
"Lepaskan aku!" Kata-kata yang pertama kali keluar dari mulut Erin, setelah terbebas dari lakban itu.
Gema lengkingan suara Erin terdengar hingga ke dalam ruangan yang sedang kutempati bersama Tari. Pedih, pilu, takut, tak berdaya adalah kata yang dapat menggambarkan dari intonasi raungannya.
Plaaaaak.
Tamparan keras mendarat tepat pada pipi Erin. Bahkan aku yang hanya melihat dari layar kaca bisa merasakan betapa perihnya tamparan itu hingga mengelus pipi sendiri. Sakit rasanya.
Kulihat senyum tipis menghiasi wajah Tari. Dia bahkan mengeluarkan rokok, membakar, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan kepulan asap yang dibiarkan melayang di udara, seperti saat sedang menikmati acara channel TV favoritnya. Hanya satu pembedanya, kaleng soda dingin yang selalu bertengger di tangannya tak ada di sini.
"Mau kau apakan dia?" tanyaku pada Tari.
"Tenang. Kita hanya bermain-main saja," jawab Tari menahan tawa, lalu menghisap batang rokok yang dikepit di antara jari tengah dan jari telunjuknya.
Tidak lucu! Jika Erin tahu bahwa dalang dari penyekapannya adalah tanteku sendiri, dia akan sangat murka. Aku yang tak pernah melakukan apapun, sudah membuatnya begitu benci padaku. Bagamana jika dia tahu? Bukan dipecat lagi, tapi akan dilaporkan pada pihak yang berwajib.
"Apa maumu, *******!" Erin melakukan perlawanan.
Plaaaaaaaaakk.
Sekali lagi pipi mulus terawat Erin, harus dihadiahi tamparan dari pria bertubuh kekar itu. Kali ini lebih keras hingga kursi yang diduduki, ikut terjatuh bersamanya. Raungan tak berdaya membuat seluruh ruangan berubah menjadi seperti rumah jagal, dan Erin adalah calon korban yang akan dieksekusi.
Keringatku bercucuran hebat, berpadu dengan napas yang terasa semakin sesak. Aku bahkan tak mampu merasakan tenggorokanku sendiri. Tari memang sudah gila, dia membawa gen tidak waras bersama dengan darahnya. Dadaku ingin meledak rasanya.
"Kumohon beritahu apa maumu? Kau mau uang? Kekayaan? Aku bisa berikan. Ayahku punya banyak. Sebutkan saja berapa yang kau minta," rintih Erin pilu.
Tak terasa air mataku jatuh melihatnya. Kutangisi orang yang selama ini berbuat kejam padaku. Aku mencengkram lututku begitu kuat hingga terasa nyeri. Tari sungguh keterlaluan. Jika ingin membalasnya, tidak seperti ini caranya.
Tiba-tiba pria yang berada di layar menaruh handphone di telinganya. Ah! Seseorang sedang mencoba berkomunikasi dengannya. Aku berbalik ke arah Tari dan mendapatinya melakukan sambungan telepon. Pasti itu dia, siapa lagi?
"Sekarang gunakan benda itu," perintah Tari, lalu memutuskan sambungan.
Air mataku berlinang cukup deras, berharap apa yang sudah kusaksikan hanyalah sebuah mimpi atau rekayasa semata. Cepat-cepat kualihkan kembali pandang ke layar untuk mengetahui maksud ucapan 'benda itu', dan melihat pria kekar yang berada di layar memegang pisau kecil tajam berkilat jahat.
"Bagaimana jika aku meminta nyawamu?" ucap pria itu memegang dagu Erin yang sudah dibasahi oleh keringat dan air mata. Suaranya sungguh berat dan menakutkan, mirip Hendra, ayahku.
Kutatap dalam mata Tari, seakan protes. Mereka memang keluarga yang kejam. Darah-darah pembunuh yang pernah tidur sedang bangkit dan mengalir deras pada tubuhnya. Dia mungkin tak sadar atas perbuatannya saat ini. Kau kerasukan bayangan kutukan keluarga Mahendra, Tari. Kumohon, sadarlah.
Tari sepertinya paham dan menggeleng lembut. Disentuhnya punggung tanganku, tepi segera kutepis hingga membuat batang rokoknya terpental jauh di sudut ruangan. Baru kali ini aku menentang Tari. Dia menatapku tajam dan sinis, seperti sedang memberi sebuah ancaman.
"Tenang saja. Belum ada yang mati, Jihan," ujar Tari.
Taaakk.
Dengan satu tangan, pria itu mampu mengangkat tubuh Erin yang terjatuh bersama kursinya untuk kembali duduk tegak, membuat suara sentakan yang berasal dari kaki-kaki kursi kayu yang menghantam kasar lantai yang tempat mereka berpijak.
"Cuih!" Erin meludah mengenai wajah pria itu.
"Berani-beraninya kau, setan!" Dengan emosi, pria itu mencengkram kuat leher Erin membuat hentakan-hentakan hebat antara lantai kotor dan kursi yang didudukinya, lalu ...
Braaaakkk ....
Dia melempar Erin bersama kursinya ke tembok. Tubuh mungil Erin meringkuk kesakitan di atas patahan kayu yang tadinya utuh, namun sekarang berserakan diulah pria bertubuh kekar itu.
"Ampuuuuuuuuuuuun." Lengkingan suara Erin keluar dari bibir mungilnya, sambil meraba punggung tempat rusuk sebelah kiri miliknya.
Mataku membelalak, tangisku tumpah lebih deras lagi. Aku berdiri dan mencoba mencari asal raungan-raungan itu, tapi Tari tak kalah sigap menghadang tubuhku. Sebagai instruktur kebugaran, dia menang banyak saat memiting kedua lenganku dari belakang.
"Kumohon lepaskan dia, Tari. Bukan seperti ini caranya!" Nyaris habis tenagaku mencoba melepaskan cengkraman Tari, tapi percuma. Dia bahkan tak beranjak sedikitpun.
"Diam saja dan pelajari maksudku, Jihan! Melawan takkan bisa membuat situasi lebih baik," bentak Tari.
Tari melepaskan cengkramannya, lalu mendorong tubuhku hingga terduduk kembali di atas kursi. Tampak jelas dari wajahnya, kalau aku sudah sangat membuatnya marah saat ini.
Aku sendiri hanya mampu menangis menutupi wajah dengan kedua tangan, berharap tak melihat kejadian apapun dari balik layar hitam putih itu lagi, namum percuma. Pandanganku langsung teralihkan kembali saat mendengar suara Tari.
"Cepat selesaikan, sekarang!" Tari menelpon seseorang. Aku yakin betul, bahwa barusan adalah pria kekar yang tadi menghempas tubuh Erin, hingga membuat kursi yang dia duduki hancur terbelah-belah.
Seakan mendapat tenaga baru, aku berdiri dan mendekati layar TV hitam putih yang sedang menyala itu, mencari sosok pria kekar, teman Tari. Kini ku hanya berada sekitar 30 cm di depan tv itu, menatap diiringi deru jantung yang berdebar kencang, dengan kedua tangan memegang sisinya.
Sial! Pria itu berdiri di sana. Mengangkat kerah baju seragam kantor milik Erin, hingga membuat kaki-kakinya berayun menggantung di udara. Erin tak berpijak lagi pada tanah saat ini. Di tangan kanan pria itu, sudah menggenggam pisau kecil tajam, seperti sudah siap untuk memisahkan raga wanita itu dengan nyawanya.
"Aaaaaaaaaaaaarrrggghhhh!" Jeritan Erin membuatku tersadar akan arah teriakannya.
Aku tersentak dan mencoba berlari ke arah suara itu, namun Tari menarik jaketku hingga terduduk jatuh ke lantai. Tubuhku sudah tak kuat lagi rasanya. Berhadapan dengan Tari, seperti berhadapan dengan dua orang sekaligus. Dia memiliki tenaga yang luar biasa.
"Tolooooooooong!"
"Erin! Erin!" Lengkinganku bergema memantul, memenuhi seluruh ruangan.
"Aaaaaarrgghhh. Di sini. Tolooong!" Lolongan suara Erin mengantarkanku tepat pada posisinya.
Kudorong paksa pria itu dari belakang. Pria kekar yang tak sadar akan kehadiranku kaget, dan menjatuhkan Erin dari cengkramannya, tapi tidak dengan pisau yang sudah digenggamnya dengan erat.
Aku bergerak cukup lincah menghindari tubuhnya yang bongsor dan menghampiri Erin. Deru yang berada dalam dadaku terasa agak lega, saat memeluk tubuhnya yang bergertar hebat. Erin sedang berusaha mengumpulkan oksigen untuk menggantikan tenaganya saat terangkat tadi, namun pria itu mencengkram bajuku dan menghempaskanku terpisah dari Erin.
Sakit rasanya, saat lututku harus beradu dengan lantai kotor di bangunan tua ini. Perlahan tapi pasti, pria itu mendatangiku. Dari balik lubang mata pada topengnya, dia menatapku dengan sinis. Dia mengangkat lengan kekar yang menggenggam pisau mungil itu tinggi-tinggi, tepat di atas kepalaku. Mungkin inilah akhir dari ceritaku, kututup rapat mata, menanti ujung takdir yang akan menemuiku saat ini, tapi tiba-tiba ....
"Berhenti!" teriak seorang wanita yang menggunakan topeng pada wajahnya. Aku tahu itu adalah Tari. "Mari kita pergi dari sini," ujar Tari pada pria kekar itu.
"Tapi, Bu ..."
"Sudah! Target kita adalah wanita sombong itu." Tari menunjuk ke arah Erin yang meringkuk gemetaran di ujung ruangan. "Kita tak kenal dia. Jangan sia-siakan tenagamu hanya untuk menghabisi wanita kurus itu." Tari menatap ke arahku, seakan memberi tahu bahwa wanita kurus yang dimaksud adalah aku.
Mereka keluar meninggalkanku dan Erin dalam tangis. Aku memeluknya sangat erat, seakan tak akan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. Setelah suara mobil semakin menjauh, barulah rasa lega bisa kami rasakan.
Erin masih sangat shock, bahkan setelah kepergian dua orang tadi. Kami berpelukan dan menangis bersama, seperti bocah kecil yang sedang memberi dukungan satu sama lain saat dimarahi oleh ayahnya. Kubelai lembut rambut Erin yang acak-acakan, agar dia lebih tenang.
“Tenang. Kau aman bersamaku. Mari kita pulang," ajakku.
➖➖➖➖➖
“Bravo, bravo!” Tari bersorak bertepuk tangan, saat melihatku masuk ke dalam kontrakannya.
Semalaman aku tidak pulang. Tubuhku rasanya ingin patah diulahnya. Tenagaku terkuras banyak akibat perlawanan dan terlalu banyak menangis ketakutan. Belum lagi aku benar-benar kesal padanya saat ini.
[ Bagaimana? Keren kan aktingku? Sudah kubilang, takkan ada yang mati, Jihan. Aku tidak seperti mereka para Mahendra. Hahahaha .... ]
Jika saja tidak membaca pesan darinya setelah meninggalkanku dan Erin di gedung tua itu, mungkin saat ini aku takkan kembali ke tempat ini.
“Kau?” Kutunjuk wajahnya penuh amarah.
"Bagaimana rasanya jadi pahlawan, Jihan? Hahahaha ...." Tari tertawa terbahak-bahak seakan mempermainkan kami.
"Kau gila, Tari!" ucapku sambil melempar helm ke pangkuannya. Dia tertawa lebih kencang lagi, seakan meledek tindakanku kemarin.
"Itu rencanaku, Jihan. Aku tahu kau takkan tega dan sengaja menyelamatkan putri sombong itu. Buktinya, tak kubawa motormu untuk pulang kan?" Tari berpindah membuka kulkas dan mengambil dua kaleng soda yang salah satunya dilemparkan kepadaku. "Beruntung kau tak memiliki darah seorang Mahendra yang pemberani, Jihan. Jika iya, bisa gagal rencanaku membuatmu menjadi pahlawan. Ckckckck, Jihan ... Jihan .... Seharusnya kurekam mimik wajahmu saat itu." Tari tertawa puas. Dia seakan merayakan kemenangannya.
"Kau merusak jaket kesayanganku, Tari," hardikku mengingat jaket parasut merah yang paling kusukai.
"Nanti kuganti jaket bututmu itu, cemen!" Tari meloncat riang, duduk di sofa depan TV dan menyalakan rokoknya.
"Jeansku juga. Hancur karena terseret raksasa suruhanmu itu." Kutunjuk lututku yang nyeri dibalut celana jeans yang koyak karena jatuh terseret pria bertubuh kekar. "Jika bisa kuminta kau ganti lututku, akan kuminta juga kau menggantikannya,"
"Hahaha .... Maaf, Jihan. Bagian itu tak masuk dalam rencana. Aku tak tahu kau akan bertindak senekat itu. Yang kuperhitungkan hanya kau menerobos masuk ke sana dan berteriak-teriak," jelas Tari menghembuskan asap rokoknya. "Sini duduk." Dia menepuk sofa yang berada di sisinya, tanda menyuruhku duduk di sana.
Aku masih kesal mengingat tingkahnya yang benar-benar spontan. Jika memang dia ingin membuat Erin kapok dengan tipuan, harusnya dibicarakan dulu padaku. Dia tak tahu bagaimana perasaanku saat itu.
"Sudah cukup acara keluarganya, atau lebih baik kita nonton saja?" ujarku agar Tari berhenti tertawa dan mengolokku.
Dia tertawa lebih keras lagi dan memencet remote untuk menyalakan televisi, mencari siaran yang pantas untuk ditonton. Namun jarinya terhenti saat siaran berubah menjadi siaran berita.
‘Ditemukan mayat seorang gadis menggunakan seragam karyawan Bank Eszed yang berinisial ER, dengan kepala hancur nyaris tak dikenali. Diduga pembunuhan terjadi sekitar 19 jam yang lalu. Hingga saat ini, identitas pelaku belum diketahui.’
"Nah! Harusnya seperti itu cara menghabisi orang. Tidak seperti kalian, keluarga Mahendra," jelasku santai, sambil meraba-raba permukaan kaleng soda milikku untuk mencari pembukanya.
"Maksudmu, Jihan?" Tari bingung.
"Kau bayangkan saja bagaimana cara Ayah dan Ibuku bermain dengan korbannya? Mereka terlalu mencolok dan mengeluarkan banyak suara, bisa gila dibuatnya. Aku sempat tertarik dengan cara terakhir mereka, tapi sayang, tak ada darah di sana. Membunuh tanpa darah, bagai makan permen tanpa membuka bungkusannya, Tari. Hambar." Kubuka kaleng sodaku.
Tari terperanjat menatap wajahku, seperti sedang melihat hantu. Keringat sebesar jagung, perlahan menyucur dari pelipisnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman terbaik yang kumiliki.
"A-apa yang ka-kau la-lakukan pa-pada Erin, Jihan?" Tari terbata-bata.
Dapat kulihat genangan air mata yang tertahan di matanya. Napasnya terdengar berat sambil menutup bibir mungilnya menggunakan tangan. Sesekali dia kembali mengalihkan pandangan ke layar TV lalu menatapku kembali dengan sangat mengerikan. Dia bahkan lupa mengisap batang rokok yang sudah nyaris menyudut jari-jemarinya.
"Hmmm ... tak banyak. Hanya persis seperti yang kulakukan pada Ayah dan Ibu sebelum kulaporkan keduanya pada polisi. Jadi ... kapan kita bersulang, Tari?"
*❤️ Tamat* ❤️
➖ Sarah Eszed ➖**