Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
HIDANGAN BERDARAH




#APRI


Sempat kupuji diriku karena memilih tempat ini sebagai karya seni yang luar biasa. Ah... Cocok sekali tempat ini. Begitu dingin, begitu sepi, dan baunya tidak sedap. Terkadang aku melihat gerakan pada sisi tembok tempat tikus-tikus busuk itu berlalu-lalang menuju lemari besar yang ada di hadapanku.


Rasa penasaran membukanya sempat muncul, namun bau amis yang samar-samar muncul saat aku mendekat mengurungkan niatku. Mungkin di sana tempat mereka menaruh persediaan makanan untuk para koloni tikus. Aku tak akan mengganggu urusan mereka. Aku di sini punya urusan sendiri.


Entah siapa yang mendiami rumah ini dulunya, tapi mereka masih menyimpan beberapa perabot, yang membuatku tidak perlu repot-repot membawa meja kecil dari rumah untuk meletakkan benda ini.


Saat aku menata tissue di atas kursi yang akan kududuki agar tidak mengotori celana jeans yang baru kubeli, cahaya dari lampu motor masuk ke pekarangan. Aku tahu itu pasti dia. Siapa lagi yang mau mengunjungi rumah ini jika tidak ada yang mengundangnya?


Rumah angker yang memiliki cerita seram hingga tersiar sampai kampus sebelah, tempat aku menghabiskan waktu untuk mendengarkan dosen menjelaskan tentang Jurnal Penyesuaian, dua minggu yang lalu.


Mesin motor dimatikan disusul dengan langkah sepatu yang semakin dekat. Tak ada suara ketokan pintu. Dia langsung masuk dan memanggil namaku.


"Apri! Ini aku, Bryan."


"Di sini. Ruang makan," balasku.


Sosok tegap masuk ke ruangan di mana aku menunggu. Dalam keadaan yang kurang cahaya pun, dia memang begitu mempesona. Tak heran jika wanita-wanita itu bertekuk lutut hanya untuk mendapatkan cintanya. Sayangnya mereka hanya dianggap seperti boneka oleh Bryan, yang dibuat menjadi permaisuri sejagad, lalu tiba-tiba dihempaskan begitu saja.


"Di sini terlalu gelap, Apri. Bisakah kita memilih tempat lain? Aku agak merinding," ucap Bryan.


"Tenang saja. Aku sudah bawakan lilin untuk penerangan. Kau punya korek?" sambil mengulurkan tanganku.


Bryan merogoh kantung celananya dan memberikanku korek standar berwarna biru. Tidak seperti korek imut-imut milikku di rumah yang kubeli khusus untuk menyalankan lilin aroma terapi.


Sinar dari lilin yang memancar, cukup membuat penglihatanku jauh lebih baik. Aku rasa begitu juga dengan penglihatan Bryan, karena setelah itu dia baru sadar bahwa di depannya sudah tersedia peralatan makan dan menu utama yang khusus aku siapkan hari ini.


"Wah jadi ini kencan? Hmmm... Makan malam romantis," sambil terkekeh, lalu menarik kursi yang berada dihadapanku.


Aku hanya tersenyum manis. Iya, senyumku harus manis malam ini.


"Jadi. Menu apa yang kau hidangkan hari ini?" sambil menunjuk hidangan yang ditutup oleh tudung saji yang terbuat dari stainless.


"Bukalah sendiri. Kau akan melihatnya," jawabku yang sedang menopangkan dagu di kedua tanganku.


Dia mengangkat tangannya dan memegang tutup tudung yang dingin itu. Sebelum mengangkatnya, dia menatap dalam mataku. Ah.... Tampan sekali pria ini.


Isi dalam tudung itupun terlihat sekarang. Kembali Bryan menatapku tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tapi kali ini tatapannya tak seromantis sebelum dia mengangkat tudung saji yang masih digenggamnya saat ini. Kali ini tatapannya sangat serius.


"Apa ini, Apri?" tanya Bryan.


Aku tidak menjawabnya melainkan mengambil sendok untuk menaruhnya sedikit hidangan itu di atas piringku. Hidangan warna pink tua cenderung ungu dengan guratan timbul seperti akar-akar halus berwarna merah dengan sedikit cairan kental merah menggiurkan, kupotong dengan mudah menggunakan sendokku.


Bryan menatapku yang sedang mengunyah perlahan. Tak sulit untukku untuk menghaluskannya agar bisa kutelan. Hidangan itu dengan mudah meluncur jatuh masuk ke dalam kerongkonganku.


"Kenapa kau tak memakannya? Katamu kau menerima aku apa adanya? Cobalah sedikit, rasanya manis," ajakku


"Bagaimana dengan pemiliknya?" tanya Bryan tanpa berhenti menatapku tajam.


"Tenang saja. Setelah mengambilnya, aku membersihkan dan mengubur semuanya dengan rapi. Tak akan ada yang tahu aku memisahkan otak itu dengan pemiliknya." sambil menikmati suapan yang aku masukkan lagi ke mulutku.


Dia mengangkat tangannya mendekat menuju hidangan istimewaku. Tanpa menggunakan sendok, mengambil dan memasukkan ke dalam mulutnya. Terlihat tetesan cairan merah yang meleleh dari pinggir bibirnya saat dia mengunyah itu.


"Punya nyali juga kau. Kau menang kali ini. Aku mau menjadi pacarmu," aku tertawa dan memberikan tepukan tangan untuknya.


"Aku heran," seru Bryan melambangkan ada sesuatu yang aneh.


"Heran kenapa?" tanyaku


"Heran. Kenapa rasanya manis ya?" ucap Bryan sambil menjilat-jilat jarinya yang kotor oleh cairan merah kental itu. Seperti sangat menikmatinya.


Aku tertawa terbahak-bahak. Jelas saja itu manis, aku membuatnya dari campuran agar-agar, selai dan sirup strawberry dari minimarket yang kubeli tadi pagi. Cerita tentang otak dari kuburan sengaja aku buat untuk melihat nyalinya. Saat aku ingin menjelaskan kepadanya, dia membuka mulut dan mulai berbicara.


"Ini tidak seperti yang biasa aku makan"


"Maksudmu apa?" tanyaku agak bingung melihatnya. Memangnya dia biasa menyantap hidangan seperti apa?


Bryan tidak menjawab pertanyaanku. Dia berdiri dari kursinya dan melangkah ke lemari tempat koloni tikus itu berkumpul. Aku tidak menguncapkan apapun, dia berdiri terpaku di sana selama 10 detik. Suasanya begitu sepi hingga aku bisa mendengar suara nafasku sendiri.


Dia membuka pintu lemari itu dan seekor tikus naik ke atas meja menyenggol lilin yang kunyalakan tadi. Dan karena itu juga, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang berada di dalam sana. Namun aku tahu saat deritan pintu keropos itu dibuka, terdengar suara benda yang jatuh dan berguling dilantai disertai bau amis yang memenuhi ruangan hingga sesak.


Entah apa yang ada di pikirkanku saat ini, tapi jelas aku ketakutan. Ada yang tidak beres di sini. Mataku menyusuri permukaan meja dibantu tanganku yang meraba-raba mencari korek yang diberikan oleh Bryan tadi. Untung tak lama mencari, aku bisa mendapatkan benda itu. Tangan kananku bergetar saat mencoba menyalakan lilin itu. Setelah menyala, mataku menyesuaikan situasi dan mencoba melihat dengan jelas seluruh isi ruangan.


Bryan masih berdiri di sana, tapi kali ini dia memutarkan badan memandang ke arahku, tidak ke lemari itu lagi.


"Mari ke sini. Kutunjukkan kepadamu apa yang biasa aku santap"


Aku berdiri menggeser bangku yang tadinya kududuki, karena pintu lemari menghalangiku untuk melihat apa yang berada di dalamnya. Saat aku mengintip, jantungku hampir copot dibuatnya. Aku menangis dan berteriak sangat keras tapi tak ada yang mendengarkanku. Siapa juga yang akan memperhatikan teriakan wanita di rumah angker ini? Pasti mereka berpikir teriakanku berasal dari makhluk-makhluk halus beserta kawanannya.


"Gila kau, Bryan!"


"Kenapa sayang? Kali ini kau coba santapanku. Mari kita nikmati sebelum tubuhnya terlalu kaku. Atau mau kau coba kepalanya dulu?" ucapan Bryan dengan senyuman yang mengerikan sambil menunjuk potongan kepala wanita yang bengkak karena terkena pukulan, penuh cairan merah mengental terletak di lantai.


"Aku tidak serius, Bryan. Itu hanya tantangan saja," aku histeris.


Dia tidak membalasku, justru mendekat dan mengulurkan tangannya. Dia pikir ini romantis apa? Dia Psikopat! Aku mundur perlahan, tapi dia membesarkan langkahnya meraihku. Semakin takut aku dibuatnya saat tangannya meraih pergelangan tanganku.


"Ayo, Apri sayangku. Kita kan sudah jadian."


Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku memutar lenganku dan berhasil terlepas dari cengkramannya. Aku berlari menuju jalan mencari keramaian dengan terisak-isak. Tak peduli lagi dengan peralatan makan mahal yang kuambil dari dapur ibu yang tertinggal di rumah kosong itu.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


#DIAN


"Dia sudah pergi. Kita berhasil. Keluarlah, Dian" Bryan berteriak di dalam ruang kosong.


Tanpa butuh aba-aba kedua, aku segera keluar dari tempat persembunyianku dari kamar kosong di sebelah ruang makan di rumah angker itu.


Saat melihat wajahku, dia tertawa terbahak-bahak. Mungkin merasa menang karena sudah mematahkan rencana sahabatku Apri yang kubocorkan kepadanya.


Bertahun-tahun aku harus mendengarkan celotehan anak itu tentang pria-pria yang datang untuk menyatakan cinta padanya lalu dicampakkan sesuka hatinya. Cih. Sok cantik! Sesekali dia harus merasakan pelajaran atas perbuatannya.


"Terima kasih kerja samanya, Dian," sambil menyalakan rokoknya.


"Sama-sama," jawabku singkat.


Aku membuka botol coca-cola yang tadi disiapkan oleh Apri untuk menjebak Bryan. Sudah tidak dingin lagi, tapi biarlah. Aku kehausan harus menunggu di ruang pengap yang berada di sebelah.


"Ngomong-ngomong apa yang kau gunakan? Mengapa baunya amis sekali? Hampir saja aktingku gagal karena mau muntah saat membuka lemari itu," Bryan bertanya sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Oh... Darah itu?"


"Iya, Darah itu"


"Aku tidak menaruh apa-apa. Itu asli." sambungku santai.


Mimiknya berubah seperti agak berhati-hati. Aku diam menatap potongan kepala yang terjatuh tadi, sambil menghabiskan minumanku dari gelas Apri yang belum sempat disentuhnya tadi.


"Jangan bercanda denganku, Dian. Target kita Apri, bukan aku," ucap Bryan agak cemas. Dengan jelas aku bisa melihat butiran keringatnya yang besar-besar muncul berkilat karena pantulan lilin.


"Pernah kau melihatku bercanda, Bryan? Kau sendiri yang bilang, buat semuanya tanpa celah agar sempurna. Lihat malam ini. Semuanya sempurna, bukan? Jangan egois, Bryan. Lihatlah karyaku. Kau sendiri sampai tidak sadar siapa yang duduk meringkuk di dalam lemari itu"


Dia berdiri kembali menatap sosok tubuh wanita yang tak dikenalnya. Aku sengaja menatap wajahnya tanpa berkedip untuk menikmati moment ini. Tiba-tiba dia mundur. Entah apa yang dipikirkan, tetapi dia sepertinya sangat kaget.


Dengan kasar, dia menarik jaket yang tadinya digantungkan pada kursi reot untuk mencari sesuatu pada kantungnya. Aku tetap terpaku melihatnya. Setelah mendapatkan benda persegi panjang pipih berwarna hitam itu, dia menatap layarnya dan memainkan jari-jarinya dengan kasar, tanpa menoleh sedikitpun padaku. Sungguh tidak sopan.


[ *Tante. Mana Jane? ]


[ Tidak ada bagaimana maksud Tante? Kirimkan nomornya sekarang*! ]


Lalu mengakhiri pembicaraan itu. Entah siapa yang ditelponnya. Sepertinya dia menanyakan seseorang yang bernama Jane. Sekali ini dia menoleh ke wajahku. Aku memberinya senyuman manis, tapi dia tak membalasku.


'Ting' bunyi yang berasal dari handphone Bryan, tiba-tiba mengubah suasana yang sunyi. Kembali dia melihat layar itu dan menaruh ke telinganya.


"Angkat Jane. Angkat!" aku mendengar suaranya berbisik.


Suara ringtone memecahkan kesunyian dalam ruangan itu. Tidak dari handphoneku, juga tidak dari handphone Bryan, karena saat ini dia menghubungi seseorang. Dia kembali menolehku, kali ini tatapannya seperti sudah melihat hantu. Karena tatapan itu, aku lupa kapan deringan tadi berhenti. Sekali lagi dia memencet layar handphonenya, deringan itu muncul dari balik baju wanita tak berkepala yang sedang duduk dalam damai di lemari tua itu.


"Tak perlu kau telpon. Mengangkat kepalanya saja dia tak mampu," ucapku sambil lirikkan mata ke lemari itu.


Dia terduduk lemas tak peduli berapa banyak kotoran dan kuman yang akan melekat di celananya nanti. Aku mendekatinya mengulurkan tanganku. Tapi dia menutup wajahnya menggunakan lengannya.


"Pergi kau wanita gila!"


"Kau kenapa? Bukankah aku partnermu malam ini?" mulutku berucap pada Bryan, tapi mataku sedang mencari sesuatu dalam ruangan ini. Mencari kepala yang tadi sempat terpisah dari tubuhnya.


Aha.... Apa yang kucari sudah kutemukan. Aku mengangkat perlahan benda itu dan kutaruh di atas meja. Bryan makin melotot dibuatnya, dadanya kembang kempis, seakan ruangan ini memiliki sedikit stok cadangan oksigen.


"Kau kenal siapa dia?" sambil membelai rambut gadis muda yang ikal itu.


Bryan menangis, seperti bayi besar yang dirampas dotnya. Harusnya aku membuat videonya, sayang saat ini tanganku sibuk menopang kepala itu. Pria macho yang menjadi idaman semua wanita ternyata tidak lebih dari seorang banci.


"Tak apa, Bryan. Dia tidak akan menggigitmu seperti dia menggigitku tadi, saat aku coba mengikatnya. Hahah, dia lebih jinak sekarang."


Pria itu berdiri dan berjalan mundur perlahan, perlahan, lebih cepat, dan makin cepat. Sayang langkahnya harus terjatuh karena terbentur sisi sofa yang berada di ruang tamu. Aku datang untuk menolongnya berdiri, tapi secepat kilat dia merangkak dan berlari hingga lupa kalau dia punya motor untuk dibawa pulang.


➖➖➖


Uh... Benar kata Ibu, dulu. Saat membersihkan ikan, kita harus membuang dan membersihkan darahnya dengan baik. Baunya darahnya sangat amis. Bisa-bisa tetangga akan berpikir kita habis membunuh seseorang.


Aku menumpahkan banyak larutan pembersih pakaian di atas baju adik sepupuku yang sudah kuredam dalam ember mungil di kamar mandi kostku.


Kasihan dia, sudah tiga hari menginap di sini setelah shock mendapatkan Ibunya sendiri sedang bermesraan dengan pria yang lebih muda, karena mereka tidak tahu bahwa dia pulang cepat hari itu.


"Kakak itu yang biasa datang ke rumah mengantarkan makanan untuk Mama. Aku pikir tukang ojek online. Karena tampan, aku mengambil fotonya dari jauh." Begitu katanya sambil menangis saat memperlihatkan gambar seorang pria yang kukenal namanya adalah Bryan si keparat cabul itu.


Saat mengingat-ingat kejadian itu, aku membungkus bekas adonan clay mengeras dari wajah patung kepala yang sengaja kubentuk sedemikian rupa. Dengan sedikit cat, wig, dan kondisi gelap, buatanku tak akan kalah dengan otak abal-abal buatan Apri itu.


Setelah merasa semuanya sudah beres dan membuang sampah, aku masuk ke kamar dan berbaring di samping adik sepupuku.


"Besok aku akan mengembalikan handphonemu dan merayakan kemenangan sambil makan es krim. Aku janji," sambil membenarkan selimut Jane yang sudah tertidur pulas.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖