
KINAN
Lembaran-lembaran ingatan yang sudah menguap dari kepalaku, seakan bukan menjadi masalah yang besar. Tak banyak yang ingin kuketahui dari kehidupan yang tanpa sengaja terlepas.
Bahkan saat itu, aku hanya merasa terbangun dari tidur yang pulas di rumah sakit, dengan balutan perban dan sedikit rasa nyeri di kepala.
Cedera kepalaku, hanya menghilangkan beberapa ingatan yang sepertinya tidak terlalu penting, hingga tak memliki pengaruh yang bisa dikatakan mengganggu.
Justru sebaliknya. Kejadian itu seakan menjadi hal yang cukup menguntungkan bagiku, karena seakan seluruh kasih sayang serta perhatian yang berada di dalam rumah ini seakan tercurah sangat besar hanya untukku.
Semua yang kuinginkan akan segera direspon dengan baik, walau untuk hal-hal yang bisa dikatakan tidak masuk akal sekalipun, seperti permainan berpura-pura diganggui oleh hantu ataupun monster yang berada dalam kamarku.
Ide itu muncul tiba-tiba saat kebosanan melanda dan kemudian menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan, bahkan rasanya aku menjadi ketagihan.
Awalnya, aku hanya menjerit di malam hari, untuk meminta perhatian dan berbohong pada Ayah, tentang suara cakaran yang berasal dari bawah ranjang.
Tapi setelah melihat dia masuk dan mengecek semuanya, aku merasa apa yang dilakukannya cukup bodoh, hingga membuatku tertawa geli dalam hati.
Ayah dengan rela berlari masuk ke kamar karena teriakan histeris yang kubuat sedemikian rupa, kemudian mengecek satu-per-satu tiap sisi yang berada di dalam kamarku.
Entah Ayah yang berlebihan atau sedikit bodoh, tapi aku sangat menikmati saat dia merespon segala kebohongan dan kegaduhan yang sengaja kubuat, tanpa peduli dengan waktu istirahatnya.
Dari sana, kuputuskan untuk melakukan permainan ini semakin sering, dengan cerita yang berbeda untuk tiap malamnya.
Minggu lalu, aku berteriak histeris, lalu menunjuk lemari dan pura-pura menangis sambil memberi tahu bahwa seseorang sedang menggedor paksa dari dalam.
Dua hari yang lalu, aku meraung ketakutan dan membuat cerita tentang mendengar suara-suara yang berbisik, tentang ada sesuatu yang akan menyakitiku.
Setelah itu, aku akan menahan tawa dari balik selimut yang sengaja kugunakan untuk menutup mulut saat menyaksikan tingkah konyolnya.
Dan di akhir cerita, akan kupaksa dia dengan berbagai macam rengekan untuk duduk di samping ranjang dan tidak membiarkannya keluar hingga aku benar-benar tertidur pulas.
➖➖➖➖➖
Kuhempaskan gawai di pinggir ranjang dan berbaring di atasnya. Tak ada hal yang benar-benar menarik untuk dilakukan malam ini, sebelum menuju alam mimpi. Tiba-tiba aku memikirkan rencana, untuk bermain bersama Ayah.
Tapi tunggu dulu. Kali ini cerita apa lagi yang akan kubuat? Semua tempat yang berada di dalam kamar ini, sudah pernah dicek olehnya, bahkan langit-langit sekalipun.
Arrghh. Tidak peduli dengan apa yang akan kuucapkan nanti, yang pasti malam ini, aku ingin menjahilinya.
"Tolooooooooooooooong!"
Lengkingan suara memenuhi ruangan. Berkali-kali kucoba berteriak dengan sekuat tenaga agar seseorang datang ke sini. Tidak berapa lama kemudian.
Bug ...
Bug ...
Deru langkah kaki dari luar yang seakan berlari semakin mendekati pintu membuat adrenalin seakan memompa hebat dalam tubuhku. Ah, pasti akan seru sekali.
Klak!
Dengan gagah, Ayah muncul membuka pintu dengan tergesah-gesah. Sesaat terlihat, dia menelan ludah untuk mengatur napasnya setelah berlari, karena kamarnya terletak cukup jauh.
"Ada apa, Kinan?" tanyanya.
Aku berdiri, beranjak dari ranjang dan berlari untuk memeluk erat pinggangnya agar akting pura-pura takut yang sedang kulakoni terlihat lebih alami.
"Aku melihat hantu, Ayah." Kutatap wajahnya dengan air mata yang mengalir cukup deras. Pura-pura menangis tak menjadi satu hal yang sulit untukku.
"Apa? Hantu? Di mana?"
"Di ... di ...." Sial! Aku tidak tahu akan menunjuk ke mana. "Di sana, Ayah!" Jemariku mengarah dengan acak dan berhenti pada bola lampu yang bergantung di atas.
Aku merasa sungguh sangat bodoh. Hantu mana yang bisa masuk ke dalam bola lampu? Jikapun ada, pasti tidak menakutkan. Ayah pasti akan marah karena ceritaku sungguh tidak masuk akal.
"Di sana? Kau yakin, Kinan?"
"I-iya, Ayah. Suaranya seperti anak kecil yang tertawa-tawa mengerikan."
Ah ... Tak peduli tentang reaksi Ayah nantinya. Aku hanya menambahkan bumbu agar tak terlihat sedang berbohong.
Ayah memegang tangan dan menyuruhku duduk di pinggir ranjang. Dia kemudian menarik kursi dan berdiri di atasnya untuk mengecek bola lampu yang tadinya kutunjuk.
Gila! Benar-benar gila! Bisa-bisanya dia percaya dengan perkataanku dan bersedia untuk bersusah payah naik ke atas kursi dan meneliti bola lampu itu.
Aku bergerak perlahan ke atas tempat tidur dan mengambil selimut untuk menutup setengah wajah agar tak terlihat sedang menahan tawa. Ayah benar-benar polos. Oh, bukan. Dia bodoh, bukan polos.
Tiba-Tiba ....
Braaaaaaaaaaaaakk!
Kursi tempat Ayah berpijak itu bergoyang dan membuatnya terjatuh. Aku mengangkat kepala dan merangkak menuju tepi ranjang dan mendapatkannya sedang kesakitan sambil mengelus-elus pinggang.
"Hahahahaha!"
Tawa yang sedari tadi kusembunyikan tak mampu lagi tertahan. Tawa itu meledak dan bergema ke seluruh ruangan. Ayah benar-benar terlihat sangat lucu.
"Ada yang lucu?" Dia berbalik dan menatap wajahku sambil meringis
"Iya, Ayah. Kau terlihat sangat konyol," ucapku tanpa bisa berhenti tertawa.
Ayah berdiri dan menatap dengan tatapan serius hingga membuat tawaku meredam. Dia berjalan perlahan dan duduk di pinggir ranjang lalu membelai rambutku.
"Jadi selama ini kamu hanya bermain, Kinan?" ucap Ayah.
"Ma-maafkan aku, Ayah. Tapi kau terlihat sangat polos dan konyol saat memeriksa seluruh isi ini."
"Hmmm .... Bukan hantu-hantu dan monster-monster itu yang sebenarnya aku khawatirkan, Kinan." Ayah tiba-tiba mengucapkan kalimat yang tidak aku pahami.
"Maksud Ayah?"
Ayah tidak menjawab. Dia justru hanya tersenyum dan memasangkan selimut pada tubuhku lalu memberikan kecupan hangat seperti biasanya.
"Kau ingin mendengarkan cerita, Kinan?" tanya Ayah.
Dongeng? Apa yang sebenarnya berada di benaknya saat mengucapkan itu. Bukannya menjelaskan tentang apa yang baru dikatakan, malah menawarkan sebuah dongeng. Aku bukanlah anak balita yang membutuhkan dongeng sebelum tidur.
"Boleh. Cerita seperti apa?"
Ayah mulai mengatur duduknya dan menarik napas panjang. Sebelumnya, dia melihat ke arah jendela dan menatap beberapa detik ke arah sana.
Ayah kemudian berbalik dan kemudian melihat ke arahku, lalu mulai membuka mulutnya, dan bercerita.
➖➖➖➖➖
Dulu, ada keluarga bahagia yang memiliki seorang anak perempuan yang berusia 14 tahun. Tepat di usia itu, dia mendapatkan kabar dari kedua orang tuanya, bahwa sebentar lagi akan mendapatkan adik laki-laki.
Hanya saja, kebahagiaan itu menjadi tidak lengkap, bahkan ada duka di sana, sebab Ibu mereka harus meregang nyawa di ranjang persalinan saat berjuang melahirkan putranya.
Anak perempuan itu menjadi kesal dan menganggap bahwa makhluk kecil yang sudah dilahirkan, membuat dia harus kehilangan Ibu yang sangat dicintainya.
Selain itu, karena lama tak memiliki saudara, anak perempuan itu menjadi egois dan mulai menaruh cemburu pada adiknya. Dia merasa, kasih sayang yang dulu didapatkan menjadi terbagi dan dia tidak suka akan itu.
Pada suatu hari, saat Ayahnya sedang bekerja, dan pengasuh mereka sedang berada di kamar mandi.
Dia kemudian mengajak adiknya yang baru mulai belajar berjalan, dan mengiringnya hingga ujung tangga yang berada di rumah mereka.
Anak perempuan itu, berjalan menuju lantai bawah, dan mengulurkan tangan agar adik kecilnya melangka ke arahnya.
Dengan wajah yang riang, adiknya membuat langkah pertama, namun curamnya tangga membuat dia terjungkal dan terguling hingga lantai dasar.
Sunyi ....
Kejadian itu berjalan begitu cepat, bahkan adiknya tidak mengeluarkan tangisan sedikitpun sebagai tanda bahwa tubuh kecilnya harus merasakan benturan hebat dari sudut-sudut tangga yang tajam.
Dia tergeletak lemah di lantai dengan mata membelalak dan darah yang keluar dari mulut, lubang hidung, telinga, serta luka menganga yang berada tepat di belakang kepalanya.
Anak perempuan itu berdiri di hadapan adiknya, menggendongnya ke atas dengan mengangkat kedua tangan dan memperhatikan dengan seksama.
Saat diangkat, terlihat leher makhluk kecil itu, lunglai tidak simetris. Seakan ada bagian yang terlepas dari sambungannya, hingga terlihat tidak seperti seharusnya.
Di balik tubuh anak perempuan itu, pengasuh mereka tanpa sengaja melihat kejadian barusan dan hanya bisa mematung menahan napas dan tidak mampu bergerak. Satu-satunya gerakan hanyalah air mata yang mengalir deras dari matanya.
Sadar akan kehadiran orang lain, anak perempuan itu ketakutan dan berlari menaiki tangga, hingga tanpa sengaja, dia menginjak genangan darah yang entah itu keluar dari mulut adiknya, atau berasal dari luka yang berada di belakang kepalanya.
Dengan cepat, anak perempuan itu meluncur dan terjatuh hingga harus tewas karena pendarahan otak di rumah sakit.
➖➖➖➖➖
"Lalu, Ayah?" tanyaku penasaran.
"Ya. Hanya itu." ucap Ayah.
"Cerita yang aneh!" ujarku kesal.
Seakan tidak mempedulikanku, Ayah berdiri dan berjalan menuju pintu kamarku dan membukanya. Dia melangkahkan kaki selangkah ke depan, kemudian mundur kembali tanpa berbalik.
"Oh iya. Ada bagian yang lupa Ayah ceritakan."
"Apa itu, Ayah?" Dengan semangat aku mendongakkan kepala dan memasang kuping agar bisa mendengar kalimat yang akan diucapkannya.
"Arwah anak balita itu selalu merangkak di depan pintu kamar kakak perempuannya setiap malam dan menunggu di sana, hanya untuk melihat siapa, atau mengajak main orang tinggal di dalamnya karena dia menganggap bahwa yang tinggal di kamar itu adalah kakaknya."
Deg ....
Entah mengapa, jantungku seakan berdebar sangat kencang. Kalimat terakhir Ayah membuatku merinding dan ketakutan.
Ayah membuka pintu dan nutupnya perlahan. Aku tak peduli dengan kepergiannya, hanya saja perasaanku menjadi tidak karuan dan merasa sangat aneh.
Klek ....
Aku tersentak kaget. Tiba-tiba knop pintu kamar berputar dan berbunyi, seakan seseorang sedang membukanya. Aku menutup mata dengan erat.
"Ehem ...."
Aku menghela napas lega, saat mendengar dehaman suara Ayah. Ternyata dia yang kembali membuka pintu kamar.
"A-ada apa, Ayah?"
"Oh iya, Kinan. Jangan lupa kunci kamarmu. Adik anak perempuan itu tidak suka jika Ayah berlama-lama di sini. Dia cemburu jika Ayah berlama-lama berada di sini. Dia pikir, kau adalah kakaknya."
"Ma-maksud, Ayah?"
"Ayah membeli rumah dari Ayah anak perempuan itu, Kinan."
Ayah menutup pintu kamarku dan tidak kembali lagi.
➖➖➖➖➖
AYAH
Setelah menutup pintu kamar Kinan, aku berjalan menuju kamar untuk menemui Ana yang tadinya kutinggalkan setelah Kinan berteriak histeris meminta tolong.
"Sudah selesai, Mas?"
"Iya. Hari ini dia mengarang tentang hantu yang berada di dalam bola lampu," jawabku sambil menghela napas panjang.
"Yang sabar ya, Mas. Kinan hanya butuh perhatian lebih. Kau selalu sibuk sepanjang hari. Mungkin dengan cara itu, dia merasa lebih dekat denganmu." Ana membaringkan kepalanya di dadaku.
"Hmm ... entahlah. Tapi aku merasa dia menganggap ini sebagai lelucon. Saat terjatuh dari kursi ketika mengecek balon lampunya, justru Kinan tertawa terbahak-bahak. Itu membuat sedikit kesal," jelasku pada Ana.
"Ya karena wajahmu memang lucu, Mas." Ana menggodaku untuk mengalihkan perhatian.
"Tapi ... aku rasa setelah malam ini, dia tak akan lagi berteriak-teriak memanggil namaku, Ana." Aku tersenyum nakal.
"Kenapa?" Ana menjadi penasaran.
"Aku membuat cerita tentang hantu anak kecil yang suka berdiri di depan kamarnya."
"Anak kecil? Ngaco kamu, Mas. Tak ada hantu anak kecil semenjak kita pindah ke sini," oceh Ana.
"Ya .... namanya juga ngarang. Kamu gimana, sih? Tidak cuma Kinan yang bisa buat cerita seram. Aku juga bisa," ucapku mencubit hidungnya.
"Kamu jahat, Mas." Dia menepuk keras pahaku dengan kesal. "Aku akan keluar dan melihatnya sebentar.
Aku tersenyum saat melihat dia beranjak pergi keluar dari kamar.
Tiba-tiba ....
"Aaaaaaaaaaaaaahhhh."
Buk!
Buk!
Suara hantaman terdengar sangat kencang menyadarkanku. Segera aku berdiri, membuka pintu dan berdiri menatap tangga dari kamar.
Sreekk ....
Sreekk ....
Suara cakaran di lantai rumah kami terdengar, kemudian terdengar suara lemah yang nyaris seperti bisikan semakin dekat dari bawah.
"Tolong ... tolong ...."
Tangisan pilu itu dapat membuat bulu roma setiap orang yang mendengarnya akan merinding ketakutan, tapi tidak untukku.
Walaupun tidak melihat makhluk itu, tapi aku tahu pasti posisi dan kondisinya saat ini. Untuk tiap anak tangga yang dengan susah payah dinaikinya, dia akan meringis kesakitan dan berusaha meminta tolong.
"Tolooooooooooooong ...."
Lolongannya sungguh sangat menyedihkan. Bagaimana tidak? Saat pertama kali melihatnya, kau akan mendapatkan sosok dengan kaki yang terputar ke belakang dan kepala yang seakan hanya tertempel begitu saja pada lehernya akibat beberapa ruas tulang yang patah.
"Tolooooooooooooong ...."
Pelan tapi pasti, saat ini sudah terlihat ubun-ubun yang tertutupi oleh rambutnya.
"Tolooooooooooooong ...."
Kemudian pipi yang dialiri banyak darah yang mengalir berjatuhan dari kepalanya.
"Tolooooooooooooong ...."
Kemudian wajahnya yang bersimbah darah dan menatapku dari kejauhan.
"Tolooooooooooooong ...."
Sudah. Dia sudah sampai ke atas dengan merangkak perlahan. Dia menatapku dengan wajah yang sangat mengerikan dengan rambut yang acak-acakan.
Nyaris tiap malam dia melakukan hal itu. Nyaris tiap malam dia mengulangi kejadian saat tergelincir dari tangga hingga membuatnya harus melepas nyawa di rumah ini.
Aku tersenyum perih saat melihat wajahnya. Walaupun sudah setiap hari melihat pemandangan yang tidak normal ini, tapi hati ini tetap bergetar sedih.
"Cepatlah. Aku tidak ingin Kinan terbangun dan melihat Ayahnya berbicara sendiri," ucapku padanya.
Aku melangkah masuk ke kamar tanpa menutup pintu agar dia bisa dengan mudah merangkak masuk ke dalam.
Tak ....
Tiba-tiba tangan penuh darah itu mencengkram pintu kamar. Makhluk itu berusaha berdiri dengan bertumpu pada sisi pintu sambil memandangiku.
Dengan susah payah, bahkan sesekali terjatuh, dia sekarang mampu menopang tubuhnya sendiri. Darah yang tadinya bercucuran dari pelipis, mata, bahkan tubuhnya perlahan menghilang. Sekarang tubuhnya sudah normal seperti sedia kala.
"Ayo, Ana, sudah malam. Aku harus bekerja besok," ucapku.
Ana memberikan senyuman termanisnya dan naik di atas ranjang bersamaku.
Sebelum benar-benar terlelap, aku bersyukur bahwa Kinan harus kehilangan beberapa memori kejadian hari itu.
Kejadian di mana Kinan dengan spontan menarik baju ibunya saat dia tergelincir di tangga hingga membuat tubuh Ana terjungkal, tak beraturan, hingga tewas seketika.
❤️ Tamat ❤️
➖ Sarah Eszed ➖