf. Aku pikir makhluk itu mau menggambil Keysha. Aku tidak melihatmu di kegelapan." 


Kemudian Tita berlutut dan menciumi pipiku berkali-kali, ciuman yang kurindukan selama ini. Kecupan yang mampu menghangatkan dadaku di sela-sela rasa takut akan kehilangan keluarga yang kucintai selama ini.


"Tidak apa-apa. Mari kita keluar dan menemui teman yang sudah menunggu di luar," ucapku.


Tita mengangguk perlahan, lalu mengambil Keysha dari pelukanku dan melangkah menuju ke luar, sementara aku merangkulnya demi berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi. Tiba-tiba.


Deg ...


Sekelebat bayangan hitam dengan cepat melesat dari ujung ruangan dan berhenti tepat di hadapan kami. Seluruh isi ruangan terasa sangat mencekam dan begitu dingin, hingga membuat semua orang yang berada di dalamnya merinding.


Dalam hitungan detik, bayangan itu menjadi semakin jelas dan padat, kemudian membentuk tubuh kecil yang dulu kami namakan dengan nama, Panji. Bedanya, Panji tidak pernah tersenyum menyeringai seperti itu, dan tidak memiliki deretan gigi-gigi yang tajam.


Panji menatap kami dengan tajam, menekukkan lehernya ke kiri dan ke kanan, lalu membuka mulut lebar-lebar dan menjulurkan lidah panjang, hingga mampu menjilati kulit wajah istriku.


Lidah yang mengkilat-kilat itu meneteskan liur yang perlahan meluncur dari ujung pangkalnya, lalu terjatuh pada kain yang membungkus tubuh Keysha.


"Mau ke mana, Mama?"


Tita terpaku, begitupun dengan aku. Kami tak mampu bergerak sedikitpun, seakan waktu benar-benar berhenti dan membuat kami hanya bisa berdiri mematung dan menahan napas.


Hingga kudengar suara Pak Ikhsan yang memanggil namaku, "Pak Hari?!"


Panji sepertinya sadar akan kehadiran orang lain yang berada di rumah ini. Dia berbalik kemudian kembali menatap kami dengan penuh amarah.


"Arrrrggg. Siapa yang kau bawa ke sini, Ayah?" 


Aku tak menjawab ucapannya, tapi justru berteriak memberikan signal agar Pak Ikhsan segera datang mendekati kami. 


Panji semakin marah dengan teriakanku dan berbelok, kemudian menarik rambut Tita dari belakang hingga terjatuh. Keysha yang berada dalam pelukannya ikut menjerit sebab merasakan sentakan yang hebat saat ibunya kehilangan keseimbangan.


"Lepaskan!" bentakku sembari menahan bahu Tita agar tubuhnya yang sedang merangkul Keysha tidak ikut terseret. Tita menjadi semakin histeris dan berteriak meminta tolong, Rintihannya membuat hatiku tersayat-sayat.


Dengan napas yang tersengal-sengal, Pak Ikhsan datang menyentuh pundakku. Melihat kehadirannya, Panji melolong dan meloncat ke tembok lalu merayap menuju permukaan plafon rumah kami. Sungguh tidak masuk akal.


"Kalian tunggu di luar saja," ucap Pak Ikhsan.


Aku mengangguk dan membantu TIta yang tubuhnya masih bergetar hebat untuk berdiri dan keluar dari tempat yang mengerikan ini. 


Tak ada satupun kata yang kami ucapkan selain berdo'a dan berharap bahwa ini semua dapat segera berakhir. Kurangkul tubuh Tita yang tak kuat lagi menahan tubuhnya sendiri untuk berdiri. 


"Sabar, sayang. Aku yakin ini semua akan berakhir," ucapku untuk menenangkannya, tapi tak dia tidak meresponku sedikitpun. Tita hanya terdiam dan gemetaran. 


Rasa bersalah muncul, akibat kebodohanku yang tidak pernah menjelaskan tentang hal ini sebelumnya. Niat untuk tidak membebankan Tita, justru menjadi petaka untuk keluarga kami.


Kemudian pandangan Tita beralih ke depan. Aku mengikuti arah pandangannya dan mendapatkan Pak Ikhsan sudah berdiri di depan teras rumah kami dengan wajah yang cukup tegang.


"Ba-bagaimana, Pak?" TIta tak sabar mendapatkan respon dari Pak Ikhsan.


"Alhamdulillah. Semua sudah aman," ucapnya.


"Aman? Aman bagaimana? Mana anakku?" Tangis Tita pecah.


"Nanti Ibu akan tahu sendiri," jelas Pak Ikhsan dengan tenang. "Mari aku bantu nyalakan listrik dan setelah itu harus segera pulang, Bu. Masih banyak hal yang harus diurus."


Tita terduduk dan memeluk Keysha kemudian menangis. Entah apa yang dimaksud dengan Pak Ikhsan, tapi ini rasanya sangat aneh. Terasa tidak seperti cerita-cerita happy ending yang kami harapkan. Tidak sesuai dengan harapanku, karena Panji belum juga kembali di tengah-tengah pelukan kami.


Pak Ikhsan seakan tidak peduli dengan tingkah Tita dan tatapanku. Dia justru melihat sekeliling teras seakan mencari sesuatu.


"Alhamdulillah. Sudah menyala," ucapnya setelah menekan saklar listrik yang terletak di ujung teras kami, kemudian dia tersenyum.


"Mana Panji, Pak?" Gambaran pilu dari mata Tita, sangat jelas saat mengucapkan itu.


"Ibu duduk saja dulu di dalam ya," ucap Pak Ikhsan sambil membantunya berdiri dan mendudukkannya di ruang tamu.


Aku yang kehabisan kata-kata, hanya berdiri memandang mereka dengan tatapan yang heran. Ini belum selesai, karena Panji belum juga kembali. Hatiku merasa tidak tenang.


TIba-tiba.


BUK! BUK!


"Buka! Buka pintunya, Ibu," teriakan anak kecil yang berasal dari dalam rumah, menyentakkan tubuhku dan Tita.


Sontak aku dan Tita memandang wajah Pak Ikhsan dengan tegang, namun dia hanya membalas tatapan kami dengan senyuman kecil.


BUK! BUK!


"Tolong, Bu, buka pintunya. Panji takut!" 


Kembali teriakan itu menggema. Kami berlari menuju kamar mandi dan mendapatkan Panji dengan tubuh yang basah meloncat keluar, kemudian memeluk istriku, lalu menangis sekencang-kencangnya.


Tita belum membalas pelukan itu. Beberapa detik dia terdiam mematung, hingga akhirnya dia mengangkat tangannya dan membelai rambut Panji.


"Pa-Panji?"


"Ibu jahat! Kenapa Ibu lama sekali buka pintunya?" rintih Panji.


Tita menatap wajah Panji, lalu menciumi wajahnya. Saat kuamati tubuhnya, terdapat luka lecet yang berada di pergelangan kaki, persis seperti luka yang kulihat dalam mimpi. Tak terasa, air mataku ikut mengalir. Dia benar-benar Panji anakku. Kami saling merangkul dan menangis bersama dalam keharuan.


Ah! Aku teringat dengan Pak Ikhsan. Segera kuhapus air mata yang mengalir di pipiku, lalu berlari ke luar untuk segera menemuinya. Di sana, Pak Ikhsan berdiri dan tersenyum saat melihatku datang.


"Sudah?" ucap Pak Ikhsan seakan sudah tahu tentang apa yang sudah terjadi.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak." Aku membungkuk dan menyalami tangannya.


Dia memelukku dengan erat dan menepuk-nepuk tubuhku. Sungguh terasa nyaman, seakan kita sudah saling mengenal sejak lama.


"Kalau begitu, saya harus pulang, Pak," ucap Pak Ikhsan setelah melepaskan pelukannya.


Oh, aku paham maksudnya. Tadi sebelum membawa Pak Ikhsan ke sini, dia juga mengatakan bahwa harus pulang malam ini juga karena ada hal penting lainnya yang harus di urus.


"Baik, Pak. Mari kita ke mobil." Dengan sopan, aku mempersilakan Pak Ikhsan berjalan mendahuluiku.


"Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri, tapi saya sudah menelpon bantuan lain," jelas Pak Ikhsan.


Aku terdiam dan bingung dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Bantuan apa lagi yang bisa diberikan Pak Ikhsan kepada kami, sedangkan Panji sudah hadir di tengah-tengah keluarga ini?


Tiba-tiba ...


"Aaaaaaaaaaaaaarrrrrggggggh!" Teriakan histeris Tita terdengar sangat jelas.


Kualihkan pandanganku ke arah Pak Ikhsan dengan sangat ketakutan. Apakah ini belum juga berakhir? Apa lagi ini? Tangisan Tita semakin menjadi-jadi, hingga aku terpaksa meninggalkan Pak Ikhsan di teras rumah kami untuk mendatangi arah suara itu.


Dari belakang, aku melihat Tita yang berdiri tepat di pintu kamar kami dan menatap ke dalam, begitupun dengan panji yang menutup matanya dan merangkul erat pinggang ibunya.


"Ada apa, sayang?" Aku menyentuh pundaknya dari belakang.


"Aku minta maaf, Mas Hari," ucap Tita, kemudian dia terjatuh lemas di lantai dan menangis sekuat tenaga.


"Tidak ada siapapun yang salah di sini. Semua sudah berakhir. Lihat, ada Panji yang berada di sini bersama kita," ucapku sambil menatap wajah Panji dengan senyuman.


Panji tak membalas senyumanku, bahkan dia ikut menangis sambil mengucapkan kata, "Ayah," dengan histeris, seperti yang dilakukan oleh ibunya.


"Sudah! Ini semua sudah berakhir. Ayah tahu kalau kalian shock dan ketakutan, tapi Ayah berada di sini. Tak ada lagi yang akan menyakiti kalian," Aku mencoba meyakinkan mereka.


Tapi semua ucapanku seakan sia-sia. Tak ada satupun dari mereka yang memedulikan upayaku untuk bersikap tenang setelah kejadian ini. Tatapan mereka hanya tertuju pada satu titik yang berada di dalam kamar itu.


Aku bingung dan mencoba mencari celah antara tubuh istri dan anakku agar bisa melangkah masuk ke dalam kamar untuk melihat, apa yang sebenarnya mereka takutkan.


Saat berada di sana, tubuhku seakan kaku melihat banyak bercak darah yang menggenang di lantai, seakan sudah terjadi pembantaian brutal di kamar ini. Kembali kualihkan pandangan pada wajah istri dan anakku yang menangis pilu di depan pintu kamar kami.


Bukan. Bukan karena darah itu yang membuat mereka takut. Kembali kubalikkan wajahku mengikuti arah pandang mereka.


Betapa kagetnya diriku saat melihat seorang pria, dengan kemeja biru yang bersimbah darah, terdiam kaku di tepi ranjang dengan luka terbuka yang berada tepat di kepalanya. 


Dengan ragu-ragu, kucoba untuk memberanikan diri mendekati pria itu, namun beberapa detik kemudian, aku terjatuh lemas seakan seluruh tulang-tulang yang ada ditubuhku menghilang begitu saja.


Setelah kutatap pria itu dengan seksama barulah aku sadar, bahwa dia adalah aku.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖