Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
ENAM SURAT




"Ada buat loe juga, Na. Tapi jangan buka dulu. Kalo ntar terjadi apa-apa sama gue, baru kasih ke semuanya, termasuk dirimu."


"Gak usah ngomong macem-macem. Banyak dosa loe sama gue. Gak bakal gue maafin dalam waktu cepet. Loe pikir bisa segampang itu mati?" Ucap Rina sambil menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Totalnya ada 6 surat. Tiap orang dapat satu surat. Gue dah tulis masing-masing namanya, loe tinggal ngasih ajah. Kasih yang amplop putih dulu, setelah itu baru amplop merah, yang kalian bisa baca bergiliran."


"Iya bawel."


"Pokoknya loe harus yakin yang putih kebaca dulu, baru loe kasih yang warna merah, Na."


"Gue do'ain nih surat gak bakal kebuka, biar gue gak ribet hubungin semuanya. Mana loe gak ngisiin gue pulsa lagi. Cepet lah sembuh, jangan minta macem-macem."


Pilu di hatinya saat Rina mengingat percakapaan antara dia dan Ami sebelum kepergiannya beberapa hari yang lalu. Sambil memeluk Caca, putri kecil berusia dua tahun, dari wanita tangguh yang sudah pergi setelah berjuang berbulan-bulan melawan toksoplasma yang menyerang otaknya.


Hari ini tepat seminggu setelah Ami meninggal. Rina sudah menghubungi keempat orang untuk memberikan surat kepada tiap orang sesuai dengan amanah yang minta oleh Ami.


Setelah semuanya lengkap. Rina memberikan amplop putih kepada setiap orang untuk dibaca


➖➖➖➖


Untuk Ayahku.


Entah apa perlu aku memanggilmu dengan sebutan Ayah? Kamu sendiri sepertinya tidak merasa memiliki istri dan anak.


Tapi tidak apa-apa karena tanpamu, aku dan Ibu menjadi kuat. Kami berusaha melewati semuanya bersama-sama, kami mandiri, kami menjadi lebih kokoh. Cukup terima kasih aku ucapkan untukmu, semuanya berkatmu.


Berkat kamu memilih untuk pergi bersama wanita penggoda itu. Ah... bukan hanya karena dia, dari dulu aku sering mendengar kamu bertengkar dengan Ibu untuk tiap nama wanita yang berbeda. Dan akhirnya Ibu harus angkat kaki dari rumah itu. Membawa sisa-sisa noda yang kau berikan.


Kau meninggalkan kutukan kepada kami, hinaan-hinaan itu, cacian mereka, bahkan kami harus diusir oleh keluarga Ibu saat mereka tahu dan Ibu jatuh sakit dan menganggap bahwa dia adalah wanita hina yang tercela.


Oh tidak!! Ibu tak pernah bersama siapapun setelah kepergianmu. Dia suci. Tidak sepertimu yang kotor dan menjijikkan.


Kami tidak pernah tahu hingga Ibu harus sakit keras dan masuk rumah sakit saat itu. Sudah terlalu telat untuk mengetahui mengetahui tentang apa yang kau bawa pada kehidupan kami. Aku hampir gila karena harus mengetahui kenyataan bahwa aku dilahirkan dalam keadaan yang sama seperti ibu, dalam kondisi sedang mengandung Caca anakku.


Kau yang meninggalkan luka yang harus kami bawa sampai akhir hidup kami, luka hati dan luka yang tidak pernah akan hilang dari tubuh kami.


KARENA...


➖➖➖➖


Untuk Hendra.


Hai. Apa kabar dirimu di sana? Masih sehatkah? Aku harap demikian.


Maaf jika harus mengumpulkan kalian di sini. Aku tidak bermaksud untuk meminta tanggung jawabmu untuk anak yang tidak pernah ingin kau akui.


Salah satu kesalahan dalam hidupku adalah pernah bersamamu yang ternyata diam-diam membuat rancangan pernikahan dengan Indah temanmu itu, padahal semua hal berharga yang aku miliki sudah kuberikan kepadamu.


Bodoh!! Saat itu aku sangat bodoh. Sungguh aku menyesal dan mohon ampun pada Tuhanku, diriku, Ibuku dan janin yang harus tertinggal di rahimku.


Aku hanya tak bisa habis pikir mengapa kau membuat cerita bahwa aku sudah berbuat dosa dengan pria lain sebelum dirimu. Kaupun sendiri pasti bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri saat selaput darahku sobek olehmu.


Dan setelahnya, aku tidak mendekati siapapun dan tidak ingin didekati oleh siapapun. Aku tak ingin ada orang yang akan susah karena diriku.


Aku tak ingin meninggalkan kesulitan untuk orang lebih banyak lagi, karena aku tahu.


AKU TAHU KALAU...


➖➖➖➖


Untuk Indah.


Halo Indah. Kita ketemu lagi, walau hanya dari sepucuk surat saja.


Masih ingatkah dirimu saat Hendra mengenalkanmu padaku sebagai teman kerjanya? Ah... mungkin kamu sudah lupa, karena kalau dirimu ingat bahwa aku punya hubungan dengan Hendra, kalian tidak akan mungkin merencanakan pernikahan saat aku sedang bersamanya.


Sekarang kau bisa tenang, Indah. Saat membaca surat ini aku sudah tidak ada. Mungkin kamu juga sudah mendengar berita itu dari Hendra karena aku meminta Rina mengabarinya.


Oh iya, Indah. Aku ingin memberi tahu padamu, kalau aku sudah memaafkan pebuatanmu dan Hendra.


Asal kamu tahu, Indah. Setelah dia membuang aku yang mengandung benih darinya, aku tak lagi mencoba untuk menghubungi dia.


Mungkin aku masih sangat muda saat itu untuk kalian bodohi. Hahaha bahkan aku harus putus sekolah karena hamil, dan mirisnya tanpa suami. Padahal itu adalah anak dari suamimu, Hendra.


Tapi sebaiknya kamu dan Hendra lebih berhati-hati dan segera mengecek setelah ini. Jangan sampai apa yang kutakutkan itu terjadi.


SEBAB...


➖➖➖➖


Untuk Wahyu.


Hai, Ganteng... Terima kasih banyak sudah hadir dalam hidupku. Tapi maaf karena kita tak bisa bersatu.


Bukan karena aku tidak menyukaimu, Wahyu. Kau hebat, tampan, berkharisma, dan yang paling penting adalah, aku melihat ketulusan dalam dirimu. Di saat semua orang menolakku, kamu orang kedua setelah Rina yang paling baik kepadaku.


Aku titip Caca anakku pada Rina, sesekali kumohon untuk kau jenguk dia. Aku tak punya saudara lagi, jadi hadirlah sesekali untuk mengisi kekosongan akan sosok Ayah dalam hidupnya


Jujur aku juga mencintaimu. Besar inginku menjalani hidup bersama seperti niat yang sudah kau utarakan padaku dulu. Tapi maaf, Wahyu, aku tak bisa.


Maaf atas penolakan kerasku terakhir sebelum aku jatuh sakit. Kau harus hidup sempurna, sesempurna hatimu, Wahyu. Aku ingin kau hidup bahagia, tapi tidak untuk bersamaku.


SEMUA PENOLAKAN INI KARENA...


➖➖➖➖


Untuk Rina.


Sahabatku, saudaraku. Maafkan atas semua beban yang kuberikan kepadamu. Belum juga seminggu setelah kepergianku, kau harus mengumpulkan mereka untuk membaca suratku.


Aku titip malaikatku padamu, Na. Tolong kau sayangi dia seperti anakmu sendiri. Keluar saja dari kontrakanmu, tinggal saja di rumah Ibu. Tak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali Caca, anggap rumahmu juga.


Segala kebutuhan Caca sudah kami persiapkan sedari Ibu masih hidup. Kau bisa mengambilnya di brankas dalam kamar Ibu dan beberapa surat berharga lainnya.


Hanya kau yang bisa kupercaya, Rina. Dia masih terlalu kecil untuk ditinggalkan oleh orang-orang yang bisa menjaganya.


Satu lagi, Rina. Pastikan mereka yang membaca suratku membaca amplop merah yang kutitipkan kepadamu setelah mereka selesai membaca surat mereka masing-masing, agar mereka semua tahu.


TAHU KENYATAAN BAHWA...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


"Kenapa sih kita selalu ke sini, Ma?" Kalimat yang keluar dari bibir mungil Caca sambil menatap Rina di ruang tunggu rumah sakit.


Namun semua diam saat petugas memanggil "Keluarga Pak Wahyu, mari masuk."


Wahyu dan Rina berangkat menuju arah petugas tersebut. Ini sudah ketujuh kalinya Caca dibawa ke sana untuk mengecek darahnya tiap tahun.


"Alhamdulillah, Pak. Hasilnya Non Reaktif. Caca bersih." ucap petugas itu.


Perasaan lega terpancar dari wajah Wahyu dan Rina.


"Ayo kita pergi, Nak. Tadi katanya mau es krim?" Ujar Wahyu


"Ayo, Pa. Yang rasa coklat ya. Cepat, Ma. Nanti Mama ketinggalan," sambil memanyunkan bibirnya


"Mama ke toilet dulu, Nak"


Rina memegang erat di dalam tas, amplop merah yang diberikan oleh Ami empat tahun yang lalu.


Rasa syukur yang karena dia tak harus memperlihatkannya kepada Caca. Belum saatnya sekarang, mungkin beberapa tahun lagi saat dia sudah cukup dewasa.


Di cermin wastafel dia melihat wajahnya dengan mata yang memerah tak mampu memendung air mata karena harus mengingat kembali sahabatnya.


Dibukanya amplop merah yang sudah lusuh karena menjadi saksi tangisan dan perasaan shock 5 orang empat tahun lalu dengan tangan bergetar. Dibacanya kembali dua kata menyakitkan tulisan tangan Ami.


Dua kata yang membuat Rina menangis menjerit histeris sambil memeluk Caca yang masih bayi. Membuat Wahyu tak mampu bicara sepatah katapun saat pulang ke rumah, sebelum dia mengambil keputusan untuk menikahi Rina agar bisa membesarkan Caca bersama. Membuat Ayah Ami yang duduk lemas dan pasrah saat menerima satu pukulan keras dari tangan Hendra. Dan membuat Hendra yang harus menerima cakaran dan teriakan, "Kau membawa petaka untuk hidupku" dari Indah istrinya.


Cukup dua kata dalam amplop merah itu. Dua kata yang menyakitkan.


"AKU HIV"


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖