
"Kenapa kau memukulnya?" tanya Ayah kepada Raihan yang berdiri tepat di belakang Adam sambil memegang balok yang tidak tahu kapan dia dapatkan.
"Aku muak, Ayah. Cukup!"
Dalam keadaan lemah dan setengah sadar, Adam dibopong oleh Raihan dan Ayah Raisa ke dalam mobil.
"Kenapa dia?" tanya Mama yang duduk lemas dan berlinang air mata.
"Raihan memukulnya. Dia tidak bisa diatur, berteriak-teriak di sana. Buat kami malu saja," jawab Raihan, ketus.
Setelah mendudukkan Adam, mobil pun mulai berjalan menuju kembali ke rumah. Dalam keadaan setengah sadar, Adam mendengar pembicaraan Ayah Raihan dan Mama.
"Sebaiknya ibu membawa anak Adam ke Rumah Sakit Jiwa saja. Pikirannya sedang terganggu," ucap Ayah Raisa memulai pembicaraan.
"Dia tidak gila. Hanya sedang shock saja karena harus kehilangan Raisa," bela Mama sebagai seorang yang sudah melahirkan Adam.
Adam tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk duduk sambil mengumpulkan tenaga.
"Aku tidak gila."
Semua orang yang berada di dalam terdiam melihat Adam, tanpa mengucap sepatah katapun. Mungkin karena merasa tidak enak karena dia harus mendengarkan percakapan tadi, atau memang tidak ingin berbicara.
"Aku tau Raisa sudah meninggal hampir seminggu yang lalu. Aku sendiri yang membawa dia pulang ke rumah agar bisa bersamaku lebih lama. Infus yang kupasang berisi cairan formalin yang tersambung ke aliran darahnya agar dia bisa lebih awet lagi. Semua kulakukan dengan kesadaran yang penuh."
"Kau paham apa yang lakukan itu tindakan yang tidak benar?" bentak Mamanya.
"Benar! Apa yang aku lakukan karena mencintainya. Kalian sudah melepaskan dia kedinginan di luar sana, jadi apa salahnya aku mengambilnya? Toh kalian tidak butuh dia lagi kan?" kilah Adam.
"Aku ayahnya. Jika ada orang yang berhak merasa kehilangan, itu adalah aku. Kau hanya orang yang mengenalnya beberapa tahun belakangan ini."
"Sudahlah Om. Aku punya solusi terbaik untuk masalah ini," sambung Adam sambil tersenyum lebar.
Segera dia mencengkram setir mobil dari belakang membuat Ayah Raisa kehilangan kendali menuju pagar pembatas yang memberi peringatan tentang wilayah yang curam.
Berkali-kali ayah Raisa mencoba membanting setir, untuk mengambil alih, namun sepertinya sia-sia
"Aaaaaaaaaaahhhh."
Terdengar teriakan histeris Mama saat mobil sudah menabrak pagar dan mulai meluncur berguling ke bawah.
Segera Ayah Raisa kehilangan kesadaran tepat saat kepalanya membentur kaca depan hingga meninggalkan sedikit bercak merah dan retakan pada kaca depan.
Raihan yang tadinya berisik langsung terdiam setelah menghantam pohon-pohon besar yang tepat berada di depan pintu, saat loncat keluar dari mobil. Entah bunyi krak yang terdengar adalah suara kayu dari pohon yang patah, atau dari tulang leher miliknya.
Adam, Mama dan Randi masih hidup saat guncangan itu berhenti, namun bukan berarti mereka bisa selamat dari beberapa goresan dan luka.
Darah menyucur di pelipis Mama dan sepertinya tangannya bengkok, mungkin karena patah atau terlepas dari engselnya, hingga membuatnya merintih kesakitan
Dan Randi masih menggelepar memegang kupingnya yang terkena pecahan kaca mobil, namun kemudian dia terdiam dalam damai dengan mata yang membelalak sangat lebar.
Dan Adam...
Adam memegang kayu yang menembus kulit dan rusuk dadanya. Ngilu jika dilihat, namun tidak dengan mimik wajahnya. Dia menangis, tapi tidak untuk bersedih. Dia sedang menikmati masa-masa terlepasnya nyawa untuk bertemu dengan Raisa, membawa sejumlah keluarganya untuk berkumpul bersama di alam kematian.
"Aku datang, sayang." Ujarnya sambil memuntahkan darah dari mulutnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Mama mencoba untuk membuka pintu dan mendorong Adam keluar dari mobil.
"Cepat keluar, ada api di belakang." Mama Adam memperingatkan.
Adam hanya diam saja, sambil tersenyum tanpa mampu bergerak lagi. Nafasnya pelan, sepertinya sudah sangat siap untuk pergi dari dunia ini.
Sekuat tenaga Mama mencoba untuk membuka pintu mobil dengan kondisi lengannya yang luar biasanya nyeri, namun percuma karena pintu mobil harus terhalang dengan pohon. Dia hanya mampu melambaikan tangan keluar sambil berteriak-teriak histeris.
"Toloooooooooooooong! Tolong kami"
Api yang membakar semakin besar. Sepertinya tidak ada harapan untuk mereka selamat.
"Sudah, Ma. Hemat tenaga saja biar gak terlalu sakit. Sebentar lagi rasa sakit itu akan hila ...."
Belum sempat Adam menyelesaikan kalimatnya, mobil itu meledak. Mama yang tadinya gelisah dan berteriak-teriak tiba-tiba diam setelah serpihan ledakan mendarat tepat di tengkuk kepalanya.
Dan Adam terhempas jauh dengan api yang berkobar ditubuhnya.
Pakaiannya meleleh beserta kulitnya, namun tidak ada perlawanan. Terlihat buih-buih cairan dari dagingnya yang melepuh. Kelopak matanya lengket hingga dia tak mampu lagi melihat apa yang terjadi pada dirinya.
Rasa perih terbakar semakin menghilang, menghilang dan menghilang. Adam sudah terpisah dengan raganya.
➖➖➖➖➖➖➖
"Bagaimana, sayang? Skenario yang bagus bukan?" ujar Adam.
"Sepertinya sangat mengerikan. Haruskan seperti ini hanya untuk bersama?" jawab Raisa.
"Bagaimana lagi kita bersatu? Keluargamu tidak menyetujui hubungan kita. Prosesnya hanya sebentar. Setelah itu kita akan berkumpul bersama. Dan tidak hanya aku saja, tapi ada Mamaku, Ayah, Raihan dan Randi. Sudah cukup untuk menjadi saksi di alam baka," jelas Adam.
"Sebaiknya kita kawin lari saja," ucap Raisa ragu.
"Tidak, sayang. Aku ingin kita direstui. Jika tidak di dunia ini, maka kita akan meminta restu di sana. Minumlah ini. Aku sudah menyiapkan untukmu."
"Tidak akan sakit?"
"Tidak akan. Kamu akan merasa seperti tidur," sambil menyodorkan mug kecil berwarna merah kesukaan Raisa.
Setelah meminum ramuan yang diberikan Adam, Raisa berbaring di ranjang. Adam mengelus rambutnya yang panjang sambil menceritakan hal-hal romantis.
Selang beberapa menit ramuan itu sudah mulai bekerja. Keringat dingin bercucuran dari kening Raisa.
"Sepertinya aku mau muntah."
"Sabar, sayang. TIdak akan lama."
Tubuh Raisa semakin tidak karuan, dia merasa seperti ada yang berputar di dalam perutnya dan ingin naik ke atas kerongkongannya. Lehernya seperti ada yang mencekik. Dadanya naik turun seakan berusaha keras menghirup oksigen yang berada di ruangan itu.
Butiran keringat yang mengalir semakin deras. Terlihat sepertinya dia Ingin teriak, namun tak bisa. Jangankan berteriak, untuk bernapas pun sulit sekali. Dingin menjalar dari ujung kakinya. Rasa sakit seperti dihujam berkali-kali oleh belati. Kepalanya dan rongga dada seperti ingin meledak.
'Kenapa tersiksa seperti ini?' keluh Raisa dalam hati. Tidak seperti yang diceritakan oleh Adam pujaan hatinya yang saat ini sedang memeluk dirinya.
Ini kesakitan yang paling hebat yang pernah dialami dalam hidupnya. Mungkin jika dia tau bahwa begini rasanya meregang nyawa, tak akan dituruti rencana yang mereka buat sebelumnya.
Tubuh Raisa bergetar hebat hingga mengeluarkan buih dari mulutnya. Hingga tidak berapa tubuhnya melengkung, mulutnya menganga lebar, dan menghembuskan napas terakhir di atas ranjang yang basah oleh peluh. Raisa sudah tiada.
➖➖➖
Adam segera mengambil handphone dan menekan 12 digit nomor dengan lincah, seakan sudah sangat hapal dengan nomor itu. Terdengar suara wanita yang menjawab dari sana
"*Halo, sayang. Gimana?"
"Sudah kubereskan. Raisa sudah tidak ada sekarang. Orang yang sering membullymu dulu saat kecil, sudah diberi hukuman setimpal. Obat-obatan yang kita berikan sedikit demi sedikit membuat dia berkhayal dan dengan mudah mempercayaiku. Kamu sudah senang, sayang?"
"Terima kasih banyak. Sudah muak aku berpura-pura manis di depannya selama ini. Apagi lihat dia berdekatan denganmu. Arrgghh... Menjijikkan!"
"Sudah cukup. Jangan bahas itu lagi. Seharusnya kita merayakan hari ini."
"Oke, kamu bereskan semuanya sebelum mereka pulang hari ini. Jangan sampai ada jejak. Aku sekarang membawa barang-barangmu menuju bandara. Kita ketemu di sana. Jangan lupa hapus pesanku dari HPnya."
"Edo gimana?"
"Sesuai rencana, aku udah putuskan dia. Sudah! Cepat ke sini, tidak perlu buang-buang waktu*."
Adam segera menyambar hp milik Raisa, mencari pesan dari orang yang dikenalnya. Tak sulit baginya mencari pesan itu, pesan dari seseorang dengan nama kontak MUTIA MY BESTFRIEND
[ *Beb... Gue sama Edo gak ikut nginap di rumah loe ya. Loe sama Adam ajah. Mumpung bokap gak ada kan? Kapan lagi kalian bisa berduaan? 😝 ]
[ Nanti tetangga curiga kalo ada cowok yang nginap di sini sendiri. Kalo ada loe kan enak, gak ada yang curiga😭 ]
[ Lewat belakang ajah. Motor Adam taruh di kost gue. Loe yang atur gimana caranya biar dia gak keliatan tetangga loe. Masa gitu aja gak bisa? 😂 ]
[ Makasih ya, Beb. Tau ajah kalo aku lagi kangen. Love u, Beb 😘 ]
[ Luv u too ❤️* ]
❤️ Tamat ❤️
➖ Sarah Eszed ➖