Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
HADIAH ISTIMEWA #2




"Mau apa kau?" bentak Mama.


Pertanyaan dari Mama tak kupedulikan sama sekali. Aku terus fokus mencari benda yang saat ini berada di dalam pikiranku. Hampir gila rasanya, isi kepalaku mau meledak.


"Kalau kau punya otak, Papamu masih hidup sampai sekarang. Sisi tak harus punya cacat bekas goresan di wajahnya. Itu semua karena kau!" Kembali Mama memaki, seakan tak puas dengan kalimat yang sudah diucapkan sebelumnya.


Akhirnya kutemukan benda itu. Tergeletak di laci kiri pertama. Terlihat dingin mengkilat dan sangat tajam. Segera kuraih dan menggenggamnya dengan erat. Aku maju selangkah demi selangkah mendekati Mama dengan bendungan air mata yang segaja kutahan agar tak terjatuh.


"Mau kau apakan benda itu, Riki?!" Bentak mama sembari mundur sedikit demi sedikit.


Aku tak gentar dan terus maju mendekatinya, hingga berdiri tepat dihadapan Mama. Kusambar tangan Mama dan meletakkan benda dingin itu di sana. Tangan orang yang melahirkan dan membesarkanku hingga saat ini. Tangan dari orang yang sering menyudutkanku dengan masa lalu, yang membuat hatiku terasa teriris dan merasa berdosa.


"Bunuh. Bunuh saja aku sekarang, Ma. Biar puas kalian berdua." sambil membatunya mengarahkan pisau itu ke leherku.


Tangisku tumpah. Tak kuat lagi jika harus seperti ini terus. Jika memang ada akhir dalam sebuah cerita, biarlah ini menjadi akhir dari cerita hidupku.


"Tidaaaaaaaaaakkk." Sisi berteriak histeris.


➖➖➖➖


"Maaf, Bro. Sepertinya kita tidak bisa lanjut hari ini. Aku di rumah saja. Kau pergilah bersenang-senang," ujarku pada Edi yang menunggu di teras rumah kami.


"Aku yang seharusnya minta maaf, kalau saja kau tidak kupaksa menginap, tak akan seperti ini."


"Tidak apa-apa. Kau pulanglah. Aku harus menenangkan diri," sambil membukakan pintu pagar untuk Edi.


Bertolak masuk kembali ke dalam rumah. Di sana ada Mama yang sibuk mengipas-ngipasi Sisi yang pingsan melihat kejadian tadi menggunakan koran. Tapi aku melengos saja seakan-akan mereka tidak pernah ada dan berjalan menuju kamarku.


Setelah masuk kamar, aku duduk terpaku di pinggir kasur. Tidak melakukan apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa. Memangnya apa yang harus kupikirkan dan kulakukan? Tidak ada. Aku di sini bukan siapa-siapa.


"PEMBUNUH"


"PEMBUNUH"


Suara Mama seakan terulang-ulang mengisi penuh ruang kamar. Aku menutup telingaku, tapi rasanya percuma. Suara itu muncul dari dalam diriku. Kubenamkan wajahku ke bantal dan berteriak sekeras mungkin agar tak ada yang mendengar pedihku.


Aku mukul-mukul kasur, kuhempaskan kepalaku ke dinding, agar terkuras tenagaku, untuk menghilangkan pikiran kotor yang tiba-tiba menghantui.


Bisikan setan yang tidak mampu kulawan.


Bisikan "BUNUH SAJA ANAK ITU"


➖➖➖➖


Perlahan diriku melangkah menuju dapur, kembali mencari benda yang tak sempat digunakan tadi. Setelah mendapatkannya kemudian berjalan pelan melalui tangga dan berdiri di depan pintu kamar Sisi.


Kucoba membuka perlahan knop pintu kamarnya. Setelah terdengar bunyi 'klek' aku lega, kamarnya tidak dikunci. Sisi memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya.


Dari jauh dia tertidur pulas. Ruang itu terlihat remang-remang, hanya disinari oleh lampu tidur berwarna kuning hangat yang membuat wallpaper putih dihiasi gambar balon, ikut menjadi berwarna kuning.


Melihat itu aku mengingat masa-masa kecil kami dulu. 'Balonku' adalah lagu yang paling dia sukai. Dia paling senang menyanyikan lagu itu sambil berpura-pura memegang balon khayalannya dengan mengangkat kedua tangan ke udara dan berjinjit layaknya penari balet.


Bukan. Bukan itu tujuanku berada di sini. Bukan untuk mengingat masa-masa yang lalu. Aku menyadarkan diriku sendiri, lalu membuka mata.


"Cukup satu tusukan bagian kiri rongga dada. Pasti akan tepat masuk ke dalam jantungnya", ucapanku berbisik sambil melangkah maju menuju ranjang Sisi.


Akan kutraktir Edi setelah ini, karena sajak romantis yang dia ucapkan tadi pagi, bisa mengingatkan ucapan Guru biologi di kelas, bahwa jantung terletak pada bagian dada sebelah kiri.


Kuangkat tinggi-tinggi tanganku mengambil ancang-ancang untuk membenamkan tusukan. Aku terdiam sejenak melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Wajah yang mirip dengan ku. Wajah saudara kembarku sendiri.


Tiba-tiba mata bulatnya terbuka dan menatapku.


➖➖➖➖


#MAMA


Sisi menggedor pintu kamarku.


"Mamaaaaaaaaa. Buka pintunya, Ma"


Terasa agak pusing harus terbangun. Kulirik jam yang tergantung di dinding kamar. Masih pukul dua ternyata.


Tadi setelah mengantarkan Sisi ke kamarnya, aku memang sengaja memimum obat tidur agar segera terlelap untuk melupakan kejadian hari ini.


"Maaaa. Buka, Ma.... Abang ngasih Mama hadiah."


Aku membukakan pintu dan membiarkannya masuk. Kulihat dia terisak-isak dan bernafas sangat cepat. Saat kunyalakan lampu, betapa kagetnya diriku melihat tubuhnya dipenuhi dengan noda. Bukan noda biasa, tapi seperti noda darah.


"Apa ini? Apa kau terluka?"


Dia tersenyum sangat lebar. Air matanya mengalir, tapi senyumnya sangat lebar. Sungguh mengerikan.


"Abang nyembunyiin hadiah. Aku yang mendapatkannya." ucap Sisi dengan keadaan masih tersenyum.


"Hadiah apa itu?"


Dia diam saja. Sisi menggerakkan kedua lengannya ke depan. Aku tidak memperhatikan dia menyembunyikan sesuatu dibalik dasternya dari tadi, karena kaget melihat dia berlumuran noda yang berwarna merah.


"Apa itu?" takut-takut kutunjuk tangannya.


"Coba maju dan Mama lihat baik-baik"


"Seperti otak," sambungku saat memajukan tubuh sedikit untuk melihat dengan jelas.


Dia menimang benda itu seperti menimang seorang bayi, lalu dia melompat berjinjit seperti seorang penari balet, menggangkat lengannya tinggi-tinggi, lalu menggumamkan sebuah lagu dengan samar. Sekilas terdengar seperti lagu 'Balonku'. Samar-samar, semakin jelas, semakin jelas.


Saat dia memutarkan tubuhnya untuk melihat wajahku yang sedang ketakutan.


"Ayo, Mama. Sini menari bersamaku. Kita rayakan hari ini," lalu kembali menari.


Tapi kali ini tidak bergumam, melainkan membuka mulut dan berdendang. Masih dengan irama lagu 'Balonku'


Abangku punya otak...


Hadiah untuk Mama...


Dapat dari kamarku...


Kuambil untuk Mama...


Keluar otak abang. Dor !!!


Hatiku sangat kacau...


Abang tidur di kamar...


Kupeluk erat-erat....


Aku berlari menuju kamar Riki, tapi dia tak ada di sana. Tubuhku lemas, jantungku berdebar kencang. "Kemana Riki?" ujarku dalam hati. Aku melihat jejak noda menyerupai darah yang berasal dari kamar Sisi.


Kukuatkan diriku untuk melangkah ke sana. Bau amis menyelimuti ruangan itu. Kulihat tubuh Riki tergeletak dengan kepala yang sudah hancur berantakan. Aku menangis sejadi-jadinya di sudut kamar itu.


Sisi masuk menyusulku. Dia masuk dan memeluk tubuh Riki yang sudah tidak karuan itu. "Maaf, Bang. Maafkan Sisi, Bang" kudengar bisikannya.


"Aku akan membalasmu, Ma"


"Membalas apa?" tanyaku.


Dia diam saja dan melangkah maju mendekatiku. Aku semakin gemetaran. Sekarang dia tepat berada di depanku, berdiri tegak, dengan tatapan sangat mengerikan serta membawa sebilah pisau. Aku menutup mata sangat rapat, pasrah dengan apa yang akan kuterima selanjutnya.


➖➖➖➖


#RIKI


Kuangkat tinggi-tinggi tanganku mengambil ancang-ancang untuk membenamkan tusukan. Aku terdiam sejenak melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Wajah yang mirip denganku. Wajah saudara kembarku sendiri,


Tiba-tiba mata bulatnya terbuka dan menatapku.


"Abang mau ngapain?" ucap Sisi polos saat melihatku.


Seperti proyektor yang diputar kembali, teringat sosok anak kecil berpakaian putih-biru yang menangis memeluk Papa. Tubuhku lemas. Tak mampu aku menyakiti Adikku sendiri. Apalagi melihat bekas luka itu. Aku menangis terduduk meluncur di samping ranjangnya.


"Maafkan Abang, Dek. Abang yang membuatmu menjadi seperti ini." sambil mengusap bekas luka yang berada di pipinya.


Dia memelukku erat. Sungguh suasana yang sudah lama aku rindukan. Rindu sedekat ini dengan Adikku. Saudara satu-satunya yang paling kusayangi.


"Aku juga, Bang. Maaf atas semua perlakuan Mama terhadapmu."


Kami berpelukan cukup lama sekali. Bisa kucium aroma harum dari shamponya. Aku kangen berat pada Sisi, pada Mamaku, juga Papaku. Sungguh hanya sendiri yang selalu kurasakan selama ini.


Aku berdiri, terdiam menatap wajahnya yang sungguh polos. Kubelai dan kukecup rambut lembutnya


"Sudahlah tidak perlu berlarut-larut. Ini ceritaku. Biar aku yang mengaturnya"


➖➖➖➖


#SISI


"Sudah tidak perlu berlarut-larut. Ini ceritaku. Biar aku yang mengaturnya" ucap abang sambil menghapus air mataku.


"Abang mau kemana?"


"Jantung tepat di rongga dada sebelah kiri," ucapannya. Secepat kilat menancapkan pisau yang sengaja ditusukkan ke dadanya.


Darahnya menyucur deras dari luka itu. Aku menghampirinya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku.


"Apa yang kau lakukan, Bang?" aku menangis gemetaran


Terdengar jelas tarikan napasnya yang berat dan tiba-tiba menghilang. Kuguncang-guncangkan tubuhnya berharap dia bergerak, tapi percuma, dia sudah tak bernyawa.


Hampir satu jam aku duduk terpaku sambil memegang jasad Abangku. Mataku perih karena terlalu banyak menangis. Kemudian aku berdiri.


"Akan kuambil isi kepalamu lalu kuhadiahkan ke Mama, agar dia tahu kau punya otak, Bang.


➖➖➖➖


#MAMA


"Apakah aku sudah mati? Kenapa tidak terasa apa-apa?" ujarku dalam hati.


Suasana hening. Pelan-pelan kubuka mataku mencari sosok Sisi yang tadi berdiri dihadapanku, dia tak ada. Tiba-tiba kudengar suara 'klik' sama seperti saat aku membuka jendela saat sedang membersihkan kamar Sisi. Otomatis mataku melirik, dan mendapatkan Sisi duduk di sana.


"Abang punya otak. Kali ini Mama yang jadi pembunuh. Nikmatilah hidup penuh dosa" ucap Sisi, lalu menghilang meloncat turun dan mendarat tertancap di ujung pagar rumah.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖