Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
DOUBLE TROPHY #2



"Kenapa lama sekali? Kau tuli?" bentaknya.


"Ayah yang pulang jam segini, lagian biasanya bawa kunci," balasku.


Belum juga membalas ucapanku, dia segera berlari sambil memegang perutnya, melesat menuju toilet.


"Arrrrgghhhh ... sialan!" teriakannya dari kamar mandi.


Tiga hari setelahnya, suamiku tidak bisa berangkat kerja dan harus terbaring lemas di rumah karena mengeluarkan semua isi perutnya.


Bagaimana mau bekerja? Memegang handphone yang sering dilakukan saat sehat saja, sudah tak dia ingat lagi. Yang paling berharga baginya hanyalah toilet yang berada pada sudut kamar kami.


Tapi hari ini kondisinya sudah cukup sehat. Ya siapa lagi yang bisa merawatnya dengan baik kalau bukan aku?


"Hari ini mau makan apa, Yah?" tanyaku di depan pintu kamar.


"Apa yang kau masukkan dalam kue itu?" tanya suamiku. Tatapannya penuh curiga dari atas ranjang sambil memegang handphone.


"Oh itu ... hanya obat pencahar saja."


"Kenapa?" tanyanya dengan nada yang agak tinggi.


Aku berjalan perlahan maju ke arah tempatnya sedang berbaring. Ternyata dia tak sadar bahwa aku sedang memegang pisau bekas mengiris bawang di dapur tadi.


Melihat itu, mimiknya berubah menjadi panik. Dengan jelas bisa kulihat dia meremas bantal dan bernapas agak berat dengan posisi yang sangat siaga, seperti sebentar lagi aku menerkamnya.


Sampai di pinggir ranjang aku tersenyum manis, naik dan berbaring di sampingnya. Kuelus lembut dadanya yang bidang itu, sambil membisikkan sesuatu pada telinganya.


"Jika kau berhubungan lagi dengan wanita itu, racun akan kau temui di makananmu, sayangku," jawabku lalu mengecup dalam pipinya mesra.


Dia hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa, dan aku tahu pasti Imel baru saja mengabarkan kalau dia juga hampir sekarat kehilangan cairan tubuh karena harus bolak-balik ke kamar mandi.


➖➖➖


Semua menjadi harmonis kembali. Tidak ada lagi wanita bernama Imel, yang sering mengirimkan pesan untuk suamiku di malam hari. Tidak ada lagi ritual 'ngopi' yang sering dilakukan tiap minggu. Yang tersisa hanyalah cerita keluarga bahagia.


Namun semuanya rusak setelah seseorang yang bernama Pak Ikhsan menelepon tengah malam. Tak ingin membangunkan suamku, aku mengangkat telpon itu, takut jika ada hal yang penting.


Hanya saja ucapan 'halo' dari Pak Ikhsan membuatku yakin bahwa dia bukanlah seorang pria melainkan seorang wanita. Saat bertanya dengan siapa aku berbicara, dia menjawab bahwa namanya adalah Mifta.


Tanpa banyak basa-basi, aku memutuskan sambungan dan membangunkan suamiku dengan amarah, karena aku tahu pasti bahwa nama lengkap Imel adalah Imelia Mifta Jannah.


Alif berkilah dengan alasan bahwa Ikhsan adalah pacar dari Imel, tapi aku merasa alasan itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang yang belum menikah, menelepon orang lain menggunakan nomor pacarnya di waktu hampir subuh seperti ini? Dan kenapa namanya diganti menjadi Pak Ikhsan?


Aku keluar dan masuk ke kamar Ifa setelah membanting pintu kamar kami, meninggalkan suamiku sendiri. Di sana, aku mencari akun facebook wanita itu menggunakan nama lengkapnya, dan benar ... aku menemukan sesuatu.


'Cincin dari kesayangan' adalah caption yang dituliskan pada status facebooknya beberapa hari lalu dengan gambar cincin emas yang tersemat di jari manis, sambil memegang tangan seorang pria yang aku kenal sebagai tangan suamiku.


Ingin menangis tapi sudah tak mampu lagi rasanya. Air mataku kering, terbakar oleh kobaran emosi.


Sudah ... tak akan lagi kuminta klarifikasi dari Alif mengenai status itu.


➖➖➖


Aku harus mengakhiri semua permasalahan ini untuk memperbaiki keretakan di dalam rumah tangga kami.


Lega kurasakan, karena perdamaian sebelumnya tidak membuatku berniat membuang semua koleksi obat tidur yang selalu bisa membantuku mengurangi insomia semenjak mengetahui hubungan mereka.


Dan karena perkelahian kami tadi subuh, Alif tidak kembali untuk pulang ke rumah malam ini. "Ah, di mana lagi dia kalau bukan berada di tempat wanita itu?" pikirku.


Walaupun dengan rasa berat harus meninggalkan Ifa sendiri di rumah, aku tetap berada di sini, di depan pintu belakang kontrakan lama suamiku. Mereka bisa saja memutar otak untuk membuat rencana perselingkuhan, tapi mereka lupa bahwa aku pernah menyimpan kunci serep pintu kontrakan ini. Cih! Sungguh bodoh.


Dengan mudah aku membuka pintu dengan perlahan dan berjalan tanpa suara seperti hantu yang sedang menari-nari di udara. Rasanya seluruh dunia sudah menyambutku untuk hari ini.


Rumah petak tiga dengan kamar di bagian tengah, tidak menyulitkanku melangkah lebih jauh untuk menemukan mereka yang sedang tertidur pulas, tanpa menyadari apa yang akan mereka alami.


Ini pertama kali aku melihat wanita itu secara langsung hanya dengan jarak berberapa meter, tanpa harus bersembunyi seperti yang sering kulakukan saat memata-matai suamiku di restoran cepat saji, tempat mereka bekerja.


Gaun merah tanpa lengan, dengan belahan seksi pada bagian dada, dan potongan gaun pendek, memperlihatkan kulit muda mulus terawat.


Hmmm ... warnanya gaunnya begitu pas dengan malam ini. Merah bertemu dengan merah, membuatku curiga. Mungkin sebenarnya tanpa sadar mereka memang dilahirkan untuk menyambut kehadiranku malam ini.


Di sebelahnya, suamiku yang tidur pulas, menggunakan kaus singlet putih dan celana kolor kotak-kotak pendek kesayangannya. Oh ... tampan sekali wajahnya. Nyaris tak tega aku melakukan rencanaku malam ini saat melihatnya tidur tak berdaya. Tapi tidak, sayang. Aku harus melakukan ini demi keluarga kecil kita yang sudah bercerai-berai.


Sebelum memulai aksi, kuseprotkan spray tidurku masing-masing lima kali pada permukaan wajah mereka, agar keduanya bisa terlelap lebih dalam. Aku tak mau salah satu dari mereka menjerit kesakitan, menggangguku yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan penting.


Tenang saja. Akan kubuat secepat dan serapi mungkin, spesial untuk kalian berdua. Akupun tak akan mungkin berlama-lama, sebab anakku menunggu Mamanya untuk pulang ke rumah.


➖➖➖


Aku duduk dengan tenang di teras rumah ditemani secangkir kopi dan toples acar, usai mempersiapkan segala kebutuhan Ifa untuk berangkat sekolah.


Sembari menyeruput kopi hangat dari cangkir kuning, handphoneku berbunyi dengan keterangan penelpon Ibu kontrakan.


"Ibu! Bu Ika," ucapnya panik tanpa mengucapkan salam.


"Iya, Bu. Ada apa?"


"Suami ibu dibawa ke rumah sakit. Semalam dia nginap di sini"


"Hah? Nginap di sana?"


"Eh ... anu ... iya, Bu. Tapi bukan itu yang terpenting. Dia dirampok, dan semua benda berharga yang ada di rumah itu hilang."


"Rampok? Alif tidak apa-apa, Bu?"


"Tidak, Bu. Tapi dia terluka. Banyak mengeluarkan darah. Saya susah menjelaskannya. Bagaimana kalau Ibu langsung menyusul saja ke sana?"


Setelah meng-iya-kan untuk segera berangkat, aku memutuskan sambungan telpon. Kuleha napas panjang dan tersenyum penuh kemenangan mengingat kejadian malam itu, saat memainkan pisau di tubuh mereka, terutama untuk wanita itu.


Jika dia tahu bahwa aku yang melakukannya, pasti dia akan berterima kasih karena sudah mencongkel sedikit demi sedikit daging yang menempel di pipinya dengan ukiran dengan sangat rapi dan jelas. Aku betul-betul memperlakukannya dengan hati-hati dan profesional.


Tadinya ingin kuukir 'AKU PELAKOR' di sana tapi tidak kulakukan sebab pelakor adalah singkatan dari PEREBUT LAKI ORANG. Tak pantas kunobatkan untuknya karena merebut artinya memaksa, sedangkan suamiku tidak merasa terpaksa untuk mendekatinya. Dia bukan pelakor.


Seandainya suatu saat kau berjalan dan menemukan seorang wanita yang memiliki bekas luka beraturan, membentuk kalimat 'AKU *******' pada kedua pipinya, maka bisa dipastikan bahwa kamu sudah melihat Imel, kesayangan suamiku.


Dan jika kau bertanya. "Apa yang terjadi dengan Alif?"


Kau akan menemukan jawabannya di dalam toples acar kosong yang sengaja kucuci bersih, untuk memasukkan tongkat sakti menggemaskan milik Alif, sebagai trohpy kemenangan untuk kenang-kenangan.


Benda itu cukup berjasa memberiku sepasang anak kembar yang rupawan. Dan aku rasa, suamiku pun hanya membutuhkan tangan, kaki, dan kepalanya untuk bekerja. Artinya kami tidak membutuhkannya lagi.


Tapi aku tak setega itu membiarkannya sendiri di dalam sana, karena sudah kusandingkan dengan jari yang masih tersemat cincin, hadiah istimewa dari suamiku untuk wanita keparat itu.


Tak perlu kubunuh karena kematian terlalu damai untuk mereka yang sudah mengusik hidupku. Lagipula, mereka terlihat begitu serasi mengambang dalam ruang sempit itu. Sudah kuisi dengan cairan agar tak tergeletak begitu menyedihkan.


Setelah puas memandangnya, kutaruh toples trophy berhargaku di tempat yang aman, dan bersiap berangkat menuju rumah sakit untuk merawat suamiku tercinta.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖