Creepy Stories Of Eszed

Creepy Stories Of Eszed
PERTOLONGAN ANAKKU #1




Hari ini hujan deras tak berhenti dari dua jam yang lalu. Aku bersiap untuk menjemput Andi, pasti dia tak bisa pulang dengan cuaca seperti ini. Namun saat aku membuka pintu rumah aku melihat sosok anak kecil yang tak lain adalah Andi yang masuk mencoba membuka pintu pagar.


Tubuhnya menggigil, bibirnya membiru, sepatunya kotor sekali, baju seragamnya penuh noda lumpur, tapi celananya bersih, hanya basah terkena hujan. Saat kusentuh jemarinya, rasanya seperti memegang es.


"Ayo cepat lepaskan bajumu. Ibu siapkan air hangat agar kau tak masuk angin."


Andi langsung bergegas masuk setelah membuka sepatu. Aku berjalan menuju dapur untuk menyiapkan air hangat untuknya.


"Kan sudah Ibu bilang. Lain kali beri tahu guru, biar jika ada apa-apa di sekolah, guru bisa langsung bantu memberikan kabar," ujarku sambil membasuh kepalanya.


"Sudah, Bu. Andi sudah ngasih tau Ibu guru, tapi dia gak percaya," sambung Andi sambil menangis dan gemetar. Mungkin dia takut aku marahi.


"Maksudmu apa, Nak? Ibu kurang paham," menatapnya penuh keheranan.


"Tidak apa-apa, Bu. Kami pulang cepat tadi. Ibu guru sudah melarang tapi aku abaikan."


"Kenapa seperti itu?" tanyaku.


"Aku takut, Bu. Di depan sekolah ada mobil yang sama dengan mobil ayah. Aku cepat-cepat lari," sambil menangis lebih kencang lagi.


Aku sudah paham mengapa dia kabur. Akhir-akhir ini hubungan aku dan ayahnya tidak baik. Sejak Mas Farhan kedapetan berhubungan dengan wanita lain, aku tak banyak bicara dengannya. Perkelahian kami yang terakhir, membuat dia melampiaskan amarahnya pada Andi yang harus menerima beberapa pukulan dari ayahnya. Pasti anak ini ketakutan. Bahkan mobil yang mirip dengan mobil ayahnya pun ditakutinya.


Setelah selesai memandikannya, aku menyiapkan makanan. Kami makan siang berdua di meja makan, tanpa Mas Farhan. Sudah dua hari ini dia tidak pulang ke rumah. Dia keluar masuk semaunya saja, saat ditanya dia akan marah. Jadi sebaiknya seperti ini saja, diam untuk ketenangan kami saja.


➖➖➖➖


"Ayo cepat bangun, pemalas. Nanti terlambat ke sekolah."


"Aku tak ingin ke sekolah, Ibu."


"Kenapa? Ibu tidak suka anak yang malas. Cepat bangun dan bergegas," sambil ku singkirkan selimutnya.


Aku kaget setengah mati saat melihat seprai biru muda kesayangannya berubah warna menjadi tua karena basah.


"Ya ampun, Di. Udah kelas 4 SD, masa masih ngompol saja?"


"Andi gak ngompol, Bu."


Kupikir dia mengompol, tapi setelah aku cek lagi, dia tidak ngompol. Itu air biasa. Anak ini pasti sakit. Baru kali ini aku melihat dia mengeluarkan keringat semalaman sampai membuat kasurnya basah.


Kusentuh tubuhnya terasa dingin, wajahnya pucat. Kantung matanya menghitam. Aku panik, ingin cepat-cepat menelpon suamiku untuk membawanya ke dokter, tapi Andi menangis dan menolak. "Aku mau sama Ibu saja," mengurungkan niatku.


Aku membuka bajunya dan megoleskan minyak kayu putih agar tubuhnya hangat.Terlihat bekas goresan sekitar 5 cm yang sepertinya sudah lama sembuh di punggungnya.


Bukan ... bukan seperti goresan, tapi seperti ada benda tajam yang pernah merobek kulitnya. Tapi kapan dia pernah terluka? Dia tidak pernah bilang padaku.


"Apakah ini sakit?"


"Tidak, Bu, tidak sakit."


"Kapan kamu dapatkan luka ini? Kenapa Ibu tidak tahu?"


"Andi sudah lupa, Bu. Tapi tidak sakit sama sekali."


Semenjak ayah kandungnya meninggal, aku selalu mengurus Andi dengan baik, karena kuanggap sebagai satu-satunya peninggalannya. Mungkin karena aku terlalu sibuk bertengkar dengan Mas Farhan, suami keduaku, sehingga aku lengah.


Maafkan Ibu, Nak. Ibu terlalu egois mementingkan kepentingan Ibu, sampai lupa kalau kau adalah prioritas yang harus Ibu pentingkan. Rasa sesal menyelimuti hatiku.


Andi sepertinya dapat membaca mimik wajahku yang berubah menjadi sedih. Dia mengalihkan pembicaraan.


"Aku lapar, Bu. Saking laparnya, aku mau menelan seekor sapi," candanya.


Ucapan itu selalu diucapkan Ayahnya saat masih hidup. Saat dia pulang kerja, dia selalu bilang mau 'menelan seekor sapi' membuat kami bertiga selalu terbahak-bahak.


"Jangankan sapi. Sebesar jerapah pun akan Ibu siapkan," sambil menggelitik perutnya, dan dia tertawa kegelian.


Nanti setelah masak aku akan menelpon gurunya, memberi kabar bahwa Andi tidak bisa masuk karena kurang enak badan.


➖➖➖➖


Terdengar suara mobil masuk ke pekarangan kami. Kugendong Andi untuk masuk ke kamar. Kusumpal mulutnya dengan tanganku agar dia tidak mengeluarkan suara.


"Diam dan pura-pura tidur," bisikku sambil menyilangkan jari di depan bibir.


Andi sepertinya paham maksudku. Dia segera memejamkan mata.


Suara pintu terbuka dan terdengar seseorang sedang menyetel televisi. Itu pasti Mas Farhan yang baru pulang. Tiba-tiba aku mendengar suaranya berteriak keras.


"APAAAAA?"


Entah apa yang dilihatnya. Mungkin karena tadi Andi muntah di atas kursi depan ruang televisi. Sudah kubersihkan, tapi bisa saja baunya masih tercium. Atau bisa jadi karena piring yang tidak langsung aku cuci. Aah ... aku lupa itu. Aku lupa mencuci piring. Mungkin karena itu dia marah.


Terdengar suara langkah mendekat menuju kamar. Aku takut. Kupeluk anakku dan memejamkan mata pura-pura tidur. Dia membuka pintu kamar. Rasanya jantungku mau copot dari tempatnya.


Dia membuka lemari. Aku tak tahu apa yang terjadi, karena menutup rapat mataku. Tapi terdengar dia mencari beberapa barang.


Semuanya dibuka dengan kasar dan terdengar bunyi 'braaak' saat dia menutupnya. Lemari, laci-laci, semua tempat penyimpanan yang ada di kamar kami ditelusurinya. Dentingan resleting koper juga aku dengar. Sepertinya semua barang sudah dia kumpulkan akan dimasukkan ke dalam koper.


Selang beberapa menit dia sibuk membereskan ini dan itu, terdengar suara HPnya berbunyi dari ruang TV, entah siapa yang menelponnya. Dia keluar dari kamar untuk mengangkatnya. Terdengar suara dari dalam kamar


"Sudah kau lihat juga kan?"


"Katamu itu tempat sepi, nyatanya tempat pemancingan. Celaka!"


"******!! Kemasi barangmu, kita pergi hari ini."


Suaranya penuh amarah. Aku tak tahu dia berbicara dengan siapa. Aku juga hanya mendengar suaranya saja, tanpa tahu apa yang diucapkan lawan bicaranya, tapi yang aku tahu sepertinya dia akan menghantam siapapun yang mencoba bertanya padanya saat ini.


Setelah dia menutup telponnya dia terdiam sebentar dan suara pintu depan dibanting keras. Barang-barang yang dikumpulkannya tadi belum dibawa. Pasti dia akan kembali pikirku.


Dari bawah tempat tidur terdengar suara HPku berdering.


'Ya Tuhan ... kenapa harus pada saat ini?' gumamku dalam hati. Aku tak mau dia tahu kalau kami pura-pura tidur.


❤️ Bersambung ❤️


➖ Sarah Eszed ➖