
Dulu aku memiliki teman yang usianya jauh lebih tua dariku. Tak ada yang menyukainya selain aku. Tapi suatu hari Ayah melarangku bergaul lagi dengannya. Kata Ayah, dia tak cocok denganku.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
"Ngapain loe, Sar?" goda Fani mencolek dadaku.
"Eits, jangan macem-macem ya. Bisa hilang perawan gue," sahutku geram menepis tangannya.
Fani hanya tertawa dan menjulurkan lidahnya. Aku sendiri sibuk memencet remote TV, memindahkan channel satu ke channel yang lain, tapi tak ada siaran yang menarik untuk ditonton.
KLEK
Suara pintu kamar Erix terbuka. Dia keluar menggunakan tanktop pink dan celana pendek kotak-kotak sambil menggaruk-garuk rambut di kepalanya.
"Hoaaaamm ... sudah pagi belum?" tanyanya lalu duduk di sampingku.
"Pagi dari Hongkong? Isha aja belum, nanya pagi pula," jawab Fani gemes mengunyah wortel yang sudah dipotongnya berbentuk persegi panjang, mirip kentang goreng.
"Ngunyah mulu lo, Fan. Kapan langsingnya?" balas Erix mengelus-elus perut rata yang dibangga-banggakannya.
"Ini masuk dalam program diet gue ... Erix!" makin cepet Fani mengunyah wortelnya.
"Erix, Ertix. Erika, taukkk!" tepis Erix.
➖➖➖➖➖
TOK-TOK
Suara pintu diketuk dari luar, membuat aku bergegas berdiri untuk membuka pintu.
Hari ini aku ada janji dengan Rida, tetangga dan teman kecilku dulu. Anaknya agak pemalu dan cukup tertutup. Dia tidak memiliki banyak teman, tapi dia bisa menjadi pendengar yang baik dan hanya bicara seperlunya saja.
Aku suka sikapnya itu. Kami bisa dengan betah duduk berlama-lama dalam satu ruangan, tidak mengobrol satu katapun karena sibuk membaca novel ataupun komik di kamarnya. Tidak seperti teman-teman kostku yang berisik hanya karena meributkan hal-hal sepele.
Ya ... kami memiliki satu hobby sama, yaitu membaca. Kamar Rida seperti surga buku, membuat Ibuku tidak perlu repot mencari anaknya yang tiba-tiba tidak muncul saat dipanggil. "Pasti Sarah di rumah Rida," ucap Ibu sambil memegang piring makan siangku, setiap hari.
Sayangnya setelah naik ke kelas dua SMP, pemindahan tugas ayahku ke Makassar membuat kami harus berpisah. Selama aku mengenal Rida baru kali itu melihatnya menangis, untuk melepas kepergian satu-satunya sahabat yang dimiliknya.
Pertemuan kembali dengan Rida sendiri, bisa dibilang sungguh kebetulan. Kami bertemu di group kepenulisan facebook dan saling membalas komentar antar sesama member.
Lucu rasanya. Sekali lagi kami berjumpa karena memiliki hobby yang sama, yaitu membaca. Ketidak sengajaanku mengklik foto profilenya, membuat kami bisa kembali lagi berhubungan, dan memutuskan untuk bertemu hari ini.
Aku sendiri sudah kembali ke Jakarta setelah lulus SMA untuk melanjutkan kuliah dan sekarang tinggal di kost khusus wanita, bersama lima orang lainnya. Ada Erika yang terlalu fokus terhadap kebugaran tubuhnya, Fani yang selalu punya program diet baru namun selalu gagal, Elsa ratu bersih anti kuman, Mbak Widya yang keibuan, dan Bibi yang membantu pemilik rumah untuk membersihkan dan mengomeli kami jika ada yang pulang lebih dari jam sembilan malam.
➖➖➖➖➖
Tak ada siapapun berdiri di depan, saat kuintip lubang kecil pengaman yang berada di pintu. Hanya sinar lampu lampu taman kedap-kedip ditambah hujan deras, membuat keadaan malam ini menjadi sangat seram. Selama tinggal di sini, tak pernah ada orang iseng yang sengaja mengetuk pintu rumah lalu kabur.
Tak ingin berlama-lama hanya untuk tahu siapa yang mengetuk pintu rumah kost kami, aku memutar badan dan berbalik menuju depan TV, tempat Erix dan Fani kutinggalkan tadi.
BUK BUK!!
Kali ini bukan suara ketokan lagi, melainkan suara gedoran yang sangat keras. Saking kerasnya, membuat jendela kaca di sampingnya ikut bergetar.
"Ada apa?" seru Erix datang mendengar gedoran itu, disusul Fani yang berdiri bersembunyi di belakangnya.
"Entah. Tak ada siapa-siapa di sana," jawabku agak takut.
"Coba kau lihat lagi," usul Erix.
Sial! Kenapa juga harus aku yang berada dekat pintu saat ini? Kalau saja bukan karena menunggu Rida, mungkin bukan aku yang berdiri di sini.
BUK BUK!!
Suara itu terdengar lagi. Aku mundur diiringi detak jantung yang semakin cepat. Keringatku mulai berjatuhan dari pelipis. Kulirik keberadaan Erix dan Fani di belakangku, mereka hanya berdiri terpaku di sana, seakan mengatakan bahwa aku adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengecek pemilik ketukan itu.
Sekali lagi kuintip dari lubang pintu, namun tak ada siapapun di sana. Kupandang kaku wajah Erix penuh rasa was-was, dia menunjuk-nunjuk jedela di samping pintu, memberi kode bahwa aku harus melihat dari sana. Saat kusibakkan gordennya.
HUAAAAAAAAAAAHHH
❤️ Bersambung ❤️
➖ Sarah Eszed ➖