Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
NINA BOBO #6



"Bibiiiiiiiiiii!" jeritku histeris.


"Ada apa, Mbak?" tanya Bibi setelah datang setengah berlari mendatangiku.


"Dari mana kue ini, Bi?" rintihku terisak-isak.


"Owalah. Ini kan dari kamar, Mbak Sarah. Bibi lihat mbak tidur tapi kamarnya terbuka, karena berantakan Bibi bersihin dan masukin kuenya ke kulkas. Oh ya ... Selamat ulang tahun yo, Mbak. Semoga panjang umur dan sehat selalu," jelas Bibi.


Aku tak peduli dengan ucapan itu. Mataku hanya terpaku pada kue yang semalam yang aku, Rida, Fani, Erix, Elsa, dan Mbak Widya semalam.


"Anak-anak kemana, Bi?" kembali kutanyakan pertanyaan itu pada Bibi untuk meyakinkan diriku.


"Mereka keluar, Mbak. Tadi Bibi dateng subuh. Bibi lihat Mbak Widya, Mbak Elsa, Mbak Fani dan Mbak Erika keluar dengan kedua temannya, pas perjalanan masuk komplek menuju ke rumah. Waktu Bibi panggil, mereka gak balik. Mungkin karena mereka jalannya berlawanan, jadi udah terlalu jauh untuk denger suara Bibi." ujar Bibi.


"Dua teman?"


"Iya, Mbak. Dua temen. Yang satu berambut panjang ikal, pakai kaus kuni ... "


"Kuning! Kaus kuning?" selaku.


Belum sempat Bibi menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memotongnya. Aku tahu karena Rida semalam mengenakan kaus kuning dan dia juga memiliki rambut panjang yang ikal.


"Iya, Mbak, kuning. Yang satunya lagi menggunakan rok abu-abu. berambut sebahu, dan berkemeja putih. Mbak kenal?" tanya Bibi.


Menggeleng perlahan, tak percaya apa yang sudah dilihat oleh Bibi adalah Rida dan wanita rok abu-abu yang berdiri di pojokan kamarku semalam. Seluruh darah yang berada di tubuhku seperti terhisap dan menghilang. Aku terjatuh lunglai di atas kursi makan yang berada di dapur.


"Udah magrib. Mbak tolong nyalain lampu yang ada di sini, Bibi nyalain yang di depan," ucap Bibi sebelum meninggalkanku di dapur untuk menerangi rumah ini.


Kenapa?


Kenapa yang semua kualami semalam tak menjadi mimpi saja? Air mataku jatuh mengalir membasahi pipi. Aku menangis tersedu-sedu sendiri. Tak peduli dengan ucapan Bibi, aku masih terduduk lemas di dapur dengan tatapan mata yang kosong.


***Kreeekkk ....


Kreeekkk ....


Deg***


Tubuhku tersentak membelalak. Jantungku kembali berdetak sangat kencang dan tak karuan. Suara cakaran sayu panjang dan menyeramkan terdengar kembali dari balik pintu dapur menuju halaman belakang yang tertutup rapat. Aku bahkan berharap bahwa ini masih termasuk rencana prank ulang tahunku.


Kunyalakan lampu dapur dan berlari secepat mungkin menuju kamar. Lampu kamarpun kunyalakan dan duduk memeluk lutut di atas ranjang. Seandainya Rida ada di sini, aku mungkin tak setakut ini. Otakku bekerja keras dan bertanya sendiri, jika Rida berada di sini, apa yang akan dilakukannya?


"Berpikir! Berpikir!" kupukul-pukul pelan pelipisku seakan otakku seperti sebuah mesin tua yang sedang ngadat.


***Kreeekkk ....


Kreeekkk*** ....


Suara cakaran itu kini berasal dari bawah tempat tidurku, sangat dekat dengan tubuhku yang duduk gemetaran di atasnya. Kututup mulutku agar tak bersuara, walau kutahu dia bukan manusia yang tidak bisa merasakan keberadaanku di atas ranjang.


Padam.


"Aaaaaaaaaaaaaaahhh." jeritku saat lampu kamar tiba-tiba padam.


"Bentar, Mbak. Bibi bawain lilin. Mati lampu nih," teriak Bibi yang berdiri di pintu kamarku yang sedang tertutup.


Aku bersiap untuk meloncat berlari keluar minta ditemani Bibi, tapi ...


***Kreeekkk ....


SAAAAARRRRR*** ....


Ni-nina bo-bo, ooh Ni-na bobo


Ka-kalau tidak bo-bo, di-digigit nyamuk


Bobolah bobo, aaaadikku manis


Kalau tidak bobo, digigit nyamuk


Mulutku mulai bernyanyi meniru Rida. Aku sendiri tak tahu apa yang kulakukan. Semua spontan keluar dari mulutku.


***Kreeekkk ....


SAAAAARRRRR*** ...


Napasku semakin berat. Seluruh tubuhku lemas tak mampu bergerak. Bahkan untuk menutup wajah dengan tangan sendiri, aku tak mampu. Aku menangis menahan napas, berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya.


Apakah aku akan dibunuh seperti Elsa, Erix, Mbak Widya, Fani dan Rida? Entahlah. Yang kutahu pasti, tak ada satupun dari mereka yang beruntung malam itu, kecuali aku. Mungkin hari ini adalah giliranku.


Makhluk itu muncul dari bawah tempat tidur dan sekarang timbul perlahan dipinggir ranjangku. Warnanya hitam pekat berbulu, tapi aku tak tahu pasti itu apa. Dalam keadaan gelap seperti ini aku tak bisa melihat dengan jelas.


Perlahan dan perlahan ....


Makin jelas terlihat bahwa itu adalah ubun-ubun kepala yang tertutupi rambut. Saat naik kepermukaan, kulihat kulit wajahnya yang memucat dengan bola mata hitam. Tak ada sedikitpun warna putih di sana. Mulutnya merenggang membuka lebar, sangat lebar hingga dapat menelan seekor anak kucing dalam sekali telan. Liurnya berjatuhan pada seprai tempat tidur, aku bahkan bisa merasakan rasa dingin saat tetesannya berjatuhan di atas kulitku.


Aku memejamkan mataku, tak ingin melihat apa yang akan menimpaku.


Kreeekkk ....


Kini cakarnya menari di permukaan pakaian yang kugunakan. Berjalan perlahan dari ujung bagian leher, menuju ujung lenganku. Tubuhku membatu menahan napas.


"Errrrrgghhh ... Mau dengar cerita seram, Saaaaar?"


WUSSSSHHHH


Angin sejuk yang berasal dari kipas angin, menerpa kulitku. Kubuka mata dan melihat cahaya yang berasal dari langit-langit kamarku, dan sosoknya menghilang menguap bersama udara.


➖➖➖➖➖


"***Siapa namanya?" tanyaku penasaran pada Rida


"Namanya ... Nina. Aku memanggilnya Nina," jawab RIda


"Dia bilang namanya Nina?"


"Tidak. Tapi dia bilang lagu itu menghiburnya. Nina Bobo. Seperti mengajaknya untuk beristirahat," jelas Rida.


"Kalau dia sering membawakan cerita seram, mengapa kau tidak suka membaca, nonton, ataupun mendengarkan cerita seram?"


"Itu karena dia ...." sambung Rida.


"Dia?"


"Iya, dia. Nina tak suka mencium aroma ketakutan, saat aku mendengarkan cerita dari orang lain," jelas Rida sambil tersenyum manis menolak buku berjudul 'Darah' yang kuberikan***.


❤️ Tamat ❤️


➖ Sarah Eszed ➖