Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
NINA BOBO #3



"Woi! Jangan main-main. Nyalain lagi," teriak Fani yang tadinya meninggalkan kami menuju kamar mandi.


"Mati lampu, Fan," sahut Mbak Widya.


Mbak Widya mengambil handphonenya dan menyalakan senter menyusul Fani ke belakang. "Bentar, ya. Kasihan dia sendiri. Gelap."


"Coba cek saklar di depan," seru Elsa yang membuat Erix harus keluar menuju teras rumah.


"Cuma kita yang mati, Sa. Lo hubungi petugas PLN gih," teriak Erix dari deras.


"Lo tau nomornya?" tanya Elsa setengah berteriak.


"Tau dong. Petugas PLN kan bapak gue. Ya gak tau lah. Googling dong. Gitu aja pake acara nanya." balas Erix ketus.


Elsa berdiri berangkat menuju kamarnya untuk mengambil handphone yang tertinggal di sana, meninggalkanku bersama Rida.


Aku sendiri tak bisa melihat wajah Rida saat ini, tapi aku bisa merasakan tubuhnya bergetar dan tangannya basah karena keringat.


Dan ....


"Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh "


Lengkingan suara Mbak Widya dari belakang, membuat jantungku nyaris copot.


Aku menarik tangan Rida yang duduk terpaku sambil mengatur napasnya lalu berlari menuju dapur, tempat Mbak Widya dan Fani.


Kurogoh handphone yang berada di kantung celanaku untuk mendapatkan cahaya, untuk menulusuri seluruh ruangan, tapi tak menemukan siapa-siapa di sana.


"Kau masih menyimpannya?" tanya Rida terpaku melihat lenganku yang sedang memegang handphone.


"Menyimpan apa?" Aku kembali bertanya karena tak paham mengenai apa yang dia bicarakan.


"Lumba-lumba itu," ucap Rida menunjuk handphoneku.


"Oh ini? Iya, masih. Hadiah darimu saat terakhir kita ketemu," melirik gantungan lumba-lumba biru yang tergantung di sana.


"Terima kasih, Sarah. Kau teman yang baik. Harusnya aku tak perlu takut saat ini. Ya ... paling tidak, rasanya menjadi agak berkurang," terang Rida memegang lenganku lembut.


Aku mengangguk dan membalas senyumannya. Walau tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku, tapi dia sepertinya sudah paham bahwa aku selalu mengingatnya dan mengucapkan ucapan yang sama.


"Ayo kita cari teman-temanmu," ajak Rida.


➖➖➖➖➖


Percuma rasanya, tetap saja tak kami temukan Mbak Widya. Semakin lama berada di sini, semakin kencang debaran jantungku, Bulu kudukku pun berdiri karena merasa sangat tidak nyaman.


'Aku tak akan pernah lagi menonton film horor di malam hari' hatiku bergumam.


KLEK


Bunyi pintu terdengar. Aku tahu bahwa itu adalah suara pintu dapur yang menuju halaman belakang rumah. Segera kuarahkan cahaya ke sana, tak ada siapapun. Tapi bukan itu yang membuatku kaget setengah mati. Bukan karena tak ada siapapun, melainkan pintu yang tadinya tertutup, sekarang sudah terbuka lebar seperti baru saja ada yang lewat di sana.


Kali ini aku yang merasa sangat takut, namun tak ingin kuperlihatkan pada Rida yang sudah agak tenang. Kupaksakan kakiku untuk melangkah menuju pintu itu, tapi terjatuh karena menabrak sesuatu.


"Sial! Apa sih ini?"


Cahaya kuarahkan ke kakiku.


"Aaaaaahh," jerit Rida lantang melihat kedua kaki seseorang tergeletak, berasal kamar mandi dekat pintu belakang.


Segera aku tahu siapa pemilik kaki itu, setelah melihat sendal pink bermotif kelinci, tersemat menutupi jari-jarinya. Itu sendal Fani. Dia terbaring lemas di lantai kamar mandi.


"Pegang ini sebentar." Kuberikan handphoneku pada Rida untuk menerangi kami. Saat menerimanya, tangannya mulai bergetar kembali.


Napas lega kuhembuskan saat melihat dada Fani kembang-kempis perlahan, tanda dia masih hidup. Berkali-kali kutampar halus pipinya, tak ada respon.


"Mari kita keluar, Sar. Aku mulai takut di sini. Kita harus ke tempat terang," tangis Rida yang terduduk lemas di hadapanku.


"Bantu aku mengangkat dia. Kita minta bantuan tetangga,"


Baru saja kami hendak mengangkat tubuh Fani, tiba-tiba


BUK BUK


Deg ...


Kami terdiam saling tatap sambil menahan napas. Suara gedoran pintu depan terdengar sangat mengerikan.


BUK BUK


"Buka pintuuuuu!"


Itu suara Erix yang menjerit dari teras rumah. Spontan aku dan Rida mengurungkan niat untuk mengangkat Fani dan berlari menuju pintu masuk yang berada di depan.


BUK BUK


"Iya, iya. Kami di sini," teriakku menenangkan Erix.


"Kenapa dikonciin?" umpat Erix memaksa untuk membuka knop pintu.


"Tak ada siapapun yang mengunci!" jawabku.


"Kalau begitu cepat buka!"


"Tidak boleh takut, tidak boleh takut."


DUAAAARRR


Suara guntur memekakkan gendang telinga membuatku berpelukan dengan Rida sambil menagis seperti balita. Baju kami basah karena keringat dan tetesan air mata.


"Aaaaahhh. Tolong, buka!" jeritan Erix terdengar berbeda dari biasanya.


Kusibakkan gorden jendela di samping pintu, dan apa yang kulihat sungguh membuat jantungku seperti akan terlepas dari tempatnya.


Di sana ada sosok wanita menggunakan gaun putih dengan bercak merah pada gaunnya. Aku tak tahu bercak apa itu, tapi terlihat seperti bercak darah. Sangat banyak darah. Rambut panjangnya menguntai hingga ke pinggang. Tak bisa kulihat wajahnya, karena rambut itu menutupi seluruh wajah dan dadanya.


"Lari, Rix! Lariiii." jeritku dari balik kaca memperingatkannya. Tapi Erix tak bergerak sama sekali. Dia berdiri mematung melihat wanita bergaun panjang itu.


Semakin dekat, sekarang wanita itu hanya berjarak 30 cm, persis di hadapan Erix. Dia mengangkat lengannya dan menerkam leher Erix dengan paksa. Tubuh Erix berontak kejang ketika wanita itu mencekiknya dengan kuat.


Air mataku mengalir tanpa henti, napasku sesak, kakiku lemas seperti baru saja kehilangan tulang-tulangnya.


"Ce-ce-cepat, se-se-lamat-kan di-ri-ri-mu, Sar." Usaha terakhir Erix sebelum dia terjatuh lemas di lantai teras.


Saat kepalanya menyentuh lantai, aku melihat aliran darah yang merembes sedikit demi sedikit dari mulutnya.


Wanita itu memutarkan sedikit kepala. Aku tak tahu apa yang dilihatnya, tapi aku yakin pada postur tubuhnya seperti sedang mengawasiku yang berada di jendela.


Kututup goden itu dan terduduk menangis menyandarkan kepala di balik pintu. Tak ada satu katapun yang bisa kuucapkan, bahkan setelah melihat Rida duduk di hadapanku memeluk lututnya.


Dengan sisa tenaga yang kupunya, tak ada satupun pikiran jernih yang bisa muncul dari kepalaku. Sepertinya aku akan mati malam ini.


"Kita harus ke tempat terang, aku tidak boleh takut." gumam Rida dengan tatapan yang kosong.


Tiba-tiba aku mengingat Fani yang sudah kami tinggalkan di belakang. Entah bagaimana keadaannya sekarang.


"Ayo kita keluar dari sini." sambil menarik tangan Rida yang gemetaran


Sebelum menuju ke dapur, aku mengajak Rida mengambil handphonenya yang tadinya tertinggal di ruang TV untuk membantu penerangan. Setelah itu kami berlari menuju dapur untuk menjemput Fani yang tadinya pingsan.


Tapi kami kembali harus menangis berpelukan saat menemukan sendal kelinci pink Fani yang tergeletak di lantai, tempat kami meninggalkannya dengan genangan noda merah seperti darah di sana.


"Apa yang terjadi dengan Fani? Mana dia? Tadi kita meninggalkannya di sini kan?" tanyaku menyarahkan cahaya ke lantai tempat genangan itu.


Rida tak menjawab apa-apa. Dia berdiri menutup kedua kupingnya dan bergerak maju mundur tanpa melangkah kemanapun.


"Tolong, keluarkan aku dari sini. Aku tidak boleh takut," tangisnya lirih.


Sekali lagi aku harus dikagetkan dengan pintu belakang yang tadinya terbuka lebar, kini tertutup dengan rapat. Berkali-kali kucoba untuk memutar knopnya, tapi percuma. Pintu itu benar-benar terkunci.


"Tadi ini terbuka kan?" jeritku pada Rida tak mampu menahan tangis yang pecah.


Dia menggangguk pelan dan jatuh tersungkur lemas di lantai. Kupeluk tubuhnya yang bergetar hebat. Dia menangis sejadi-jadinya. Akupun ikut menangis karena merasa bersalah mengajaknya menginap malam ini. Seandainya saja dia tidak datang, mungkin dia sedang tidur menikmati malam di rumahnya.


"Maafkan aku, Da. Maafkan aku," ucapku memenangkan dirinya.


Tubuh Rida bergetar semakin kencang. Mungkin tindakan yang kulakukan tak cukup berhasil untuknya. Bagaimana tidak? Aku sendiri sedang gemetaran saat ini. Mengapa kesialan mendatangi malam ini, padahal sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa? Tak pernah kudapatkan hal-hal aneh sebelumnya pada rumah ini, sebelum kami menonton film horor yang putar Mbak Widya tadi.


Teringat kalimat yang keluar dari bibir Erix. Entah kalimat itu hanya asal atau benar, tentang makhluk halus yang akan ikut bersama saat kita sedang membicarakan cerita hantu ataupun menontonnya.


Mungkin mereka merasa penasaran, mendengar teman-temannya dibicarakan oleh manusia seperti kita, atau mungkin mereka merasa terusik dengan itu. Membuka hal-hal yang ada dalam kehidupan mereka.


Ah ... aku tak bisa berpikir apa-apa lagi saat ini. Yang ingin kulakukan hanya keluar dari rumah ini untuk menjauh dan mencari pertolongan seperti ajakan Rida.


Tengkukku tiba-tiba terasa hangat, seperti ada yang meniupkan napas di sana. Rida pun sepertinya merasakan demikian karena dia tiba-tiba terdiam, melepaskan pelukan lalu menatapku sambil menahan napas.


***Kreeeekk ...


Kreeeekk*** ...


Kami terdiam tidak berkata apapun, nanya udara yang bisa kami keluarkan dari rongga-rongga pernapasan.


Kreeeekk ...


Suara itu muncul lagi dari balik pintu yang terkunci tadi. Terdengar seperti kuku yang menggaruk daun pintu dengan perlahan dan menyeramkan. Seperti teror yang akan mencekik leher kami satu persatu.


DAAAA ....


Terdengar seperti suara angin namun nyaris seperti suara seseorang yang setengah berbisik dari balik pintu. Suara yang tak kukenal, lembut tapi sangat memilukan dengan intonasi mengayun seperti saat aku membaca kalimat tanya pada sebuah percakapan cerita. Tak tahu itu apa, tapi benar-benar membuat suasana menjadi sangat dingin.


"Itu dia. Dia datang, Sar. Kita akan matii!' jerit Rida mengguncang-guncangkan bahuku.


Bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini? Aku tidak bisa berpikir jerni. Kutampar pipiku berharap bahwa ini adalah mimpi, tapi rasanya sakit. Tidak, aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata.


Sambil menangis meratapi nasib yang akan kuterima selanjutnya, aku mengingat kembali teman-teman kost yang selalu bercanda gurau. Kadang kami berantem, menangis, tertawa bersama. Aku kangen sama kalian, Erix, Mbak Widya, Fani dan Elsa ...


Ah ... Elsa? Dia masih di rumah ini. Terakhir kami melihatnya, dia masuk ke kamarnya mengambil handphone untuk menghubungi petugas PLN. Kusambar tangan Rida, dan menyadarkannya dari lamunan.


"Ikut aku!"


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖