
"Kecil? Kau bodoh, Jihan. Harusnya kau laporkan perlakuannya."
"Laporkan? Kemana? Kau ingin aku melaporkannya pada bosku agar ayah Erin bisa memutuskan perjanjian dengan tempat kerjaku, begitu?" Aku berkumur sekali lagi dan beranjak dari kamar mandi.
"Cari saja pekerjaan lain." Tari mulai kesal.
"Kau pikir gampang mencari pekerjaan saat ini? Lulusan SMA sepertiku, selalu kalah saing dengan mereka yang sarjana, Tari. Mungkin ini hanya awal. Yang harus kulakukan adalah bersabar sentara waktu," jelasku.
"Sabar dan *****, terkadang tak jauh berbeda, Jihan. Jika kau masih ingin berlama-lama di sana, sebaiknya kau lebih keras padanya. Baru kali ini aku melihat anak lemah yang dibesarkan dalam keluarga Mahendra. Dasar adopsi!" Tari pergi berlalu memasuki kamarnya dengan membanting pintu.
Iya betul kata Tari, aku lemah. Tak ada perlawanan yang bisa kulakukan selain menghindar, sabar, ataupun kabur, seperti yang sudah kulakukan saat meninggalkan ayah dan ibu.
Setelah kabur dari rumah, aku harus memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Tak mungkin terus-terusan menyusahkan Tari, jika hanya untuk sekedar jajan atau kebutuhan kecil lainnya.
Bukannya tidak pernah mencoba. Beberapa tempat sudah kudatangi untuk melamar pekerjaan, tapi hasilnya nihil. Baru dua minggu ini ku diterima menjadi cleaning servis dan ditempatkan pada sebuah bank.
Permasalahan datang bukan pada perusahanku, tapi di mana aku ditempatkan oleh perusahaan. Ayah Erin adalah direktur utama yang menjalin kerja sama dengan perusahan, tempat aku bekerja. Erin bekerja di sana sebagai salah satu karyawan.
Erin sepertinya sangat tidak menyukaiku, ada saja yang selalu dia lakukan untuk menyulitkanku. Awalnya hanya perkerjaan yang memberatkan dan beberapa bullyan kecil, namun lama kelamaan, menggangguku seperti kewajiban untuknya.
Hari ini dia dengan sengaja menyenggol lenganku saat mengepel, hingga membuatku terjatuh dari tangga. Tak ada pertolongan yang dia berikan, hanya ucapan, "Makanya hati-hati, dong."
➖➖➖➖➖
Tari namanya, adik kandung ayahku yang paling kecil. Tari hanya berbeda 10 tahun dariku, dan belum menikah. Sudah sangat lama dia memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga kami.
Tanpa sengaja aku mendapatkan kontaknya dari internet. Bukan karena dengan sengaja mencari keberadaannya, tapi karena dia adalah pelatih senam yang sering mengupload video melalui youtube.
Saat itu aku sedang iseng mencari video senam untuk keperluan diet, dan melihat foto profile yang mirip dengan foto keluarga yang disimpan Ibu di dalam lemari tua. Ayahku tak pernah mengetahuinya, jikapun tahu, mungkin dia tak akan peduli.
Tak ada orang lain yang terlintas di pikiranku, hanya Tari seorang. Kucoba menelpon Tari, malam itu. Awalnya dia menolak dan merasa tak mengenal keluarga Hendra dan Gita, tapi karena aku memaksa dan terus menangis, akhirnya dia bersedia memberikan alamatnya untuk bertemu dengan syarat, tak boleh memberi tahu pada siapapun.
Malam itu juga aku memesan tiket kereta menuju Bandung tanpa membawa apapun, kecuali harapanku untuk bisa berada jauh dari kota terkutuk, di mana ku dibesarkan oleh Hendra dan Gita.
Saat membukakan pintu rumahnya, Tari mempersilakanku masuk penuh dengan keraguan. Aku hanya bisa menangis di lantai kontrakannya yang dingin dan menceritakan semua tindakan orang tua yang sudah mengadopsiku.
"Lantas, bagaimana dengan Ayah dan Ibumu, Jihan?" tanya Tari.
"Aku menelepon polisi dan kabur ke sini, Tante," jawabku dengan air mata yang masih saja mengalir.
Hari itu adalah hari terakhir dia mengizinkanku memanggilnya dengan sebutan, Tante. Mengakuiku sebagai keponakan bisa mengingatkan akan keluarga besarnya kembali, Tari tak suka itu.
Ternyata Tari mengetahui semuanya. Penyakit itu ternyata diwariskan dari orang tua mereka sendiri, kakek dan nenekku. Mereka seperti memiliki tradisi aneh untuk menghabisi orang-orang yang tidak berdosa. Ibu sendiri masih memiliki hubungan darah dengan Ayah. Mereka adalah saudara sepupu.
Setelah menikahkan Ayah dan Ibu, Kakek dan Nenek meninggal dalam perjalanan mereka, saat pulang dari liburan. Paling tidak, itu cerita yang diceritakan oleh Ayah saat aku bertanya akan kehadiran mereka. Tapi menurut versi Tari, mereka dihakimi oleh warga karena kedapatan melakukan tindakan yang bejat. Keduanya dibakar hidup-hidup tanpa sisa. Hanya Tari yang selamat karena dibebaskan oleh warga, usianya baru 12 tahun saat itu.
Itu sebabnya Tari menjauh dan tak ingin bertemu dengan keluarganya lagi. Keluarga psikopat yang sudah dibuang dari kehidupannya. Tari benar-benar tak ingin mengenal mereka lagi, bahkan saudaranya sekalipun. Dia menerimaku di rumah ini karena merasa bahwa aku hanya anak pungut, tak lebih dari itu. Tak ada darah yang sama, yang mengalir dalam tubuh kami berdua.
➖➖➖➖➖
Tari mengirimkan pesan sore ini. Dengan perasaan yang terus bertanya-tanya, kupacu motor yang dipinjamkannya padaku untuk bekerja, melewati gerimis menuju rumah.
Tepat di depan pagar, Tari sudah siap dengan pakaian rapi. Kemeja putih dan celana jeans kesukannya terlihat sangat pas melekat di tubuhnya yang sintal.
"Aku saja yang membawa motor." Tari mengambil posisi pada kemudi.
Cuaca sepertinya bertekuk lutut pada wanita yang berada di depanku. Langit yang tadinya mendung, sekarang tiba-tiba cerah. Aku yang berada di belakang dimanjakan dengan parfum mawar yang dikenakan Tari, dan terus bertanya di dalam hati, 'Kemana dia akan membawaku?'
Kami berhenti di sebuah gedung tua tak terurus, jauh dari pemukiman warga. Tari memarkirkan motornya dan menaruh jari manis tepat di atas bibirnya, sinyal agar aku tak membuat suara apapun.
Bertahun-tahun ditinggalkan, membuat ruangan yang kami masuki mengeluarkan bau yang tidak sedap. Tari mengajakku untuk masuk dalam satu ruangan yang sudah disediakan dua kursi lipat dan satu televisi tabung kecil di hadapannya.
"Duduklah dan jangan ucapkan apapun," ucap Tari berbisik dekat telingaku.
Aku mengikuti perintahnya, memposisikan dudukku agar tetap nyaman pada kursi dingin yang kaku itu, tapi Tari tak ikut serta denganku. Dia berdiri dan menyalakan televisi tabung jelek yang berada di ruangan itu.
Deg.
Samar-samar dengan tampilan layar hitam putih, kulihat seorang wanita yang duduk dengan tubuh terikat dan mulutnya tertutup oleh lakban.
"Siapa dia?" tanyaku agak panik pada Tari.
"Coba kau perhatikan," jawab Tari tersenyum.
Kudekatkan wajah menuju layar dan memicingkan mata untuk melihat lebih jelas, siapa wanita itu. Tak terdengar apapun dari sana, karena lakban yang menempel erat pada mulutnya, tapi aku tahu pasti, bahwa saat ini dia sedang menangis. Terlihat jelas pada bahunya yg berguncang.
Tunggu dulu! Aku mengenal seragam yang dia kenakan. Seragam yang tiap hari kulihat saat berada di tempat kerjaku. Sial! Kenapa Erin bisa berada di sana?
Kubalikkan pandanganku untuk melihat Tari. Dia hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Jantungku benar-benar berdetak sangat kencang saat ini. Aku tak pernah terpikir bahwa Tari bisa seperti ini.
Tari meraba kantung celananya, dan mengambil handphone yang berada di sana, lalu memainkan jari seperti sedang mencari nomor seseorang. Tiba-tiba terdengar suara deringan telepon yang berada di ruangan berbeda. Aku tak tahu pastinya di mana, tapi kuyakin masih dalam bangunan tua ini.
"Mulai sekarang," ucap Tari pada seseorang yang sedang diteleponnya, kemudian menutup sambungannya lalu duduk di kursi lipat yang berada di sampingku.
Shock. Aku benar-benar shock. Tak sempat kuajak Tari yang duduk di sampingku untuk mengobrol, bahkan untuk membalas senyumannya pun, tak sempat. Di kepalaku saat ini hanyalah Erin yang sedang teruduk di balik layar kaca berwarna hitam putih.
Kutatap kembali layar yang berada di hadapanku, hingga muncul sosok seorang pria kekar yang menggunakan penutup wajah, berjalan perlahan mengitari Erin beberapa putaran, lalu membuka lakban yang menempel pada mulutnya secara paksa.
*❤️ Bersambung* ❤️
➖ Sarah Eszed ➖**