Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
NINA BOBO #4



Dengan terhuyung lemas, Rida mengangkat tubuhnya dan mengikuti arah langkahku yang berjalan menuju kamar Elsa.


KLEK


Pintu kamar Elsa terbuka, tapi tak ada siapapun di sana. Kembali kuarahkan cahaya ke seluruh ruangan dan menemukan Elsa terkapar di atas karpet coklat berbulu yang baru dibelinya minggu lalu.


"Sa? Bangun, Sa," kutampar lembut pipinya, seperti yang kulakukan saat menemukan Fani di kamar mandi yang berada di dapur.


"Hmmmm ..." gumam Elsa, menggeliat mengucek matanya.


Tangisku tumpah, bahagia terasa saat melihat sahabatku itu bergerak dan masih hidup. Aku memeluknya dengan erat, seperti dia adalah harta benda yang selama ini kucari.


"Lo gak apa-apa kan, Sa?" Kulepaskan pelukan untuk mengecek kembali tubuhnya yang masih agak lunglai.


Dia tidak menjawab pertanyaanku, namun aku bisa melihat samar kecemasan yang terpancar dari raut wajahnya.


"Kenapa, Sa?" tanyaku khawatir, padahal sebenarnya kami semua yang berada di dalam ruangan ini memang dihadapkan dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


"Ta-tadi a-aku melihat po-po-cong." jawab Elsa terbata-bata dengan bibir bergertar.


Aku menutup mulutku dengan tangan, antara percaya dan tak percaya. Kulirik ke samping untuk melihat wajah Rida, tapi dia hanya diam saja dengan tatapan kosong berurai air mata.


BRAK


Suara seseorang menabrak kaca jendela kamar Elsa dari luar. Segera kuarahkan cahaya ke sana dan mendapatkan Mbak Widya yang berdiri membelakangi kami memandang ke tembok beton pemisah halaman rumah ini dan halaman tetangga.


"Tolong lepaskan saya," teriak Mbak Widya memegang lehernya sendiri


Aku mendekat untuk melihat lebih jelas bersama siapa Mbak Widya saat ini, tapi tak ada siapapun selain Mbak Widya sendiri. Tiba-tiba Mbak Widya berbalik memandangku dari luar dengan mata yang membelalak, dan memuntahkan darah yang menempel pada permukaan kaca.


"To-to-tolong," suara serak keluar dari kerongkongannya, dengan tangan yang masih tertempel di kaca dan meluncur perlahan tergeletak di atas rerumputan dengan mata yang membelalak lebar.


"Mbaaaaaaaaaaaakkkk!" teriak histeris Elsa menempelkan pipinya ke jendela kaca untuk melihat Mbak Widya yang sudah terkapar tak berdaya bersama noda darah yang mengotori mulutnya.


Entah apa yang bisa kukatakan menggambarkan perasaanku saat ini, aku hanya bisa berdiri mematung dengan nafas yang tidak beraturan dan jantung yang berdetak dengan kencang.


"Nina bobo, ooh Nina bobo."


Terdengar suara seseorang berdendang bernyanyi pelan. Hah! Itu suara Rida, mana dia?


"Kalau tidak bobo, digigit nyamuk."


Kuarahkan cahaya menuju arah suara itu, dan mendapatkan Rida duduk memeluk lututnya dengan tatapan kosong yang hampa.


"Rida! Sadar, Rida," bentakku mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Bobo lah, bobok. Aaadikku manis," dia menghiraukan ucapanku dan tetap bernyanyi, membuat bulu kudukku merinding sangat hebat.


***Kreeeekk ...


Kreeeekk*** ...


Hah, suara goresan cakaran itu terdengar lagi dari luar jendela Elsa. Kali ini aku merasa benar-benar akan mati. Bukan mati karena akan dicekik makhluk yang sudah membuat Erix, Mbak Widya dan Fani menemui petaka, tapi mati karena ketakutan.


"Kalau tidak bobo, digigit nyamuk," Rida melanjutkan nyanyiannya, dengan rintihan dan air mata yang sungguh memilukan.


***Kreeeekk ...


DAAAA*** ....


Suara angin yang menyerupai bisikan itu muncul lagi, kali ini lebih jelas dan lebih menakutkan dari sebelumnya. Aku tak yakin itu apa, tapi seperti ada sesuatu di luar sana yang sedang menunggu dibukakan pintu.


Tubuh Rida berguncang hebat. Terlihat ketakutan yang amat sangat dari mimik wajahnya. Air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya. Dia menarik napas panjang dan bernyanyi makin kencang.


"Niiiinaa boo ...."


WUUSSSS


Sekelebat bayangan hitam datang dari lubang udara di atas jendela menghantam tubuhku, ambruk.


➖➖➖➖➖


"***Aku mendapatkan buku cerita, dari teman di sekolah," sambil menyodorkan sebuah buku cerita dengan sampul merah berjudul 'Darah' pada Rida.


"Cerita horor?" tanya Rida.


"Tidak perlu. Aku sudah banyak mendengar cerita hantu dari temanku, dulu," jawab Rida sambil tersenyum padaku.


"Teman?"


"Iya ... teman. Usianya jauh lebih tua dariku. Tak ada yang menyukainya selain aku. Dia memiliki kisah horor menarik yang selalu diceritakan setiap hari. Tapi suatu hari Ayah melarangku bergaul lagi dengannya. Kata Ayah, dia tak cocok denganku," jelas Rida.


"Apa kau tidak takut?" tanyaku kembali.


"Tidak. Saat aku ketakutan, dia akan berhenti bercerita dan menghiburku."


"Lantas, di mana dia tinggal sekarang?"


"Entah lah. Semenjak ayah melarangku bergaul dan memikirkan tentang cerita-ceritanya. Dia jarang berkunjung lagi ke sini," ucap Rida menaikkan kedua bahunya.


"Siapa namanya?"


"Namanya*** ... "


➖➖➖➖➖


"Bangun. Bangun, Sar." bentak Elsa setelah menyiramkan air ke wajahku.


"Di mana aku?" tanyaku heran.


"Di rumah lah. Gila! Kau pingsan apa tidur? Sampai ngigau gitu nyebut-nyebut nama, Rida," ujar Elsa menaruh gelas kosong yang airnya sudah digunakan untuk menyiram wajahku.


Aku memutar bola mata dan samar-samar menemukan Rida memegang tanganku cemas. Sial! Ini bukan mimpi, karena lampu di ruangan ini masih padam. Padahal aku berharap apa yang kami alami sebelumnya hanya bunga tidurku.


"Kita harus keluar dari sini," seru Rida


"Betul. Mana kuncimu, Sa? Gue gak mau mati konyol di rumah ini," ujarku pada Elsa.


Dia segera mengambil handphone dan menyalakan senter mencari sesuatu di laci, meja, bawah bantal, bahkan di bawah karpetnya. Kami tahu bahwa Elsa sedang mencari kunci rumah miliknya.


"Gak ada. Gak ada di mana-mana," teriaknya panik.


Elsa menangis berlutut sambil menjambak rambutnya sendiri seperti orang yang sudah kehilangan akal. Melihatnya tangisku ikut tumpah karena merasa tak ada harapan untuk keluar dari sini.


"Pakai kuncimu!" teriak Rida menghentikan tangisanku.


Kupandangi wajahnya dan mencoba untuk fokus terhadap kalimat yang baru diucapkannya. Linglung sudah membuatku tidak paham tentang apa yang dia bicarakan.


"Pakai kuncimu. Kau juga punya kunci kan?" seru Rida mengguncang bahuku.


Tak lama aku tersadar tentang kunci apa yang dimaksud. Iya ... aku juga punya kunci pintu depan, yang selalu kuletakkan di kamarku. Bisa-bisanya melupakan hal itu.


KLEK


Suara pintu kamar Elsa memecah keheningan saat kubuka perlahan. Sebelum melangkahkan kaki, kulayangkan pandang ke segala arah. Tak ada apa-apa di sana kecuali sunyi dan rasa mencekam yang membuat rambut-rambut tengkukku berdiri tegang,


Sebenarnya tak kuat lagi rasanya untuk berpindah tempat hanya untuk mencari kunci di kamarku, tapi benar kata Rida, kami harus secepatnya keluar dari rumah ini.


Dengan penerangan seadanya, kami melangkah perlahan menuju kamarku, tepat berada di seberang kamar Elsa. Jika tidak dihadapkan kejadian ini, mungkin aku sudah berada di sana dengan cepat dan mudah. Namun semua keanehan yang sudah kami lalui malam ini, membuat setiap langkah menjadi sangat berat dan waktu berjalan sangat lambat.


Aku, Rida, dan Elsa, berjinjit berbaris sambil menarik baju masing-masing dengan perasaan yang tak karuan sambil menahan napas. Saat setelah sampai kamar, barulah otot-otot tubuhku melemas bernapas dengan teratur, tapi ...


BRAK


Pintu kamarku terbanting dan menutup sendiri dengan Elsa yang berdiri di dekatnya, karena tadi dia yang berjalan paling belakang.


"Tolong! Tolong kami," jerit Elsa memutar-mutar knop pintu.


Aku bergerak mendekati dan meraba ke arah tempat lubang kunci, tapi apa yang kucari tak kutemukan. Hilang! Benda itu, hilang. Padahal seratus persen kuyakin selalu menggantungkan kunciku di sana.


KLAK


Lampu kamar menyala, Elsa melepaskan pelukannya.


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖