
Kesal! Aku sungguh terbakar amarah.
Karena sihirnya, Mas Bram sudah tak lagi menatap mataku saat aku mencoba berbicara padanya, bahkan saat kami sedang menyantap makanan sekalipun.
Karena pengaruhnya, aku harus tertidur seorang diri tanpa ada perbincangan hangat yang sering dilakukan oleh keluarga harmonis. Hanya televisi yang mampu mengisi waktuku sebelum benar-benar terlelap.
Karena bisikannya, suamiku hanya mampu mengeluarkan satu-dua kata saja untukku. Itupun dilakukannya dengan sangat datar, seperti tak ada lagi rasa cinta di sana.
Hangat air mata yang mengalir perlahan di pipi, menggambarkan bagaimana hampanya hidupku beberapa tahun belakangan ini. Suamiku tak seperti dulu lagi. Dia mengambil semua kebahagiaan dan kehangatan keluarga ini. Benar-benar biadab!
Aku sungguh merindukannya bisa kembali seperti dulu lagi. Rindu aroma tubuhnya saat memeluk tubuhku, rindu belaian lembut tangan saat menyentuh uraian rambutku, rindu tatapan mata yang penuh dengan kasih.
Tapi semua hilang tak tersisa untukku karena kehadirannya. Padahal jika dia bisa berlaku lebih baik padaku, aku ikhlas jika harus diduakan dengannya. Tak apa jika kita harus berbagi kasih sayang, tapi jangan membuatnya menjauh dariku. Sungguh tak adil rasanya.
Kusambar handphone untuk mengirim pesan ke suamiku. Syukurlah dia terlihat sedang online saat ini.
[ *Mas .... ]
[ Ya? ]
[ Kamu sudah makan, Mas? ]
[ Sudah* ]
Kutunggu, semenit, dua menit, bahkan ini sudah tiga puluh menit, tapi dia tak ingin berbasa-basi untuk membalas pertanyaan dariku. Sakit .... Aku merasa tak menikah dengan siapapun walaupun dinobatkan status sebagai seorang istri.
Kembali lagi jariku menyentuh layar handphone itu dengan penuh harapan.
[ *Mas .... ]
[ Iya? ]
[ Apakah kau mencintaiku? ]
[ Tentu. ]
[ Bohong, ah. ]
[ Sudah. Jangan mulai*. ]
Benci. Hanya itu responnya, padahal aku mengharapkan hal yang lebih. Itu pasti karena dia. Dasar terkutuk! Kalau tahu dia akan mengambil alih keluargaku, takkan kubiarkan suamiku berdekatan dengannya dari awal.
Mataku gelap, dadaku sesak. Aku tak mampu lagi menahan-nahan kebencian pada mereka berdua. Sudah kusiapkan sedari tadi, pisau daging yang besar. Cukup kuat untuk memisahkan tulang-tulang kecil dengan sekali tebas. Biasa aku menggunakannya saat memotong beberapa bagian dari kaki sapi untuk sup kesukaan suamiku.
Brak!
Hentakan keras bergema mengisi seluruh ruangan dapurku. Darah segar mengalir perlahan dan aku sempat terpaku kagum melihatnya. Warna merah yang sungguh membuatku menjadi agak bersemangat. Cepat-cepat kuambil handphone lalu mengirimkan pesan ke suamiku.
[ *Mas .... ]
[ Apa lagi*? ]
Cekrek.
Aku mengambil foto potongan jari yang sudah kupisahkan dengan pemiliknya. Jari terlunjuk yang mungil dari wanita yang suamiku cintai, lalu mengirimnya.
[ *Apa ini?! ]
[ Tak kenal? Coba kau lihat lagi baik-baik, Mas*. ]
Di dalam hati, sungguh aku sedang berbahagia. Baru kali ini dia bertanya, padahal sebelumnya hanya aku yang selalu mencoba bertanya padanya untuk memulai percakapan.
[ Tunggu sebentar. Itu? ]
Sebelum kubalas pesan itu, Mas Bram langsung menelponku. Tangisku tumpah. Baru kali ini dia mencoba menelponku. Dia memang mencintai wanita itu, aku kembali melirik telunjuk wanita menyedihkan yang menutup mulutnya menahan sakit karena harus kupaksa berpisah dari jarinya. Air matanya berjatuhan, tapi aku tak peduli.
"Jangan macam-macam, Rindu. Aku tak suka kau main-main." Suara suamiku bergetar panik.
"Tidak, Mas. Ini betul," lalu aku mengalihkan ke panggilan video, agar aku bisa memperlihatkan kepada suamiku dengan jelas. "Bagaimana, Mas? Betulkan?" sambil memain-mainkan jari itu di atas telapak tanganku.
"Hentikan itu, sekarang!" bentak Mas Bram histeris.
Kali ini aku betul-betul bahagia. Ini adalah kalimat terpanjang yang kudengar suamiku setelah beberapa tahun belakangan setelah kemunculan dia. Kuberlutut, tak peduli dengan beberapa tetes noda darah yang akan mengotori gaunku. Ini tangis bahagiaku.
*Angin sejuk siang itu menerpa lembut wajahku. Dengan santai kuhabiskan makan siang menunggu Riska, seorang sahabat saat SMA. 'Ada yang ingin berkenalan denganmu, besok kita ketemu di cafe dekat kantormu,' begitu bunyi pesan darinya tadi malam. Kami berjanji bertemu siang ini, di tempat ini.
"Kenalkan, nih. Kakak sepupu gue." ucapnya saat aku mempersilakan keduanya duduk.
Bram namanya. Kulit berwarna sawo matang dengan mata berwarna agak kecoklatan. Tak terlalu tampan, tapi tubuh yang atletis dan supel membuatnya mudah untuk disenangi siapapun. Mas Bram mengakui sudah sering memperhatikanku sejak lama, dan dia meminta Riska untuk memperkenalkannya padaku lebih dekat*.
"I-i-iya?"
"Aku akan ke sana!" bentak Mas Bram.
Deg ....
Jantungku berdetak kencang. Jika hanya karena jari kecil itu membuatnya harus segera datang, bagaimana jika aku memberikan lebih? Ya kuingin lebih dari itu. Kembali kugenggam dengan erat pisau tadi.
Braaakkk!
"Aaaaahhhhhhhh!" Suara lengkingan memenuhi ruangan. Kedengarannya seperti sangat sakit.
Sial! Pisauku tak mempan. Hanya memotong dagingnya saja tapi tidak dengan tulangnya. Aku tak bisa memisahkannya. Baru kali ini kutahu kalau tulang manusia sekuat ini.
Mas Bram yang dari tadi melihat aksiku dari video call mulai berteriak-teriak tak karuan. Baginya itu menyeramkan, bagiku seperti pemberi semangat. Sungguh harmoni yang indah.
Aku berlari meninggalkan Mas Bram yang masih terhubung, menuju gudang yang berada di samping untuk mencari sesuatu yang lebih kuat. Harus segera kudapatkan agar wanita itu tak mati kehabisan darah sebelum kupisahkan lengannya. Jika dia langsung mati, tak akan seseru ini. Aku hanya ingin mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Mas Bram lebih banyak lagi.
Dingin permukaan kapak yang dilapisi sedikit karat itu menarik perhatianku. Segera kusambar dan berlari kembali ke tempat semula, tepat di hadapan Mas Bram. Saat melihat aku memegang benda itu, wajahnya berubah menjadi semakin panik. Seakan sedang melihat pembunuh berdarah dingin yang siap untuk mencabut jantung seseorang hanya menggunakan kuku-kuku tangannya.
Braaaaaaaaaakk!
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh." Lengkingan pilu terdengar lebih kencang saat ini, bersamaan dengan putusnya lengan wanita itu.
Aku masih bisa melihat gerakan kecil pada jari-jari mungilnya padahal sudah tak tersambung lagi pada pemiliknya. Ada sedikit semburan-semburan kecil darah yang keluar dari potongannya. Kutarik napas perlahan menikmati tetesannya.
"*Apakah kau tak ingin menikah?" tanya Mas Bram padaku.
"Suatu saat ... jelas ingin. Wanita mana yang tak ingin menikah?" jawabku
"Bagaimana kalau denganku?" ucap Mas Bram sambil membuka kotak kecil merah yang terbuat dari beludru. "Mau menjadi istriku, Rindu?"
Aku menangis tak percaya dengan ucapanya. Tepat setahun setelah kami berpacaran dia memberikan benda itu. Cincin emas cantik yang disematkannya pada jariku, setelah aku meng-iya-kan pertanyaannya. Ajakannya secara tiba-tiba membuatku sungguh merasa sangat spesial*.
Teeeeeeeeeeet.
"Berengsek! Minggir kalian." suara klakson dan umpatan dari Mas Bram membuat kebisingan.
Rupanya dia sudah berada dalam perjalan menuju ke rumah ini. Aku terduduk lemas di lantai dapur, untuk mengatur napas agar kuat melancarkan aksi selanjutnya. Tak terasa tangisku tumpah meminta maaf pada wanita tak bertangan yang sudah kubuat sedemikian rupa karena kekecewaanku pada Mas Bram. Aku tak menyesal, hanya meminta maaf. Tak ada yang perlu disesali saat ini.
Wanita itu hanya duduk lemas tanpa mengucapkan sepata-katapun. Hanya air mata yang mengalir deras berbicara memperlihatkan bagaimana rasa sakit yang dialaminya.
"Tunggu sebentar, sayang. Tak akan lama lagi." Aku memberikan semangat agar dia tetap bertahan hidup karena kulihat wajahnya memucat karena sudah kehilangan banyak darah.
Deg ....
Debaran jantungku menjadi tak teratur lagi setelah mendengar suara mobil mendekat masuk ke dalam pekarangan rumah. Kungenggam erat pisauku bersiap-siap menuju akhir cerita.
"Rindu! Kau di mana?!" teriak Mas Bram setelah membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang selalu dia bawah.
"Di-di-sini" jawabku takut-takut bersembunyi di balik meja dapur.
**Tak ....
Tak** ....
Jejak sepatu Mas Bram mendekat ke arahku. Aku semakin tak karuan dibuatnya, serba salah seperti remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.
Kini dia berdiri di hadapan wanita itu. Wajahnya kusut dan panik, air mata mengalir lebih deras dari saat aku melihatnya dari handphone. Dengan perlahan dia mengangkat dan merangkul wanita itu.
"Apa yang kau lakukan, Rindu?" lirih Mas Bram pilu.
Aku tak menjawab apapun, hanya terpaku melihat Mas Bram memperlakukan wanita itu. Dibelai dan dikecup keningnya seperti yang selalu dia lakukan padaku dulu. Diusap air mata wanita itu dengan lembut agar sedikit berkurang rasa sakitnya.
"Sakit, sayang?" tanya Mas Bram dengan air mata yang berjatuhan tanpa henti.
Wanita itu hanya menggeleng lembut mencoba mengeluarkan kalimat perlahan dari bibir mungilnya. Mungkin ini adalah kalimat terakhir yang akan didengar oleh Mas Bram.
"Jika satu saat nanti kau menikah lagi. Kumohon jangan kau sia-siakan dia seperti aku. Handphonemu dan semua yang berada di dalamnya menyibukkanmu lalu mengambil kebahagian rumah tangga kita."
Mas Bram mengangguk lemah menahan sesak dan mengucapkan jutaan maaf pada tubuh yang nyaris kehilangan nyawa.
"Tapi tak mengapa, sudah tergantikan sekarang. Aku senang melihatmu seperti ini, Mas" ucapku dan memejamkan mata dengan tangan yang terjatuh menggantung dari pisau yang menancap pada rongga-rongga dada sebelum suamiku membuka pintu.
Selamat tinggal, Mas. Aku dan hatiku yang terluka pergi. Jika dia adalah seorang wanita, mungkin bukan aku yang akan mati hari ini.
❤️ **Tamat ❤️
➖ Sarah Eszed ➖**