
Rintik hujan menemani, kala aku dan Eri memasuki gedung tua di samping sekolah ini. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, hanya beberapa bangku dan kursi bekas kantor yang ditinggalkan bertahun-tahun yang lalu.
Sebenarnya kami tak ingin ke tempat menyeramkan dan berbau lumut ini. Jika saja Galih tak menantangku kemarin sebelum pulang sekolah, mungkin Aku dan Eri tak akan pernah berada di sini.
Aku memang siswa yang sangat biasa, tanpa prestasi yang menonjol, dan kuper. Sikap tertutup dan pendiamku, selalu menjadi incaran anak-anak sok berkuasa dan sok keren seperti Galih bersama kawanannya.
Aku memang tak suka untuk berkumpul bersama dengan yang lainnya. Mereka terlalu berisik dan menurutku sering melakukan hal-hal tak berguna. Selama bersekolah, tak ada yang cukup akrab denganku, kecuali Eri.
Kedekatanku dengan Eri mungkin juga yang menjadi bahan olokan mereka. Bagaimana tidak? Aku selalu menolak berkumpul dengan teman-teman pria sebaya, dan lebih memilih untuk duduk di kantin bersama Eri yang notabene adalah seorang siswi, Nama Juna pun tiba-tiba mereka ubah dengan panggilan Juni, kalau bukan itu, ya kadang dipanggil banci.
Masih kuingat betul kejadian kemarin, saat Lily berusaha mengangkat daguku menggunakan jari-jarinya agar dia bisa melihat ke dalam mataku dan memberi ancaman, bahwa jika aku tak datang hari ini, maka tak hanya satu kelas yang akan mengataiku banci, tapi seluruh sekolah.
Sudah cukup aku menjadi bulan-bulanan dia bersama kawanannya, Faizal dan Lily, selama bertahun-tahun. Ditambah Galih adalah orang yang mempunya kharisma dan supel, kuyakin saat menolak ajakannya, seluruh sekolah akan memberikan julukan banci padaku.
"Ayolah, Juni. Masa begitu saja kau tak berani? Jangan bilang, aku harus menelepon ibumu untuk menemani?" ucapan Lily membuat hatiku panas.
Segera mungkin aku menepis tangan itu dan nyaris melemparkan buku matematika tepat ke wajahnya, tapi Eri menggenggam tanganku erat dan menggeleng pelan, tanda dia berharap tak ada perkelahian.
"Aku tidak takut! Apalagi dengan tantangan tak bermutu yang kalian buat," hardikku kesal.
Bravo!
Tepukan tangan Gilang terasa sangat garing mengambang di udara. Aku tahu itu bukan sorakan kekaguman, melainkan sebuah ejekan. Jika tawarannya untuk uji nyali selepas magrib kuabaikan, maka mereka tak akan pernah berhenti menjadikanku bahan olokan.
"Kenapa sih, harus gedung ini?" protes Eri mengalihkan perhatianku. Dia sedang membuka ikatan rambut berwarna merah yang agar bisa mengeringkan rambut sebahunya yang lembab karena terkena hujan.
Betul kata Eri, kenapa harus tempat itu? Aku bahkan sempat terdiam mendengar Galih menentukan gedung ini sebagai tempat berkumpul. Sungguh permintaan aneh dah terdengar tidak menyenangkan.
Sudah sering tersiar bahwa ada hantu seorang wanita keturunan China yang mendiami tempat ini. Terkadang dalam keadaan yang sepi, orang-orang yang lewat, mendengar suaranya merintih dan menangis.
Beberapa cerita menggambarkannya sebagai wanita langsing dengan kulit putih, rambut lurus panjang, bertubuh langsing, dengan tetesan darah yang mengalir dari luka yang berada pada perutnya akibat tusukan.
Hingga saat ini, tak ada yang pernah berhadapan langsung dengan hantu wanita itu, tapi beberapa pengendara motor yang sendirian, sering merasa beban motornya bertambah, seperti ada seseorang yang menumpang.
Entah kisah itu benar atau tidak, tapi tempat yang dipilih Galih, sungguh membuat orang-orang yang akan diajaknya menjadi berpikir dua kali untuk turut serta.
"Lagian, kenapa kau ikut, Ri? Bukannya terkesan keren, malah disangkanya aku minta temenin kamu lagi." gerutuku.
"Gak bisa gitu dong. Galih kan ngomong depan kita berdua, ya kita perginya sama-sama lah. Lagipula, aku bosan tak ada kegiatan hari minggu ini," bantah Eri. Tiba-tiba
Sreeeekkk
Sreeeekkk
Suara tapak kaki menginjak dedaunan menghentikan perdebatan kami. Hari sudah gelap, kami tak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Tak ada sedikit pun cahaya yang menerangi tempat ini.
Perasaanku mulai tak enak, tak ada tanda-tanda kedatangan Galih dan yang lain, sesuai dengan waktu yang dijadwalkan. Aku menatap kaku wajah Eri yang ikut terdiam dan berusaha fokus akan arah suara barusan, lalu ....
Duaaaaaaaaarr!
Galih nyaris membuat jantungku meloncat dari tempatnya karena dia tiba-tiba muncul dari belakang dan menarik ranselku hingga terjatuh.
"Kaget, Juni?" kelakarnya lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Faizal dan Lily yang berada di belakangnya.
"Jika takut, kenapa aku yang berada duluan di sini?" belaku.
"Cih! Sok kuat." Kali ini Faizal sialan itu angkat bicara.
"Sudahlah, kalian mau arisan di sini, atau benar-benar melakukan uji nyali?" Aku berusaha memengang kendali agar dia tidak terlihat lemah di mata mereka. Karena perkataan itu, Eri yang tadinya berdiri di sebelahku ikut tertawa.
"Wow, saatnya banci berubah menjadi pria. Tak ada rencana kau bawa ibumu sekalian, Juni?" sindiran Lily mengarahkan pandangannya tempat Eri sedang berdiri.
Aku hanya menunduk diam, tak membalas perkataannya, tapi Eri kesal dan nyaris meloncat untuk mencengkram wajah Lily, tapi kutahan dengan cubitan yang harus mendarat pada pinggangnya. Kita tak boleh kalah dulu sebelum apa yang direncanakan Galih dan kawanannya berakhir.
"Ya sudah, ikut kami." Galih mengambil alih situasi.
Kami melangkah perlahan dengan Galih yang berada pada barisan paling depan dan aku di belakang berjalan berdampingan dengan Eri. Langkahnya berhenti pada satu ruangan kosong yang hanya diterangi cahaya lampu dari luar jendela.
Galih mengambil lampu emergency dari tasnya dan menaruh di tengah ruangan. Dia memerintahkan kami untuk duduk melingkar mengelilingi lampu tersebut. Rasanya tak ingin kududuk dan meletakkan pahaku melekat pada lantai yang kotor dan menjijikkan di ruangan ini.
Entah hanya perasaanku saja, tapi kadang aku melihat ada gerakan-gerakan bayangan kecil yang aneh pada ujung ruangan. Sungguh ini adalah keputusan terkonyol yang pernah kubuat dalam hidupku.
"Kau mau duduk atau kupangku, Juni?" Faizal mengolokku, kemudian tertawa dan menyalakan rokoknya. Dasar mulut keparat!
Aku menarik napas dalam dan berjongkok, kemudan duduk perlahan, berharap tak banyak gesekan yang kubuat agar celanaku bisa tetap bersih saat pulang nanti.
"Aku rasa kalian yang berada di sini, sudah tahu tentang cerita yang beredar tentang gedung ini," tanya Galih memulai percakapan.
"Kami tahu. Tentang seorang remaja wanita yang bunuh diri bukan?" jawab Lily santai.
"Ya, betul. Kalian tahu mengapa dia bunuh diri?" lanjut Galih.
"Entahlah, stres mungkin." Faizal menjawab dengan acuh tak acuh kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa dia bunuh diri?" Eri tiba-tiba bertanya.
Galih terdiam, memutarkan bola matanya menatap kami satu persatu. Sunyi dan dingin menjadi satu membuat suasana menjadi sangat kelam. Dia mengambil jeda sebentar dan menarik napas dalam untuk melanjutkan cerita.
"Dulu, kakakku pernah bersekolah di sekolah yang sama dengan kita. Sekitar 10 tahun yang lalu. Pada saat itu, sekolah digemparkan dengan sosok mayat wanita cantik, bermata sipit, berusia 16 tahun yang didapatkan membusuk pada gedung sebelah sekolah yang sudah lama ditinggalkan. Dan di ruangan ini, adalah tempat wanita itu meregang nyawa."
"Tunggu dulu. Bukannya kakakmu tidak bersekolah di Indonesia. Galih?" Faizal menyelah.
"Iya, betul. Dia pindah di tahun ajaran pertama saat kelas tiga dan tidak melanjutkan sekolahnya di sini. Tapi saat aku masih kecil, dia selalu menceritakan tentang wanita yang meninggal pada gedung tua di sebelah sekolahnya."
Deg
Jantungku berdebar tak karuan. Jadi benar adanya, bahwa cerita orang-orang bahwa ada hantu wanita malang yang bermukim di tempat ini. Kulayangkan pandang ke arah Eri, dan melihat wajahnya yang tak kalah ketakutan dariku. Napasnya tersengal-sengal, dengan keringat yang bercucuran hebat. Atmosfer kengerian, memang memenuhi ruangan ini hingga terasa sesak.
Tiba-tiba ....
Huaaaaaaaaaaah!
Lily berteriak histeris, kemudian meloncat seakan ada hal mengerikan yang baru saja dilihatnya. Aku sendiri tak mampu lagi untuk berdiri dan menghampirinya, padahal dia duduk tepat di sebelahku. Yang kulakukan hanyalah duduk mematung sambil menatap wajahnya dan meremas dengan erat ransel hitamku.
"Kau kenapa?" hardik Faizal dengan mimik wajah serius saat mendekati Lily.
"Tikus! Ada tikus yang melewati pahaku." Seketika wajah Lily menjadi pucat. "Aku tak takut hantu, tapi kalau tikus, aku menyerah!
Hembusan napas lega melewati rongga kerongkongan kami. Tak ada yang luput dari rasa terkejut dan takut saat dia berteriak tadi. Syukurlah hanya seekor tikus.
"Gila kau, Ly. Belum apa-apa sudah bikin semua heboh saja." Aku mengambil kesempatan untuk membalas sikap ketusnya selama ini. Lily hanya membalasku dengan ancaman pelototan yang sering dia lakukan.
"Tak perlu diperpanjang untuk urusan makhluk pengerat itu. Kau tak akan mati karena digigit tikus, Lily." Galih sepertinya kesal karena Lily memperlihatkan kelemahannya di depanku. "Mau lanjut atau bagaimana?"
"Oke, lanjut, Gal," ucapku percaya diri setelah melihat salah satu kawanannya terseok-seok hanya karena seekor tikus.
"Menurut cerita orang-orang, jika kita berhitung hingga angka sepuluh sambil menutup mata, maka sosok wanita itu lambat laun akan memperlihatkan wujudnya saat setelah membuka mata. Dan itu adalah tantangan hari ini," jelas Galih.
"Ma-maksudmu, ka-kau mau kami membuktikan cerita konyol itu?" tanyaku.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Galih. Dia hanya mengangguk perlahan dan terdiam mematung menunggu persetujuanku. Jelas aku tidak setuju dengan tindakan unfaedah yang dikehendakinya.
"Tidak! Lakukan apapun hal yang tidak berguna seperti yang sering kalian lakukan, tapi tidak untuk hal-hal seperti ini." Aku langsung berdiri dan mengenakan kembali ranselku.
Dengan cepat kusambar tangan Eri yang masih duduk bersila di lantai untuk mengajaknya pergi, namun dia tidak beranjak dari sana.
"Ini kesempatanmu, Juna. Jika kau pulang, mereka takkan pernah berhenti untuk mengganggumu," ucap Eri tanpa berbalik sedikitpun.
Aku berdiri mematung. Otakku membenarkannya, tapi hatiku sungguh tidak terima. Perasaanku benar-benar tak enak akan hal ini.
➖➖➖➖➖
Lily ditunjuk untuk memimpin hitungan agar kita bisa membuka mata bersamaan setelah angka ke sepuluh. Belum juga dia melakukan hal itu, jantungku sudah tak karuan dibuatnya.
Aku bukan tipe orang yang penakut, tapi diriku benar-benar tak suka jika ada hal-hal tak terduga, yang mungkin saja tiba-tiba mendatangi. Pikiranku mulai menerka-nerka kejadian yang tak diinginkan selanjutnya.
"Satu."
Aku menarik napas dalam untuk menenangkan pikiran. Aku tidak takut dan bukan seorang yang penakut. Tak akan terjadi apapun di sini, kuyakin.
"Dua."
Beruntung ada Eri yang selalu berada di sisiku untuk memberikan support terbaiknya. Dia adalah sahabat terbaik yang selalu bisa kuandalkan.
"Tiga."
Ku hanya harus bersabar malam ini saja, agar tidak lagi menjadi bahan olokan. Yang harus kulakukan adalah memikirkan hal-hal indah tentang kebebasan yang akan kumiliki setelah ini. Semuanya akan berjalan normal, tanpa Galih dan kawanannya yang selalu menggangguku di sekolah.
"Empat."
Sreeekk, sreeeekk.
Ah ... suara apa itu? Ada suara gesekan yang terdengar. Mungkin seseorang dalam ruangan ini sedang bergerak, atau tikus-tikus yang sedang keheranan melihat kami duduk mematung tanpa melakukan apa-apa.
"Lima."
Ingin segera kubuka mataku dan mengakhiri kegilaan ini. Bodoh! Aku benar-benar bodoh. Waktu berjalan, terasa sangat lambat. Mengapa Lily menghitung terasa lama sekali?
"Enam."
Ngiiiikkk
Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit seakan dibuka terdengar sangat jelas. Tak mungkin tikus mampu mendorong pintu seperti itu bukan?
"Tujuh."
Bulu yang berada ditengkukku terasa hangat seperti seseorang sedang bernapas di sana. Aku benar-benar tak tahan lagi, hingga meremas keras jemariku sendiri.
"Delapan."
Dadaku sesak, napasku terasa tertahan dan tak mampu menghirup bebas udara yang berada di sini. Bisa kurasakan aliran keringat tertahan di atas alis dan mengalir bebas dari pelipisku hingga pipi.
"Sembilan."
Sebentar lagi, sebentar lagi. Apa yang akan kami hadapi setelah ini?
"Sepuluh."
*❤️ Bersambung* ❤️
➖ Sarah Eszed ➖**