Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
RANCANGAN




#ANITA


Dengan tertatih dan rasa nyeri, aku menyiapkan semua bahan untuk mereka makan hari ini. Hidangan yang sudah dipesan suamiku, harus segera siap sebelum mereka pulang dari acara wisuda Marta, adik suamiku.


"Kau di rumah menjaga Ibu. Setelah pulang, kami semua akan ke sini untuk berkumpul. Buat saja makanannya, saat pulang pasti kami lapar," ucap Mas Hendri tanpa berbasa-basi, sebelum dia pergi tadi pagi.


Mertuaku memang sedang kurang sehat karena terjatuh dari kamar mandi, dua hari yang lalu. Tapi sayangnya, Marta dan Nelly tidak akan pernah mau mengotori kuku cantik mereka, hanya untuk memandikan, menyuapi, atau membantu Ibunya sendiri buang air.


Di saat-saat seperti ini, mereka akan menurunkan bendera perang karena hanya aku yang bisa diandalkan untuk merawat Ibu. Padahal biasanya mereka yang sering membicarakan hal-hal buruk tentangku.


Dan suamiku? Ah... Dia juga sama seperti mereka, tak ada bedanya. Aku hanya diperbudak untuk mengabdikan hidup kepada keluarga mereka. Pembantu, perawat dan pekerja **** gratis.


Tak sedikit yang pernah kualami, mulai dari kekerasan rumah tangga, perselingkuhan, pelecehan, sudah pernah kucicipi selama ini. Bukannya aku tidak pernah meminta untuk bercerai. Aku bahkan dimintai Mama untuk pulang kembali ke rumah terkutuk ini, karena Mas Hendri mengeluarkan air mata buaya saat bersujud di kakinya meminta maaf.


"Maafkan suamimu, Nak. Tuhan tidak suka dengan perpisahan. Jika dia ingin bertobat, berikan kesempatan," nasihat Mama saat itu.


Bukan kesempatan kedua atau ketiga lagi yang pernah kuberikan kepadanya. Tak terhitung berapa kesempatan yang sudah terlewatkan, tapi tetap saja tak ada perubahan, dan sekali lagi aku yang menjadi korban.


Bagaimana tidak? Kemarin aku sendiri yang memergoki mereka membicarakanku setelah selesai menggantikan popok baru untuk Ibu.


"Kenapa tidak kau ceraikan saja Anita, Mas? Dia gendut dan tidak menarik. Sangat jauh dari penampilan pacar-pacarmu yang cantik," ucap Marta tanpa beban.


"Iya, Mas. Betul itu. Lagipula Anita terlihat kampungan. Aku tak suka jika dia sering muncul saat ada acara keluarga. Aku malu, Mas," sambung Nelly.


Saat mendengarnya, aku hanya terdiam di balik tembok, menutup rapat-rapat mulutku agar tak terdengar. Namun aku harus berlari ke kamar dengan aliran air mata yang tak mampu dibendung, saat Mas Hendri menjawab mereka dengan kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkannya sebagai seorang suami.


"Tak perlu kalian mengurus asmaraku. Aku tak meminta kalian menyukainya. Hanya saja kita tidak bisa menyangkal kalau kita membutuhkannya dan selama dia masih berguna, aku tak akan mengajukan cerai. Manfaatkan saja selama dia masih hidup. Jangan terlalu baper," jawab Mas Hendri santai sambil tertawa, disusul dengan kedua adiknya.


Pilu... Pilu hatiku mendengar semua itu. Bagaimana bisa, ada manusia diciptakan tanpa memiliki hati dan perasaan? Aku tulus membantu mereka selama ini, tapi mereka justru memanfaatkan ketulusanku. Tapi tidak hari ini. Hari ini aku harus membalas mereka. Paling tidak, mereka akan mendapat pelajaran karena berpikir bahwa aku harus menghabiskan seluruh hidup hanya untuk berbakti.


➖➖➖


Semua hidangan sudah matang dan kupersiapkan di atas meja. Walau mereka tak menyukaiku, tapi aku tahu pasti kalau mereka selalu menyukai masakan yang kubuat.


Dasar bejat! Tahu mereka punya niat busuk untukku, kenapa tak kuracuni saja sedikit demi sedikit dari dulu? Biar mati pelan-pelan.


Setelah semua sudah beres, aku melangkah perlahan menuju kamar yang berada di lantai atas, untuk mengistirahatkan ragaku yang kesakitan. Tapi sebelumnya aku akan mengirim pesan ke Mas Hendri agar mereka tak perlu repot-repot mencariku. Bukan mencariku tepatnya, mencari makan siang mereka yang tertunda karena harus menghadiri wisuda Marta.


[Semua keperluan acara, sudah aku siapkan di meja. Aku akan tidur beristirahat dan mungkin tak menyambut kalian]


Pesan kukirim, lalu membaringkan tubuhku. Jangan harap dia akan membalasnya, karena dia takkan peduli denganku.


Dalam hening aku membalik-balikkan tubuhku mencari posisi yang paling nyaman untuk beristirahat. Untung saja sebelumnya, aku sudah membereskan segala urusan Ibu, menyuapi, memberikan obat, dan memandikannya sebelum mulai memasak. Pasti dia sudah sangat pulas saat ini.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


#HENDRI


Perutku begitu lapar hingga ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Jika saja aku tidak menarik Marta yang masih sibuk berfoto-foto ria dengan teman-temannya, mungkin kami semua masih ada di sana.


Pikiranku sudah berada di ruang makan membayangkan daging empal dan sop buatan Anita yang menggiurkan. Sengaja aku minta dia memasak agak banyak hari ini, karena Marta dan Nelly membawa beberapa teman untuk ikut serta.


Untung saja aku tak menceraikannya, walau dia berkali-kali memohon agar aku melepaskannya sebagai istri. Jika tidak, harus berapa lagi biaya yang harus kukeluarkan untuk menyewa seorang pembantu dan juru masak? Marta dan Nelly tidak akan pernah bisa diharapkan untuk urusan rumah dan perut. Lagipula Anita sebenarnya cukup menarik, hanya saja dia tidak se-modern pacar-pacarku.


Akhirnya kita sampai ke rumah. Kali ini aku tidak akan membunyikan klakson agar dibukakan pagar, karena aku tahu dia sedang berada di dalam kamarnya saat ini. Tadi dia mengirim pesan bahwa semua hidangan sudah disiapkan di atas meja. Jika dia harus bangun dan keluar kamar, Nelly akan kehilangan selera makan saat dia ikut nimbrung bersama kami mengenakan daster lusuhnya.


Wangi tercium masuk ke rongga hidungku saat Marta membuka tudung saji yang berada di atas meja. Tanpa banyak basa-basi, kami menyambar piring untuk menikmati semua hidangan ini. Ah.... Buatan Anita tak pernah kalah dengan hidangan yang berada di restoran kelas atas sekalipun.


➖➖➖


Semuanya ludes tak tersisa. Aku duduk tertawa mendengarkan kekonyolan yang diceritakan oleh Nelly dan temannya. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan Marta dari ujung dapur, membuat kami semua yang berada di ruang makan berhamburan menuju arah suaranya.


Marta terduduk di lantai depan kulkas yang sedang terbuka dengan mata membelalak seperti habis melihat hantu. Aku sendiri tak tahu apa yang berada di sana, tapi dari postur dan mimik Marta, ada sesuatu yang mengerikan di dalam sana.


"Ada apa, Marta?" tanyaku mendekat padanya.


Marta tidak menjawab sepatah katapun, bahkan untuk menagispun dia tak mampu lagi. Dia mengangkat lemas telunjuknya menuju arah pintu kulkas yang terbuka itu, membuat aku ikut berpaling ke arahnya.


BAGAIMANA DENGAN MASAKANKU?


BEBERAPA DARINYA TERBUAT DARI POTONGAN WANITA YANG MELAHIRKAN KALIAN.


SEMOGA KALIAN MENIKMATINYA.


Pesan itu ditulis pada secarik kertas, diletakkan di atas potongan tulang dengan sedikit daging yang menempel di sana.


Nelly jatuh pingsan, kedua teman Marta muntah pada saat itu juga, dan teman Nelly melangkah keluar dari dapur, entah kemana, tapi aku melihat wajahnya pucat seperti tak ada aliran darah yang mengalir di sana.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


#ANITA


Suara jeritan orang-orang di lantai bawah membuat aku terbangun dari tidur. Pasti mereka sudah mendapatkan pesan dariku.


Aku mengakui jantungku berdebar kencang, namun itu tak bisa menahan tawaku. Satu-satunya jalan adalah menyumpal mulut dengan tanganku sendiri.


Debaran itu makin kencang saat mendengar langkah seseorang yang sedang berlari menuju kamar tempat aku saat ini berbaring. Sengaja tak aku kunci pintunya agar mereka dengan mudah menemukanku yang berjaya kali ini.


"Berani-beraninya kau, Ani...," suara tinggi Mas Hendri tiba-tiba menurun saat membuka pintu, karena mendapatkan aku tertawa terbahak-bahak sangat keras, tak bisa kutahan lagi. Mereka memang sungguh bodoh.


➖➖➖


Padahal baru beberapa aku berada di sini, tapi rasanya memang tempat ini yang sudah aku idam-idamkan dari dulu.


Saat sore, aku diajak berjalan-jalan di taman ditemani beberapa kawan yang mengajak ngobrol. Sungguh tak pernah kudapatkan saat tinggal di neraka itu.


Setelah kejadian itu, mereka melepaskan belenggu yang bertahun-tahun mengikat tubuhku. Seluruh keluarganya menatapku ngeri, seperti seorang moster yang siap mencabik-cabik mereka satu persatu.


Aku bebas menghirup udara segar tanpa rasa sakit pada hati dan tubuhku. Di saat aku duduk tersenyum melamun di sudut ranjang kamar yang bersih dan serba putih ini, seseorang teman datang memasuki kamarku.


"Ada yang ingin menemuimu."


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


#HENDRI


"Halo. Selamat malam, Ma."


"Oh iya, Hendri. Apa kabarnya kamu dan Anita?"


"Anita baik-baik saja, Ma, Hanya saja..."


"Ada apa, Nak? Apa ada hal buruk yang menimpa Anita hingga kau menelpon tengah malam seperti ini?"


"Agak sulit menjelaskannya, Ma. Dia sekarang berada di Rumah Sakit Jiwa."


"Hah! Kenapa?"


"Dia mencoba menipu kami dengan membuat kami seolah-olah memakan hidangan yang terbuat dari Ibuku, Ma..."


"Terbuat dari Ibumu seperta apa maksudnya?"


"Iya, Ma. Dia membuat seolah-olah sudah memultilasi Ibu, memasaknya, lalu menghidangkannya," aku menangis tersedu-sedu seperti seperti seorang bocah kecil saat mengucapkan kalimat ini.


"Lantas bagaimana keadaan Ibumu?"


"Ibu baik-baik saja, Ma. Itu hanya tipuan Anita. Yang di kulkas itu hanya potongan tulang sapi"


"Hanya itu? Hanya itu yang dilakukan hingga kalian memasukkannya ke rumah sakit jiwa? Sinting kalian! Oh Tuhan.... Harusnya tak kubiarkan anakku kembali ke rumah terkutuk itu saat kalian bertengkar," suara mertuaku bergetar.


"Tapi, Ma..."


"Sudah! Tak perlu banyak bicara. Kirimkan alamat di mana Anita sekarang, atau aku mengirimkan polisi ke sana dengan tuduhan penganiayaan," bentaknya lalu menutup telponku.


Karena kejadian itu, hingga hari ini aku tak bisa tidur. Tawa itu, tawa itu selalu muncul. Aku bahkan tidak berani tidur di kamarku sendiri karena merasa diawasi oleh Anita. Ditambah setelah kunjunganku ke sana kemarin sore, membuatku semakin merinding saat dia mengucapkan kalimat itu.


'Tahukah kamu? Seseorang yang berani menyakiti orang lain, belum tentu siap untuk menyakiti dirinya. Tapi jika dia mampu, tak ada yang menandinginya.'


Dan kalimat yang paling membuatku merinding hingga hari ini adalah, 'Jika nanti suatu saat aku keluar dari sini dan membunuh seseorang, maka aku takkan pernah masuk penjara. Sebab orang yang memiliki catatan gangguan kejiwaan, tidak akan pernah bisa diberikan hukuman.'


Gila! Dia benar-benar sudah gila! Dia memang tidak membunuh siapapun, tapi dia memberikan kami hidangan yang terbuat dari dangingnya sendiri. Itu lebih menyeramkan daripada cerita pembunuhan manapun


Biarlah, biarlah mertuaku sendiri yang melihat keadannya. Keadaan Anita yang tidur berbalut perban pada kedua pahaya, perutnya, lengannya, yang sengaja dia pisahkan sendiri dari tubuhnya untuk dihidangkan kepada kami dan membuat kondisi seperti sudah membantai habis Ibuku. .


Setelah mengirimkan SMS untuk mengirim pesan tempat di mana Anita dirawat kepada mertuaku, aku berbaring dengan mata terbuka. Aku hanya bisa berharap bahwa dia betul-betul sudah gila. Jika tidak, mungkin aku yang akan berangsur-angsur menjadi gila.


"HAHAHAHAH. BAGAIMANA DAGINGKU? ENAK BUKAN?"


Sial suara itu terdengar lagi dari dalam kepalaku.


❤️TAMAT ❤️


➖ Sarah Eszed ➖