Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
NINA BOBO #2



HUAAAAAAAAAHHHH


Aku melompat terjatuh ke lantai disusul dengan lengkingan jeritan Fani yang menutup mata dengan kedua tangannya.


"Huahahaha. Cepat buka! Keburu pipis di celana gue." teriak Elsa dari luar.


"Dasar setan!" hardik Erix yang jantungnya hampir copot melihat Elsa yang menempelkan kedua telapak tangannya di jendela untuk mengagetkan kami.


Di depan, sudah ada Mbak Widya dan Elsa yang basah kuyup menunggu dibukakan pintu.


"Ngapain sih, kalian pake acara sembunyi-sembunyi segala?" ocehku


"Gak sembunyi, Dek. Tadi Mbak ke samping mencoba mengetuk jendela kamarmu agar cepat dibukain pintu karena kehujanan, tapi ternyata kamu gak ada di kamar," jawab Mbak Widya sambil meletakkan tasnya di atas sofa ruang tamu.


"Terus lo ngapain pake acara sembunyi. Elsa?" celetuk Fani yang baru keluar dari persembunyiannya di balik bahu Erix, menunjuk-nunjuk wajah Elsa.


"Siapa juga yang sembunyi? Aku tadi lihat Mbak Widya berdiri di depan pintu menunggu, katanya gak ada orang. Aku gedor gak ada suara dan orang yang jawab. Yo aku ngintip di jendela lah," bela Elsa.


"Kenapa sih, kalian gak bawa kunci?" ucap Erix lalu melengos masuk ke ruang TV.


"Ya kalo kami inget bawa kunci, ngapain juga kami ngetok, Eriiiiiix? Siapa juga yang mau megang-megang jendela yang penuh debu itu? Bisa jerawatan mukaku. Duh ... susah kalo gak ada Bibi. Bisa sakit aku hidup berdampingan dengan debu dan kuman," sambung Elsa mengikuti Erix.


Ini lah keluhan anak-anak kost tanpa Bibi yang selalu menemani. Jika saja Bibi tak pulang kampung untuk libur, dia tak akan membiarkan lampu taman itu berkedap-kedip menyeramkan, membukakan pintu secepat kilat, dan membasmi debu-debu yang melekat.


➖➖➖➖➖


"Teman?"


Kompak mereka bertanya saat kubilang bahwa ada teman yang akan menginap malam ini. Tidak heran juga, sih. Aku memang tak pernah membawa teman untuk berlama-lama mampir ke kost ini.


"Emang ada orang yang mau berteman sama kamu, Sar?" tanya Fani.


"Ho'oh. Manusia cuek bebek kaya kamu ini, gak bakal bisa punya temen kecuali kami, Sar. Itu pun karena kami terpaksa," sambung Erix.


"Edan kalian!" teriakku menarik selimut Elsa yang mereka gunakan untuk menutup kaki dari dinginnya cuaca malam.


"Selimut cantikku!" rengek Elsa.


"Aduh ... berantem terus kalian. Mending kita nonton aja." Mbak Widya menenangkan suasana.


"Film apa, Mbak?" tanya Fani mengunyah wortel dietnya.


"Film horor," jawab Mbak Widya.


"Eh lo tau, gak? Katanya ... kalo kita sedang nonton atau cerita hal-hal yang serem, makhluk halus yang ada di sekitar kita, suka ikut nimbrong loh." ucap Erix menakut-nakuti.


"Iya ... termasuk lo, makhluk halusnya," sahut Elsa kesal.


➖➖➖➖➖


Setengah jam film yang diputar Mbak Widya berjalan, berhasil membuat kami saling berpelukan ketakutan karena dihadapkan dengan adegan menyeramkan. Ditambah lampu ruang TV yang sengaja dimatikan Elsa dengan alasan agar bisa merasakan atmosfer yang lebih menegangkan, membuat aku menahan kencing dari tadi karena takut untuk pergi ke belakang sendirian.


TOK TOK


Kembali terdengar suara ketukan dari pintu depan. Pastinya itu bukan salah satu dari penghuni kost ini, karena kami lengkap berada di ruang TV ini.


"Itu pasti temanku," ujarku bercampur rasa lega, karena akan menyalakan lampu untuk menyambut tamu.


Aku mengintip dari lubang pintu. Di sana berdiri seorang wanita yang dulu kukenal. Walaupun tubuhnya lebih tinggi sekarang, tapi wajah manisnya tak bisa kulupakan.


"Ridaaaaaaaaaaaaaa." sambutku sambil memeluk tubuhnya yang tertutup jas hujan.


"Maaf agak telat, Sar. Hujannya deres banget. Aku pelan-pelan, takut jalanan licin," ucapnya saat aku melepaskan pelukannya.


"Tidak apa-apa. Mari masuk, di luar dingin," ajakku


Jas hujan Rida sengaja kutinggalkan di luar dan langsung mengajaknya ke ruang TV untuk berkenalan dengan penghuni kost lainnya. Setelah dia ikut duduk bersama, aku ke belakang membuat teh hangat untuknya dan yang lainnya, jika mereka juga mau.


Saat berjalan membawa beberapa cangkir kosong dan teko yang berisi penuh dengan teh hangat, aku menemukan bahwa lampu ruang TV dimatikan kembali. Entah siapa yang melakukannya.


'Gila saja anak-anak ini. Gak tau apa, kalau saat ini ada tamu?' batinku


Tak ingin ada keributan, aku cuek saja dan terus berjalan perlahan menuju ruangan itu, dengan cahaya yang hanya diperoleh dari layar TV beriringan backing sound mendebarkan dari film yang mereka tonton.


"Aku takut, Sar," ucap Rida berbisik sambil meremas tanganku.


"Tidak apa-apa. Di sini aman dan ramai," jawabku menenangkannya.


Aku lupa bahwa Rida memiliki phobia terhadap kegelapan. Tidak itu saja, dia juga tidak bisa dihadapkan dengan hal-hal seram. Dulu aku pernah melihat ibunya sibuk mengurus kepindahannya dari sekolah, karena Rida pingsan setelah teman-teman sekelasnya berkumpul membicarakan tentang hantu sekolah.


Tak ingin Rida merasa tak nyaman, aku segera berdiri dan mencoba menyalakan lampu. Tapi baru lima menit lampu itu menyala, tiba-tiba listrik yang berada di rumah ini menjadi padam.


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖