
Ingin rasanya aku pergi dan meninggalkan rumah ini, membawa serta anak-anak, tapi tidak mungkin. Tak mungkin kutinggalkan Mas Hari dalam keadaan seperti itu. Biar bagaimanapun, dia adalah suamiku, ayah dari anak-anakku, dan dia bukanlah orang yang jahat sebelumnya.
Mas Hari pergi pagi-pagi sekali tanpa berpamitan padaku. Namun kepergiannya, tidak kunjung membuat diriku bisa merasa lebih tenang. Di dalam kepalaku hanya memikirkan tentang, apa yang harus kulakukan selanjutnya?
Ting ...
Bunyi yang berasal dari gawai menyadarkanku. Segera kusambar dan membaca barisan kalimat yang berasal dari Mas Hari.
[ Aku lembur. Hati-hati di rumah ya .... ]
Ah ... aku tak peduli dan melempar gawai itu ke atas kasur. Satu-satunya orang yang harus dikhawatirkan adalah Mas Hari sendiri.
Tak ingin merasa tertekan sendiri, kucoba untuk menghubungi mertuaku dan menceritakan kejadian yang sudah kami alami beberapa waktu ini. Mertuaku berjanji akan mencoba untuk menghubungi dan berbicara dengan Mas Hari untuk mencari tahu dan memberikannya nasihat.
Cukup lama kami berbincang-bincang, dan aku merasa sedikit lega setelah mendengarkan suara lembutnya, hingga terdengar notif yang menandakan ada pesan masuk, dan aku harus menutup telpon itu, karena tanpa sadar bahwa hari sudah nyaris gelap.
[ Malam ini kamu tidurkan Panji di kamarnya, lalu segera kunci kamarmu setelah itu. Jangan keluar sebelum aku pulang ]
Arrrggghhh ....
Sekali lagi. Sekali lagi perasaan yang tidak enak tiba-tiba muncul. Apa maksud suamiku mengirimkan pesan yang berbunyi seperti itu? Seakan-akan dia ingin menjauhkan Panji dariku dan melakukan sesuatu kepadanya.
Tiba-tiba aku mulai menerka-nerka tentang apa lagi yang kira-kira akan dilakukannya. Perasaanku semakin tidak menentu. Harus kucari bantuan sebelum suamiku pulang malam ini. Lututku terasa begitu lemas.
Tidak!
Aku tidak bisa diam begitu saja. Aku segera masuk ke kamar dan mengambil paksa koper kecil yang berada di lemari kemudian memasukkan beberapa barang yang sekiranya bisa kami bawa. Pokoknya ada hal yang akan terjadi malam ini, tak tahu itu apa, tapi perasaanku mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak baik.
"Mau ke mana, Ma?" Ternyata dari tadi Panji memperhatikan tingkahku yang sedang gelisah.
"Tidak, sayang. Kita mau jalan-jalan malam ini," ucapku sambil membelai lembut rambutnya.
"Tapi aku mengantuk." Panji mulai mengucek-ngucek matanya dan menguap.
"Tidurlah dulu sebentar, nanti akan kubangunkan." Aku menciumi pipinya.
Setelah itu dia kembali berbaring di samping Keysha dan mencoba menutup matanya. Tiba-tiba gawai berbunyi dan mengagetkanku.
Sial! Itu Mas Hari. Apa yang akan kukatakan padanya? Apakah dia tahu bahwa kami akan kabur malam ini? Aku merasa seperti sedang diteror, bahkan saat dia tidak berada di sini.
Deringan itu tak kunjung behenti membuatku nyaris setengah gila. Mas Hari tak akan menyerah, hingga aku mengangkat panggilannya dan berbicara dengannya. Tubuhku benar-benar gemetaran saat ini.
Positif, positif. Aku harus tenang dan berpikir positif. Walaupun sebenarnya tak bisa kulakukan, paling tidak hanya itu yang bisa kucoba saat ini. Kuharap dia hanya mengabarkan bahwa akan pulang dua atau tiga jam lagi.
Kucoba mengatur napas dan bersikap setenang mungkin agar Mas Hari tidak curiga. Dengan jemari yang sedikit bergetar, aku menggenggam gawaiku.
"Kenapa lama sekali?"
"A-anu. Tadi aku di kamar Panji dan tak mendengar deringan, jadi tak tahu kalau Mas sedang telepon."
"Dia sudah tidur?"
"Su-sudah, Mas. Kamu pulang ka-kapan?"
"Sekitar satu setengah jam lagi. Jangan lupa kunci pintu ka ..."
Tanpa basa-basi, kuputuskan sambungan. Aku berlutut lemas dengan napas yang sesak menatap pilu tubuh anak-anakku yang sedang tertidur pulas.
Bisa-bisanya Mas Hari menelepon, hanya untuk memastikan agar kutinggalkan Panji sendiri di kamarnya dengan terang-terangan. Ada rasa sesak di dadaku saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut suamiku sendiri. Butiran air mataku terjatuh.
"Ada apa?" Suara Panji mengagetkanku. Sepertinya dia mendengar rintihan yang tak mampu lagi kutahan.
"Tidak apa-apa, Nak," ucapku sambil menghapus air mata yang berada di pipiku. "Banyak debu di kamar ini," sambungku.
"Itu Ayah? Ayah jahat ya?"
Pertanyaan Panji membuat tubuhku semakin lemas. Anak kecil memang memiliki perasaan yang paling peka. Mereka bisa tahu dengan cepat, jika ada sesuatu yang salah dengan ibunya.
"Tidak, Nak. Ayah belum pulang. Panji tidur saja dulu di samping dek Keysha, sembari menunggu. Nanti setelah semuanya siap, kita bisa pergi. Oke?" Kucoba berbohong pada putraku.
Ting ....
Gawaiku berbunyi. Di sana terbaca notifikasi yang bertuliskan,
[ Semuanya oke? Kenapa kau matikan sambungannya? ]
Ah ... napasku kembali menjadi sesak. Rasanya aku kehabisan akal untuk dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Sengaja tak kubuka pesan itu agar Mas Hari beranggapan bahwa kami sudah tertidur pulas dan tak mendengar panggilannya. Tapi ternyata, salah. Tindakanku justru membuatnya mencoba menelepon berkali-kali.
Ting ....
[ Kenapa tidak di angkat? ]
Ting ....
[ Aku tahu kau belum tidur. Ini masih terlalu dini ]
Ting ....
[ Oke. Aku ke sana sekarang juga! Tak bisa kubiarkan seperti ini terus ]
Bodoh! Aku sungguh bodoh! Kenapa kuabaikan panggilannya? Pengabaian itu justru membuat dia curiga dan segera menuju ke sini. Segera kusambar gawaiku dan berlari ke kamar Panji.
Dengan jari-jari yang bergetar kucoba untuk menelepon Mas Hari.
"Iya, Mas. Maaf, tadi sedang di kamar mandi. Ada apa, Mas?" Aku mendahului percakapan. Mas Hari diam saja, seperti sedang mempelajari intonasi suaraku.
Tut tut, tut tut.
Hah! Apa ini?
Dia tiba-tiba beralih dari panggilan telepon menjadi panggilan video call. Jantungku seakan nyaris lepas dari tempatnya. Apa lagi yang harus kulakukan?
Aku terdiam sejenak dan berpikir. Tidak bisa kudiamkan ini begitu saja. Akan kusetujui permintaan video call Mas Hari, setelah itu kami akan kabur tanpa membawa apapun. Iya, sepertinya ini adalah hal yang paling tepat.
Lagipula aku bisa memperhitungkan, apakah dia sudah berada di mobil atau masih berada di kantor, saat melihat videonya.
Tit ...
"Jauhkan kameramu."
"Apa maksudmu, Mas?"
"Jauhkan kameramu sekarang, Tita!" bentak Mas Hari.
Seumur hidup baru kali ini aku mendengarnya membentakku. Tak pernah sedetik pun Mas Hari berbuat kasar ataupun meninggikan suara padaku.
"U-untuk apa, Mas?" Suaraku bergetar.
"Kau bohong, Tita! Kau berada di kamar Panji saat ini. Mana dia?"
"Pa-Panji?"
"Iya! Mana Panji?!" Nada suara Mas Hari melengking tinggi, membuat tubuhku tersentak.
"Apa maumu, Mas?!" Air mataku mulai terjatuh tak terbendung.
"Ah, Tita! Kenapa kau lakukan ini?" Terlihat mata Mas Hari mulai memerah memperlihatkan amarah yang sangat besar.
Tiba-tiba ....
"Mama di mana?" Ah ... sepertinya Panji terbangun.
Tak sempat kubalas teriakan Panji, karena otakku masih mencerna keadaan ini. Air mataku terjatuh dalam keadaan bingung bercampur rasa.
"Mama!" Panji kembali memanggilku.
"Jangan dijawab!" suara Mas Hari yang setengah berbisik menyentakkan tubuhku. Rupanya sambungan video call belum terputus sedari tadi. "Tita, tatap mataku. Aku melihatnya di beberapa film yang kutonton dan beberapa buku yang kubaca beberapa hari ini. Sekarang aku bersama seseorang yang akan datang ke sana. Ah ... sulit kujelaskan. Kau seorang ibu, kau kenal semua anggo ...."
Segera kuputuskan sambungan itu. Tak ingin lagi kudengarkan ucapan aneh suamiku yang tiba-tiba seperti kerasukan dan bertingkah layaknya pemuja setan. Kami harus pergi malam ini juga.
Lalu ....
"Oeeeeeeeeeekk." Tangisan kuat dari Keysha terdengar.
Gawaiku berbunyi kembali. Kali ini bukan Mas Hari, tapi ibu mertuaku. Dengan sigap kuangkat karena tak ingin membuang-buang banyak waktu.
"Iya, Bu?"
"Tita. Cepat 'sreeekk' sana. Ada yang 'sreeeek' dengan 'sreeeek' anakmu."
"Ibu bilang apa? Suara ibu putus-putus."
"Lari dan bawa 'sreeeek' sekarang!"
Tiba-tiba gawaiku mati total tanpa sebab. Sungguh sangat aneh.
Deg ....
Jantungku berdebar sangat kencang. Walaupun aku tak mendengar dengan jelas, tapi aku tahu pasti bahwa yang di maksud dengan Ibu mertuaku adalah Mas Hari. Dia pasti ingin memberi tahuku bahwa kami sedang terancam dan menyuruh kami segera kabur dari sini.
Tak akan berpikir dua kali lagi. Segera aku berdiri untuk menghampiri anak-anakku yang berada di kamar dan pergi membawa mereka keluar dari sini.
"Mama. Adek nangis," panggil Panji.
"Iya, sayang. Ibu ke sana sekarang," balasku.
Baru saja aku ingin membuka pintu kamar Panji dan menghampiri Keysha, tiba-tiba tubuhku seperti membeku dengan segala kengerian karena menyadari sesuatu. Sesuatu yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Napasku terasa tersangkut di kerongkongan. Butiran keringat mengalir deras dari pelipisku. Aku menangis lemas dan menutup mulut agar rintihanku tak terdengar. Tanganku bergetar hebat. Bodoh! Benar-benar bodoh.
Kreeeek
Deritan pintu dari luar yang terbuka terdengar di sela-sela tangisan Keysha. Tak satu katapun yang keluar dari mulutku, bahkan untuk bernapas, tak berani. Terdengar langkah kaki seseorang yang mendekat ke ruangan ini.
Aku menguatkan diri untuk berdiri dan bersandar di daun pintu, agar tak ada siapapun yang bisa membukanya. Dengan air mata yang mengalir sangat deras, kugigit bibirku sendiri agar tak mengeluarkan suara sekecil apapun.
Klak-klak
Knop pintu kamar Panji berputar. Aku tahu dia sudah berada di luar sana dan mencoba untuk masuk ke dalam.
Tangisan Keysha dari kamarku semakin menjadi-jadi. Yang saat ini berada di dalam pikiranku adalah, bagaimana caranya bisa kudekati anakku, sedangkan jiwaku sendiri sedang terancam.
Sreeeek ....
Sreeeek ....
Suara cakaran dari balik pintu yang mencoba naik ke atas. Aku berdo'a dengan linangan air mata, berharap Tuhan membantuku atau seseorang datang untuk menolong.
Saat ini aku sedang melihat pantulan diriku pada cermin yang berada di dalam kamar Panji. Di sana ada seorang ibu yang terduduk berlinang air mata dengan rona wajah yang sedang ketakutan. Kemudian dari pantulan itu, kulihat ada gerakan kecil tak jauh beberapa meter di atas kepala wanita itu.
Gerakan itu berasal dari jari-jari yang mencoba berpegangan pada lubang ventilasi yang berada di atas pintu kamar yang sengaja kusandari agar tak siapapun bisa membukanya. Aku tahu kalau kamar Panji tak punya kunci ataupun selop.
Itu adalah jari-jari yang kukenal. Jari-jari anak lelakiku yang berusia enam tahun. Jari-jari Panji.
"Mama, buka pintunya. Adek nangis tuh," ucap Panji sambil mengintip dari atas sana.
Bisa saja aku keluar sekarang, berjalan, mengendong Panji sambil menciumi pipinya karena sudah membantu dengan memberi tahu bahwa adiknya sedang membutuhkanku saat ini.
Tapi yang jadi masalahnya, aku baru sadar bahwa, sejak Panji dilahirkan, tak pernah kuajarkan dia memanggilku dengan sebutan "Mama."
➖➖➖➖➖
"Iya, Bu?"
"Tita. Cepat Keysha dari sana. Ada yang salah dengan Panji, anakmu."
"Ibu bilang apa? Suara ibu putus-putus."
"Lari dan bawa Keysha sekarang! Panji yang sekarang bukan anakmu! Hari melihat Panji memegang pisau dan merayap di tembok di hari itu. Yang dia lakukan selama ini hanya untuk melindungi kalian. Hari membawa ustad malam ini untuk menyembuhkannya."
❤️ Tamat ❤️
➖ Sarah Eszed ➖