Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
BUKAN DARAH DAGING #1




Seperti mendengar suara teriakan seseorang, aku tersentak terbangun dari tidur. Kusempat duduk terdiam sebentar, memutar mata sambil menatap mengelilingi seluruh ruang gelap kamarku, berpikir bahwa itu ada suara tetangga atau hanya percikan mimpi saja.


Sunyi dan tak ada suara apapun. Ah … mungkin benar hanya mimpi. Kuperbaiki letak bantal dan kembali menarik selimut, mencoba kembali menutup mata, tapi ...


"Tolooooooooooooooong."


Teriakan bergema kecil seperti berada di ruangan tertutup rapat itu terdengar kembali dan membuatku terduduk berpikir, siapa yang berteriak minta tolong pada pukul 02:00 malam ini?


Sungguh berat kaki ini melangkah ke luar kamar untuk memastikan apa yang sudah terjadi. Pintu kamar ayah dan ibu yang dari tadi kuketuk tak kian terbuka, bahkan tak ada jawaban dari dalam. Takut terjadi sesuatu, kucoba membuka benda itu dengan perlahan dan mengintip dari celah kecil yang sudah kubuat. Benar, tak ada siapapun di sana. Perasaanku mulai tak karuan.


"Lepaskan akuuuuuuu."


Kembali suara itu terdengar, memecah kesunyian. Itu bukan suara ayah, bukan juga milik ibu, tapi aku yakin itu berasal dari dalam rumah ini.


"Mau kemana kau kelinci kecil?"


Ah! Kali ini suara ayahku yang terdengar, seperti berasal dari gudang bawah tanah. Ragu-ragu kulangkahkan kaki menuju ke sana, menuruni tangga lalu memutar knop pintu yang ternyata tak terkunci seperti biasanya.


Deg.


Mataku membelalak menyaksikan dua orang yang kukenal sebagai orang tuaku, sibuk bermain-main dengan pisau pada masing-masing tangan mereka.


Di hadapan keduanya, terbaring lemah seorang wanita tak kukenal dipenuhi dengan sayatan yang nyaris memperlihatkan organ-organ dalam tubuhnya, jikapun kukenal takkan mungkin segera kuketahui, karena terlalu banyak darah kental yang menempel pada kulit wajahnya.


Dengan napas tertahan, aku terjatuh lemas di samping pintu. Entah apa yang mereka lakukan pada wanita itu, tapi sepertinya bukan perlakuan yang menyenangkan. Menggunakan sisa tenaga yang ada, kucoba untuk berdiri bertumpu pada kedua kaki yang tadinya seperti kehilangan seluruh tulang-tulang untuk menyangga tubuhku.


"Cegah dia, Hendra!" teriak Ibu saat sadar akan keberadaanku dan mencoba berlari.


Brukkk


Aku terjatuh di anak tangga pertama saat Ayah mencengkram pergelangan kakiku. Tak ada yang bisa kulakukan selain berteriak dan meronta sekuat tenaga, tapi tak berguna. Rumah kami memiliki halaman besar yang sangat jauh dari tetangga, ditambah larut malam seperti ini, tak akan ada yang bisa mendengar teriakanku. Tidak saat semua orang sedang tertidur pulas.


Ayah menggendongku, diikuti ibu yang berjalan dibelakangnya setelah mengunci pintu gudang. Mereka memaksa dan mendudukkanku di kursi dapur. Dadaku sesak karena menangis dan ketakutan.


"Tenang, Nak. Kau akan terbiasa nanti." ucap Ibu mengelus pipiku. Bisa kurasakan darah wanita itu melekat di sana.


"Kalian sakit, butuh perawatan," lirihku, pilu.


"Sudahlah, Jihan. Tak ada yang salah di sini, jika kau menerimanya. Sudah berkali-kali kamu melihat kami seperti ini. Cukup abaikan seperti biasanya," ujar Ayah.


➖➖➖➖➖


Aku diadopsi oleh Hendra dan Gita sejak berusia lima tahun. Keduanya adalah sosok orang tua baik dan sangat hangat. Tapi keluarga kami memiliki rahasia kelam yang tidak diketahui oleh siapapun.


Dibesarkan oleh keluarga psikopat membuat hidupku sangat rumit. Aku bahkan tak berani mengajak teman-teman sekolah, hanya untuk bermain atau sekedar belajar kelompok. Kehidupan sosialku terganggu, hingga menjadikanku pendiam dan lebih memilih untuk mengurungkan diri di kamar.


Bagaimana bisa mereka membunuh orang-orang itu lalu bersikap biasa saja, sedangkan aku yang tidak melakukannya merasa sangat dihantui suara-suara korbannya setiap malam?


"Tiup lilinnya, sayang." Ibu mengagetkanku dari lamunan, dan tersenyum sangat manis.


Kutiup lilin berbentuk angka tujuh belas sambil memejamkan mata. Ayah dan Ibu lalu menghampiri dan mengecup pipiku bergantian.


"Tahun ini apa yang kau inginkan?" tanya Ayah.


"Ayolah. Remaja sepertimu harusnya memiliki banyak kemauan." Ibu menggodaku.


"Ada sih, tapi .... Ah, sudahlah." Aku tak berniat meneruskan topik dan mengalihkan pembicaraan dengan memasukkan buah cerry yang berada di atas kue, ke dalam mululutku.


"Apa itu, Nak?" Kini Ayah benar-benar penasaran. Ternyata dia sangat ingin tahu tentang apa yang berada di dalam kepalaku.


"Aku ingin kalian tidak melakukan kebiasaan kalian lagi dengan pisau dan ruang bawah tanah itu." Aku tertunduk dan meneteskan air mata.


Ayah menatap dalam wajah Ibu, dan memberi anggukan kecil lalu menyentuh tanganku. Ibu menggeser kursinya agar bisa lebih duduk lebih dekat, untuk mengelus lembut rambutku.


"Akan kami kabulkan, Nak," ucap Ibu yang membuatku tak percaya hingga meloncat berdiri dan memeluk keduanya.


Terima kasih banyak. Aku sungguh sayang kalian.


➖➖➖➖➖


Sengaja kuparkir motor di jalanan tanpa memasukkannya ke pagar. Bisa-bisanya aku keluar untuk menghadiri acara malam perpisahan sekolah, tanpa membawa dompet. Untung saja motorku belum sempat masuk ke pekarangan gedung, jika ya, siapa yang akan membayar uang parkirku? Dasar bodoh.


Sepertinya ada tamu. Kuyakin dari alas kaki yang tergeletak di teras, namun tak berasal dari penghuni rumah ini. Mungkin milik teman Ibu atau Ayah. Ah ... tak sempat aku memikirkan masalah siapa pemilik sendai itu. Kepulanganku hanya untuk mengambil dompet yang tertinggal di kamar.


Aku membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Dari jauh terlihat Ibu sedang duduk di kursi meja makan dan sempat menoleh saat aku masuk. Alisnya naik sebelah saat menatapku, pertanda saat ini dia sedang heran.


"Dompetku ketinggalan, Bu." Aku berlari kecil ke kamar, menyambar dompet lalu cepat-cepat keluar.


"Dapat?" Ibu bertanya dari ruang makan.


"Iya, Bu." jawabku dan berjalan maju mendekatinya, untuk menciumi tangannya untuk kedua kalinya. Tak pernah kubiasakan keluar rumah begitu saja tanpa berpamitan.


"Jangan!" Ibu berdiri dari duduknya, mencegahku masuk lebih dalam lagi, tapi terlambat.


Saat aku berdiri tepat di samping Ibu, di hadapanku terlihat seorang wanita dengan kemeja biru muda yang manis, sedang menggelepar mengeluarkan buih dari mulutnya, dengan ditemani Ayah yang duduk santai di sampingnya sambil meneguk teh hangat buatan Ibu.


Napasku sesak. Mereka berbohong dan masih melakukan rutinitas biasanya dengan cara yang berbeda.


"Kenapa? Bukankah kalian sudah berjanji?" Hangat air mata mengalir menghancurkan dandananku untuk ke pesta perpisahan.


"Sudah kami lakukan, Nak. Tak ada pisau, tak ada darah. Kami sudah berusaha keras untukmu," ujar Ayah mencoba mendekatiku.


➖➖➖➖➖


"Ada apa, Jihan?" Tari menawarkan handuk bersih.


"Tidak apa-apa. Hanya terjatuh, tadi." Kusambar handuk itu untuk menyeka luka yang masih berdarah pada betisku.


"Jangan bilang itu karena ulahnya." Tari curiga.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya, tidak apa-apa. Hanya luka kecil."


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖