Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
MAMA #1




"Kemarin kudengar suara Panji berteriak, ada apa Mbak Tita?" tanya Mbak Iyut yang lewat depan rumah saat aku menyirami tanaman sore ini.


"Oh iya, Mbak. Aku kunciin di kamar mandi gara-gara dia nakal," jawabku.


"Terus bagaimana hasilnya, Mbak?" Mbak Iyut kembali bertanya.


"Gagal, Mbak," senyumku hambar. "Dia mengamuk dan bilang ada hantu. Aku tak tega dan langsung membuka pintunya," sambungku.


"Hahaha, semua anak-anak memang begitu, Mbak. Mereka selalu bilang ada hantu padahal tidak ada. Itu hanya khayalan mereka saja," ujar Mbak Iyut sebelum pamit dan pergi berlalu.


➖➖➖➖➖


BUK, BUK!


"Ampun. Buka pintunya, Panji takut!" Teriakan histeris yang keluar dari mulut anakku di balik pintu, kuhiraukan. 


"Tidak, hingga kau tau kesalahanmu," bentakku dari luar.


Air mataku ikut mengalir bersama tangisan pilunya. Ingin kupeluk tubuh mungilnya, tapi tidak bisa.


Kali ini Panji memang harus diberi pelajaran. Jika kemarin dia menangis dan berusaha melawan sekuat tenaga, kali ini tak bisa kubiarkan.


Bisa-bisanya dia bermain loncat-loncatan di atas meja kaca ruang tamu hingga retak saat aku sedang memandikan Keysha. Jika terkena kakinya hingga terluka, bagaimana?


BUK, BUK!


"Di sini ada hantu!" Rintihan Panji bergetar begitu memilukan.


"Tak ada hantu di rumah ini!" bentakku. "Akan ibu buka, jika kamu tahu kesalahanmu di mana."


"Ada! Dia tak suka denganku. Buka pintunya!" Panji histeris dan berusaha menggedor lebih kencang lagi.


Seiring waktu, tangisannya makin pelan, pelan, pelan dan menghilang. Tiga puluh menit sudah, aku berjuang melawan perasaanku sendiri, hingga Panji mulai tenang.


"Kau tau kesalahanmu?" tanyaku dari luar.


"Iya ... maafkan aku," jawab Panji lemas.


Segera kubuka pintu kamar mandi dan memeluk anakku yang duduk meringkuk di pojok kamar mandi, dengan tubuh basah oleh keringat dan air mata.


"Maaf, Nak. Tapi kau tidak boleh lagi berbuat seperti itu," ucapku mengusap lembut rambut yang menutupi wajahnya. Kutatap kedua bola mata anakku yang memandang sayu, kemudian menciumi keningnya.


Dia hanya mengangguk perlahan, memelukku, lalu menjawab dengan lembut, "Iya, Mama."


➖➖➖➖➖


Mbak Iyut adalah tetangga sebelah dengan tiga anak laki-laki yang masih kecil-kecil. Saat berkunjung ke rumahnya sebagai tetangga baru, aku menceritakan kekaguman saat melihat anak-anaknya yang begitu tenang dan mudah diatur.


Awalnya, aku berpikir bahwa Mbak Iyut tipe ibu yang keras dan tegas saat mendidik anak, namun setelah berbincang-bincang, dia memberikan tips yang sering dilakukan jika mereka berbuat nakal.


Bukan dengan memukul, mencubit, ataupun dengan membentak, tapi Mbak Iyut akan mengurung mereka beberapa menit dalam kamar, saat mereka sulit dikendalikan.


Kamar mandi yang terletak jauh di dalam rumah sengaja kupilih menjadi tempat tepat karena tak ingin Panji menghancurkan seisi kamar, atau berteriak hingga terdengar jelas hingga ke luar rumah.


Dan itu berhasil. Tips Mbak Iyut betul-betul berhasil. Setelah melewati hukumannya, Panji menjadi anak yang sangat penurut.


Dia memakan lahap sayuran yang selalu disisakan, belajar mandi sendiri, menyisir rambutnya sendiri, bahkan mencoba mandiri dengan memakai baju sendiri. Bukan hanya itu, Panji bahkan membantu menjaga adiknya saat kutinggalkan sebentar untuk mandi, atau membeli beberapa keperluan di warung dekat rumah kami.


Besar rasa syukurku karena sudah dipertemukan dengan Mbak Iyut. Jika saja suamiku tidak pindah tugas dan membuat kami sekeluarga harus pindah ke sini, mungkin Panji masih akan susah diatur hingga saat ini.


Aku tersenyum sendiri saat mengangkat jemuran sore ini, sambil mengingat-ingat kelakuan Panji sebelumnya. 


Tiba-tiba ....


"Toloooooong!"


Teriakan keras dari Panji, terdengar dari dalam rumah. Aku berlari masuk ke dalam dan mencari arah suara itu.


Betapa kagetnya diriku saat mendapatkan Mas Hari memegang sebilah pisau dengan mata memerah dan menatap Panji dengan penuh amarah. Di sudut kamar, Panji terpaku menatap Mas Hari dan menangis.


"Kau mau apa, Mas?"


Segera kugendong Keysha, anakku yang berusia tiga bulan yang ikut menangis mendengar teriakan ayahnya, kemudian menghampiri Panji. Kami dalam kondisi yang terpojok di sudut ruangan.


"Kau tahu? Dia mau menusuk Keysha dengan benda ini!" bentak suamiku. Pasti yang dimaksud adalah pisau yang sedang digenggamnya.


Kualihkan pandanganku ke wajah Panji, seakan menanyakan kebenaran ucapan ayahnya. Dia menggeleng perlahan tanda bahwa apa yang diucapkan suamiku tidak benar.


"Ayah yang pegang pisau itu, bukan aku! Ayah seperti hantu yang ada di dalam kamar mandi, Ma! Sudah kubilang, dia tidak suka denganku," balas Panji yang memeluk dan bersembunyi di balik tubuhku.


Kutatap wajah suamiku yang memerah, tapi pandangannya tetap tertuju pada Panji yang berlindung padaku. Baru kali ini aku melihat mimik menyeramkan seperti itu.


Aku sangat mengenal Panji. Dia tak berani memegang pisau ataupun benda tajam lainnya, akibat trauma karena pernah melihat jariku yang berdarah akibat teriris saat menyiapkan masakan.


"Istigfar, Mas, sudah mau magrib. Lepaskan benda itu dan biarkan kami keluar. Aku takut!" bentakku.


Percuma. Apa yang kuucapkan diabaikan. Dia mendekat dan semakin mendekati kami. Aku takut dan memegangi tangan Panji yang masih berdiri di belakangku.


Deg ....


Mas Hari berjalan maju selangkah demi selangkah tanpa berkedip dengan pisau yang masih berada di tangannya. Tubuhku terdiam kaku, seakan bersiap untuk kejadian buruk selanjutnya. Aku rasa, kami akan mati hari ini. Suamiku benar-benar seperti orang yang kerasukan.


Tidak beberapa lama, Mas Hari sudah berdiri di hadapanku. Dia mencengkram tanganku yang memegang erat lengan Panji dengan sangat kuat, hingga Panji terpental ke depan.


Dadaku seperti ingin meledak. Napasku sesak melihat Mas Hari mengangkat lengannya, seakan ingin menancapkan ujung pisau itu pada tengkorak kepala anakku. 


Dan ....


"Aaaaaaaahhh!" Panji histeris.


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖