Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
MENUJU DAMAI




"Elsa! Lihat kelakuan Kian!" teriak Kak Yuli dari ruang tengah.


Entah apa lagi yang dilakukan Kian pagi ini? Aku segera berlari dari kamar setelah mengancing seragam sekolah untuk mendatangi sumber suara itu. Tak lama kemudian Mbak Elsa menyusul dengan memegang bawang dan pisau di tangannya dengan wajah yang menahan rasa amarah dan malu.


Bagaimana tidak? Di sana terlihat Kian yang duduk meringkuk di sudut ruangan dengan ketakutan dan memegang kerayon merah di tangannya. Pada tembok berwarna kelabu di ruang tengah, terdapat coretan tangan yang tidak jelas bentuknya seperti apa, tapi bukan itu intinya permasalahannya. Yang menjadi masalah adalah, dia sudah mencoret-coret tembok dengan kerayon yang di genggamnya.


Bukan kali ini Kian membuat masalah. Masih kuingat minggu lalu dia memotong celana jeans Kak Yuli dengan gunting yang entah dari mana di dapatkan, kali ini tembok rumah yang menjadi sasarannya.


Sebenarnya agak susah untuk mencari siapa yang salah. Memang betul, bahwa apa yang Kian lakukan cukup membuat jengkel penghuni rumah ini. Hanya saja di usianya yang masih tiga tahun, dia tak cukup paham untuk mengerti, apa yang harus dan yang tidak. Jika sudah seperti ini, alih-alih kesalahan seakan terlimpa pada Mbak Elsa, sebagai ibunya.


Sebelum kedatangan Mbak Elsa, aku sudah tinggal bersama Mas Pandu dan istrinya di rumah ini setelah kedua orang tua kami sudah tiada. Mas Pandu berjanji kepada keduanya untuk tetap menyekolahkanku hingga tamat.


Hanya saja kemalangan menimpa Mbak Elsa, saudari kami. Saat kandungannya berusia tujuh bulan, pria yang menjadi suaminya tiba-tiba pergi dan meninggalkannya dalam keadaan hamil tua dan harus melahirkan Kian tanpa sosok seorang ayah.


Karena merasa iba, Mas Pandu meminta Mbak Elsa untuk ikut tinggal di sini, itupun setelah menimbang saran yang diberikan oleh Kak Yuli, karena belum diberikan karunia seorang anak. Semuanya terasa lengkap setelah kelahiran Kian mengisi kekosongan hati kedua pasangan itu.


Malangnya tak ada yang mampu melawan takdir. Mas Pandu harus berpulang disebabkan kecelakaan kerja, setahun yang lalu. Masih bisa kuingat, bagaimana terpuruknya Kak Yuli saat separuh belahan jiwanya tak lagi berada di antara kami. Dia bahkan harus masuk rumah sakit setelah pemakaman Mas Pandu karena menolak makan selama seminggu.


Namun Kak Yuli segera bangkit. Dia memengang janji dari Mas Pandu untuk tetap menyekolahkanku, mencari kerja dan memenuhi segala kebutuhan kami selama setahun belakangan ini. Walaupun tak ada lagi jasa asisten rumah tangga yang disewa untuk membantu mengurus rumah ini, tapi Kak Yuli mampu membayar segala kebutuhanku, Mbak Elsa, bahkan Kian.


Bukannya tak tahu diri. Tanpa asisten rumah tangga, kami bahu membahu ikut serta menjaga segala kebersihan dengan semampu kami agar Kak Yuli tetap bisa fokus mencari nafkah. Semuanya kami lakukan bersama-sama.


Waktu berjalan, hingga Kian menjadi lebih besar, begitupun dengan rasa ingin tahunya, hingga terlihat agak sulit untuk dikendalikan. Tidak bisa kubayangkan bagaimana repotnya Mbak Elsa saat harus membantu mengurus rumah sendiri, serta direpotkan oleh rengekan Kian tentang ini dan itu. Tak jarang Kian hilang dari pantauannya dan membuat kekacauan seperti yang dilakukannya hari ini.


"Masuk kamar!" Mbak Elsa menarik paksa tangan kecil Kian hingga membuatnya menangis.


Dari luar, terdengar tagisan anak itu pilu memohon ampun pada ibunya. Kami yang mendengar hanya bisa bubar, kemudian sibuk mempersiapkan diri untuk tujuan masing-masing, dan mencoba mengabaikan kejadian hari ini.


➖➖➖➖➖


Tidak seperti hari minggu biasanya. Pagi ini, Kak Yuli sedang sibuk memainkan jari di atas tuts laptopnya ditemani secangkir teh hangat. Sepertinya ada perkerjaan yang belum sempat diselesaikan dan harus dibawa ke rumah.


Aku sendiri berada di dapur membantu Mbak Elsa yang mempersiapkan beberapa bahan makanan untuk disantap bersama-sama. Sesekali kami melirik Kian yang serius dengan mobil-mobilan baru yang dibelikan oleh Kak Yuli kemari.


Ini yang kusukai darinya. Walaupun kejadian kerayon merah sempat mengawali harinya dengan rasa kesal, tapi Kak Yuli tak pernah menaruh rasa dendam pada Kian ataupun Mbak Elsa. Seperti itulah keluarga, sedikit masalah takkan pernah menjadi hal yang besar.


Semua bumbu telah siap dan ditumis oleh Mbak Elsa hingga mengeluarkan bau yang sedap. Saking wanginya, hingga membuat Kak Yuli menyempatkan diri untuk melihat sebentar ke dapur.


"Cacing-cacing di perutku tiba-tiba berontak karena aroma itu, Sa," canda Kak Yuli menengok wajan.


"Cepatlah selesaikan pekerjaanmu, Kak. Kalau tidak, tak akan kami sisakan." Mbak Elsa menggoda Kak Yuli.


"Jahat kalian." Kak Yuli mencubit pinggangku.


"Duh, kok aku yang jadi sasaran?" Aku perotes.


"Iya dong, Rima. Karena kamu yang paling dekat dari jangkauanku," ucap Kak Yuli menjulurkan lidahnya.


Sontak kami bertiga tertawa, menikmati kebersamaan dan kehangatan keluarga di hari minggu ini. Ah ... seandainya saja Mas Pandu masih hidup, pasti akan terasa lebih lengkap.


Tiba-tiba ....


PRAAAAAAANG!


Suara seperti benda pecah membuat kami terdiam dan memandang satu sama lain. Seakan diberikan aba-aba, kami mengalihkan pandangan ke tempat Kian yang tadinya sedang sibuk dengan mainnya. Oh tidak! Dia tidak ada di sana.


"Kian!" Mbak Elsa berteriak.


Bergegas kami berlari mencari Kian ke seluruh ruangan, namun tak menemukannya di manapun. Dan ....


"Aaaaahhh!"


Aku dan Mbak Elsa berlari mendekati suara Kak Yuli yang berteriak dari ruang tamu. Di lantai sudah berserakan beling bekas cangkir teh yang diminum Kak Yuli, bersama Kian yang duduk memandang kami di sampingnya.


Wajah Kak Yuli terlihat sangat shock hingga tak mampu berkata-kata. Dia menutup mulut dengan air mata yang berlinang deras di pipinya. Begitupun dengan wajah Mbak Elsa yang seakan tak percaya dengan apa yang sudah dipandanginya saat ini, yaitu laptop Kak Yuli.


Benda itu tergeletak dan terkena genangan air teh hingga tidak menyala seperti seharusnya. Walaupun Kak Yuli mencoba berkali-kali memencet tombol powernya, tapi percuma, laptop itu tidak menyala sama sekali.


"Kau!" Pandangan Kak Yuli beralih ke Kian.


Matanya merah, penuh dengan amarah seakan ingin menerkam Kian saat itu juga. Kian yang tak mengerti tentang apa yang sudah diperbuatnya hanya bisa mundur dengan meremas jemarinya kemudian menangis.


BRAAAAK!


Kak Yuli menghantam meja kaca yang berada di ruang tamu hingga retak, kemudian mengambil laptop itu, lalu membanting pintu masuk ke kamar dan meraung sekuat tenaga dari dalam.


"Aku tidak kuat seperti ini, Tuhaaaaaaan!" Raungan Kak Yuli menggema hingga mengisi seluruh ruangan yang berada di rumah ini.


Takut-takut kupandangi wajah Mbak Elsa yang merah padam, memandang sinis, Kian. Perlahan aku mendekati untuk menenangkan, tapi percuma. Aura kelam sudah menyelimuti dirinya.


PLAK!


Tamparan keras mendarat di pipi anak kecil itu. Air mataku bahkan terjatuh saat melihat dia sempat terdiam kaget, melihat respon ibunya yang lebih dari biasanya.


"Kau benar-benar anak setan!" bentak Mbak Elsa menjambak rambut tipis Kian hingga membuatnya mendongak dan merintih lebih kencang lagi.


"Ampun, Bu. Ampun .... " Kian menjerit berusaha meraih tangan ibunya yang berada di atas kepalanya.


"Berhenti, Mbak. Dia masih kecil." Aku berusaha melepaskan tubuh Kian dari cengkraman Mbak Elsa, tapi dia seperti memiliki kekuatan yang berbeda. Tubuhku justru hempaskan hingga terjatuh.


Panik.


Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku selain kata, panik. Aku mencoba berdiri dan menggedor dengan paksa kamar Kak Yuli untuk meminta pertolongannya. Walau kutahu bahwa ini jelas tidak berguna sama sekali, tapi tak ada hal lain yang bisa kulakukan. Mbak Elsa saat ini memukuli tubuh kecil Kian yang meringkuk tak berdaya.


BUK BUK


"Kak Yuli, tolong Kian!" teriakku.


Tak ada jawaban dari dari dalam. Kucoba sekali lagi ....


BUK BUK


"Diam dan pergilah kalian!" Kak Yuli membentak dari dalam.


Sepertinya percuma, dia masih terlalu marah untuk membuka pintunya untuk kami. Aku kembali ke tempat Mbak Elsa yang melampiaskan amarahnya pada Kian. Kudorong tubuhnya hingga terjatuh dan menghentikan aksinya. Kupeluk tubuh kecil Kian yang menangis pilu.


"Minggir kau, RIma. Aku sedang mengajar anakku." Mbak Elsa mencoba mendekat tapi aku segera berdiri dan menggendong Kian.


"Tidak, Mbak. Bukan begini caranya," ucapku dengan air mata yang tak henti terurai.


➖➖➖➖➖


Semuanya kembali menjadi tenang, dan bisa dibilang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kak Yuli sudah kembali menerima kami, walaupun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki laptopnya, aku kembali ke sekolah dan disibukkan oleh beberapa tugas, dan Mbak Elsa bertugas mengurus rumah beserta seluruh isinya, termasuk Kian.


Saat pulang sekolah, Mbak Elsa duduk di teras memperhatikan Kian yang sedang bermain kapal-kapalan. Melihat keduanya aku ikut duduk menikmati kebersamaan keluarga ini. Tiba-tiba Kian berlari kencang dari luar tanpa membuka alas kakinya yang kotor akibat lumpur.


Aku tersentak mengejarnya agar tidak mengotori lantai atau menabrak benda apapun sehingga menjadi pecah dan berantakan. Hanya saja apa yang kudapatkan tidak sesuai dengan kekhawatiranku. Lantai yang kupikir tadinya akan kotor, justru tak bernoda sama sekali. Di hadapanku terlihat Kian yang sedang meloncat-loncat di atas sofa dengan kaki yang bersih.


Mbak Elsa mengagetkanku dengan sentuhan lembut pada pundakku. Dia tersenyum seakan hal yang kulihat adalah sesuatu yang normal saja.


"Pasti kau lupa, Risa?" ucap Mbak Elsa.


Oh iya, betul. Kian memang sedang berloncat-loncatan riang gembira, namun itu hanya jiwanya, karena raganya sudah kami tidurkan di halaman belakang rumah seminggu yang lalu. Tak akan ada satupun benda yang bisa dihancurkannya saat ini.


➖➖➖➖➖


"Bagaimana, Mbak?" tanyaku pada Mbak Elsa.


Dia hanya terduduk lemas melihat tangannya dengan rasa yang sangat bersalah karena sudah berbuat kasar terhadap anaknya sendiri.


Diam.


Tak ada respon lain setelah dia mendengarkan saranku, dia hanya terdiam dan meneteskan air mata. Aku sendiri sudah tidak memeluk Kian sekuat tadi, walaupun dia masih merengek, tapi tidak sehisteris sebelumnya.


Kuhela napas yang panjang. Bisa kumaklumi jika Mbak Elsa tidak ingin mengikuti saranku yang terkesan tidak masuk akal. Ibu mana yang akan menyakiti anaknya sendiri dengan sengaja? Benar-benar saran terbodoh.


Aku berdiri, melepaskan pelukan Kian dan dia berpindah ke pangkuan hangat ibunya. Jelas terlihat di sana dia merasa lebih tenang dan lebih baik. Mbak Elsa menciumi anaknya dan meminta maaf atas perbuatannya hari ini.


Tak ada yang bisa kulakukan lagi di sini, sebaiknya aku pergi ke kamarku dan mencari kesibukan agar bisa melupakan kejadian hari ini. Namun, baru saja saat hendak berbelok dan membuka pintu kamar, Mbak Elsa mulai angkat bicara.


"Ba-bagaimana jika Kian tak muncul-muncul lagi setelah kita tidurkan, Rima?"


Aku berbalik menatap wajahnya. Sepertinya dia mempertimbangkan rencana yang sudah kuutarakan padanya.


Benar juga kata Mbak Elsa. Bagaimana jika Kian benar-benar tak akan muncul setelah itu? Tak terlintas dalam benakku sebelumnya.


Kududuk di sampingnya dan menundukkan kepala, memutar otak untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya. Tiba-tiba pikiran datang dan menghampiri seperti bisikan yang menyejukkan. Dengan bangga kuangkat kepalaku dan memandang wajah Mbak Elsa.


"Aku tahu, Mbak," ucapku padanya.


"Apa itu, Rima?" Mbak Elsa menatapku dengan serius.


Aku mengangkat tangan dan memegang lembut lengannya, seraya berkata, "Bagaimana jika kita mencoba hal itu pada Kak Yuli dulu?"


Mbak Elsa menatapku dengan senyum menyeringai, lalu menjawab, "Aku setuju."


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖