Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
NINA BOBO #5



Lampu kamar menyala, Elsa melepaskan pelukannya.


"SURPRISEEEEEEEEEEEEEE," jerit suara Mbak WIdya, Erix dan Fani.


Aku terdiam, mengintip dari balik bahu Elsa. Kondisi mereka masih sama seperti yang kulihat di balik jendela kamarku. Penuh dengan cairan merah kental.


"Selamat ulang tahun!" seru Fani girang, menyolek cairan kental dari pinggir bibir Erix dan memasukkan ke mulutnya.


"Me-me-reka masih hi-hidup?" tanyaku pada Elsa yang membuatnya harus sakit perut menahan tawa.


"Iya, Dek. Semuanya cuma prank ajah. Untuk kejutan ulang tahunmu," jelas Mbak Widya sambil membawa kue coklat yang dipenuhi dengan lilin.


"Te-terus da-darah itu?" ucapku yang masih linglung dan kaget.


"Say thank to sirup Marjan, Sar. Cepat kau tiup lilinmu, sebelum Fani benar-benar menjilat seluruh kulit yang ada di wajah gue," umpat Erix kesal melihat Fani yang tidak kebagian jatah darah pada bagian mulut.


Aku merangkul mereka semua tak terkecuali Rida, dan meniup lilin setelah menyebutkan harapan-harapan yang belum tercapai sebelumnya dalam hati.


➖➖➖➖➖


"Gila kalian. Siapa yang matiin saklar di luar?" tanyaku


"Itu temen gue, Sar," jawab Erix memisahkan cream pada potongan kue yang akan dimasukkan ke mulutnya.


"Terus siapa yang tadi nyalain?"


"Ya sapa lagi kalo bukan Mang Kosim, satpam komplek? Untung aja Mbak Widya jadi seseran Mang Kosim. Ya kalo gak? Mana mau dia nyalain saklar sesuai jadwal yang mbak Widya tentuin," jelas Elsa yang membuat Mbak Widya gemas mencubit pahanya.


"Maaf ya Rida. Semuanya udah kami rencanain minggu lalu. Sayang jika harus ditunda. Kami juga gak nyangka kalo Sarah mau ngajak teman ke sini," ucap Fina sambil mengambil potongan kue ke atas piringnya. Setahuku, itu sudah menjadi potongan yang ketiga.


Rida hanya tersenyum hambar sambil menyuapkan kue ke mulutnya. Kasihan, mungkin dia masih shock karena kejadian barusan. Jangankan dia, aku pun sebenarnya masih deg-degan. Hanya saja hari ini adalah ulang tahunku jadi mungkin aku lebih terhibur. Kusentuh halus punggung tangannya dan membalasku dengan senyuman hangat miliknya.


"Aku sudah tahu." kalimat yang keluar dari mulut Rida mengambil perhatian kami semua yang berada di ruangan itu.


"Tahu apa, Da?" tanyaku


"Tahu kalau itu semua bohongan," jawab Rida.


"Tahu gimana? Kamu orang yang paling takut saat itu," celetuk Elsa. Mungkin dia tak terima karena ada yang mengetahui tipuan yang sudah mereka rencanakan matang sebelumnya.


"Hantu tak memiliki bayangan," sambung Rida.


"Lantas, kenapa kau menangis ketakutan?" Erix menjadi antusias.


"Karena dia sering muncul saat gelap, dan suka mendengar cerita-cerita untuk dikisahkan kembali. Terakhir aku menemuinya, dia menambahkan bumbu dalam cerita yang didengarnya" jawab Rida.


KLEK


Tiba-tiba suasana menjadi gelap tapi sepertinya hanya di kamar ini saja, karena cahaya lampu yang berada di ruang tamu masuk melalui pintu yang terbuka lebar. Ternyata Erix sengaja mematikan lampu.


"Lihat. Tak terjadi apa-apa bukan? Itu hanya khayalanmu saja, Rida. Di sini aman," ucap Erix.


"Nyalakan! Cepat nyalakan," lengkingan suara Rida membuat aku harus melepaskan piringku dan menenangkannya.


Deg ...


Tengkukku tiba-tiba hangat seperti ada yang sedang bernapas di dekat sana.


"Nina bobo, Ooh Nina bobo .... " sekali lagi RIda menyanyikan lagi itu, membuat kami semua yang berada di ruangan ini terdiam melihatnya.


"Nyalakan lampu itu, Erix. Kasihan dia!" bentak Mbak Widya. Baru kali ini aku mendengar Mbak Widya berbicara dengan nada yang agak keras.


"Kalau tidak bobo .... "


Aku menajamkan mataku di dalam kegelapan. Samar-samar terlihat seorang wanita menggunakan rok abu-abu. berambut sebahu, dan berkemeja putih berdiri di samping pintu.


Dia melangkahkan kakinya menuju sudut ruangan dan tersenyum hambar, lalu meletakkan tangannya di tembok kamarku.


"Bobolah bobo, Adikku manis .... "


"Kalian melihatnya? Itu teman kalian juga kan?" tanyaku pada semua orang yang berada di kamar ini.


Mereka saling berpandangan satu sama lain dan merasa heran. Mbak Widya melompat lalu menyalakan lampu untuk menerangi seluruh ruangan. Semua terdiam sesaat membalikkan kepala ke arah sudut yang kutunjuk.


"Lihat apa maksudmu, Sar?" tanya Fani sambil bertolak pinggang.


"Wanita itu. Tadi dia berdiri di sana, tapi sekarang sudah tak ada lagi," jelasku heran.


"Udah deh. Kita baru ajah ngeprank kamu, gak sepantesnya kamu bales. Dan tenangkan temanmu itu. Aku merasa kurang nyaman mendengarnya bernyanyi tanpa sebab," bentak Erix sambil menunjuk wajah Rida.


Semua yang berada di sini menjadi berbeda. Mereka sepertinya menjadi lebih tempramental. Mungkin tak terima atas ucapan Rida sebelumnya.


"Kalau tidak bobo .... "


Aku berusaha menghadang Elsa untuk melakukan hal itu, tapi tiba-tiba tubuhnya melayang dengan kepala di bawah dan kaki di atas.


"Turunin gue. Tolong bantu turunin gue," jerit Elsa menghentak-hentakkan tubuhnya.


Fani berusaha membantu memegangi pinggang Elsa tapi percuma. Dia tak juga bisa beranjak dari sana. Elsa terangkat lebih tinggi lagi, air matanya terjatuh dari sudut mata mengalir di sela-sela rambutnya, tubuhnya makin meronta ketakutan. Tiba-tiba ....


KRAK


Elsa terjatuh ke bawah dengan kepala yang mendarat terlebih dahulu, lehernya bengkok tak simetris. Aku rasa bunyi 'krak' itu berasal dari tulang leher Elsa yang patah. Matanya membelalak lebar, tapi tubuhnya tak memberontak seperti tadi. Tak ada setetespun darah yang keluar, namun nyawa sudah terlepas dari tubuh itu.


"Aaaaaarrhhh," Rida menjerit hebat memegang dan menarikku ke sudut ruangan.


Erix, Mbak Widya dan Fani duduk terpaku melihat jasad Elsa, lalu menagis sejadi-jadinya. Selanjutnya kaki Fani bergerak sendiri, seperti sesuatu yang menariknya, Dia berontak mencoba memelepaskan tarikan itu. Mbak Widya dan Erix memegang kedua tangannya, tapi tarikan itu terlalu kuat hingga membuat tubuh Fani melayang vertikal di udara.


BUK


Fani terpental ke tembok, namun tak jatuh ke lantai. Aku melihat kesakitan yang amat sangat dari pancaran wajahnya, tapi Fani masih memiliki sisa tenaga untuk berontak.


"Lepasin dia, setan!" hardik Erix memandang langit-langit ruangan. Dia tak tahu harus menghadap kemana saat berbicara dengan makhluk yang tak terlihat itu.


Fani terjatuh lemas ke lantai menahan rasa sakit pada punggungnya. Namun derita itu berpindah ke Erix yang terbata-bata sambil memegang lehernya sendiri. Kerongkongannya berbunyi karena kesulitan mengumpulkan oksigen yang berada di dalam ruangan ini, hingga tak bergerak sama sekali.


Sementara itu, Mbak Widya menangis dan memeluk tubuh Fani yang meringkuk di lantai. Keringatnya berjatuhan, napasnya tak teratur.


"Kamu gak apa-apa, Fan?" ucap Mbak Widya mengelus rambut Fani.


"Kayanya ada tulangku yang patah, Mbak. Tiap kali bernapas rasanya sakit." rintih Fani memegang rusuknya.


"Mari kita bawa dia keluar." ajak Mbak Widya menatapku dan Rida yang mematung karena shock berat.


Baru saja aku dan Rida melangkah untuk menyentuh Fani, tubuh Mbak Widya terhempas hingga tubuhnya membentur sudut meja riasku.


"To-tolong," suara lemah Mbak Widya mengulurkan tangannya.


Saat aku berusaha menggapainya, Rida menarik tubuh dan memegang kedua pipiku agar aku fokus melihat wajahnya.


"Lagu itu tidak berfungsi lagi. Cerita yang kalian buat terlalu menyeramkan. Dia menyukainya." ucap Rida dengan napas yang tersengal-sengal.


"Dia siapa?" bentakku.


Rida tak menjawab, hanya menangis histeris melihatku.


"Ambil aku saja. Dia sahabatku. Jangan sakiti dia!" teriak Rida. Aku tak tahu dia berbicara dengan siapa. "Biar aku yang gantikan dia. Bukannya dulu kita berteman? Temanku temanmu juga bukan?" sambung Rida lagi.


Aku makin ketakutan dibuatnya, tak paham tentang apa yang dibicarakan Rida. Tiba-tiba tubuhnya tersentak mengeluarkan dan darah dari hidung. Tangannya masih memegang pipiku. Aku gemetar hebat, tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Kepalaku sakit, pandanganku kabur, napasku sesak. Semua hanya terlihat seperti siluet-siluet yang bergerak perlahan di hadapanku. Aku terjatuh


➖➖➖➖➖


"Mbak, bangun! Anak gadis kok tidur sampe magrib sih?" teriak Bibi di depan pintu kamarku.


NYUT


Kepalaku berat dan sakit. Kupandangi jam dinding di kamar menunjukkan pukul 5 sore. Aku terduduk di atas ranjangku mengingat-ingat kejadian apa yang terjadi semalam, rasanya begitu nyata.


Aku meloncat membuka gagang pintu kamar untuk bertemu dengan Bibi dan mendapatkannya sedang sibuk mengelap debu-debu pada tiap bingkai foto yang tertempal di dinding.


"Anak-anak kemana, Bi?" tanyaku


"Mereka keluar, Mbak. Mandi gih, bau asem gitu," ucap Bibi padaku.


Huft ... Ternyata hanya bunga tidur. Tak ada yang meninggal semalam, kecuali orang-orang yang berada dalam mimpiku.


Kusambar handuk dan mandi untuk menyegarkan tubuh. Saat keluar dari kamar mandi, tercium aroma wangi dari pembersih lantai yang sering digunakan Bibi. Ah ... akhirnya dia pulang. Tak bisa kubayangkan sehancur apa rumah ini jika tak ada Bibi.


Tenggorokanku terasa kering. Aku belum memasukkan cairan apapun dari semalam. Kulangkahkan kaki menuju kulkas yang berwarna hijau telur asin di dapur untuk mengambil es batu yang selalu tersedia stoknya di freezer.


KLEK


Aku meloncat terjatuh melihat isi yang berada di dalam kulkas itu. Tangisku tumpah kembali mengingatkan kejadian semalam saat melihat kue ulang tahun yang sudah terpotong beberapa bagian berada di sana.


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖