
"Kenapa kau tak bisa menjaga Adikmu?" terdengar suara Mama.
Dia sedang menunggu Sisi selesai membersihkan tubuhnya yang berbau busuk terkena lemparan telur dari beberapa teman sekelasnya saat kami pulang dari bazar malam ini.
"Itu hanya telur, Ma. Tradisi kami saat ada yang berulang tahun," pembelaan dari Sisi sambil menatapku sedih.
"Tradisi macam apa itu? Abangmu kan ada di sana. Kalau dia punya otak, dia harusnya tau kau tidak boleh mandi malam. Nanti sakit."
Itulah Mama. Dia lebih menyayangi dan over protective terhadap Sisi, dengan alasan karena lemah. Mau aku tidak melakukan apapun, semua akan dihubung-hubungkan dan menjadi salahku.
Padahal hari ini juga ulang tahunku, tapi tak diperlakukan semanis Sisi. Tadi pagi saja, aku harus ikut meniup lilin di atas kue berwarna pink, warna kesukaan Sisi.
Mama tak pernah menganggap kehadiranku. Kembar Emas hanya sebutan orang-orang saja. Terkesan indah, selaras, serasi, tapi tak ada baiknya untukku. Bahkan aku berharap untuk tidak dilahirkan di keluarga ini.
➖➖➖➖➖
"Maafkan aku, Bang Riki," terdengar suara Sisi sedang berbicara balik pintuku yang berwarna abu-abu.
Aku diam saja tidak menjawab, dia tetap teguh tak beranjak dari sana.
"Aku gak akan pergi sebelum Abang maafin," suaranya seperti sedang menahan tangis.
Tak tega membiarkannya di sana, aku mulai berdiri melangkah menuju depan pintu kamar untuk membiarkannya masuk. Belum juga pintunya terbuka, terdengar suara Mama.
"Masuk ke kamarmu. Tak perlu kau dekati Abangmu itu. Dia memang tidak bisa berpikir, mana yang baik dan mana yang tidak. Entah apa yang berada dalam isi kepalanya."
Sisi sepertinya menurut, karena setelah itu aku mendenger suara langkah menjauh pergi. Dan sekali lagi Mama menyakitiku karena anak itu.
➖➖➖➖
"Sudahlah. Kau nginap saja malam minggu ini di rumahku. Bisa gila kau lama-lama mengurus adikmu itu," ajak Edi setelah kuceritakan kejadian semalam.
"Orang tuamu mengizinkan?" tanyaku.
"Ayah dan Ibu akan keluar kota. Kita main game semalaman," jawabnya dengan penuh semangat.
"Yang betul, ah?"
"Iya lah. Pasti mereka senang jika ada yang menemani. Daripada kuajak Bella pacarku, mereka lebih setuju jika kau yang kuajak," hasut Edi sambil menaik-naikkan alisnya.
Sehabis pulang sekolah, aku langsung meminta izin untuk pergi ke rumah Edi. Mama meng-iya-kan tanpa bertanya ini itu. Setelah memasukkan beberapa pakaian, aku turun ke bawah untuk berpamitan.
"Antar dulu Sisi. Dia mau belajar kelompok," ucap Mama saat melihatku. Dipikirnya tukang ojek pribadi anak kesayangannya apa?
"Belajar kelompok macam apa malam minggu begini?" sahutku, kesal
"Biarkan saja. Itu namanya pinter, punya otak, daripada kamu yang keluyuran," bela Mama.
Keluyuran katanya? Aku gak kemana-mana. Hanya nginep di rumah Edi. Itupun sudah izin sebelumnya. Hatiku berontak, tapi hanya diam saja dan berjalan menjauh.
"Cepatlah. Aku tunggu di luar, Tuan Putri," saat berjalan melewati Sisi.
"Tidak usah, Bang. Nanti aku pesan Ojek Online saja,"
"Telat! Aku sudah dimaki. Kau mau siap-siap sekarang, atau kutinggal seka ...?"
"Ehemmm," sebelum melanjutkan kalimatku, mama sudah berdeham dari belakang sambil bertolak pinggang.
Aku beralih keluar rumah menunggu di atas motor. Dari sana terdengar suara Mama sedang bertengkar dengan Sisi. Pasti karena dia sedang membelaku saat ini.
Sebenarnya Sisi adalah anak yang baik. Dia sangat menyayangiku. Kami sangat akrab dulu jauh sebelum hari di mana Papa harus pergi untuk selama-lamanya.
Mungkin karena kejadian itu juga yang membuat Mama membenciku hingga saat ini. Jika saja ... saat itu aku yang masih duduk di kelas sembilan langsung keluar saat dijemput Papa pulang sekolah, dia tak akan bertemu para perampok yang mencoba mengambil paksa kunci mobilnya.
Aku hanya mendapatkan Sisi yang penuh dengan noda darah meraung di pinggir jalan memeluk Papa yang harus menerima tujuh tusukan pada tubuhnya, setelah mendengar salah satu teman berteriak "Ada kecelakaan depan sekolah" di kantin, tempat menghabiskan jus jerukku.
Satu bulan penuh juga, aku menangis di kamarnya untuk meminta maaf. Bahkan aku membawa cutter dan menaruh di tangannya, meminta dia membuat luka di wajahku atau di tubuhku, agar dia merasa adil, agar dia tahu bahwa aku juga terluka sepertinya. Tapi dia membuang cutter itu dan mengucapkan kalimat pertamanya. "Tidak apa-apa, Bang," sambil memelukku yang menciumi lututnya.
Sayangnya Mama tidak seperti Sisi. Dia tidak pernah menerimaku sepenuhnya. Dipikirannya, mungkin karena aku, dia harus menjadi seorang janda dan membesarkan kami seorang diri. Beruntung Papa memiliki beberapa usaha saat masih hidup sehingga Mama tidak perlu takut kekurangan.
"Tidak punya otak," adalah kalimat yang sering dilontarkannya padaku.
Iya benar, aku yang salah. Bunuh aku, atau racuni aku. Tapi tidak dengan membuatku merasa menjadi manusia yang paling tidak berguna untuk seumur hidupku.
Sisi keluar rumah membuyarkan pikiranku tentang kejadian dua tahun lalu. Matanya memerah, seperti habis menangis. Aku tak membahas apapun, hanya menstarter motor lalu mengantarnya menuju alamat tempat mereka akan belajar kelompok.
➖➖➖➖
"Oh iya. Sebelum berangkat, kita pulang dulu ke rumah. Handphoneku tertinggal ternyata," jelasku. Edi hanya mengangguk sambil membereskan gelas bekas softdrink semalam yang berada di atas meja.
Siang ini kita berencana ke bioskop. Tentunya kami akan menjemput Bella dulu, teman kencan Edi yang juga satu kelas dengannya.
"Gak usah malem, sayang. Nanti aku kebawa mimpi," ucapnya centil, menirukan gaya Bella.
Film horor adalah film yang akan dipilihnya untuk kami tonton nanti, dengan harapan bisa dipeluk-peluk Bella saat dia ketakutan melihat adegan seram.
"Akan kubiarkan dia duduk dekat dadaku sebelah kiri agar bisa mendengarkan detak jantungku." Dia bersajak sambil memutar-mutarkan serbet ke udara.
Aku hanya tertawa menggeleng melihat tingkahnya sambil membantunya membereskan sisa-sisa perang Junk Food yang kami pesan menggunakan aplikasi ojek online semalam.
Sebenarnya aku tidak ingin ikut. Aku tetap menolak walau dijanjikannya satu es cream Baskin Robbins dengan harga yang paling mahal jika aku bersedia. Tapi setelah dia mengingatkan, daripada aku diomeli lagi di rumah, aku langsung menyetujuinya.
➖➖➖➖
Sesampainya di teras, aku membuka sepatu diikuti oleh Edi dari belakang. Saat aku membuka pintu, dari dalam sudah berdiri Mama yang menarik bajuku paksa.
PLAAAKKK‼️
Tamparan keras Mama mendarat di pipiku.
"Dari mana saja kau. Ditelpon, sms, wa, tidak dijawab?"
Aku terdiam menunduk sambil memegang pipiku yang nyut-nyutan. Sakit rasanya, tapi tak sesakit hatiku, sebab dia sudah mempermalukan aku dihadapan orang lain.
Edi sepertinya sangat paham. "Saya tunggu di luar saja, Ki, Tante," lalu mundur menutup pintu.
"Kenapa kau tidak menggantar Adikmu sampai ke depan rumah temannya? Dia hampir saja dilecehkan pemuda-pemuda mabuk di sana," bentak Mama.
Aku masih terdiam, tidak paham dengan ucapannya.
"Tidak, Ma. Mereka hanya mengodaku saja. Aku panik dan menangis. Fina bingung dan menelpon Mama," Sisi berlari mendekat lalu merangkul tanganku.
"Ya wajar jika anak gadis akan menangis jika dihadapkan dengan kondisi itu."
"Kau saja yang tidak punya otak! Tidak bisa bertanggung jawab mengantarkan adikmu," ucap Mam sambil menoyor kepalaku.
Tak terima diperlakukan seperti itu, kudorong Sisi hingga terjatuh, sebagai pelampiasan.
"Kau! Kau penyebab semua ini. Terlalu cengeng! Belum diapa-apakan sudah menangis." Kutunjuk-tunjuk muka Sisi penuh amarah.
Mama geram melihatku menyudutkan anak kesayangannya. Dia mengambil bantal sofa ruang tamu yang akhirnya dilemparkan ke kepalaku.
"Jika tidak ada kau. Papamu masih hidup sampai sekarang. Kau penyebab kematiannya. Kau pembunuh!" tuduhan Mama membuatku berhenti menatap Sisi.
Aku terdiam, membalikkan tubuhku dan menatap sinis wajahnya. Lalu kutinggalkan mereka dan berlari menuju dapur mencari sesuatu.
"Mau apa kau?" bentak Mama.
❤️ Bersambung ❤️
➖ Sarah Eszed ➖