Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
PERTOLONGAN ANAKKU #2




Pantas saja aku tak menemukannya tadi saat berniat untuk memberi kabar untuk guru Andi bahwa dia bisa masuk sekolah. Bersyukur deringan itu berhenti tepat saat Mas Farhan masuk kembali ke dalam rumah.


"Mana? Mana benda itu?" Sepertinya dia mencari sesuatu yang sangat penting namun tak juga ditemukannya.


Dia masuk ke dalam kamar, mengambil kopernya lalu beranjak pergi dengan mobilnya. Lega rasanya saat mendengar suara mesin mobil itu menghilang menjauh dari pekarangan rumah kami.


Aku menatap Andi. Ternyata dia benar-bener tertidur. Aku keluar dari kamar untuk memastikan bahwa kondisi sudah aman. Ya ... Mas Farhan memang sudah pergi.


"Bukuku ketinggalan, aku melihatnya. Sudah kulaporkan pada Bu guru, tapi mereka menungguku di sekolah." sayu-sayu kudengar suara Andi di dalam kamar seperti sedang berbicara.


"Bukuku ketinggalan, aku melihatnya. Sudah kulaporkan pada Bu guru, tapi mereka menungguku di sekolah."


Aku segera membuka pintu. Tak kulihat siapapun di dalam kamar selain Andi. Ternyata dia sedang ngigau. Sepertinya dia sedang bermimpi buruk.


Aku membelai rambutnya agar dia lebih tenang dan berhenti mengigau, lalu aku meninggalkannya setelah meraba untuk mencari handphoneku yang entah kapan berada di bawah tempat tidur.


Setelah dapat, aku mengeceknya. Terdapat lima panggilan tidak terjawab dari guru Andi. Dua kemarin, dan tiga hari ini. Astaga... Ternyata selama ini aku tidak mendengarnya.


Saat aku ingin memencet tombol Telepon Kembali, perhatianku teralihkan dengan judul berita MAYAT DALAM DANAU yang ada di televisi. Aku mengambil remote dan membesarkan volumenya.


Ditemukan sesosok mayat anak lelaki berusia 10-11 tahun yang belum diketahui identitasnya, dengan menggunakan celana seragam sekolah. Terdapat satu luka tusuk yang dalam pada bagian punggungnya, dan diperkirakan kematiannya sekitar 20 jam yang lalu


Sebagai seorang Ibu yang melihat berita tersebut, hatiku sangat pilu. Bagaimana perasaan keluarganya jika mendapatkan anaknya dengan kondisi seperti itu? Jika menimpaku, aku pasti mati berdiri, mengingat hanya Andi satu-satunya harta yang aku miliki.


Ternyata belum sampai di situ saja. Beberapa menit kemudian, diberitakan kembali bahwa sekitar 20 meter dari tempat kejadian ditemukan seragam yang penuh dengan lumpur, yang dicurigai menjadi milik seragam anak tersebut. Namun saat dia menyebut asal sekolah itu, aku merasa seperti tersambar petir.


SD ESZED, sama tempa kutitipkan anakku untuk menuntut ilmu. Aku berbalik, mencari sosok Andi yang kutinggalkan di kamar, tapi dia tidak ada. Kutelusuri tiap ruangan, tak juga kutemukan. Namun akhirnya aku merasa lega setelah melihatnya duduk di samping jendela memandang gudang belakang di dapur kami.


Entah mengapa aku begitu resah setelah melihat berita yang ada di televisi itu? Aku duduk kembali untuk mengikuti alur beritanya. Informasi terbaru, bahwa ditemukan tas sekolah berwarna biru kotak-kotak yang sempat terekam oleh kamera.


Sepertinya nyawaku nyaris loncat sampai ke kerongkongan saking kagetnya. Itu tas Andi. Aku membelikannya bulan lalu tepat saat dia berulang tahun. Apa hubungannya Andi dengan anak yang malang itu?


Bergegas aku masuk ke kamar Andi mencari tas itu. Tas biru kotak kesayangannya, tapi tidak kutemukan. Padahal kemarin aku melihat dia masih menggunakan tas itu saat kehujanan. Menyerah dengan tas itu, aku berlari menuju ruang cucian untuk mencari seragam kotor yang digunakan Andi kemarin. Hatiku gelisah, jantungku berdebar, keringatku bercucuran, napasku sesak, karena semua yang kucari tidak kutemukan.


Aku berdiri menuju ruang TV tempat kuletakkan HPku. Akan kutelpon ke sekolah untuk menanyakan kepastian berita yang barusan kutonton.


Tapi aku kaget setengah mati, saat melihat Andi duduk depan televisi dengan menggunakan celana seragam merah, dengan tubuh basah kuyup. Aku merinding hingga tubuhku bergetar sendiri.


Sadar atas kedatanganku dia memutar lehernya untuk berhadapan denganku. Wajahnya pucat, kantung matanya dalam, bibirnya biru namun tersenyum saat bertatap mata denganku.


"Akhirnya mereka sudah menemukanku, Ibu. Bukuku ketinggalan, aku melihatnya. Sudah kulaporkan pada Bu guru, tapi mereka menungguku di sekolah."


Jeritan histeris keluar dari mulutku, seperti sudah mendapat kepastian bahwa anak yang ditemukan itu adalah mayat anakku, Andi. Dia berdiri mencoba menghampiriku. Aku panik dan mundur, terjatuh lemas, tak mampu berdiri. Aku hanya menyeret mundur tubuhku sedikit demi sedikit di lantai. Antara takut, bingung dan sedih. Tak ada kalimat yang mampu menggambarkan perasaanku.


"Aku tak ingin Ibu sendiri. Sebentar lagi mereka akan datang. Ayo kita pergi sama-sama, Bu." Air mata jatuh mengalir membasahi pipinya.


Pikiranku kusut, entah ini nyata atau tidak, atau tanda-tanda kegilaan karena tekanan yang sering aku dapatkan dari suamiku? Kepalaku sakit seperti mau meledak, penglihatanku buram dan semua terasa gelap.


➖➖➖➖


"Ayo, Bu. Ambil tongkat kastiku di gudang. Cuaca sudah cerah," sambil menarik-narik bajuku.


Aku berdiri mengambil kunci gudang yang digantung di belakang pintu. Andi mengikutiku dari belakang. Setelah kubuka pintu gudang, tercium aroma khas yang tidak sedap dari dalam.


"Besok-besok jangan lagi kau letakkan tongkat kastimu di sini. Ibu tak pernah kuat masuk ke dalam gudang ini. Baunya busuk dan amis," ucapan kutujukan kepada Andi.


Dia tertawa genit seakan meledekku. "Cepatlah, Bu. Sebentar lagi aku akan berangkat. Carilah tongkat kastiku."


Terdengar dari jauh ada suara sirine.


"Nah itu. Mereka datang, Bu."


Aku bingung dan membalikkan tubuh untuk melihat Andi. Baju yang dikenakan tadi berubah menjadi seragam sekolah dengan kondisi yang sama dengan apa yang aku mimpikan.


"Bukuku ketinggalan, aku melihatnya. Sudah kulaporkan pada Bu guru, tapi mereka menungguku di sekolah."


Terkejut mendengar dia mengucapkankalimat itu, membuat aku berjalan mundur perlahan, dan harus terjatuh bersandar ditumpukan kain karena menabrak sesuatu.


"Mundur. Ini tidak nyata," jeritku


"Aku memang tak nyata, Bu. Semua urusan dunia nyata menjadi urusan mereka," sambil menunjuk mobil polisi yang parkir di depan pagar halaman kami.


"Lalu apa urusan kita di sini?" teriakku.


Dia tidak berkata sepatah katapun. Tangannya terangkat sambil menunjuk ke arahku. Aku menoleh kiri dan kanan, tak ada apapun. Hanya barang-barang bekas yang tidak pernah kami gunakan lagi.


Namun setelah aku berbalik ke belakang, betapa kagetnya aku. Kulihat sosok berambut panjang yang tak jelas wajahnya karena dibajiri darah yang sudah mulai mengering. Matanya melotot seakan-akan ikut menatapku.


Aku terdiam kaget. Kututup mulutku dengan tanganku sendiri dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun, namun aku yakin betul bahwa hatiku berucap bahwa


"DIA ADALAH AKU"


➖➖➖➖


***Bukuku ketinggalan dan tak sengaja melihatnya memukuli Ibu menggunakan tongkat kastiku. Aku mengambilnya. Kumasukkan ke dalam tas sekolahku untuk kulaporkan pada Bu guru, tapi dia tak percaya.


Ayah menungguku di depan sekolah, dan menarikku masuk ke dalam mobil. Di sana ada wanita yang fotonya sering muncul saat handphone ayah berdering.


Tiba-tiba ada rasa nyeri yang masuk ke dalam rongga dadaku dari belakang. Setelah itu aku tak merasakan apapun***.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖