Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
DOUBLE TROPHY #1




Panik adalah kata yang bisa menggambarkan keadaanku saat membuka kulkas dan tak melihat sebutir telurpun di sana.


"Bodoh! Kenapa bisa sampai habis? Bagaimana caranya membuat kue bolu dadakan jika semua bahan tidak lengkap?"


Segera kusambar dompet lalu berangkat menuju pasar untuk melengkapi stok bahan yang kuperlukan. Dan baru bisa pulang dengan lega setelah membelinya.


Sudah satu minggu aku memikirkan bagaimana cara untuk memberi pelajaran Alif suamiku beserta wanita terkutuk itu. Jika lengah, maka kesempatan kedua akan terasa sangat lama, karena sudah sangat tidak sabar menunggu hari itu.


Sebenarnya aku sendiri tak ingin membuat rencana seperti ini, tapi apa boleh buat? Perlakuan Alif padaku sudah sangat keterlaluan.


Jika berada di rumahku bulan lalu, kau akan mendapatkanku berdiri terpaku depan cermin sambil melihat hadiah bekas cengkraman pada permukaan kulit leherku yang membiru, karena tega mencekikku dari belakang setelah menanyakan tentang foto seorang wanita yang berada di memory handphonenya.


Mereka makan, jalan-jalan, belanja, dan yang paling menjijikkan adalah foto wanita itu sedang tidur di kamar suamiku, di kontrakan lamanya sambil berpegangan tangan mesra.


Itu kulakukan karena Ifa bercerita tentang seorang wanita bernama Imel yang mengajaknya bermain dan makan es krim, saat keluar bersama Alif setelah berhasil merajuk meminta ayahnya membawanya untuk ikut.


"Ayah ketemu sama cewek, tante Imel. Aku diajak jalan ke Timezone,” ucap polos Ifa saat aku sedang menyanyikan lagu tidur untuknya.


“Cuma jalan sama tante dan Ayah? Gak ada temen-temen Ayah di sana?” tanyaku curiga, sebab Alif pergi dengan alasan ada acara bersama teman kerjanya.


“Gak ada, Ma. Cuma aku, Ayah, dan tante Imel. Pas Ifa ngajak tante Imel main ke rumah, dia bilang gak mau, takut dijambak Mama. Emang bener, Mama mau jambak tante?” tanya Ifa padaku.


Mendengar pertanyaan itu, aku tidak menjawab apapun. Aku hanya diam seribu bahasa dan berpikir tentang, apa yang sebenarnya terjadi selama aku di Jakarta dan suamiku yang bekerja di Malang?


➖➖➖


Imelia namanya. Nama yang muncul dari notifikasi pesan Whatsapp yang kubuka saat Alif sedang tertidur. Nama yang sama dengan cerita Ifa, dan foto profile yang sama dengan wajah wanita yang tersimpan dalam memori handphone suamiku. Dan yang paling mengejutkanku adalah, nama itu juga ada dalam group Whatsapp khusus rekan kerja suamiku.


"Hah! Rupanya mereka bekerja di tempat yang sama!" batinku saat mengecek isi Whatsapp suamiku.


Jariku lincah membalas pesan dari wanita itu.


[ *Ada perlu apa dengan Alif? ]


[ Kamu siapa? ]


[ Aku istrinya ]


[ Memangnya kenapa kalau istrinya*? ]


Kurang ajar! Apa tak puas dia membuat Alif mencekikku hanya karena aku bertanya tentang fotonya yang bertengger di handphonenya? Sekarang dia berani menantangku?


Baiklah... Walaupun tak ada yang mendukungku saat ini, bahkan saat kulaporkan pada keluarga suamiku yang tidak percaya bahwa Alif sudah berlaku kasar karena sudah bertanya tetang hubungan terkutuk mereka, maka akan kulakukan dengan caraku sendiri.


Aku sudah mengatur diriku untuk bersikap biasa saja setelah hari itu. Kusibukkan diri dengan mencari tentang wanita itu dengan mengunjungi tempat kerjanya diam-diam. Bekerja di restoran cepat saji, membuat orang-orang tak akan curiga kehadiranku di sana.


Informasi terbaik pun juga sudah kudapatkan dari pemilik kontrakan lama, tempat tinggal suamiku saat aku masih berada di Jakarta.


Jadi ini yang mereka lakukan saat kami berjauhan? Kami memang harus berpisah sementara waktu. Alif harus pindah tugas di Malang, dan aku tidak bisa langsung meninggalkan Jakarta karena Ifa tidak bisa langsung pindah sekolah secepat itu.


Pantas saja saat itu, jangankan untuk video call atau menelpon, mengirim pesan pun tak pernah dilakukan. Dan bodohnya, aku hanya berpikir bahwa Alif sibuk bekerja membanting tulang untukku dan sepasang anak kembar kami, Ifa yang tinggal bersamaku dan Izan yang tinggal bersama neneknya di kampung.


➖➖➖


Sudah kupelajari dengan seksama tingkahnya. Ketika dia pulang cepat dan berkata ingin keluar untuk 'ngopi' maka tak perlu ditanyakan kembali. Bisa dipastikan, dia akan pergi ke kontrakan lama yang sekarang ditinggali oleh Imel dan akan pulang hingga larut malam.


Semua sudah kupersiapkan semua dengan matang. Bahan-bahan yang akan kugunakan, seperti terigu, telur, pengembang kue, gula, margarin dan beberapa pelengkap penting lainnya, tak pernah absen dari kulkasku hingga hari yang kutunggu telah tiba.


Sore tadi saat dia mengucapkan kata 'mau ngopi', aku bergegas berlari seperti orang yang sedang kesetanan menuju dapur, demi membuatkan kue bolu kesukaannya.


Untungnya hidangan itu bisa dengan cepat selesai sebelum suamiku berangkat setelah magrib.


"Bawa ini, Yah, cemilan ganjel perut pas ngumpul bareng temen," ucapku sambil menyodorkan kotak saji yang terbuat dari karton.


Dia hanya tersenyum hambar, menyambar kotak makanan itu dari tanganku, kemudian pergi tanpa lambaian yang sering dilakukannya saat kami masih sangat harmonis. Sombong sekali tingkahnya, pikirku.


"Sombonglah selagi kau mampu, sayang. Aku akan setia menunggu kabar terbaru darimu."


Aku berlalu tanpa beban dari depan pintu, untuk membantu putriku mengerjakan tugas sekolahnya.


➖➖➖


BUUUKKK BUKKK BUKKK.


Suara gedoran pintu yang sangat keras membangunkanku dari tidur. Kulirik jam dinding. Di sana menunjukkan pukul 01.23.


Siapa yang menggedor tengah malam dengan cara yang menyeramkan seperti itu?


BUUUKKK BUKKK BUKKK


Gedoran itu makin keras sehingga membuat pemilik kontrakan keluar dari rumahnya.


"Ada apa, Mas Alif?" tapi pembuat gedoran itu tidak menjawab apa-apa.


"Ikaaaaaaa. Buka pintunya, cepaaaaaaat!" teriakan kuat dari pria itu membuatku makin yakin bahwa yang menggedor adalah Alif, suamiku.


Aku bergegas keluar dari kamar, menyalakan beberapa lampu untuk menerangi jalanku menuju pintu yang sudah kukunci sebelumnya.


Saat kubukakan pintu, terlihat wajah Alif yang sangat pucat, seperti tak ada darah yang mengalir di sana. Butiran keringat mengalir deras dari dahinya. Dia meringis kesakitan hingga membuat napasnya memburu sangat kencang.


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖