Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
MAMA #2



Dan ....


"Aaaahhh!" Panji histeris.


Waktu seakan terhenti. Mataku yang tadinya tertutup rapat sontak terbuka setelah mendengar bunyi seperti besi yang membentur lantai yang berada ruangan ini. Itu adalah suara pisau yang dilempar Mas Hari yang tadinya berada dalam genggamannya.


"Maaf, sayang. Aku minta maaf."


Dengan gelisah, aku mengecek seluruh tubuh Panji, tak ada sedikitpun luka di sana. Hanya saja diriku sedikit heran dengan pandangan Mas Hari, seakan ada sesuatu yang salah. Hingga akhirnya kutersadar saat merasakan sedikit perih pada lengan kananku yang tergores dan meneteskan darah.


➖➖➖➖➖


Aku tak pernah percaya dengan makhluk halus ataupun hal-hal mistis seperti kerasukan. Tapi setelah kejadian aneh yang menimpa suamiku, rasa itu mulai menggangguku. Sebagai suami istri, kami masih tetap berkomunikasi seperti biasanya, hanya saja tidak seperti sedia kala.


Mas Hari tak seperti orang yang kukenal. Kulihat dia lebih sering melamun dan tidur di ruang tamu, bahkan terjaga hingga subuh. Apa yang dia lakukan? Entahlah ....


Tiba-tiba dia menjadi penikmat cerita horor dan misteri dengan membeli banyak buku yang berhubungan dengan dunia lain, penampakan makhluk halus, atau menonton video-video yang menurutku mengerikan dari youtube.


Tak ingin seperti ini terus, aku mencoba berbicara untuk sekedar curhat dengan ibu mertua melalui telepon. Dia kemudian menenangkanku dan beranggap bahwa mungkin Mas Hari memiliki hobby baru, dan yang harus kulakukan, cukup beradaptasi dengan hobbynya itu.


Dan masalah kejadian pisau beberapa minggu yang lalu, mungkin adalah respon berlebihan dari tekanan yang dia alami setelah bekerja cukup berat di kantornya.


Setelah menimbang-nimbang nasihat mertuaku, aku berpikir, mungkin ada benarnya juga. Toh, tak pernah ada kejadian aneh lagi yang terjadi di rumah ini, kecuali dengan hobby menyeramkan yang selalu dilakukan oleh suamiku. Kami sudah mulai terbiasa.


➖➖➖➖➖


[ Sore ini tidak usah masak, aku bawa makanan ]


Aku tersenyum saat membaca pesan itu. Meskipun Mas Hari agak berubah, tapi dia tidak pernah lupa kewajibannya, atau sekedar memanjakan keluarganya. Biasanya, dia memang sering kali membawa makanan dari luar di saat-saat tertentu, di malam weekend.


Sambil menonton televisi, aku, Keysha dan Panji menunggu ayahnya untuk pulang ke rumah, hingga suara mobilnya terdengar sudah tiba di halaman rumah kami.


"Panji pasti suka ini," ucap Mas Hari saat membuka pintu rumah.


Aaah ... wangi sekali. Aroma soto ayam memenuhi seluruh ruangan. Sepertinya apa yang aku khawatirkan selama ini memang sudah sangat berlebihan. Buktinya, Mas Hari membawakan makanan kesukaan putranya hari ini.


Saatnya kami menikmati hidangan yang sudah dibawa oleh Mas Hari. Semuanya terasa sangat normal, hingga.


Brak ....


Tiba-tiba Panji terjatuh dengan memegang lehernya seakan mau muntah. Matanya merah membelalak dan mengeluarkan air dari sudutnya. Napasnya terdengar sangat berat, seakan kesulitan untuk mengumpulkan oksigen yang berada di ruangan ini.


Aku berteriak histeris dan mencoba membantunya untuk duduk sambil mengelap butiran keringat yang menetes dari kening putraku itu.


"Kenapa, Nak?" Tangisku tumpah.


Panji kejang, kemudian pingsan dan tidak sadarkan diri. Mas Hari hanya berdiri tak melakukan apapun sambil menatap dingin ke arah Panji. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


"Mas. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit, Mas." Aku mengguncangkan tubuh suamiku, hingga perhatianya teralihkan dan membantu membawa Panji ke rumah sakit.


Butiran air mata tak mampu kubendung saat melihat anakku terbaring lemas di pangkuanku selama perjalanan menuju rumah sakit. Ayahnya tak mengatakan sepatah katapun saat menyetir mobilnya, mimiknya begitu datar untuk dibaca tentang apa yang sedang dia rasakan saat ini.


Pikiranku kacau. Sebelumnya Panji baik-baik saja sebelum .... Ah, sebelum dia memakan soto ayam yang sudah dibawa oleh Mas Hari malam ini.


Deg ....


Detak jantungku berpacu makin tak karuan setelah pikiran itu hinggap di kepalaku.


Apakah Mas Hari berniat jahat pada Panji?


Bagaimana caranya?


Apa salah Panji padanya?


Mengapa ekspresinya begitu datar saat melihat Panji yang seakan sekarat di depan matanya sendiri?


Tubuhku lemas.


➖➖➖➖➖


"Tiba-tiba aku pengen muntah dan terasa panas," ucap Panji sebelum boleh dinyatakan pulang ke rumah.


Tak ada yang salah kata dokter saat itu. Dia tidak tersedak, tidak juga keracunan apapun. Bahkan aku ditanyai tentang riwayat penyakit pernapasan yang mungkin pernah diderita Panji sebelumnya, tapi tidak ada. Panji tak pernah memiliki penyakit apapun.


Namun rasanya bukan Panji yang menjadi masalah, melainkan Mas Hari. Setelah mendegar bahwa Panji baik-baik saja, dia seperti memperlihatkan ekspresi yang heran dan ada sedikit kecewa di sana. Seakan dia mengetahui bahwa hal ini akan terjadi, tapi kesembuhan Panji tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Setelah kejadian itu, rasa curigaku semakin menjadi pada Mas Hari. Panji yang tadinya memiliki kamar sendiri, tak kubiarkan lagi untuk tidur sendiri di kamarnya. Aku tak ingin menyesal di kemudian hari jika Mas Hari melakukan hal yang tidak masuk akal pada anakku.


Di suatu malam, aku merasa sangat ngelisah dan tidak bisa tidur. Saat kulirik jam, di sana menunjukkan pukul 01:30. Mungkin air putih bisa membuatku merasa tenang dan tertidur.


Saat baru saja ingin membuka pintu kamar, terdengar suara seperti bisikan seorang pria yang mengobrol dengan pelan. Dengan rasa yang agak takut, aku mencoba mendekatkan telingaku pada daun pintu kamar untuk mendengarkan dengan lebih jelas.


"Dia tidak menyukaiku. Dia sepertinya tahu kalau aku yang melakukan itu. Tita melindunginya."


Deg ....


Berharap ini adalah mimpi, tapi tidak. Aku benar-benar sadar sepenuhnya dan yakin bahwa suara yang barusan kudengar adalah suara dari orang yang kukenal. Itu adalah Mas Hari.


Klek ....


Aku membuka pintu kamar dan melihat Mas Hari sedang duduk di depan TV. Wajahnya begitu lesu dengan kantung mata yang menghitam.


"Kau bicara dengan siapa, Mas?" tanyaku.


"Seseorang yang ku kenal," ucapnya santai.


"Tak ada siapapun di sini, Mas." Aku merinding. Jika bukan karena apa yang diucapkannya barusan, rasanya tak ingin berada di sini dan bertanya kepadanya.


"Nanti kau akan tahu," jawabnya.


Lututku lemas. Aku terduduk hadapannya meneteskan air mata. Rasanya tak kuat lagi untuk hidup dalam rasa was-was seperti ini.


Mas Hari terkejut melihatku yang tak berdaya di hadapannya. Dia berdiri dari sofa dan mendekatiku, tapi kucoba untuk mundur dan menjaga jarak darinya. Hingga tanpa sadar setengah berteriak, aku mengucapkan kalimat itu.


"Tolong kembalikan keluargaku!"


Dia menatapku. Tubuhku kaku seakan tak mampu bergerak saking ketakutannya. Dia mendekat, semakin mendekat lalu tersenyum padaku.


"Akan kembali segera, setelah dia pergi."


Seakan napasku terhenti di kerongkongan. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliku, aku berdiri dan segera berlari ke kamar.


Dengan rasa yang penuh ketakutan, aku bertanya pada diriku sendiri. Siapa yang dimaksud dengan DIA?


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖